Ilustrasi suporter Ultras. © Salni Setyadi / Beritagar.id

Dalam sepak bola, kita semua adalah Ultras

Mereka menjadi bagian dari sebuah kebudayaan yang tercipta di dalam lapangan ketika sebuah pertandingan sepak bola berlangsung.

Di depan Gedung Pertunjukan Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Bulungan, pertengahan Agustus 2017 sore, seorang pemuda tegap dan berkacamata menghampiri saya. Pemuda itu baru saja memenangi penghargaan naskah terbaik Festival Teater Jakarta Selatan 2017.

Tapi, pada pertemuan itu, pemuda bernama Diky Sumarno itu tidak berbicara tentang penghargaan yang baru saja dimenanginya. Ia justru bicara soal tim Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta yang sudah puluhan tahun terkenal dengan sebutan Persija.

"Bisalah, minimal Persija empat besar," kata Diky sambil tersenyum kepada saya. Persija saat itu sedang berlaga di kompetisi Liga 1 Indonesia 2017.

Sejak masih duduk di bangku SMP hingga kuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, ia sudah menjadi pendukung alias suporter Persija yang tergabung The Jakmania.

Kemanapun Persija bertanding ia mengikuti dan memompa semangat para pemain pujaannya itu. Kecintaan luar biasa Diky kepada sepak bola dan tim Persija melalui aktivitasnya di Jakmania, dipupuk melalui kesukaan keluarga, terutama ayahnya.

Diky bukanlah tipikal suporter penggemar sepak bola biasa, yang sekadar menyaksikan langsung tim idolanya bertanding. Selain penggemar, ia juga aktif bertemu dengan rekan-rekannya sesama suporter The Jak.

Ia juga ikut mengorganisir rekan-rekannya ketika harus menyaksikan langsung di stadion. Pun ia juga rajin berkomunikasi dengan para pemain terutama yang senior, seperti pemain penyerang Bambang "Bepe" Pamungkas.

Cerita tentang Diky bisa merepresentasikan tipe suporter sepak bola yang fanatik atau biasa kita kenal dalam sepak bola modern dengan istilah suporter Ultras.

Ultra dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bentuk kata terikat atau tidak dapat berdiri sendiri. Arti ultra adalah luar biasa berlebih-lebihan, teramat sangat. Makna itu sama dengan asal usul Ultras dari bahasa Latin yang berarti di luar kebiasaan.

Ultras pada awalnya identik dengan para suporter sepak bola yang berasal dari negara Italia. Itu bisa kita kenal dari sebagian kelompok suporter AC Milan atau Juventus di Seri A Liga Italia. Karena tayangan televisi, Ultras kemudian menjadi salah satu ikon global sepak bola.

Di liga-liga terkemuka dunia seperti Italia dan Inggris, mereka menjadi panutan dan menggerakkan satu komunitas kebudayaan tersendiri.

Dalam perkembangannya, makna suporter Ultras sudah bergeser dari sekarang sebagai sebuah kelompok militan tanpa organisasi tertentu yang mendukung sebuah klub. Suporter-suporter itu sekarang pada dasarnya adalah kelompok Ultras.

Adapun Diky kelak akan kita kenal bukan tipe suporter Ultras dalam arti khusus yaitu tidak terorganisir. Ia dan temannya hanya diikat dengan kecintaan yang luar biasa terhadap tim yang mereka dukung.

Diky aktif berorganisasi dan mengorganisir The Jak yang berdiri sejak 19 Desember 1997 sewaktu berlangsungnya Liga Indonesia (Ligina) IV. Pada periode kepengurusan 2017-2020, tokoh penting dari Teater Nonton terpilih sebagai sekretaris umum The Jak. Pada periode sebelumnya, ia menjabat kepala bidang informasi dan komunikasi.

Ultras Palembang melakukan Corteo ( jalan bersama) menuju Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (17/09/2017).
Ultras Palembang melakukan Corteo ( jalan bersama) menuju Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (17/09/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Beda Diky, beda Harie Pandiono. Harie pernah menemui saya ketika masih bekerja di sebuah media khusus olahraga di Jakarta pada periode 2000an.

Harie adalah arek Malang yang sangat terdidik dan bekerja di sebuah perusahaan internasional yang berada di Indonesia.

Harie sangat bangga dan mencintai identitas Arema yang terbentuk dari kultur yang diciptakan Aremania. Aremania adalah kelompok suporter klub sepak bola Arema yang justru membesar ketika suporter resmi yang dibentuk klub itu dibubarkan pada periode 1990an.

