Berbagai kontroversi penjurian FFI

Ilustrasi suasana FFI 2016
Ilustrasi suasana FFI 2016
© Dina /festivalfilm.id

Festival Film Indonesia (FFI) 1955 memunculkan pemenang kembar untuk aktor utama, aktris utama, dan aktor pembantu. Hal yang sama terulang pada 1974, namun dengan pembedaan tingkat pemenang. Film, aktor utama, dan aktris utama "dengan pujian" menerima Citra, sedangkan yang disebut "dengan penghargaan" tidak, sehingga dianggap runner up. Tahun itu juga tidak ada pemenang aktor dan aktris pembantu.

Kasus tidak ada pemenang pernah pula terjadi sebelum dan sesudahnya. Pada 1967, 1977, dan 1984 tidak ada film terbaik. Sementara pada 1980 dan 1984 masing-masing tidak ada pemenang aktor utama dan aktris pembantu.

Munculnya tiga pemenang kembar pada FFI 1955 dianggap usaha menyenangkan Djamaluddin Malik, pendiri Persari yang juga penggagas dan "cukong" FFI. Tiga pemenang (A Hadi, Fifi Young, Awaludin) adalah bintang Persari, yang dicurigai dimenangkan untuk mendampingi pemenang sesungguhnya dari Perfini (AN Alcaff, Dhalia, Bambang Hermanto).

Begitu pula pemberian penghargaan sutradara terbaik pada Lilik Sudjio dalam film produksi Persari, Tarmina, mengalahkan Usmar Ismail pada Lewat Djam Malam produksi Perfini.

Pada 1960, juri yang dikuasai penggiat film dan kebudayaan komunis memilih Turang karya Bachtiar Siagian, seorang pengurus Lekra, sebagai film terbaik. Padahal ketika itu setidaknya ada tiga film Usmar Ismail yang berkualitas baik, yaitu Tiga Dara (1956), Asrama Dara (1958), dan Pedjuang (1960). Konon karena itu Bapak Perfilman Indonesia tersebut tidak pernah mau lagi mendaftarkan film-filmnya mengikuti FFI.

Perhelatan berikutnya, 1967, sangat bersifat politis, antara lain untuk menggairahkan kembali produksi film nasional yang lama tersendat akibat pergolakan politik nasional. Karena itu juri bersikap sangat keras hingga tidak ada film terbaik.

Sementara juri FFI 1977 memutuskan tidak ada film terbaik karena tidak satu film pun memenangi sekaligus empat kategori yang disyaratkan: penyutradaraan, penulisan skenario, penataan fotografi, dan penyuntingan. Persyaratan tersebut ditetapkan sendiri oleh para juri, alias bukan kriteria baku.

Alasan tidak ada film terbaik pada FFI 1984 berbeda lagi. Favorit pemenang, Pengkhiantan G-30-S PKI (Arifin C Noer), oleh juri dianggap bukan film cerita, tetapi lebih merupakan doku-drama.

Mulai 1977 ditetapkan persyaratan pemenang dalam kategori pemeranan harus mengisi suara sendiri, bukan oleh pengisi suara pengganti (dubber). Karena aturan baru itu, Christine Hakim dipilih menjadi aktris utama terbaik di film Sesuatu yang Indah (Wim Umboh), padahal aktingnya jauh lebih bagus dalam Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya).

Pada tahun berikutnya, kemenangan Kaharuddin Syah (Letnan Harahap) dan Joice Erna (Suci Sang Primadona) dipersoalkan karena keduanya tidak mengisi suara sendiri.

Dalam era baru FFI, pada 2006 sekelompok penggiat film yang menyebut diri Masyarakat Film Indonesia (MFI) memprotes pelanggaran hak cipta penggunaan musik dalam film pemenang FFI 2006, Ekskul (Nayato Fio Nuala).

Protes itu disusul aksi pengembalian 30 Piala Citra dan 6 piala/penghargaan khusus FFI oleh 35 produser, sutradara, aktor, dan pekerrja film lain, serta seruan memboikot pelbagai kegiatan perfilman yang dilakukan pemerintah, termasuk FFI.

BPPN (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional) kemudian membatalkan kemenangan film terbaik (Ekskul) dan sutradara terbaik (Nayato Fio Nuala). Namun pemerintah dan penggiat industri yang berkuasa saat itu terlampau bebal dan arogan buat memahami esensi tuntutan di balik pelbagai aksi tersebut, yaitu reformasi total dalam pengelolaan perfilman nasional, termasuk penyelenggaraan FFI.

Pada FFI 2010, Sang Pencerah (Hanung Bramantyo) yang tidak termasuk dalam sepuluh film pilihan komite seleksi ikut dinilai dewan juri. Akibatnya, pengumuman nominasi yang diadakan di Batam dibatalkan. Dewan juri kemudian diberhentikan panitia dan diganti oleh yang baru.

Upaya perbaikan

Usaha memperbaiki sistem penjurian FFI bukannya tidak pernah dilakukan.

Tiga festival pertama memang diselenggarakan sangat seadanya, sehingga belum memiliki sistem yang baku. FFI 1955 dan 1960 bisa dibilang usaha pribadi Djamaluddin Malik, sedangkan pada 1967 bersifat politis. Tidak mengherankan jika hasilnya terkesan seperti bagi-bagi piala untuk Perfini, Persari, dan kelompok kiri.

Meskipun sudah diselengarakan secara rutin oleh pemerintah, lima FFI berikutnya (1973-1977) masih diadakan dengan sekadar mencontoh festival-festival di luar negeri. Ketentuan atau aturan penjurian pun belum dibakukan sehingga memunculkan banyak kejanggalan dan ketidakpuasan.

Pada 1973 ketidakpuasan mencuat karena Perkawinan (Wim Umboh) memborong 8 dari 12 Citra. Di tahun berikutnya, selain memunculkan dua pemenang aktor dan aktris utama, film terbaik penerima Citra ("dengan pujian"), Si Mamad (Sjuman Djaya), hanya meraih dua Citra, lebih sedikit dibanding empat Citra untuk runner up ("dengan penghargaan"), Cinta Pertama (Teguh Karya). Kembali terjadi pada 1975, film terbaik Senyum di Pagi Bulan Desember (Wim Umboh) juga hanya memperoleh dua Citra, sementara Ranjang Pengantin (Teguh Karya) memborong lima Citra.

Puncaknya 1977, ketika juri memutuskan tidak ada film terbaik berdasarkan persyaratan yang dibuatnya sendiri. Selain itu juri juga melontarkan kritik keras yang membuat kalangan perfilman tersinggung dan sangat marah.

Itu sebabnya mulai 1978 disusunlah "buku putih" berisi aturan pelaksanaan FFI, termasuk penjurian, yang diberlakukan secara konsisten setiap tahun. Dokumen berjudul Peraturan-peraturan dan Ketentuan FFI (kini Pedoman Pelaksanaan FFI) itu dari waktu ke waktu diubah dan diperbaiki mengikuti perkembangan situasi.

Meskipun di dalamnya tidak tercantum persyaratan yang digunakan juri FFI 1977, kriteria tersebut digunakan lagi oleh juri FFI 1980. Akibatnya, Perawan Desa (Frank Rorimpandey) secara mengejutkan dinobatkan menjadi film terbaik, mengalahkan beberapa film lain yang dianggap lebih layak.

Pada 1979 mulai digunakan sistem nominasi yang terdiri dari lima calon pemenang. Tiga tahun berselang, 1982, mulai diterapkan penjurian dua tahap untuk mengurangi beban dewan juri yang mesti menonton dan menilai seluruh film peserta. Pertama oleh Komite Pengaju Unggulan (KPU), yang bertugas menyeleksi beberapa film pilihan. Kedua, penetapan nominasi dan pemilihan pemenang oleh dewan juri.

Tahun berikutnya KPU berubah nama menjadi Komite Seleksi, dan masih terus digunakan sampai dengan FFI 2013. Jauh sebelum itu, pada 1976 pernah dilakukan seleksi serupa oleh Dewan Penilai Awal yang terdiri dari 14 wartawan film, namun kemudian ditiadakan.

