Beragama yang mencerahkan

Ilustrasi: Salat berjamaah di Masjid Al Imtizaj Bandung (2/7/2018)
Ilustrasi: Salat berjamaah di Masjid Al Imtizaj Bandung (2/7/2018) | Akhmad Dody Firmansyah /Shutterstock

Agama kini kian sulit didefinisikan. Agama sebagai peranti mulia seringkali berubah menjadi kekuatan menakutkan. Sebagian kelompok kecil umat menjadikan agama sebagai alat untuk menyerang dan melumpuhkan kelompok lain. Agama menjadi “anteman”, pembenar atas tindakan yang jauh dari nalar keimanan dan kemanusiaan.

Fenomena itulah yang mengkhawatirkan, sehingga semua pihak perlu sadar bahwa banyak kelompok yang membajak nama agama untuk kepentingan jangka pendek. Membajak makna dan nilai agama ini sungguh mengerikan di tengah semakin tipisnya nalar keagamaan umat.

Tipisnya nalar umat itu ditandai dengan mudahnya sekelompok umat terpapar hoaks yang mendorong terjadinya permusuhan. Hoaks tidak hanya mengerdilkan akal sehat, namun juga mendorong seseorang untuk melakukan tindakan di luar kemanusiaan.

Berbagai masalah di atas menjadi keprihatinan Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai bagian bangsa merasa terpanggil untuk turut serta mengurai masalah itu.

Melalui Sidang Tanwir di Bengkulu, 10-12 Jumadil Akhir 1440 H/15-17 Februari 2019 M, Persyarikatan Muhammadiyah mengangkat tema “Beragama yang Mencerahkan”.

Beragama perlu mencerahkan semua. Agama perlu menjadi laku suci berdimensi kemanusiaan agar tidak dibajak oleh segelintir orang. Agama perlu bangkit dari keterpurukan karena umat menjadikannya sebagai alat dan tameng politik (kepentingan jangka pendek).

Kebangkitan rohani

M. Dawam Rahardjo (2012) mencatat bahwa kebangkitan rohani menjadi hal esensial di tengah keterpurukan agama. Kebangkitan rohani itu ditandai dengan peningkatan iman dan takwa yang termanifestasi dalam ibadah dan akhlak.

Akan tetapi, kebangkitan itu bukan meningkatkan fanatisme melainkan toleransi, bukan kecenderungan tindakan kekerasan dalam membela agama, melainkan sikap dan perilaku yang santun dan dalam terhadap orang lain.

Dalam situasi itu tidak ada lagi terorisme atas nama agama, melainkan dialog yang terbuka dan perjuangan yang demokratis. Dalam kebangkitan itu, umat menegakkan kebebasan beragama dan tidak menghalangi umat yang beragama lain untuk menjalankan ritual dan keyakinan agamanya, terbuka dalam proses relasi beragama.

Agama dengan demikian dimaknai sebagai relasi kemanusiaan yang sehat. Kemanusiaan itulah yang menggerakkan semua umat untuk berdiri di jalur kebenaran. Kebenaran menuntun manusia menuju jalan pencerahan. Jalan pencerahan itulah yang akan menjadi penunjuk jalan menuju keautentikan.

Literasi kebudayaan

Robert D. Lee (2000) menerangkan bahwa keautentikan pada tingkat individu berarti tidak meniru orang lain tetapi mengikuti kata hati. Sedangkan pada tingkat masyarakat keautentikan dimaknai sebagai kebutuhan suatu komunitas atas agenda-agenda yang tidak disetir oleh kelompok lain, tetapi dibangun atas kesadaran budaya sendiri.

Di sinilah pentingnya literasi kebudayaan dalam beragama. Literasi kebudayaan memungkinkan umat untuk terbuka dengan hal baru. Umat tidak lagi mudah kaget dan atau tercengang dengan sebuah fenomena (ora gumunan, ora kagetan).

Hal itu ditandai dengan umat dapat berpikir kritis dalam menerima informasi. Informasi tidak langsung ditelan mentah-mentah dan disebarkan. Namun, mereka mampu menyaring dan menghentikan informasi yang ia terima jika hal itu tidak sesuai dengan akal sehat dan nurani yang waras.

Sikap itulah yang akan mendorong umat terbebas dari paparan hoaks. Umat sadar bahwa hoaks hanya akan menimbulkan kecurigaan, rasa tidak nyaman, dan permusuhan antarsesama. Hoaks pun hanya akan semakin menggerus keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

Pasalnya, penyebar hoaks baik yang aktif maupun pasif seringkali lupa bahwa setiap aktivitasnya diawasi oleh Tuhan Yang Maha Melihat. Mereka lupa bahwa hoaks merupakan awal dari permusuhan yang dilarang oleh Tuhan.

Ironisnya, dalam narasi hoaks, seringkali Tuhan dijadikan pembenar. Tuhan terseret dalam keranjang sampah dan “pencuci” dosa para pendosa.

Mencerahkan dan meneguhkan

Oleh karena itu, beragama perlu mencerahkan dan meneguhkan akal sehat dan nurani yang waras. Agama perlu menjadi ageman (sandangan) umat dalam menegakkan nalar keberagamaan inklusif dan kemanusiaan. Keberagamaan inklusif memungkin semua umat dari berbagai latar belakang dan pemahaman keagamaan untuk bersatu, bertindak, dan bergandengan tangan dan hati untuk memajukan bangsa dan negara.

Umat perlu mempunyai kesadaran bahwa saat bangsa dan negara ini rusak, maka seluruh penghuninya pun hancur. Umat perlu menjadi aktor yang mau ambil bagian dalam mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan.

Sudah bukan saatnya umat bergolak dan saling sikut dalam meraih kekuasaan dengan tameng agama. Sudah bukan zamannya umat saling klaim sebagai penghuni surga, namun tidak pernah berbuat kebajikan (islah). Sudah bukan massanya saat umat bertindak ceroboh dan menjadikan teks suci sebagai pembenar atas tindakan destruktif.

Pada akhirnya, tema Tanwir Muhammadiyah tahun ini seakan mengajak umat untuk menjadikan agama sebagai suluh kehidupan. Muhammadiyah mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk bersikap dan bertindak atas nama kemanusiaan yang dirahmati.

Muhammadiyah sebagai bagian bangsa Indonesia merasa terpanggil untuk menyelamatkan masa depan bangsa dan negara dari para pembegal agama.

Wallahu a’lam.

Benni Setiawan, dosen Ilmu Komunikasi FIS dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR