Doa tolak hoax

© karen roach /Shutterstock

Di kampus kami ada mata kuliah "Journalistic Composition". Kebetulan, pada semester ini sayalah orang yang tertimpa nasib untuk jadi instrukturnya. Saya menerima nasib ini dengan lapang dada.

Syukurlah, mahasiswanya hanya belasan. Saya sambut mereka dengan tangan terbuka dan sebuah catatan bahwa saya bukan ayah atau pacar mereka. Kalau mereka berperilaku buruk, saya tidak dapat menolong. Mari kita belajar bersama.

Mengantuk dipersilakan, tapi jangan mengobrol. Anggap saja kuliah saya semacam khutbah Jum'at. Yang terpenting, buatlah tulisan yang dapat dimengerti oleh sesama manusia.

Hal pertama yang saya perbuat adalah mengutip Bill Kovach: "tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang diperlukan oleh warga supaya bisa hidup merdeka dan mandiri." Sebagai tambahannya, fatwa dari C.P. Scott tak mungkin terlupakan: "orang bebas berkomentar, tapi fakta jangan dinodai".

"Siapa sebetulnya yang disebut 'warga', Pak?" tanya seorang mahasiswa yang terbebas dari kantuk.

"Kita semua, bagian dari orang banyak yang membayar pajak, yang membeli barang konsumsi, yang berduyun-duyun ke bilik suara. Macam civitas di kampuslah begitu. Kita pakai istilah citizen. Buat melihat rupa-rupa warga, kalian naik bus kota saja dari Ledeng ke Leuwipanjang.

Lihat di sepanjang jalan: ada ibu menuntun anaknya di mulut gang menuju sekolah, ada tukang tambal ban yang tangannya berkeringat, ada pengamen, dan banyak lagi," omong saya.

Supaya teman-teman merenungi apa itu "komposisi", saya sarankan mereka pergi ke perajin karangan bunga di Wastukancana. Rupa-rupa bunga dari Cihideung dan tempat pertanian lainnya direkrut ke situ. Oleh para perajin, bunga-bunga itu dipilih, dipilah, dan disusun menurut pola tertentu. Jadilah ungkapan "turut berduka cita" atau "selamat dan sukses".

Setelah kuliah berjalan beberapa pekan, saya menerima sekian usulan. Assyifa ingin mencatat ritme kerja pedagang sayur. Amalia mau mengamati kegiatan klub bahasa Inggris di kampus. Rino tertarik oleh aplikasi "Eye-D" buat membantu penglihatan. Rofik terpikat oleh komunalitas para pengendara sepeda motor.

Dewanggie peduli pada tata warna angkutan kota. Pokoknya, usulan teman-teman dapat dipastikan bisa menggugah Goenawan Mohamad atau Karni Ilyas untuk mempertanyakan angle, magnitude, dan sebagainya.

Soal-soal teknis tidak menemui kesulitan berarti. Teman-teman tinggal diajak mengikuti siklus "berpikir-mencatat-menulis-menyunting". Stay offline selagi kita menulis. Hapus kata yang tidak perlu ketika kita menyunting. Seni menulis yang sesungguhnya terletak pada kegiatan menulis ulang atau merombak tulisan. Di muka bumi tiada hal yang sekali jadi.

Hal yang terasa susah, dan sering bikin gelisah, adalah menggembleng diri buat menggali, memeriksa, dan menghormati fakta. Terus terang, saya tidak tahu bagaimana metodenya. Pada pihak saya hanya ada secuil pengalaman jurnalistik dan sekelumit kepercayaan pada akal sehat. Sumber informasi jelas perlu dicari, barangkali dengan jerih-payah seperti yang ditunjukkan oleh para perawi hadits yang terpercaya seperti sang editor dari Bukhara.

Sering saya merasa bahwa jagat informasi hari ini penuh-sesak dengan hoax. Kabar-kabur, desas-desus, atau informasi yang belum diuji, bertebaran dari sana-sini. Dengan perangkat pintar dalam genggaman, dan dengan ujung jari tangan yang bisa menjangkau dunia, orang seakan bisa seenaknya mereka-reka dan menyebarluaskan narasi.

Saya bukan ahli linguistik tapi sebelum menulis kolom ini saya mencoba membaca studi Theresa Heyd, Email Hoaxes (2008). Saya jadi mafhum bahwa sejak dasawarsa 1990-an komunikasi bermedia komputer disusupi banyak "pesan yang mengandung informasi keliru atau setidaknya bermasalah".

Dusta digital itu beragam, mulai dari yang berupa ancaman hingga yang berupa cerita, dan biasanya dibubuhi saran bagi siapa saja yang menerimanya untuk turut menyebarluaskannya.

Di tengah keadaan demikian, saya hanya sanggup mengisi kelas dengan saran yang lemah dan pasti sudah menyebabkan teman-teman bosan. Lebih-kurang, begini bunyinya: "Di tengah keleluasaan berkomunikasi hari ini, mau nggak sih masing-masing orang di antara kita bekerja dengan standar yang keren, termasuk standar etikanya?"

Hawe Setiawan, budayawan, kolumnis bebas, mengajar di Universitas Pasundan, Bandung
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.