Fed mengendur, rupiah dan bursa menguat

Ilustrasi: Pegawai melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (11/1/2019).
Ilustrasi: Pegawai melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (11/1/2019). | Indrianto Eko Suwarso /ANTARA FOTO

Tahun 2018 berlalu. Selamat datang tahun 2019.

Tahun lalu, di tengah pusaran ketidakpastian perdagangan dan pasar uang global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada angka 6.194.5, naik single digit saja dari hari sebelumnya.

Saat Presiden Joko Widodo menutup perdagangan pada 28 Desember 2018, Bursa Efek Indonesia (BEI) boleh dicatat sebagai bursa terbaik di Asia Tenggara dalam memberikan capital gain kepada investor.

Selain itu, bursa juga berhasil menambah jumlah investor jadi 851.903 atau naik 35 persen dari sebelumnya. Transaksi harian rata-rata Rp8,5 triliun atau naik 8,5 persen, dengan rata-rata transaksi harian tercatat 386.804 kali.

Yang juga dibanggakan, tahun lalu ada 57 perusahaan melakukan pencatatan sahamnya (listing) – tertinggi selama 26 tahun terakhir sejak Bursa menjadi perusahaan swasta penuh.

Yang terakhir mencatatkan sahamnya adalah PT Phapros Tbk di Papan Pengembangan pada 26 Desember. Perusahaan farmasi anak BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) itu mencatatkan 840 juta lembar sahamnya di BEI (IDX).

Sebagai pemegang saham pengendali, RNI menguasai mayoritas saham Phapros sejumlah 56,77 persen, sedang pemegang sahamnya berikutnya (lebih dari 5 persen) adalah Masrizal A Syarif (9,06 persen) – sisanya masyarakat.

Sayang Phapros mencatatkan sahamnya di saat suku bunga bank naik, dan pasar modal demam karena banyak ditinggalkan investor asing. Benar IHSG naik, tapi investor asing selama 2018 tercatat keluar dari bursa: Rp50,745 triliun. Suatu jumlah yang tidak sedikit mengingat portfolio asing tahun lalu tercatat Rp754,3 triliun (37 persen) sedang sebagian besar masih berasal dari investor domestik Rp1.285,8 triliun (63 persen).

Iman investor asing yang mengikuti hukum penawaran dan permintaan imbalan dari pasar modal, memang gampang goyah. Jika imbal hasil surat berharga atau suku bunga dolar naik karena Federal Reserve Bank (Fed Amerika) menaikkan suku bunga acuan, mereka berbondong keluar.

Akibatnya IHSG merosot. Tapi yang merepotkan keluarnya mereka dari pasar modal (apalagi diikuti dengan likuidasi aset di pasar uang) menyebabkan nilai rupiah goyah.

Selama tahun 2018,investor di pasar modal nyaris bisa dikatakan babak belur menghadapi turbulensi di pasar keuangan akibat kenaikan suku bunga yang dilakukan Fed. Untuk menahan agar rupiah kokoh sehingga cadangan devisa bisa dipertahankan posisinya, Bank Indonesia harus 8 kali menaikkan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate) dari 4,25 persen (19 April) hingga terakhir 6 persen (15 November).

Agar iman investor asing tidak lemah, BI berusaha mendahului kenaikan suku bunga Federal Fund Rate ( FFR Amerika). Empat kali Federal Reserve Bank menaikkan FFR – dari 1,5 persen (13 Des.2107) hingga terakhir 2,5 persen (19 Des.).

Saat Fed terakhir menaikkan suku bunga, BI mempertahankan suku bunga acuannya tetap 6 persen. Jika spread antara dolar dan rupiah di awal tahun 2018 adalah 2,75 persen, maka posisi spread awal Januari 2019 adalah 3,5 persen.

Cukup jauh bagi BI untuk menahan suku bunga acuan tetap 6 persen sampai kuartal pertama 2019, sekalipun rupiah pernah melampaui angka Rp15.000 per dolar untuk selanjutnya menguat meninggalkan Rp15.000 pada kuartal terakhir 2018.

Toh biaya mengendalikan rupiah menguras cadangan devisa cukup dalam: US$131,9 miliar (Januari) turun jadi US$120,7 miliar (Desember 2018). Penyebab utamanya, kebutuhan impor -terutama impor migas- melonjak melampaui ekspor, sehingga menyebabkan neraca perdagangan 2018 (Januari-November) defisit US$7,52 miliar.

Akibatnya, defisit neraca transaksi berjalan melambung menjadi US$8,8 miliar (kuartal ketiga). Sayang melemahnya rupiah tidak bisa dimanfaatkan para eksportir.

Defisit transaksi berjalan 2018 diperkirakan akan melampaui US$15 miliar. Beruntung, Fed menyatakan tahun 2019 tidak akan kencang menaikkan FFR setelah dikritik Presiden Trump agar Fed tak agresif menaikkan FFR. Maklum angka pengangguran membaik dan juga upah. Kabar itu langsung membuat dolar terjungkal, rupiah menguat, dan asing kembali masuk BEI.

Bursa memang tetap dianggap sebagai jalan terbaik dan murah mencari pendanaan bagi perusahaan -dengan listing atau menerbitkan saham baru- atau mencari capital gain dalam waktu cepat.

Dalam bayangan turbulensi ekonomi dunia itu, Otoritas Jasa Keuangan mencatat selama 2018 penghimpunan dana melalui Pasar Modal mencapai Rp162,3 triliun atau turun hampir 35 persen dibandingkan dengan penghimpunan dana 2017 sebelumnya yang mencapai Rp255 triliun.

Dari jumlah penghimpunan dana Rp162,37 triliun, Rp15,67 triliun berasal dari penawaran saham (IPO), Rp103,43 triliun dari penerbitan obligasi, dan Rp43,27 triliun dari penerbitan saham baru (right issue). Toh pencapaian yang di bawah tahun lalu itu, menurut OJK, cukup positif di tengah tekanan pasar global.

Tetap dibayangi situasi seperti itu, pada kuartal pertama 2019, bursa menyiapkan 13 perusahaan baru yang akan IPO. Sejumlah perusahaan juga sudah bersiap untuk menerbitkan obligasi Rp5,43 triliun. Juga disebut perusahaan yang sudah listing berencana menggali dana dengan menerbitkan saham baru – termasuk di antaranya Phapros (PEHA) yang diperkirakan Rp500 miliar.

Phapros akan menggunakan sebagian dana itu untuk membiayai akuisisi 55 persen saham industri farmasi PT Lucas Djaja di Bandung. Lucas Djaja diakuisisi mayoritas sahamnya karena dianggap memiliki fasilitas produksi soft gel dan oralit yang tidak dimiliki Phapros. Di samping itu portfolio obat generiknya juga cukup banyak.

Perjanjian jual beli sahamnya sudah dilakukan Agustus lalu. Masih tanda tanya, di saat industri farmasi mengalami tekanan akibat kenaikan impor bahan baku obat dalam dolar, apakah investor tetap tertarik untuk menambah modal mereka.

Aksi korporasi Phapros untuk mengejar pertumbuhan anorganik ini dinilai cukup berani, apalagi yang diakuisisi bukan portfolio produk obat bebas atau etikal yang bisa secara langsung menaikkan penjualannya.

Investor sendiri bersikap adem saat PEHA dibuka pada 26 Desember dengan permintaan harga Rp1.198, tapi pemegang saham masuk dengan harga Rp 1.800/lembar. Saat ditutup penawaran berada pada angka Rp1.200, tapi tidak terjadi transaksi.

Harga Rp1.800 mungkin terlalu mahal mengingat earning per share PEHA (September 2018) tidak sampai Rp120, sehingga PER sekitar 19 kali, cukup tinggi atau di atas rata-rata industri farmasi yang masih 15 kali.

Di tahun yang masih penuh dengan pergolakan –perang dagang Amerika–Cina dan Pemilu Presiden dan legislatif di Indonesia– pemodal memang perlu lebih cermat melakukan investasi di saham atau surat utang seperti obligasi.

Kita berharap hajatan politik lima tahun sekali berlangsung demokratis dan sejuk sehingga Bursa tetap menjadi pilihan menarik mencari dana, dan menanamkan modal.

Eddy Herwanto, jurnalis pernah bekerja di majalah Tempo dan Editor
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR