Bercermin dari industri K-Pop

Ilustrasi: Blackpink saat menghadiri acara Asia Artist Awards 2016 di Kyunghee University, Seoul, Korea Selatan
Ilustrasi: Blackpink saat menghadiri acara Asia Artist Awards 2016 di Kyunghee University, Seoul, Korea Selatan | Kim Hee-chul /EPA

Ulasan RUU Permusikan bukan hanya membuat musisi Tanah Air gerah. Penikmat musik Indonesia, seperti saya, cukup terusik dengan polemik yang diciptakan pemangku legislatif tersebut.

Bukan tanpa alasan. Ketika Indonesia tengah merumuskan regulasi perihal proses kreasi, pendistribusian karya musik hingga sertifikasi musisi, industri musik Korea Selatan malah semakin mendunia. Industri musik yang menjual konsep idola dalam girlband dan boyband ini kian digemari para fans mereka di seluruh dunia.

Sebut saja, Blackpink yang sukses menampilkan debut pertamanya di televisi Amerika Serikat dan bahkan siap menggelar konser perdananya di Amerika Utara. Sebelumnya, Bangtan Boys (BTS) juga sukses menggebrak industri musik Amerika. BTS bahkan terpilih sebagai grup idola Korea Selatan pertama yang tampil memberikan penghargaan dalam ajang bergengsi Grammy Awards 2019.

Mengusung konsep grup vokal disertai kemampuan berdansa yang dilakukan para personelnya terbukti berhasil merambah sekaligus bertahan di pasar internasional. Aksi girlband dan boyband asal Korea Selatan ini tidak terkesan sepi peminat sejak tahun 2000-an.

Di negara asalnya sendiri persaingan antara tiap grup idola begitu ketat. Pada satu waktu bisa jadi beberapa grup idola ini merilis lagu terbarunya secara bersamaan. Mereka yang fanatik dari seluruh penjuru akan menunggu jadwal rilis musik video klip di saluran Youtube demi mendukung pencapaian rekor idolanya.

Popularitas penyanyi dan grup idola pun diukur tiap minggunya melalui beragam program musik televisi. Korea Selatan memiliki tujuh program musik mingguan yang tidak dianggap sepele para penampilnya. Panggung acara bisa dibentuk sedemikian rupa persis seperti yang diperlihatkan dalam musik video.

Ditambah lagi Korea Selatan juga sukses mengemas acara penghargaan musik mereka hingga diperhitungkan di Asia melalui Mnet Asian Music Awards. Agnez Mo, Raisa, RAN, Sm*sh, Isyana Sarasvati dan Marion Jola adalah penyanyi asal Indonesia yang berhasil meraih penghargaan ini pada beberapa kategori.

Keseriusan industri K-Pop perlu menjadi pembelajaran bagi industri musik Tanah Air. Seiring dengan kemungkinan adanya revisi atau justru perombakan ulang RUU Permusikan, karya musik harus terus berjalan dalam inovasi dan modernisasi.

Angin segar didapat melalui pencapaian video klip Siti Badriah berjudul “Lagi Syantik” yang telah ditonton hingga tulisan ini diturunkan sebanyak 465 juta kali. Data demografi penonton memang tidak disebutkan untuk mengetahui perbandingan antara penonton dari dalam maupun luar negeri. Tetapi, berkat hal ini, Siti Badriah beserta lagu dangdutnya yang populer berhasil masuk peringkat 12 besar tangga musik Billboard Youtube.

Tahun 2018, penyanyi Agnez Mo dan rapper Rich Brian juga berhasil menembus peringkat musik Billboard Amerika Serikat. Keduanya populer di generasi arus utama untuk jenis musik R&B dan hip hop.

Jika ditarik mundur lagi, Indonesia memiliki penyanyi Anggun dan pianis Joey Alexander yang juga masuk peringkat musik Billboard. Joey Alexander bahkan masuk dalam nominasi penghargaan Grammy Awards untuk kategori musik jazz selama dua tahun berturut-turut pada 2016 dan 2017. Pencapaian lainnya juga diraih band punk rock Superman Is Dead yang menempati posisi ke-23 Billboard Uncharted di tahun 2011.

Berdasarkan data ini, tidak perlu ada keraguan akan kualitas penyanyi dan karya musik anak bangsa di pasar musik internasional. Bisa jadi, jangan-jangan sesungguhnya potensi musik Indonesia lebih unggul dibandingkan K-Pop.

Jadi pengikut

Jika tidak bisa menjadi pelopor, setidaknya jadilah pengikut. Tidak perlu jauh-jauh meniru industri musik Amerika bila industri K-Pop asal Asia saja berhasil mendunia.

Diawali dari menggiatkan kembali program musik yang berkualitas dengan konsep acara yang mendidik. Peringkat lagu bukan dijadikan formalitas melainkan acuan untuk mengukur apresiasi dari penikmat musik. Kalaupun memungkinkan, posisi pemeringkatan tersebut dibentuk bak harga diri para penyanyi dan musisi.

Tidak perlu lagi ada penonton bayaran. Tak perlu ada tambahan alur komedi atau kisah iba yang menambah durasi acara. Biarkan audiens memilih lagu dan musik kesukaannya hingga membentuk kelompok pasar musiknya sendiri. Biarkan penyanyi, band, grup vokal dan musisi seakan “dihakimi” penikmat musik Tanah Air.

Selain menumbuhkan pemikiran kompetitif dan eksploratif, bukan tidak mungkin akhirnya musik Indonesia menemukan konsep industri yang akhirnya dianggap sekaligus sebagai bagian dari budaya. Saya membayangkan, modernisasi terjadi di genre musik campursari atau terbukanya peluang kolaborasi antara penyanyi daerah dengan penyanyi nasional.

Amat disayangkan jika ajang pencarian bakat bernyanyi yang terus berlangsung tiap tahunnya, tidak dibarengi dengan penyediaan acara musik yang mewadahi perkembangan para penyanyi pendatang baru tersebut. Saluran yang dianggap populer dan efektif justru Youtube. Acara yang mengulas karya musik pun terbilang minim.

Ajang penghargaan musik perlu dibuka secara transparansi dan melibatkan peran serta fanatisme penggemar. Sesekali persaingan antarpenyanyi perlu dibentuk untuk menambah ragam suguhan karya musik bagi para penikmatnya.

Kembali bercermin pada industri K-Pop yang menjual penampilan idola dan popularitas lagu, ada proses yang menuntut kedisiplinan juga komitmen dari para entertainer tersebut. Segelintir penyanyi, rapper dan grup band Tanah Air telah bergerilya memperluas jangkauan karya musiknya ke pasar internasional Amerika.

Lantas, apakah benar industri musik dan kreativitas bermusik di Indonesia jalan di tempat?

Sari Mawarni, analis Media Indonesia Indicator
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR