Deposito bank lari ke ORI015

Ilustrasi: Mengatur larinya koin uang.
Ilustrasi: Mengatur larinya koin uang. | EKKAPHAN CHIMPALEE /Shutterstock

Dua bulan terakhir, likuiditas (dana tunai) perbankan terasa makin ketat. Maklum pertumbuhan pemupukan dana pihak ketiga (DPK) dari deposito, tabungan, dan rekening koran yang mengendap kalah cepat dengan pertumbuhan kredit perbankan.

Kredit tumbuh 12,69 persen sedang pemupukan DPK hanya 6,6 persen. Terjadinya gap itu menyebabkan loan to deposit ratio (LDR) dari Agustus ke September memburuk dari 94,16 persen menjadi 94,27 persen. Padahal batas aman LDR yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah 92 persen.

LDR (kemudian disebut Loan to Funding Ratio, LFR) adalah perbandingan antara kredit yang diberikan dengan DPK bank. Naiknya rasio LFR harus cepat diatasi perbankan, karena jika lambat, suatu ketika perbankan bisa gagal memenuhi permintaan kredit dari nasabah.

Padahal permintaan kredit (untuk ekspansi, investasi baru) atau modal kerja diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja baru sehingga sasaran pertumbuhan ekonomi tidak meleset dari 5,2 persen. Jika pemupukan DPK sulit dipenuhi, perbankan akan tergoda mengambil kekurangannya dari dana cadangan (reserve requirement).

Itu berbahaya. Pengurangan dana cadangan bisa menyebabkan bank mudah goyah menghadapi guncangan; bahkan LFR bank bisa melampaui angka 100 persen.

Naiknya LFR perbankan ini diungkapkan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) 30 Oktober 2018 saat mengumumkan kenaikan suku bunga penjaminan untuk simpanan rupiah di bank umun dan bank perkreditan rakyat masing-masing 25 basis poin menjadi 6,75 persen dan 9,25 persen. Tingkat bunga penjaminan yang baru ini mulai berlaku 31 Oktober 2018-12 Januari 2019.

Peringatan LPS itu patut diperhatikan. Apalagi, demikian Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan, LFR perbankan bank Buku III (modal inti Rp5 triliun sampai dengan Rp30 triliun) sudah mencapai 103,3 persen (September 2018). Padahal sebelumnya baru 94,9 persen (September 2017).

Pada periode yang sama LDR bank Buku II (modal inti Rp1 triliun sampai dengan Rp5 triliun) dari 86 persen naik ke 89 persen. Sementara LDR bank Buku I (modal inti kurang dari Rp1 triliun) naik dari 75 persen jadi 84,1 persen. Sedang bank Buku IV (modal inti lebih dari Rp30 triliun) justru turun dari 90,4 persen menjadi 89,6 persen.

Perbedaan angka LFR pada perbankan itu menunjukkan kelemahan perbankan Buku III dalam memupuk DPK dari masyarakat, meskipun tahun ini perbankan sudah beberapa kali menaikkan suku bunga deposito. Penyesuaian suku bunga deposito itu perlu dilakukan agar perbankan bisa mempertahankan DPK mereka, setelah BI menaikkan suku bunga 7 Day Reserve Rate secara bertahap hingga mencapai 5,75 persen sejak akhir September.

Bahkan BCA mengaku sudah lima kali menaikkan suku bunga deposito sepanjang 2018. Tapi tetap saja sejumlah Rp1,3 triliun dana depositonya lari ke ORI015 (Obligasi Negara Ritel Indonesia, ORI Seri 15). Suku bunga ORI015 yang 8,25 persen tentu saja lebih menarik dibandingkan bunga deposito BCA yang 6 persen untuk simpanan di atas Rp 1 milyar.

Untuk membeli ORI015, bisa dengan uang Rp 1 juta (minimal) atau Rp 3 milyar (maksimal) dan memperoleh kupon (bunga) lebih menarik: 8,25 persen. Selain bunga lebih tinggi, pajaknya juga lebih rendah 15 persen (ORI015) berbanding 20 persen final (deposito dan tabungan).

Pemerintah menjanjikan kupon (bunga) akan berada di atas bunga rata-rata bunga deposito bank BUMN. Pokok dan kupon ORI015 dijamin pemerintah dengan masa tenor 3 tahun. ORI015 bisa diperdagangkan (hingga punya kesempatan memperoleh capital gain), dengan kupon yang dibayarkan setiap bulan tanggal 15. Yang menarik ORI015 bisa dijaminkan atau dipinjamkan kepada pihak lain.

Kini mulai terasa usaha pemerintah melakukan pendalaman di pasar keuangan dalam negeri mempengaruhi posisi DPK perbankan. Apalagi instrumen SBN (Surat Berharga Negara) makin beragam – ORI dengan pecahan minimal Rp1 juta, Saving Bond Ritel (SBR) pecahan Rp1 juta dengan bunga mengambang, dan Obligasi Negara (Treasury Bonds).

Pemesanan ORI015 kemarin mengalami kelebihan permintaan 2,35 kali, dan berhasil mengumpulkan dana Rp23,378 triliun. Sedang dari SBR (003 dan 004) diperoleh Rp9,251 triliun. Kemudian dari Sukuk Ritel (SR) seri 10, didapat Rp8,437 triliun. Dengan demikian sepanjang 2018 dari ORI015, SBR, dan SR010 bisa diperoleh dana Rp 41,07 triliun.

Upaya pemerintah menggalang dana rupiah tampaknya akan terus dilanjutkan untuk menutup defisit APBN 2019 kelak. Tahun depan, pemerintah berencana mencari utang Rp359,3 triliun untuk menutup defisit APBN 2109 (turun sedikit dari 2018 yang mencapai Rp387,4 triliun).

Mayoritas utang akan dicari dalam pecahan rupiah (pasar uang dalam negeri) agar tahan menghadapi guncangan perubahan nilai tukar rupiah melawan dolar.

Ini menjadi indikasi pemerintah akan agresif menerbitkan instrumen SBN ritel untuk menyedot dana rupiah dari masyarakat (perbankan). Karena itu perbankan perlu melakukan perubahan strategi dalam memupuk dana.

Pertama, menyesuaikan suku bunga deposito untuk deposan kecil mendekati suku bunga SBN namun tetap tidak melampaui suku bunga penjaminan LPS yang baru ditetapkan.

Kedua, menaikkan suku bunga deposito untuk nasabah utama yang memiliki deposito di atas Rp 1 miliar yang biasanya gampang goyah.

Jika perlu, pemegang saham bisa menambah modal (terutama bank Buku III) dengan mengonversi laba ditahan menjadi modal inti. Atau bank menerbitkan saham baru, hal yang biasa dilakukan perbankan yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia. Namun bank juga bisa menerbitkan surat berharga (obligasi) dengan kupon lebih menarik dibandingkan SBN.

Instrumen obligasi ini menarik karena pemerintah sedang mengkaji penurunan tarif pajak final kupon obligasi yang kini 15%. Jika perbankan tidak menaikkan suku bunga pinjaman karena akan memberatkan nasabah, maka perbankan berarti akan mengurangi net interest margin (NIM) agar kredit tetap bisa tumbuh. Kendati NIM turun, laba tetap bisa tumbuh jika perbankan bisa menaikkan volume penyaluran kreditnya.

Dengan langkah mitigasi itu maka diharapkan pemupukan DPK perbankan bisa tumbuh pesat. Perbankan perlu memperhatikan lebih cermat perubahan pemupukan dananya.

Pada periode Juli ke Agustus 2018 jumlah penabung naik significant dari 254.404.727 (Juli) ke 256.297.780 penabung (Agustus). Tapi nilai tabungannya justru merosot Rp3,437 miliar; dari Rp1.720.560 miliar (Juli) ke Rp1.717.127 miliar (Agustus).

Hal serupa juga terjadi pada sertifikat deposito dan rekening koran (giro). Hanya deposito yang masih tumbuh meskipun melambat.

Bisa jadi penurunan terjadi karena sebagian dananya pindah ke SBN (terutama ORI015) seperti terjadi pada BCA.

Tahun depan bank perlu kreatif memupuk DPK mereka agar bank bisa memenuhi permintaan kredit nasabah. Jika telat mikir, bisa saja bank tumbang karena menghadapi missmatch (dana yang keluar lebih besar dibandingkan dana yang masuk).

Eddy Herwanto, Pernah bekerja di koran Pedoman, Majalah Tempo, dan Editor.
BACA JUGA