MENJELANG PILPRES 2019

Dua wajah politik kelas menengah

Ilustrasi: Lukisan dua wajah
Ilustrasi: Lukisan dua wajah | Kvocek /Shutterstock

Ketegangan politik tahun 2014 diramalkan akan kembali terjadi pada 2019. Kekhawatiran ini beralasan karena gejala ke sana memang ada.

Kondisi demikian tidak lepas dari perilaku politik kelas menengah. Selain dominan jumlah, kelompok demografis ini memiliki kekhasan perangai yang membuat politik elektoral semarak, berisik, sekaligus menegangkan.

Sebagai kelompok demografi, kelas menengah ditandai dengan sejumlah ciri. Asian Development Bank (ADB) menyebut kelas menengah adalah penduduk berpenghasilan 2 sampai 20 dolar.

Secara relatif, kelas menengah dicirikan oleh kepemilikan 30 persen penghasilan menganggur. Mereka adalah kelompok demografis yang telah selesai dengan kebutuhan dasar (basic need) dan mengalihkan perhatian untuk memenuhi kebutuhan sosial (social need).

Dengan kriteria demikian, profil ekonomi menengah cenderung berbeda dengan masyarakat kelas bawah (miskin) dan atas (elit, kaya). Kekhasan profil ekonomi juga menciptakan kekhasan perilaku sosial.

Kondisi inilah yang membuat kelas menengah juga memiliki pandangan dan perilaku politik yang unik. Kekhasan itu, menurut Midle Class Institute (MCI) dibentuk oleh tiga hal yaitu kepemilkan resources, pengetahuan, dan jaringan sosial.

Kepemilikan resources ekonomi, pertama-tama, berpengaruh terhadap orientasi kebutuhan. Secara umum, kelas menengah telah bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Mereka bahkan memiliki 30 persen penghasilan tak terpakai yang memungkinkan mereka menjangkau kebutuhan sekunder dan tertier.

Sisa penghasilan itu membuat mereka bisa memiliki smartphone,mengakses internet, dan memiliki waktu luang sehingga bisa berpartisipasi dalam diskusi publik di dunia maya.

Rata-rata kelas menengah memiliki latar belakang pendidikan baik, setidaknya SMA dan sarjana. Wawasan yang memadai membuat mereka cenderung menganggap persoalan publik sebagai sesuatu yang penting.

Isu-isu politik di tingkat lokal dan nasional menjadi perhatian mereka. Bahkan pada segmen yang lebih spesifik, mereka memiliki perhatian terhadap isu global seperti perdamaian dunia, kesetaraan gender, dan global warming.

Di sisi lain, kelas menengah juga memiliki dorongan untuk bergaul secara luas. Dorongan ini timbul karena motif mengembangkan diri, memamerkan keberhasilan, juga akibat tersedianya waktu longgar. Dorongan itu disalurkan dengan berkomunitas, seperti mengikuti organisasi profesi, perkumpulan berbasis hobi, dan yang sangat kentara: beraspirasi di media sosial.

Bias pandangan

Bagi kelas menengah, politik adalah sesuatu yang penting karena berkaitan dengan kehidupan banyak orang. Pandangan ini membuat mereka terdorong terlibat dalam perumusan dan pengawasan kebijakan publik.

Berbagai saluran aspirasi diciptakan agar suara mereka terverbalkan. Mereka giat mengorganisasi diri, terutama di media sosial, sehingga suara personal yang minor bisa diubah menjadi suara komulatif yang mayor.

Kesuksesan publik mengawal kasus Cicak Versus Buaya, kemenangan Jokowi, dan berdirinya petisi daring Change.org adalah sebagian contoh keberhasilan kelas menengah mengawal isu publik. Kesuksesan tersebut berpangkal pada pandangan kelas menengah yang menginginkan keterbukaan, supremasi sipil, kebebasan berpendapat, dan meritokrasi.

Kelas menengah bahkan menciptakan tren baru menggalang derma secara daring melalui berbagai aplikasi crowdfunding. Mereka bukan hanya dominan secara jumlah dan resources, tetapi telah menawarkan aneka kebaruan dalam berpolitik.

Meski giat beraspirasi, kelas menengah cenderung bias dalam memilih dan mengelola isu publik. Kondisi ekonomi, pendidikan, dan sosial yang lumayan kerap membuat mereka “terpenjara” oleh orientasi kepentingannya.

Jika berkaitan dengan isu yang sesuai kepentingannya, mereka sangat giat. Tapi mereka cenderung abai terhadap isu yang hanya menyangkut kepentingan masyarakat kelas bawah. Kalaupun (tampak) peduli dengan masyarakat miskin, kelas menengah biasanya sekadar memanfaatkannya sebagai panggung pembentuk citra.

Kelas menengah cenderung memiliki kesadaran bahwa modal sosial adalah sesuatu yang berharga. Reputasi, citra, dan branding personal perlu dikelola.

Kesadaran itu membuat mereka memiliki dua panggung. Di panggung depan mereka menampilkan diri dengan berbagai atribusi moralnya. Sementara di panggung belakang, mereka cenderung bersikap oportunistis untuk memuluskan kepentingan diri dan kelompoknya.

Menurut Goffman (1959) kehidupan dua panggung memang lumrah dalam interaksi manusia. Ketika berkomunikasi, setiap individu berusaha mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitar agar bisa menampilkan diri sesuai kondisi yang paling dikehendaki.

Individu itu memilah pesan yang dinyatakan di publik dan pesan yang disimpan. Karena memiliki pengetahuan dan sarana komunikasi yang memadai, kelas menengah cenderung lebih piawai memainkan sandiwara tersebut dibanding kelas bawah.

Kelompok dan identitas

Penelitian Midle Class Institut (MCI) menunjukkan bahwa kelas menengah punya dorongan kuat untuk terhubung dengan orang lain. Dorongan ini muncul karena mereka telah selesai dengan kebutuhan dasar, punya 30 persen penghasilan menganggur, dan punya waktu luang.

Ikatan sosial tradisional cenderung longgar dan mereka membentuk ikatan-ikatan sosial baru, baik yang berbasis kepentingan, hobi, maupun ideologi. Ikatan sosial baru seperti arisan, grup pengajian, atau klub motor, atau fanbasedianggap lebih bermakna dibanding nasab dan asal wilayah.

Gejala ini baik karena mendorong kelas menengah mengembangkan hubungan sosial. Tetapi di sisi lain, afiliasi kelompok membuat sentimen identitas lebih kuat dan rawan dimanipulasi.

Kecenderungan itulah yang membuat benturan antarkelompok lebih sering terjadi pada beberapa tahun terakhir. Dalam bidang agama, kelompok konservatif berbenturan wacana dengan kelompok liberal. Kelompok pro purifikasi berbenturan dengan kelompok progresif. Kelompok yang mengklaim “struktural” kerap bentrok gagasan dengan kelompok “kultural”.

Dalam bentuk paling naif, benturan antarkelompok bisa disaksikan pada kelompok “cebong” dan “kampret” yang tak pernah lelah bertengkar dalam 5 tahun terakhir.

Jelang pemilihan presiden tahun 2019, benturan gagasan antarkelompok cenderung semakin terbuka. Kelas menengah akan menjadi pemain yang sangat mempengaruhi hasil akhir. Wajah politik Indonesia, entah baik atau buruk, sangat dipengaruhi perilaku politik mereka.

Rahmat Petuguran, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR