Dari pola konsumsi hingga pasar e-commerce

Ilustrasi: Pasar di malam hari
Ilustrasi: Pasar di malam hari | Tithi Luadthong /Shutterstock

Surat dari Jatibaru, tertanggal 17 Desember 2018, mengetengahkan topik “Belanja Kita” sebagai edisi khusus tutup tahun Beritagar.id. Dengan mengolah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (yang dikeluarkan oleh BPS dari 2008 hingga 2017), tampak bahwa perkara belanja untuk serba-serbi makanan dan minuman penduduk Indonesia per bulan-nya menurun dibanding 40 tahun lalu —dari 50 persen lebih, menjadi kurang dari 50 persen.

Di sisi lain, perkara belanja untuk perlengkapan rumah, barang dan jasa, serta pakaian, cenderung meningkat proporsinya. Baik di perdesaan maupun perkotaan, proporsinya naik dari sekitar 30 persen menjadi lebih dari 50 persen (Editorial Beritagar.id, 17/12/2018).

Melihat fenomena perubuhan pola konsumsi masyarakat Indonesia ini, saya ingin membahas dua hal pokok yang patut didakwa sebagai pemicunya.

Pertama, ada geliat pertumbuhan populasi kelas menengah Indonesia dalam kurun waktu terakhir. Bank Dunia menyebut, pada tahun 2002, persentasi kelompok menengah Indonesia hanya 7 persen. Pada tahun 2017, angkanya naik menjadi 22 persen.

Sementara Boston Cunsulting Group (BCG, sebuah perusahaan konsultan manajemen global yang berpusat di Massachusetts, AS) memiliki data, sekarang ada sekitar 74 juta populasi kelas menengah di Indonesia. Jumlah tersebut diproyeksikan berlipat ganda pada tahun 2020, menjadi sekitar 141 juta orang —selama periode itu, sekitar 8 juta hingga 9 juta orang akan memasuki kelas menengah setiap tahun.

Perilaku konsumen kelas menengah memiliki karakteristik yang unik, yaitu orientasi kuat mereka pada keluarga. Para peneliti dari BCG berpendapat bahwa, saat suatu kelompok dari kelas bawah berpindah ke kelas menengah, mereka akan memfokuskan pengeluaran pada peningkatan kualitas kehidupan keluarga daripada memboroskan pendapatan untuk diri mereka sendiri.

Teori ini menjustifikasi pengeluaran kelas menengah ada pada segmen-segmen utama —seperti barang-barang rumah, kendaraan, pakaian dan jasa keuangan. Maka tak ayal dengan terus tumbuhnya populasi kelas menengah Indonesia, terjadi pula peningkatan proporsi konsumsi pada segmen-segmen tersebut.

Kedua, beriringan dengan pertumbuhan populasi kelas menengah, di Indonesia juga terjadi peningkatan penggunaan teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi menghadirkan bentuk pasar baru dalam komputasi awan.

Teknologi ini jauh lebih efektif menjangkau konsumen dan efisien dalam pengoperasiannya. Dengan mudahnya, pemasaran, pembelian, penjualan, dan penyebaran barang dan jasa diakses melalui sistem elektronik (e-commerce). Banyak perusahaan e-commerce yang dapat kita lihat bermunculan di pelbagai pariwara.

Di pasar e-commerce, menurut Jurnal (sebuah software akuntansi onlinedi Indonesia), produk-produk paling laris adalah gadget, fashion, perlengkapan rumah tangga, produk kesehatan, dan produk kecantikan.

Lalu mengapa serba-serbi makanan dan minuman kurang diminati di pasar e-commerce? Pertumbuhan kelas menengah saja bukanlah jawaban yang memuaskan.

Konsumen e-commerce tidak begitu meminati serba-serbi makanan dan minuman karena memang produk konsumsi tersebut akan meminta cost lebih untuk dibeli dari jarak yang begitu jauh. Setidaknya untuk saat ini.

Jika ditelusuri, produk terpopuler di situs-situs toko onlineumumnya didominasi oleh barang-barang dengan harga terendah. Menunjukkan bahwa perdagangan elektronik memang menggaet semua kelas.

Pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12 Desember kemarin, pasar e-commerce Indonesia meraih transaksi sebesar Rp6,8 triliun. Jumlah sedikit meleset dari target awal: Rp7 trilliun.

Beberapa pengamat membanding-bandingkannya dengan kata “tidak ada apa-apanya” terhadap transaksi yang diraih Alibaba di angka 30 miliar dolar AS (atau sekitar Rp438 triliun) pada hari belanja online mereka di Tiongkok.

Melihat disimilaritas angka transaksi belaka sebenarnya merupakan perspektif yang parsial. Banyak faktor yang output transaksi e-commerce Alibaba di Tiongkok lebih unggul. Diantaranya, populasi kelas menengah Tiongkok saat ini nomor satu di dunia —maka bukan mengejutkan juga arus transaksi elektronik mereka juga deras.

Kemudian, perusahaan e-commerce Tiongkok sangat diuntungkan karena membonceng perayaan Single Day. Single Day adalah momen budaya di Tiongkok yang muncul sebagai oposisi peringatan Hari Valentine.

De facto holiday itu tumbuh dari budaya asrama Universitas Nanjing. Pada suatu hari di tahun 1993, empat mahasiswa pria dari asrama Mingcaowuzhu di Universitas Nanjing mendiskusikan bagaimana mereka dapat melepaskan diri dari kebodohan menjadi lajang, olok-olok atau apapun yang merendahkan status mereka.

Kemudian diskusi menyepakati bahwa perlu adanya suatu perayaan dan 11 November (11.11, secara simbolis angka ini dinilai tepat untuk) ditetapkan sebagai harinya.

Dari tahun ke tahun peringatan Single Day terus menyebar melalui universitas dan akhirnya tersosialisasi ke masyarakat yang lebih luas. Penyebaran meningkat dengan penggunaan media sosial. Hari ini peringatan Single Day menjadi semakin populer di dalam budaya dan masyarakat Tiongkok kontemporer. Kegiatan di hari itu tidak jauh dari berbelanja dan berpesta memanjakan diri.

Terakhir, Tiongkok punya undang-undang khusus untuk melindungi hak-hak hukum dan kepentingan semua pihak dalam pasar e-commerce. Sementara perkembangane-commercedi Indonesia tidak dibarengi dengan regulasi yang mengaturnya.

Tahun 2015 lalu, Menkominfo RI, Rudiantara, menargetkan roadmap atau Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) E-commerce bisa rampung sebelum masuk 2016 (Kominfo.go.id, 30/9/2015). Tapi, prosesnya tampak lamban sekali. Sudah mau berakhir tahun 2018, status regulasi tersebut masih “akan diterbitkan”.

Padahal, di tengah pesatnya perkembangan perdagangan elektronik, masyarakat membutuhkan perlindungan dalam bertransaksi —karena konsumen tidak dapat melihat langsung siapa penjual dan produknya (kecuali gambar).

Maka dibutuhkan pengaturan tentang standar produk, perlindungan data pelanggan, hingga penyelesaian sengketa dengan pihak-pihak terkait bila terjadi wanprestasi serta kewajiban (dalam hal ini tanggung-jawab) platforme-commerce sebagai marketplace.

Marlis Kwan, analis fair business for environment, Alumnus UNSW Sydney
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR