Belajar dari tragedi nuklir Fukushima

Ilustrasi: Para ahli IAEA (International Atomic Energy Agency) mendatangi Unit 4 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi TEPCO ( Tokyo Electric Power Company) pada 17 April 2013 sebagai bagian dari misi untuk meninjau rencana Jepang untuk menonaktifkan fasilitas tersebut.
Ilustrasi: Para ahli IAEA (International Atomic Energy Agency) mendatangi Unit 4 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi TEPCO ( Tokyo Electric Power Company) pada 17 April 2013 sebagai bagian dari misi untuk meninjau rencana Jepang untuk menonaktifkan fasilitas tersebut. | Greg Webb /IAEA

Satu-satunya negara di dunia yang terkena serangan bom atom dalam perang modern (perang Dunia II) adalah Jepang. Di Negeri Matahari Terbit ini pula pada 11 April 2011 silam, reaktor nuklirnya di Fukushima diterjang tsunami setinggi lebih 14 meter yang didahului oleh gempa berkekuatan lebih 9 skala richter. Akibatnya, salah satu dari enam unit reaktor nuklir Fukushima itu bocor dan menimbulkan radiasi ke alam lingkungan sekitarnya.

Jepang yang penduduknya kini mencapai 126 juta jiwa lebih itu secara geografis sebenarnya berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Negara ini terletak di daerah merah, berada di zona Cincin Api Pasifik -yang tak lain adalah lokasi dari 90 persen terjadinya gempa di dunia.

United States Geological Survey (USGS) mencatat, tak kurang dari 1.500 gempa menghantam Negeri Sakura ini setiap tahunnya. Bentangan cincin api di Jepang adalah tempat pertemuan empat lempeng yang saling desak. Yaitu, lempeng Amerika Utara, Pasifik, Eurasia dan Philipina. Itulah sebabnya, tremor kecil hampir tiap hari terjadi di Jepang. Lebih parah dari daerah Jawa dan sekitarnya.

Tetapi, mengapa bangsa Jepang tak pernah jera dan takut terhadap bencana alam yang terus menimpa mereka? Bahkan, bencana dan tantangan alam itu mereka akrabi dengan pendekatan ilmu.

Setelah tragedi nuklir Fukushima, Jepang tidak mau menyerah, apalagi jera. Akal sehatnya tetap mereka jalankan. Dan kesimpulannya: Jepang tetap menggunakan nuklir untuk kepentingan listriknya.

Padahal, setelah tujuh tahun pemerintah melakukan rehabilitasi atas tragedi di Fukushima, sampai sekarang pun belum juga selesai. Maklum, inilah peristiwa bocornya rektor nuklir terbesar kedua setelah bencana Chernobyl, di Pripyat, Uni Sovyet (kini Ukraina) 1986.

Ketika kami, sebagai peserta undangan dari JICC (Jaif International Cooperation Center), berkunjung ke reaktor nuklir Fukushima, di kanan-kiri jalan tempat kami lewat tampak sejumlah pemukiman tanpa penduduk.

Okuma, nama pemukiman penduduk dengan nuansa perbukitan yang subur itu, merupakan perumahan dari berbagai type kecil dan besar yang berkerumun, antara satu kelompok dengan kelompok rumah lainnya yang dipisah dengan pepohonan dan perdu. Letak pemukiman ini berjarak kurang lebih 5 sampai dengan 7 km dari PLTN Fukushima.

Sebagian besar pemukiman masih terlihat tak berpenghuni. Barang-barang perlengkapan rumah tangga dibiarkan mangkrak begitu saja. Begitu pula dengan sejumlah mobil yang ditinggal pemiliknya di halaman rumah. Ada kesan, penduduk di sekitar reaktor Fukushima masih khawatir dengan kejadian bocornya reaktor nuklir itu.