Menyusul kontroversi FFI 1984 yang tidak memunculkan lagi pemenang film dan aktris pembantu terbaik, pada 1985 dibuat tambahan ketentuan harus ada pemenang di semua kategori yang memiliki nominasi. Bersamaan dengan itu ditambahkan pula aturan bahwa anggota juri yang terlibat dalam produksi film diperbolehkan menjadi juri, namun tidak ikut menilai dalam kategori di mana dirinya terlibat.

Sebelumnya, Umar Kayam yang ditunjuk menjadi ketua dewan juri FFI 1984 harus mengundurkan diri karena ikut bermain dalam Pengkhiatan G-30-S PKI (Arifin C. Noer).

Keberadaan Komite Seleksi dalam perjalanannya beberapa kali menimbulkan kontroversi. Pada 1992 dan 2010, misalnya, komite hanya meloloskan delapan film namun dipaksa menambah beberapa film lagi sesuai ketentuan. Komite yang bertugas menilai film secara keseluruhan tersebut juga kerap dikritik karena tidak meloloskan film-film yang dianggap memiliki unsur-unsur yang layak dinominasikan.

Karena dinilai tidak fokus dan tugasnya tumpang tindih dengan dewan juri, pada FFI 2011 Komite Seleksi diubah menjadi Komite Nominasi. Sesuai namanya, komite beranggota 21 pekerja film itu fokus bekerja menilai unsur-unsur teknis dalam setiap film untuk dinominasikan. Dewan juri kemudian tinggal memilih pemenang.

Namun tahun berikutnya, 2012 dan 2013, Komite Nominasi ditiadakan dan kembali dilakukan penjurian awal oleh Komite Seleksi. Seperti sebelum-sebelumnya, baik nominasi maupun pemenang dipilih oleh dewan juri.

Perbaikan kembali dilakukan dalam FFI 2014, 2015, 2016, dengan melibatkan 100 juri melalui sistem voting. Masing-masing juri melakukan pilihan secara online tanpa diskusi. Mereka menonton dengan media VCD kecuali film yang dinilai berdasarkan suara dan gambar. Panitia memfasilitasi bioskop untuk menonton.

Tahun ini sistem itu disempurnakan untuk membangun platform berkelanjutan guna mengakselerasi peningkatan kualitas film-film Indonesia mutakhir.

Penjurian, sebagai konsep penting sebuah festival, harus menjadi sistem yang dapat merumuskan dengan jelas karya-karya dengan pencapaian tertinggi yang kita inginkan dan hendak dipromosikan atau didorong untuk lebih banyak dibuat dan dikerjakan; menetapkan secara tepat film dan kerja artistik semacam apa yang seharusnya dijadikan tolok ukur kualitas gagasan, estetika, teknis, dan profesionalisme pada masanya.

Rintisan ke arah itu mulai dilakukan dalam FFI 2017 melalui penguatan asosiasi profesi serta visi dan kriteria penjurian yang mengutamakan kejernihan gagasan, relevansi dengan perkembangan zaman, kerja artistik yang mendukung gagasan, serta profesionalisme para pekerja dan pegiat film.

Sistem ini dibangun untuk mendorong asosiasi profesi, yang menjadi penilai sejak penetapan nominasi hingga pemilihan pemenang, terus-menerus memperbaiki diri guna meningkatkan standar tolok ukur.

Sebanyak 10 asosiasi profesi merekomendasikan nominasi dalam 18 kategori, termasuk Penata Rias Terbaik yang baru pertama dilombakan sepanjang sejarah FFI. Pemilihan pemenang dilakukan oleh 73 Juri Akhir. Mereka terdiri dari pekerja film yang diajukan oleh masing-masing asosiasi profesi ditambah Juri Mandiri yang dipilih berdasarkan kapasitasnya dalam dunia seni, kebudayaan, akademis, dan media.

Juri Akhir menonton film dan unsur-unsur yang dinominasikan melalui teknologi online, kecuali film-film dalam kategori Penata Suara Terbaik, Penata Musik Terbaik, Penata Efek Visual Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penata Artistik, dan Film Terbaik, yang dilakukan di bioskop.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.