Dengan atau tanpa gelar, undangan tetap bercerita

Ilustrasi: Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka menunjukkan undangan pernikahan adiknya Kahiyang Ayu dengan Muhammad Bobby Afif Nasution di Solo, Jawa Tengah, Minggu (29/10).
Ilustrasi: Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka menunjukkan undangan pernikahan adiknya Kahiyang Ayu dengan Muhammad Bobby Afif Nasution di Solo, Jawa Tengah, Minggu (29/10).
© Kris /ANTARA FOTO/Setpres

Menyebut pernikahan, yang terdengar hanya kebahagiaan setelah rasa deg-degan berhari-hari. Bukan hanya calon mempelai atau keluarga kedua mempelai saja yang dihinggapi kecemasan berlebih. Sahabat, bahkan media sosial, juga turut akan berkomentar tanpa dipersilakan terhadap pernikahan apapun, siapapun; anak Presiden apalagi.

Pernikahan putri Presiden Jokowi juga tak luput dari spekulasi. Lagi-lagi soal undangan. Lantas bermunculan kubu-kubu yang saling membenarkan diri untuk memenangkan perdebatan: apakah pantas atau tidak mencantumkan gelar akademis pada undangan pernikahan?

Undangan pernikahan putri semata wayang Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu, dengan Muhammad Bobby Afif Nasution bentuknya sederhana. Hanya satu lembar. Pada undangan berukuran 18 x 26 sentimeter yang bersampul beludru merah marun itu terdapat ukiran gunungan berwana emas. Undangan itu dilapisi plastik mika sebagai pelindung.

Di dalam undangan terdapat secarik kertas berwarna biru tua untuk pengambilan suvenir. Di kertas tersebut juga terdapat tulisan agar para tamu tidak memberi sumbangan, sekaligus sebagai akses masuk gedung. "Dengan tanpa mengurangi rasa hormat mohon maaf kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun," begitu bunyi tulisan dalam secarik kertas tersebut.

Sementara di bawah ukiran gunungan terdapat nama kedua calon mempelai 'Kahiyang dan Bobby' tanpa embel-embel gelar akademis. Begitu juga ayah dan ibunya. Jika saja tak heboh oleh media sosial, tak ada seorang pun yang bisa menebak yang menikah adalah putri atau calon menantu Presiden. Melihat kartu Undangan Kahiyang Ayu, banyak yang memuji kesederhanaan putri Presiden ini. Sederhananya Presiden Jokowi memang juara.

Melihat surat undangan pernikahan yang tidak menyertakan gelar akademis kedua mempelai, apakah kita lantas bebas nyinyir kepada mereka yang dengan sengaja dan sadar menuliskan gelar akademis dalam undangannya? Apakah mereka yang tak menulis gelar akademis bisa dianggap paling sopan, sedangkan mereka yang menulis gelar akademis dalam kartu undangan dianggap sebagai pribadi yang paling jumawa?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika membaca sebuah tulisan, yang seolah mengampanyekan untuk berhenti menuliskan gelar akademis di surat undangan, menyebar di Facebook. Kalimatnya provokatif sekali, "Lagi pula ya, sekali lagi, ini mau nikah lho bukan ngisi seminar". Bukankah yang kita pandang baik, belum tentu baik juga untuk ukuran sudut pandang seluruh manusia di muka bumi ini? Tidak perlu memaki begitu, teman.

Jika gelar akademis, yang dicantumkan dalam surat undangan itu, diperoleh oleh seseorang lewat beasiswa yang setengah mati dicairkan, lewat kerja keras siang malam, apakah masih patut untuk disikapi dengan nyinyir?

Lagi pula menuliskan gelar di surat undangan bisa jadi membuka pintu rejeki. Dengan mencantumkan gelar akademis, surat undangan berpotensi menghubungkan sang pengantin dengan tamu undangan yang sedang membutuhkan keahlian tertentu yang sesuai dengan gelar akademis itu. Bukankah semakin dikenal orang, maka semakin mudah pula pintu rejeki terbuka?

Boleh saja tidak menuliskan gelar akademis di kartu undangan untuk menunjukkan kesederhanaan. Namun, jika hal itu dibarengi dengan kenyinyiran terhadap pihak yang memercayai lain, justru bisa memancing kenyinyiran balasan yang menuding bahwa di balik kesederhanaan itu ada kegagagalan-kegagalan dan dendam membara terhadap dunia akademis.

Jalan paling manusiawi adalah menghargai setiap keputusan seseorang. Memakai atau tidak memakai gelar tentu mempunyai pertimbangan masing-masing yang berbeda. Cukup hargai apa yang mereka tulis di surat undangan.

Menuliskan kata-kata yang dirangkai jadi kalimat dalam setiap undangan pernikahan, pasti dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh kedua mempelai. Setiap pertimbangan datang dan disepakati oleh perempuan maupun laki-laki yang mengundang. Tentunya, mereka juga yang paling tahu dan paling berhak untuk menilai pantas atau tidak sebuah gelar dituliskan dalam undangan. Tugas pihak yang diundang hanyalah datang dan menikmati pesta. Atau kalau tidak berkenan, jangan datang. Sesederhana itu, bukan?

Mempersiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah, teman. Mereka, kedua mempelai, harus mengorbankan waktu, tenaga, ide yang tidak sedikit. Mereka berburu, mencari, akhirnya menemukan yang tepat. Patut diapresiasi, meski semuanya tak sesuai dengan keinginan. Percayalah, kedua mempelai telah melakukan dengan sebaik-baiknya.

Dengan atau tanpa gelar, pernikahan adalah mewujudkan kebahagiaan. Bukan jaminan yang menulis gelar akan jauh lebih bahagia daripada yang tidak menulis. Begitu pula sebaliknya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.