Saat kami sampai ke lokasi, masih ada ratusan tangki kurang lebih berukuran 10 x 5 m berisi air yang tercemar radiasi nuklir. Tangki-tangki itu dalam penjagaan ketat karena sedang diproses untuk dinetralkan kembali agar tidak membahayakan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Pendinginan terhadap reaktor pun terus dilakukan sampai saat ini, walau pemerintah Jepang sudah menyatakan bahwa reaktor nuklir Fukushima tak akan beroperasi lagi (shut-down).

Reaktor nuklir Fukushima ada di dua lokasi: Daiichi (enam unit) dan Daiini (empat unit). Reaktor yang bocor terjadi di daerah Daiichi karena diterjang gelombang tsunami yang tingginya mencapai 14 meter lebih. Bukan bocor karena gempa; dan tidak ada kerusakan karena gempa.

Akibat dari penerjangan tsunami, sistem pendingin reaktor lumpuh sehingga sebagian tabung nuklirnya meleleh tak bisa menahan suhu dengan panas sangat tinggi. Sedangkan reaktor di Daiini walau diterjang Tsunami tak mengalami kebocoran.

Sebagai negara industri terbesar kedua setelah Amerika Serikat, Jepang memiliki 57 reaktor nuklir. Pasca peristiwa Fukushima, negara ini mengambil keputusan untuk menutup sementara terhadap seluruh reaktor nuklirnya.

Akibatnya bisa ditebak: Jepang kelabakan kekurangan pasokan listrik terutama industri-industrinya. Bahkan, pernah ada kejadian para penumpang Shinkanzen atau kereta listrik lainnya yang terbiasa membaca buku saat berangkat atau pulang kantor, harus menutup bacaannya karena lampu listrik dalam kereta sengaja dimatikan demi penghematan.

Setelah secara nasional 57 reaktor nuklir itu dievaluasi secara ketat, satu demi satu reaktor-reaktor itu kemudian di-restarting dengan regulasi dan aturan baru yang lebih rinci. Di samping pertimbangan keamanan yang lebih ketat daripada sebelum kejadian Fukushima, yang tak kalah penting adalah pertimbangan pemerintah lokal dan kehendak masyarakat menjadi salah-satu kunci: apakah unit reaktor itu akan dibuka kembali atau tidak.

Artinya, walau peraturan sudah dibuat lebih ketat, tetapi jika tidak ada persetujuan warga dan pemerintah lokal, maka reaktor itu tak akan pernah dioperasikan kembali.

Itulah sebabnya, edukasi dan sosialisasi terhadap masyarakat -agar berpikir rasional dan tidak dikungkung oleh rasa takut- dilakukan secara intensif oleh negara. Edukasi dan sosialisasi ini melibatkan perdana menteri, para menteri terkait, bahkan kalangan parlemen. Mesti diakui, ada juga sejumlah kalangan termasuk sebagian anggota parlemen yang tidak setuju terhadap kelanjutan listrik nuklir di Jepang.

Dari 57 instalasi nuklir itu kini baru 9 reaktor yang sudah dioperasikan kembali. Tahap berikutnya ada lima yang sudah di-reviewdan sudah siap dioperasikan lagi. Tetapi, semua itu masih menunggu persetujuan dari pemerintah kota dan masyarakat yang tinggal di dekat reaktor tersebut dengan radius 5 km2. Dari hasil evaluasi disimpulkan, ada 22 unit reaktor yang tidak bisa dioperasikan lagi. Inilah reaktor-reaktor versi lama yang tidak bisa lagi diperbarui — termasuk yang di Fukushima tadi.

Masyarakat sangat khawatir terhadap reaktor yang model lama. Tetapi, Pemerintah sudah berketetapan tak akan membangun reaktor baru. Sejumlah reaktor yang sudah ada saja yang akan ditata-ulang dengan sistem pengamanan ketat.

Sebelum peristiwa Fukushima, sebanyak 30 persen kebutuhan listrik di Jepang dipasok dari PLTN. Sisanya yang 70 persen dipasok dari sistem gas, minyak, surya dan model-model yang lain. Atas tuntutan masyarakat akhirnya pemerintah berencana mengurangi secara bertahap listrik dari tenaga nuklir menjadi 20 persen di masa yang akan datang.

Saat ini konsumsi listrik Jepang per kapita sudah mencapai di atas 10.000 kwh, setara dengan negara-negara maju lainnya seperti di negara-negara Eropa dan AS. Inilah negara-negara yang secara industri sudah mencapai puncak tertingginya dengan efisiensi penuh, sehingga pengembangannya tidak banyak membutuhkan penambahan listrik lagi. Maka wajar jika pemerintah Jepang berencana menurunkan penggunaan listrik nuklir dari 30 persen menjadi 20 persen.

Bandingkan dengan kondisi di Asia Tenggara yang menempatkan Indonesia masih di posisi nomor 6 di bawah Malaysia dan Vietnam: penggunaan listrik Indonesia hanya 1025 kwh per kapita. Sementara Singapura sudah mencapai 10.000 kwh per kapita, Malaysia 4.000 kwh per kapita. Wajarlah jika Singapura bisa melaksanakan balap mobil Formula One di tengah malam. Itu menunjukkan bahwa penggunaan listrik di negeri berlambang singa itu sudah sangat tinggi.

Kebijakan energi nasional berdasarkan PP No. 79 Tahun 2014, mengharapkan penduduk Indonesia sudah mengonsumsi listrik per kapita pada tahun 2025 mencapai 2.500 kwh, dan pada tahun 2050 sudah bisa mencapai komsumsi 7,500 kwh per kapita.

Ini ada kaitannya dengan strategi industri nasional yang terintegrasi dari hulu sampai ke hilir. Ini pula menjadi kunci terpenting karena listrik ibaratnya adalah sumbu bagi industri untuk bersaing dengan negara lain; bahkan listrik menjadi sumbu bagi peradaban sebuah bangsa.

Jika Indonesia tidak ingin terhambat untuk terus tumbuh ekonominya dari negeri yang berstatus sebagai middle income country, naik kelas menjadi negara industri maju, maka modal utamanya mesti menyiapkan energi listrik nasional yang mencukupi.

Kondisi listrik kita selama ini masih bertumpu pada bahan bakar minyak dan batubara. Padahal minyak setiap hari kita impor, dan batu bara perlahan-lahan akan habis.

Memang masih ada alternatif seperti panas bumi, sel surya, bayu dan hydro-power, tetapi itu semua sangat terbatas dayanya dan tidak cukup untuk pengembangan industri yang besar. Jalan alternatif, selain menggenjot listrik batubara, ya, mesti menyiapkan listrik nuklir atau PLTN. Untuk yang terakhir ini mesti melewati syarat yang ketat.

Pertama, komitmen dan perencanaan yang kuat dari pemerintah dan terus konsisten dengan berbagai regulasi yang dibutuhkan ke depan.

Kedua, ada edukasi dan sosialisasi yang masif seperti di Jepang dan negara-negara maju lainnya bahwa PLTN sangat aman.

Ketiga, negara mesti melakukan pemilihan lokasi yg mempertimbangkan dampak risiko, mitigasi bencana dan lain sebagainya sehingga keamanan PLTN itu terjamin.

Keempat, negara menyiapkan tenaga terampil dengan budaya yang baru seperti negara-negara maju yang telah memiliki PLTN.

Kelima, siapkan SDM untuk penguasaan teknologi PLTN agar Indonesia tidak tergantung pada negara lain.

Artinya, sudah saatnya kita belajar dari bangsa lain yang lebih maju bahwa, tantangan alam hendaknya dihadapi dengan pengembangan ilmu, bukan dengan membesar-besarkan mitos.

Masduki Baidlowi, Wakil Sekjen PBNU, anggota delegasi undangan JICC 26 November sd 2 Desember 2018
BACA JUGA