Aremania lahir setelah almarhum Acub Zaenal dan mendiang putranya, Lucky Acub Zaenal mendirikan klub Arema untuk mengikuti Liga Sepak Bola Utama (Galatama). Kompetisi semiprofesional pertama yang digelar pada periode 1980an itu diadakan setelah kompetisi amatir Perserikatan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Mendiang Lucky kemudian meneruskan jejak bapaknya di Arema ketika Galatama dan kompetisi PSSI disatukan dalam Liga Indonesia pada 2004-2005. Di rentang waktu itulah, Aremania lahir dan membesar yang sampai sekarang tanpa wujud organisasi yang lebih mengikat seperti Jakmania.

Harie tumbuh dalam kultur Aremania seperti itu. Ia rela bepergian ke segala penjuru saat cuti kantor. Termasuk rela tidur di kawasan Gelanggang Bulungan, ketika timnya tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada periode 2000an.

Harie rajin menjalin hubungan dengan mereka yang berasal dari Malang. Ia juga sering mengajak sesama pecinta Aremania berkumpul dan bertandang, termasuk ke Hayono Isman semasa menjadi menteri pemuda dan olahraga 1993-1998 .

Aremania lebih dari sekadar suporter yang mendukung klub dari Malang bernama Arema. Sebab, di Malang juga ada tim warisan dari kompetisi Perserikatan PSSI yaitu Persema Malang. Aremania telah meluas menjadi sebuah kultur atau komunitas budaya arek Malang dengan klub sepak bola Arema sebagai simbolnya.

Pada sosok Harie, kita temukan sosok suporter Ultras yang berbeda dari Diky. Struktur Aremania sampai sekarang tak terlalu rapi seperti The Jak. Kepengurusan terpusat tidak ada dan hanya berupa koordinator-koordinator wilayah (korwil).

Adapun Harie, yang pernah lama tinggal di luar Jawa dan Australia, pernah menyatakan diri sebagai Aremania Korwil Kongo, Afrika. Kakak kandung dari pemusik kontemporer, Wukir Suryadi, ini mengibarkan bendera Arema Indonesia berukuran raksasa ketika hadir langsung sebagai penonton pada putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Diky berkomunikasi dengan sesama pecinta fanatik tim sepak bola yang mereka dukung melalui sebuah organisasi yang rapi dan terstruktur. Sedangkan Harie melakukannya dalam sebuah komunitas cair lewat tatap muka, telepon, dan saluran hubungan elektronik atau online.

Cerita tentang Diky dan Harie ini adalah gambaran suporter Ultras mutakhir setelah kriterianya yang "murni" dipelopori Brigata Curva Sud pada 1976. Sebuah kelompok suporter PSS Sleman ini mengemuka sebagai grup yang memelopori paham Ultras di Indonesia.

Setelah Brigata, muncul Ultras lain seperti Green Nord '27 suporter Persebaya Surabaya, Curva Nord Pekanbaru suporter PSPS Pekanbaru, Ultras Persija Sektor 5 suporter Persija Jakarta, Ultras West Sumatera 1980 suporter Semen Padang FC, dan lainnya.

Mereka pada umumnya berpakaian hitam. Pada saat tim yang didukung sedang bertanding, mereka terus menyanyikan yel-yel dukungan kepada tim mereka. Mereka mengklaim kelompok mereka sebagai komunitas, bukan sebuah organisasi.

Di dalam stadion, para ultras biasanya berdiri di tribun utara atau selatan dengan menggunakan bendera raksasa dan kembang api. Sejumlah kelompok Ultras di Indonesia masih menjadi bagian dari kelompok suporter yang lebih dulu berdiri. Misalnya Green Nord '27 yang menjadi bagian dari Bonek, Ultras Persija Sektor 5 bagian dari The Jak, dan Curva Sud Arema (Arema Indonesia).

Dari Padang, Sumatera Barat, seorang pria yang bernama Rano Esmon (34), memilih suporter Ultras West Sumatera karena keegaliterannya. Ia juga tercatat salah seorang inisiator Ultras West Sumatera yang berdiri pada 2011. Anggotanya saat ini 200 orang. "Tidak ada struktur organisasi," katanya.

Mereka berkumpul sebelum pertandingan. Setelah pertandingan mereka akan melakukan tindakan "Ultras on the street." Saat menyaksikan tim Semen Padang bertanding di Liga Indonesia, mereka lebih mengutamakan nyanyian yang diiringi perkusi, dengan umbul-umbul bendera.

Suporter PSM Makassar menyalakan suar saat bertanding melawan Barito Putra di stadion Andi Matalatta, Makassar, Selasa (18/07/2017).
Suporter PSM Makassar menyalakan suar saat bertanding melawan Barito Putra di stadion Andi Matalatta, Makassar, Selasa (18/07/2017).
© Hariandi Hafid /Beritagar.id

Mereka tidak punya keterikatan kerja sama dengan manajemen Semen Padang. "Misalnya dapat diskon tiket sehingga kami tidak bisa didikte," kata Rano.

Salah satu rujukan dari Rano dan kawan-kawan ini adalah suporter Ultras di klub Bundesliga Jerman, yaitu Borussia Dortmund. Meski Semen Padang saat ini berada di papan bawah klasemen Liga 1 Indonesia, mereka tetap total mendukung timnya. "Seperti suporter di Eropa. Meski timnya berada di papan bawah, stadion tetap ramai," katanya.

Ultras baginya juga merupakan suatu cara untuk memberikan semangat kepada tim. "Tidak ada kembang api dan lain. Cukup suara, perkusi, dan bendera." Anggota Ultras mereka kebanyakan berasa dari anggota suporter lainnya.

Banyak buku kajian dalam dan luar negeri tentang suporter sepak bola fanatik dan militan ini. Tapi, pada dasarnya ada kesamaan pandangan bahwa mereka menjadi bagian dari sebuah kebudayaan yang tercipta di dalam lapangan ketika sebuah pertandingan sepak bola berlangsung.

Ini bisa dari sebuah tulisan admin Brigade Curva Sud ini di laman resmi mereka bcsxpss.com. "Memadukan bunyi dengan isi hati. Terlebih untuk dia yang menjadi jantung hati ini. Menilik lebih dalam mengenai chants dan doa. Agar apa yang telah menjadi ucapan adalah cita dan impian agar menjadi kenyataan."

Salah satu hal terpenting dari lima asas itu adalah slogan: No Leader Just Together.

Kecenderungan khas dari suporter Ultras di Indonesia ini tampaknya masih akan tetap ada dan berkembang. Tapi, dari gambaran cerita tentang Diky dan Harie itu kelihatan bila pengertian Ultras yang lebih luas bisa jadi memiliki kecenderungan pertumbuhan yang lebih besar.

Identitas The Jak, yang lahir dari sebuah kelompok yang lebih terstruktur, kini membesar dan menjadi milik pendukungnya sampai ke Bekasi, misalnya. Mereka merasa memilikinya, baik dengan mendaftar maupun tanpa harus melakukan saluran resmi seperti itu. Adalah juga sebuah kewajaran, mereka punya perwakilan di luar negeri seperti Aremania.

Di kategori Aremania yang hanya berdasarkan korwil-korwil juga terus tumbuh membesar. Para pendukung Persib Bandung yang dikenal sebagai bobotoh juga punya kemiripan seperti Aremania. Tak ada organisasi yang tunggal. Terdiri dari beberapa kelompok dan mereka dipersatukan oleh sebuah identitas bernama bobotoh.

Ultras yang tumbuh dari kecintaan yang luar biasa kepada sebuah klub sepak bola, termasuk di Indonesia, juga tidak selamanya bersih dari noda. Hal ini terutama ketika massa yang cair ini suatu saat emosinya tidak terkontrol lagi.

Mungkin ini juga yang menyebabkan tak sedikit media di sini yang menyebut sebuah kerusuhan yang dilakukan sejumlah pendukung tim sebagai tindakan suporter Ultras.

Padahal, awalnya mereka yang suka berbuat rusuh itu dikenal dengan sebutan hooligan. Ini dari tindakan anarkis yang dilakukan pendukung-pendukung klub sepak bola di Inggris. Ultras bisa terjebak menjadi hooligan.

Kecintaan luar biasa kepada klub yang didukungnya tercermin pada sosok Diky, Rano, dan Harie. Dari cinta tanpa batas itulah mereka kemudian membentuk kumpulannya, terstruktur maupun tanpa struktur.

Semua jenis suporter yang ada menjadi bagian penting dari industri sepak bola modern yang sudah mengglobal. Baik yang bersifat cair maupun terorganisir memerlukan kontrol yang tidak mudah dari para anggotanya. Hal itu tidak hanya pada soal potensi kericuhan, bentrok antarsuporter, tapi juga skandal lainnya.

Pada Agustus 2017, Tobias Jones menulis cerita panjang di The Guardian tentang seorang tokoh berpengaruh di sebuah kelompok suporter ultra klub Juventus yang bunuh diri pada Juli sebelumnya.

Tindakan yang dilakukan seorang pria bernama Raffaello Bucci itu terjadi setelah ia diperiksa polisi setempat dalam penyelidikan dugaan penggunaan suporter Ultras oleh mafia untuk mengatur pertandingan.

Tobias menulis suporter-suporter Ultras pertama terbentuk pada akhir 1960an ketika pendukung dari Milan, Inter, Sampdoria, Torino, dan Verona terbentuk dari para mantan geng.

Ini juga mengingatkan pada tren geng-geng yang terbentuk di Malang pada periode 1970 sampai 1980an sebelum tingkat kriminalitas yang tinggi itu bisa diredam melalui tumbuhnya suporter Aremania.

* Pengamat sepak bola, tinggal di Jakarta

BACA JUGA