Ekspansi kredit terganjal bunga

Ilustrasi: Seorang karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6).
Ilustrasi: Seorang karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6). | Sigid Kurniawan /ANTARA FOTO

Bulan Syawal menjadi hari tidak menentu bagi para bankir setelah Kamis 14 Juni 2018, Federal Reseve Bank kembali menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) ke angka 2 persen.

Ini kali kedua Fed (Bank Sentral Amerika) pada 2018 menaikkan suku bunga acuan hingga membuat para manajer investasi ramai-ramai menjual portfolio mereka di saham dan surat berharga milik negara berkembang (emerging market). Mereka kemudian mengalihkan asset-nya ke mata uang dolar dan surat berharga yang diterbitkan pemerintah Amerika dengan imbal hasil lebih menarik.

Pelarian dana panas ini telah merontokkan harga saham perbankan dan perusahaan properti Indonesia, dua sektor usaha yang diperkirakan bakal terpukul akibat kenaikan FFR. Secara rerata harga saham perbankan misalnya turun 5 persen saat Bursa kembali dibuka 20 Juni.

Sekalipun Bank Indonesia sudah menaikkan 7 Days Repo Rate dua kali di bulan Mei -dari 4,25% ke 4,5% pada 17 Mei, kemudian dari 4,5% ke 4,75% pada 30 Mei, Investor asing melihat imbal hasil saham di Bursa Indonesia (IDX) dianggap masih belum menarik lagi.

Kenaikan suku bunga acuan BI dan FFR itu tidak terlalu lama lagi akan mendorong bank menaikkan suku bunga deposito dan tabungan mereka sebagai sumber utama Dana Pihak Ketiga (DPK). Kenaikan biaya penggalangan DPK itu, cepat atau lambat, akan mempengaruhi biaya dana perbankan.

Penyesuaian itu perlu dilakukan perbankan agar, pertama, DPK mereka tidak berkurang karena pemilik dana rupiah mengalihkannya ke dolar; dan kedua, menjaga agar bank tetap likuid dengan memiliki uang tunai cukup tebal.

Karena biaya DPK naik, maka bank juga akan menaikkan suku bunga pinjaman (investasi atau modal kerja) – rupiah maupun dolar. Perubahan situasi itu akan mengakibatkan nasabah menahan diri tidak meminta kredit baru, atau bahkan pinjaman yang sudah disetujui akan ditunda pencairannya (undisbursed loan).

Bank sebagai kreditur dan nasabah sebagai debitur boleh jadi akan bersikap wait and see; menunggu kebijakan baru BI selanjutnya, bahkan juga menunggu Fed (Bank Sentral Amerika) yang mencanangkan akan dua kali lagi menaikkan FFR sampai akhir tahun.

Jika kemudian perbankan menaikkan suku bunga pinjaman, bukan tak mungkin banyak debitur -terutama di sektor properti- akan limbung, dan membuat cicilan mereka macet. Suram, karena bukan lagi mimpi Fed akan kembali menaikkan FFR mengingat perekonomian Amerika makin membaik.

Indonesia dan sejumlah negara emerging market seperti Turki, India, Brazilia, atau Argentina, yang mengandalkan aliran dana panas untuk menutup defisit transaksi berjalan pada neraca pembayarannya, jelas terpukul dengan larinya dana asing dari portfolio saham dan surat-surat berharganya. Meskipun BI sudah dua kali menaikkan suku bunga acuan, kemerosotan rupiah, indeks harga saham, dan imbal hasil Surat Utang Negara masih sulit dibendung.

Jika bunga pinjaman naik, apakah bank masih bisa memperbesar penyaluran kreditnya?

Kenaikan suku bunga acuan BI yang akan diikuti dengan kenaikan suku bunga pinjaman bank, demikian analisa sejumlah kalangan, akan menyebabkan target pertumbuhan kredit yang dipatok naik 11 persen sulit tercapai. Maklum, sampai Maret pertumbuhan kredit perbankan rata-rata hanya 8 persen setiap bulannya, Maret mencapai 8,54 persen. Sepanjang tahun lalu, pertumbuhan kredit tercatat hanya 8,1 persen (year on year, yoy).

Toh pihak BI April silam menyatakan optimistis akhir tahun berjalan, pertumbuhan kredit seluruh perbankan akan mencapai sasaran antara 10% - 12%.

Alasannya, pertama, perbaikan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan,NPL). Hampir semua sektor usaha membaik NPL-nya, kecuali sektor pertambangan. Secara pukul rata NPL Februari 2,9 persen (gross) naik dari sebelumnya (Januari) yang 2,86 persen. BI juga melihat kinerja keuangan korporasi membaik sehingga diharapkan permintaan kreditnya akan meningkat.

Kedua, bank yang membeli surat berharga seperti obligasi korporasi boleh dihitung sebagai pembiayaan (kredit) yang disalurkan (aturan Rasio Intermediasi Makroprudensial). Setiap enam bulan sekali BI akan mengevaluasi ketentuan itu untuk menjaga likuiditas perbankan

Kini situasi berubah setelah Fed dua kali menaikkan FFR yang diikuti kenaikan suku bunga acuan BI. Perubahan lanskap itu akhirnya mengubah pandangan kalangan perbankan yang memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2018 hanya berada pada sekitar 8 persen (sama dengan 2017) -- jauh dari target 11 persen.

Pemerintah juga bersikap realistis dengan menyatakan pertumbuhan ekonomi pada 2018 akan sedikit terkoreksi dari perkiraan awal yang 5,02 persen. Pertumbuhan ekonomi, jika hanya bertumpu pada pertumbuhan kredit, efeknya akan lembek.

Ekonomi diperkirakan tetap akan tumbuh, jika konsumsi rumah tangga lebih bertenaga. Bertolak dari asumsi itu, pemerintah kemudian menginjeksi Rp35,8 triliun untuk menaikkan daya beli masyarakat dengan menggelontorkan THR dan gaji ke-13 buat aparatur sipil negara, TNI, dan Polri yang masih aktif dan yang sudah pensiun. Bahkan pegawai honor juga kecipratan. Anggaran itu naik 68,9 persen dibandingkan angka 2017 yang Rp23 triliun.

Injeksi cukup masif itu diharapkan akan meningkatkan konsumsi masyarakat sehingga bisa melumasi perekonomian nasional. Beruntung berkat pengendalian harga komoditi (beras terutama) yang harganya diatur pemerintah, inflasi cukup rendah, dan gejolak dolar tidak terlalu besar mempengaruhi harga komoditas primer. Inflasi tahunan (Januari-Mei 2018) tercatat 3,23 persen – lebih rendah dibandingkan 4,33 persen pada periode yang sama..

Toh sejauh ini belum terdengar bank mengalami kesulitan likuiditas, suku bunga antarbank masih stabil. Mereka yang kalah kliring masih dengan mudah mendapatkan pinjaman call money untuk overnight sekalipun.

Krisis moneter 1998 jadi pelajaran berharga bagi otoritas moneter dan pemegang saham untuk memperkuat modal inti (core capital) perbankan. Modal perbankan, demikian OJK, cukup kuat yang diperlihatkan dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22 persen.

Bertolak dari data fundamental itu belum cukup alasan bagi BI untuk melonggarkan likuiditas perbankan dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Umum Konvensional (BUK), misalnya, sejumlah 6,5 persen dari Dana Pihak Ketiga dalam laporan periode tertentu.

GWM merupakan uang tunai bank yang disimpan di BI. GWM merupakan salah satu instrumen moneter yang bisa digunakan BI untuk mempengaruhi likuiditas di pasar uang. Jika suatu saat pasar uang terlihat kering, BI bisa menurunkan persentase GWM itu, hingga uang mengalir ke sistem perbankan kembali.

Karena likuiditas di pasar uang antarbank encer, maka tidak ada alasan perbankan Indonesia risau menghadapi usaha Fed menyedot kembali dolar dengan menaikkan FFR secara bertahap hingga akan mencapai 2,4 persen pada akhir 2018.

Setelah BI mengantisipasi Fed, penurunan nilai rupiah, dibandingkan mata uang emerging market, sebenarnya tidak terlalu parah. Dari Januari sampai 21 Mei (saat rupiah versus dolar Rp.14.190) rupiah merosot 4,4 persen, Filipina 4,8 persen, India 6,2 persen, Rusia 7,6 persen, Brazilia 11,5 persen, dan Turki 15,8 persen.

Namun sejumlah indikator ekonomi makro Indonesia cukup mengkhawatirkan. Neraca perdagangan (Januari-April) defisit 1,3 miliar USD, padahal pada periode yang sama tahun lalu surplus 5,4 miliar USD.

Surplus pada neraca perdagangan ini seharusnya bisa menjadi penutup pada defisit transaksi jasa-jasa (arus modal keluar masuk plus pembayaran bunga utang) yang selalu minus. Jika neraca perdagangan minus, maka transaksi berjalan pada neraca pembayaran bisa makin bengkak defisitnya. Jelas tidak sehat, dan akan menyebabkan rupiah jadi bulan-bulanan para spekulan untuk dipermainkan.

Semoga Syawal menjadi awal yang baik bagi perbankan Indonesia.

Eddy Herwanto, wartawan senior pernah bekerja di koran Pedoman, majalah Tempo, dan terakhir Editor.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR