Berlalunya kedigdayaan rupiah

Ilustrasi: Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7).
Ilustrasi: Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7). | Puspa Perwitasari /ANTARA FOTO

Pernah suatu ketika, liftdi banyak hotel sepanjang Orchard Road, Singapura, disesaki asap rokok kretek. Di supermarket CK Tang, tempat belanja favorit, mudah ditemui orang Indonesia yang terseok-seok menenteng belanjaan.

Di Lucky Plaza orang Indonesia dengan mudah mengeluarkan dolar untuk membeli pelbagai barang elektronik, atau jam tangan mewah. Penerbangan dari Jakarta ke Singapura di akhir pekan kursi-kursinya selalu dipadati wisatawan Indonesia dari Jakarta, Surabaya, atau Semarang.

Mereka yang kini berusia 60-an tahun masih ingat untuk memperoleh setiap dolar Amerika mereka cukup mengeluarkan Rp420 saja.

Rupiah jadi salah satu mata uang kuat karena aliran dolar dari penjualan minyak masuk dengan deras, apalagi setelah harga minyak naik dari US$4,75 ke US$9,35 per barrel pada 1974 akibat embargo minyak oleh anggota negara-negara pengekspor minyak (OPEC). Naik tinggi setelah Mesir dan Suriah pada 6 Oktober 1973 menyerang Israel di Dataran Tinggi Golan (Suriah) dan semenanjung Sinai (Mesir).

Masa digdaya rupiah sudah berlalu. Orang kini hampir tiap hari berkeluh kesah mengenai merosotnya nilai rupiah yang makin mendekati Rp15.000 per dolar Amerika.

Herannya barang konsumsi impor dari gula pasir sampai mainan anak asal Cina yang sangat murah tetap masuk dengan deras. Gara-gara kebanjiran gula impor yang lebih murah, gula tebu petani lokal tidak laku dijual . Orang lalu berceloteh, zaman Pak Harto “luwih(lebih) enak”.

Tahun 1970-an dulu ekspor nonmigas masih kecil. Penerimaan pajak di APBN dan devisa di neraca pembayaran hampir 80% berasal dari ekspor minyak. Ketergantungan pada minyak sangat tinggi.

Wajar naiknya harga minyak akibat embargo disambut gembira. Embargo minyak yang semula ditujukan ke Amerika yang mendukung Israel dalam perang Oktober 1973 itu meluas ke negara Eropa lainnya.

Amerika dan Eropa mengalami krisis, apalagi setelah tahun 1975, minyak naik lagi jadi US$12,21 per barel. Inilah periode saat Indonesia kebanjiran petro dolar. Surplus itu kemudian didistribusikan ke dalam bentuk progam Inpres dengan membangun puluhan ribu sekolah dasar, pusat kesehatan masyarakat, dan memberikan subsidi BBM serta pangan (pupuk terutama) secara besar-besaran..

Eksportir yang berhasil menembus pasar Amerika terutama mendapat insentif Sertifikat Ekspor (SE) yang bisa diuangkan. Dengan rupiah yang kuat, barang impor juga masuk dengan deras sehingga mengakibatkan angka inflasi melambung ke angka 22%. Para ekonom sadar, kekuatan fiskal dan neraca pembayaran yang hampir sepenuhnya ditopang dengan penerimaan pajak penghasilan dan devisa minyak sangat rentan.

Berkah buat Indonesia, mengiringi kenaikan harga minyak, produksi minyak Indonesia pada tahun 1976 untuk pertama kali mencapai puncak tertinggi: 1,6 juta barel per hari, mayoritas dihasilkan dari lapangan minyak yang dikuasai PT CPI (Caltex Pacific Indonesia).

Namun saat harga minyak sedang mendaki, Indonesia dihantam krisis Pertamina yang memiliki utang jangka pendek milyaran dolar sehingga menguras cadangan devisa pemerintah untuk melunasi utangnya itu.

Para ekonom menyebut ekonomi Indonesia pada periode itu dihinggapi penyakit Belanda (Dutsch disease). Situasi ini mengacu pada keadaan ekonomi Belanda yang mengalami boom saat ladang minyak Laut Utara menyemburkan minyak dengan kualitas sangat baik (jenis Brent yang rendah kadar belerangnya). Tapi pada saat ekonomi Belanda boom, angka pengangguran justru melesat naik. Pasalnya industri migas yang padat modal sangat sedikit menciptakan lapangan kerja.

Ekonomi Indonesia yang menerimaoil windfall juga menghadapi situasi serupa. Masuknya petro dolar justru mendatangkan inflasi impor yang berasal dari masuknya barang komsumsi impor karena harganya murah dengan rupiah yang kuat. Untuk mengerem laju inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi, Rupiah akhirnya harus didevaluasi dari Rp.420 jadi Rp 625 per dolar Amerika pada tahun 1978.

Sejak itu turis Indonesia tidak lagi ramai berwisata belanja ke Singapura atau Hong Kong. Liftpusat perbelanjaan dan hotel tidak lagi dipenuhi asap rokok kretek. Tekanan atas permintaan bank notesdolar di tempat penukaran mereda.

Tapi pasok dolar dari hasil ekspor tidak terlalu menggembirakan. Kelemahan pasok dolar di neraca perdagangan ini bisa dikompensasi dengan masuknya dolar dari utang jangka panjang yang ditarik pemerintah lewat lembaga multi lateral seperti Bank Dunia.

APBN jika hanya bertumpu pada pajak dan devisa migas sangat rawan. Reformasi pajak kemudian dilakukan pada 1984. Untuk memaksimalkan penerimaan bea dan cukai, perusahaan SGS dipercaya menangani ekspor dan impor barang yang keluar dan masuk pelabuhan seluruh Indonesia. Untuk sementara Ditjen Bea Cukai dibebastugaskan.

Sementara itu, harga minyak terus mendaki hingga mencapai US$ 37,42/barel pada tahun 1980. Tapi karena suplai minyak bertambah banyak, terutama dati Laut Utara, harga minyak berangsur turun US$ 35,75 tahun 1981, US$ 31,83 (1982), US$ 29,08 (1983).

Turunnya harga minyak menyebabkan pasok dolar berkurang, padahal kebutuhan dolar untuk impor sangat tinggi. Tanggal 30 Maret 1983 itu, rupiah didevaluasi lagi dari Rp702 menjadi Rp970 (48%)

Usaha mengubah struktur APBN secara fundamental dengan menaikkan penerimaan pajak nonmigas dengan reformasi perpajakan belum berhasil, harga minyak naik turun seperti roller coaster. Cadangan devisa sangat tipis, sementara kebutuhan impor terus naik karena pabrik yang berdiri di sini perlu mengimpor bahan baku dan penolong. Inilah kelemahan ekonomi Indonesia, pertumbuhannya banyak ditopong industri substitusi impor – seperti industri otomotif.

Pertanyaannya, mengapa rupiah cenderung terus melemah, bahkan pernah mencapai Rp.16.000 saat krisis ekonomi 1998? Setelah suku bunga acuan (7 days repo rate) dinaikkan tiga kali mengapa rupiah tidak meninggalkan angka 14.000? Bahkan bukankah BI sudah menguras cadangan devisa hampir US$ 11 milyar dalam dua bulan, mengapa rupiah tetap lemah?

Jika dibandingkan situasi Mei 2013, tekanan yang dihadapi BI masih cukup ringan. Saat itu, BI sampai harus menguras devisa US$ 27 milyar dari bulan Mei hingga Agustus hingga menyebabkan cadangan devisa merosot jadi US$ 93 milyar yang hanya cukup untuk membiayai impor dan membayar utang lima bulan ke depan. Utang yang jatuh tempo pada semester kedua tercatat US$ 39 milyar.

Suku bunga acuan dinaikkan sampai 7%. Usaha mengerem inflasi, dan menarik dana asing secara bertahap itu akhirnya berhasil.

Kini situasinya masih lebih baik, suka bunga acuan, dan inflasi rendah. Cadangan devisa masih cukup kuat untuk membiayai impor dan pembayaran utang untuk 7 bulan ke depan.

Yang berbeda, kebanyakan orang Indonesia jika berbelanja di pertokoan Orchard Road, kini suka menghitung harga dengan aplikasi kalkulator di gawai mereka. Kesimpulannya, harga barang impor branded ternyata masih lebih murah di Indonesia..

Eddy Herwanto, wartawan senior pernah bekerja di koran Pedoman, Majalah Tempo, dan Editor
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR