Geliat dan prospek industri otomotif nasional

Ilustrasi: Pengunjung melihat mobil yang dipamerkan dalam Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (5/5/2019).
Ilustrasi: Pengunjung melihat mobil yang dipamerkan dalam Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (5/5/2019). | Aprillio Akbar /ANTARA FOTO

Beberapa tahun terakhir, industri otomotif nasional menunjukkan perkembangan yang terbilang atraktif. Hal ini tentu imbas positif dari pertumbuhan jumlah kelas menengah Indonesia selama satu dekade terakhir.

World Bank menyebut, jumlah kelas menengah pada tahun 2002 hanya mencapai 7 persen dari total populasi. Jumlah itu melonjak signifikan di tahun 2017 menjadi 22 persen. Tahun 2018 lalu World Bank melaporkan jumlah kelas menengah Indonesia menembus angka 50 juta atau sekitar 30 persen dari total penduduk.

Sedangkan 120 juta penduduk lainnya tergolong sebagai aspiring middle classatau kelas menengah harapan. Yakni kelompok yang tidak lagi miskin dan tengah menuju ke kondisi ekonomi yang lebih mapan. World Bank memprediksikan jumlah kelas menengah Indonesia akan mencapai 143 juta orang atau lebih dari 50 persen dari total populasi pada tahun 2050.

Merujuk pada kriteria World Bank, kelas menengah adalah kelompok masyarakat dengan pengeluaran per hari antara 2 sampai 20 dolar Amerika Serikat. Keberadaan kelas menengah dianggap vital dalam pertumbuhan ekonomi lantaran merupakan elemen utama penggerak roda produksi dan konsumsi.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok kelas menengah menyumbang setidaknya 45 persen dari total konsumsi domestik. Selain penghasilan yang nisbi tinggi, kelas menengah juga dicirikan dengan perilaku konsumsinya yang cenderung berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sekunder, bahkan tersier.

Salah satunya ialah kebutuhan atas kepemilikan kendaraan pribadi, baik sepeda motor atau mobil. Menjadi wajar jika angka penjualan kendaraan bermotor di Indonesia mengalami lonjakan drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyebut, sepanjang 2019 tercatat 1.100.950 unit motor terjual. Angka itu mengalami koreksi 19,4 persen dari tahun sebelumnya. Di tahun 2018, jumlah sepeda motor yang terjual mencapai 922.123 unit.

Tren positif juga terjadi pada penjualan mobil. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, 851.430 unit mobil terjual di tahun 2018. Jumlah itu mengalami kenaikan 10,85 persen dibanding tahun sebelumnya. Di tahun 2017, jumlah mobil terjual mencapai 786.120 unit. Keberadaan segmen mobil Low Cost Green Car (LCGC) menyumbang 13,52 persen dari total penjualan.

Paling mutakhir, ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 yang berakhir Minggu 5 Mei lalu mencatatkan total transaksi sebesar 3,1 triliun rupiah. Pameran otomotif yang diselenggarakan di Jiexpo Kemayoran Jakarta selama sembilan hari itu berhasil menjual 10.148 unit kendaraan yang terdiri dari 9.134 unit mobil dan 1.014 unit sepeda motor. Sedangkan pengunjung mencapai 425.211 orang.

Mengatasi tantangan

Melihat sederet angka di atas, agaknya tidak berlebihan untuk menyebut industri otomotif nasional tengah mengalami pertumbuhan yang menjanjikan. Ini artinya, industri otomotif nasional bisa dikatakan memiliki potensi masa depan yang gemilang.

Selain pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen dan meningkatnya jumlah kelas menengah, gencarnya pembangunan jalan tol berbayar dan jalan umum diyakini akan kian mendongkrak penjualan kendaraan bermotor di masa depan.

Terlebih lagi, industri otomotif merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya oleh pemerintah. Tujuannya adalah menjadikan industri otomotif nasional sebagai salah satu pionir penerapan revolusi industri ke empat sesuai program pemerintah yang bertajuk “Peta Jalan Making Indonesia 4. 0”.

Melalui program ini diharapkan industri otomotif nasional tidak hanya mampu melayani pasar domestik, namun juga merambah pasar regional dan global.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara kedua dengan manufaktur industri ekonomi paling besar di ASEAN. Bersama Malaysia dan Thailand, Indonesia bersaing memperebutkan pasar otomotif global. Dari data yang dirilis Gaikindo, ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) Indonesia pada tahun 2018 mencapai 187.752 unit, naik 10,4 persen dari tahun 2017 yang mencapai 170.059 unit.

Jumlah itu belum termasuk ekspor berbagai jenis komponen mobil berikut aksesoris yang jumlahnya bisa mencapai jutaan unit per-tahunnya.

Meski tampak menjanjikan, industri otomotif nasional dalam banyak hal sebenarnya masih menghadapi berbagai macam tantangan. Berbagai tantangan itu dapat dirangkum ke dalam setidaknya dua persoalan besar.

Pertama, kurang berkembangnya industri komponen domestik yang mengakibatkan proses manufaktur otomotif masih bergantung pada komponen impor. Ketidaktersediaan komponen lokal yang memadai, membuat pabrikan otomotif mengandalkan pasokan dari luar negeri. Padahal, seperti kita tahu aktivitas impor sangat dipengaruhi oleh fluktuasi kurs mata uang asing.

Kedua, ekspansi industri otomotif nasional ke pasar global belakangan ini dihadapkan pada isu lingkungan dan energi. Meningkatnya kesadaran konsumen global akan isu lingkungan dan energi memunculkan kepedulian terhadap konsumsi bahan bakar dan gas buang produk otomotif. Saat ini, level standar emisi produk otomotif di sejumlah negara sudah mencapai Euro IV.

Dua tantangan besar seperti disebut di atas tentu perlu segera direspons, baik oleh pelaku industri otomotif maupun pemerintah sebagai pemangku kepentingan. Dari sisi pelaku, peningkatan sumber daya manusia (SDM) adalah hal yang mutlak. Bukan hanya pada SDM yang dimiliki oleh pabrikan otomotif, namun juga kapabilitas SDM yang ada dalam keseluruhan rantai pemasok komponen dalam keseluruhan lanskap besar industri otomotif nasional.

Pelaku industri otomotif nasional harus mendorong kompetensi SDM di kalangan pemasok agar mampu menghasilkan produk berstandar internasional sekaligus berdaya saing global. Aktivitas pendampingan, pelatihan serta pemberdayaan bagi perusahaan pemasok, baik besar, menengah atau kecil harus ditingkatkan. Hal ini penting lantaran keberhasilan industri otomotif nasional ditentukan salah satunya oleh sinergi antara pabrikan besar dan perusahaan pemasok komponen.

Tidak hanya pelaku, peran pemerintah pun dibutuhkan untuk menghadapi tantangan-tantangan industri otomotif nasional di kancah global tersebut. Dalam konteks ini, pemerintah berkewajiban untuk memastikan iklim dan lingkungan usaha manufaktur berjalan kondusif.

Di sisi regulasi, pemerintah harus memastikan bahwa peraturan yang ada harus mampu memayungi industri otomotif dari hulu hingga hilir. Selain regulasi yang adaptif pada kepentingan pelaku industri otomotif, pemerintah juga berkewajiban untuk mengembangkan infrastruktur yang mendukung kelancaran mobilitas logistik sekaligus proses ekspor-impor barang. Kolaborasi aktif antara pelaku industri dan pemerintah inilah yang diharapkan membuat industri otomotif nasioal berjaya di pasar lokal, regional maupun global.

Siti Nurul Hidayah, peneliti pada Center for the Study of Society and Transformation.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR