Cara memanfaatkan jempol

© Lightspring /Shutterstock

SEDIKITNYA ada dua peran jempol dalam kehidupan sehari-hari kita di Indonesia. Keduanya ekstrem, dan bertolak belakang satu sama lain. Jempol yang satu membuat kita yakin, sedangkan jempol yang lain membuat kita ragu. Kita yakin dengan "cap jempol", tapi kita ragu dengan "isapan jempol".

Baiklah saya mulai dengan jempol yang meyakinkan. Dulu, waktu Belanda masih menguasai Indonesia, cap jempol adalah sebutan lain buat duimtopafdruk. Segala surat keterangan atau dokumen resmi, yang punya kekuatan hukum, lazimnya dibubuhi sidik jari.

Dalam studinya, Het Adatprivaatrecht van West Java (1933), misalnya, Mr. Soepomo mencatat bahwa di wilayah Mauk, dekat Karawang sekarang, orang biasa membubuhkan cap jempol pada surat wasiat.

"Door den oudsten zoon werd deze wasijat op gezegeld papier vastgelegd, hetwelk door hem, zijn broers en zuster en zijn moeder van een duimtopafdruk (tjap djempol) werd voorzien," urai pakar hukum adat terkemuka itu. Demikianlah, anak lelaki paling besar memegang surat wasiat yang bermaterai dan dibubuhi cap jempol dari adik lelaki, adik perempuan, dan ibunya.

Dulu orang yang hendak mengadu juga perlu membubuhkan cap jempol. Begitu kata W.F. Haase dalam Boekoe Penoentoen akan Dipakai oleh Priaji-priaji dalam Peperiksaan Voorlopig Onderzoek (1917).

"Pengadoean dalam soerat mesti memakai tanda-tangannja atau tjap-doemoek (djempol tangan)nja orang jang mengadoe itoe akan-tetapi tjap-doemoek itoe mesti dibenarkan oleh Notaris Kepala-Negeri atau Presiden Landraad," saran Haase.

Kelaziman itu, hingga batas tertentu, berlangsung sampai dengan saat Indonesia merdeka. Buktinya, waktu saya mengurus Surat Kelakuan Baik dan Surat Izin Mengemudi sekian puluh tahun lalu, polisi meminta saya membubuhkan sidik jari, termasuk sidik jempol.

Kalau anda mau melihat sentuhan artistik pada kebiasaan seperti itu, perhatikan saja lukisan dan patung karya Pak Naryo dari Bukit Pakar Timur, Bandung. Pada sejumlah karyanya, saya lihat ada semacam "cap jempol", tak terkecuali yang ukurannya seperti cap jempol raksasa.

Sampai di situ urusan cap jempol. Sekarang kita lihat urusan isapan jempol. Sebetulnya, tidak ada yang jahat pada kegiatan isap-mengisap jempol. Bayi-bayi yang gemar menyusu, setahu saya, suka melakukannya.

Kalaupun tindakan itu bisa berbahaya, paling-paling seperti yang tergambar dalam lagu "Bayi Tabung" dari mendiang Benyamin S. Dalam lagu itu ada seekor anak macan yang lahir di laboratorium. "Macan lahir, profesor jadi repot/pengen nyusu, jempol profesor disedot," lantun Bang Ben.

Kita jadi repot ketika jempol dijadikan metafora. Entah sejak kapan, bahasa Indonesia menjadikan frase isapan jempol buat menunjuk kabar bohong, kabar burung, desas-desus, gosip, dan sebangsanya. Mungkin sejak dusta menyusup ke dalam bahasa kita.

Dalam A Comprehensive Indonesian-English Dictionary (2010), Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgall-Tellings mengartikan isapan jempol sebagai "figment of one's imagination" atau "invented story". Singkatnya, isapan jempol adalah cerita yang dibuat-buat, tidak benar, penuh kebohongan.

Dalam bentuknya yang canggih, isapan jempol biasanya tertuang sebagai teori konspirasi. Ya, semacam teori tentang konspirasi.

Dengan itu orang membayangkan ada sebentuk serikat jahat yang hendak menyeret seisi jagat ke dalam hari kiamat. Terserah anda siapa saja yang anda inginkan untuk memainkan peran si jahat dalam imajinasi anda. Di Indonesia hari-hari ini, misalnya, teori konspirasi kedengarannya mengutuk Si Yahudi, Si China, Si Komunis, Si Illmunati, Si Mason, dan entah siapa lagi.

Oleh mereka yang malas berpikir, ogah bersusah-payah menyaring informasi, dan maunya cepat-cepat menarik kesimpulan, teori konspirasi pastilah diandalkan buat memuaskan rasa ingin tahu. Hoax ditelan bulat-bulat. Propaganda langsung dipercaya. Suburlah paranoia.

Saya sendiri memang sering ikut menonton The X-Files dan ikut membaca The Da Vinci Code. Namun, insya Allah, saya tidak akan percaya kepada anda sekiranya anda bilang bahwa sekawanan kadal dari luar angkasa diam-diam sedang mengendalikan seisi dunia manusia yang tidak sederhana ini.

Pada hemat saya, masalah pokok pada setiap teori konspirasi terletak pada sifatnya yang fantastis. Seakan-akan ada penjelasan tunggal bagi kompleksnya dunia manusia. Lagi pula teori konspirasi sesungguhnya bukan teori sama sekali. Ia sebentuk cerita kirata yang kekurangan bukti dan seringkali absurd.

Itulah sebabnya, saya tidak pernah membubuhkan tanda jempol pada status Facebook yang isinya berupa isapan jempol. Cara terbaik buat menghadapi hasutan adalah memilih fasilitas unfriend, sebagaimana memilih exit group atau leaving the group sungguh jitu buat menghindari pesan buruk dalam WhatsApp. Isapan jempol 140 karakter dalam Twitter, saya kira, bisa menimbulkan penderitaan selama 140 tahun, bahkan mungkin lebih lama lagi.

Hawe Setiawan, budayawan, kolumnis bebas, mengajar di Universitas Pasundan, Bandung
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.