Geliat pariwisata Indonesia di tengah bencana

Ilustrasi: Pengunjung menikmati suasana telaga biru Cirereum, Kuningan, Jawa Barat, Jumat (7/12/2018). Telaga Cirerem yang terletak di lembah gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan wisata di Kabupaten Kuningan yang kian banyak menarik minat wisatawan.
Ilustrasi: Pengunjung menikmati suasana telaga biru Cirereum, Kuningan, Jawa Barat, Jumat (7/12/2018). Telaga Cirerem yang terletak di lembah gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan wisata di Kabupaten Kuningan yang kian banyak menarik minat wisatawan. | Dedhez Anggara /ANTARA FOTO

Tahun 2018 penuh kejutan bagi sektor pariwisata Tanah Air. Rentetan bencana terjadi tanpa henti hingga mengakibatkan puluhan negara merilis travel advice atas Indonesia yang memengaruhi penurunan kunjungan wisatawan mancanegara. Tak hanya itu, bencana juga turut memengaruhi pergerakan wisatawan nusantara yang terancam keselamatannya.

Momentum pertama terjadi pada Mei 2018 oleh aksi terorisme di Surabaya. Pengeboman di tempat ibadah, rusunawa dan kantor kepolisian di Surabaya secara simultan bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga meninggalkan malapetaka bagi citra pariwisata.

Bagaimana tidak, pemerintah kala itu tengah gencar mengklaim aman dari aktivitas Gunung Agung di Bali pasca-erupsi Desember 2017 untuk menghilangkan rasa takut dari wisatawan yang hendak pelesiran.

Ditambah lagi dalam kurun waktu dekat, tepatnya Juli 2018, Indonesia siap menggelar ajang olahraga bergengsi se-Asia yaitu Asian Games. Isu rawannya keamanan menyerang Indonesia hingga sebanyak 14 negara asal Amerika, Eropa, Australia juga Asia merilis travel advice.

Selang dua bulan, pada Juli 2018, momentum kedua melanda Indonesia melalui bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Selain menjatuhkan korban jiwa, kerugian materi pun terbilang luar biasa. Gempa selama beberapa hari mengakibatkan anjloknya tingkat hunian hotel dan pembatalan tur wisata ke Lombok yang nilainya diprediksi mencapai Rp1 triliun.

Hiruk pikuknya pun ditambah dengan desakan politis akan penetapan status bencana nasional. Sementara itu, pemerintah bergeming untuk tidak menerbitkan status tersebut demi menghindari dampak buruk akan penurunan kunjungan turis asing berkepanjangan.

Lombok yang dijuluki Bali’s Little Sister ini bahkan menjadi sorotan internasional. Setidaknya 15 negara kembali mengeluarkan travel advice atas Indonesia. Hal ini makin dipicu oleh berita bohong (hoax) bahwa tiga gili di Lombok berpotensi tsunami hingga membuat wisatawan panik. Sempat beredar pula hoax bahwa terjadi kasus pemerkosaan turis asal Perancis saat proses evakuasi yang semakin mengancam keselamatan warga negara asing.

Masih ada momentum lain yang juga melemahkan citra pariwisata Indonesia secara khusus di mata internasional. Peristiwa demi peristiwa terjadi dalam periode berdekatan sehingga memang sulit menyatakan bahwa Indonesia telah aman dari segala bencana alam dan bencana yang diakibatkan manusia itu sendiri.

Sebut saja, peristiwa tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara pada Juni 2018. Sorotan tertuju pada keamanan transportasi air di kawasan wisata tingkat internasional tersebut.

Kemudian, gempa bumi di Palu dan Donggala, Sulawesi Utara pada September 2018 yang juga mendorong penerbitan travel advice dari lima negara.

Akhir Oktober 2018 terjadi kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat. Australia kemudian tampil sebagai negara yang melarang warga negaranya pelesiran ke Indonesia menggunakan maskapai Lion Air.

Jelang libur akhir tahun, wisata pantai di Banten dirundung bencana tsunami yang kembali menjatuhkan ratusan korban jiwa. Tanjung Lesung jelas menjadi sorotan karena merupakan kawasan ekonomi khusus pariwisata yang dikembangkan dan dipromosikan pemerintah. Sementara itu, Pantai Anyer dan Pantai Carita merupakan destinasi favorit wisatawan lokal.

Pariwisata bangkit

Menarik untuk mengulik upaya pemerintah membangkitkan atau memulihkan citra pariwisata Tanah Air di kancah internasional. Saat Piala Dunia 2018 berlangsung di Rusia pada Juni lalu, Kementerian Pariwisata berhasil mengupayakan promosi Wonderful Indonesia. Gambar Candi Borobudur dan pariwisata Bali terpampang di bus yang berkeliling di Kota Moskow dan St Petersburg.

Kemudian, di tengah pemulihan infrastruktur dan pariwisata Lombok pascagempa, Indonesia ternyata tetap melangsungkan agenda pertemuan internasional IMF World Bank di Bali. Bahkan jumlah peserta pertemuan yang datang melebihi target dari 22 ribu peserta meningkat menjadi 34 ribu peserta.

Ini baru yang dilakukan oleh pemerintah. Kita selaku warga negara juga turut mengemban tanggung jawab sebagai duta wisata lokal. Apalagi era digital terbilang mudah untuk menyebarluaskan informasi apa pun.

Sama halnya kita bisa terbujuk akan keindahan negara di Eropa melalui mesin pencarian Google atau media sosial, kita pun bisa memamerkan keindahan wisata dalam negeri kepada dunia.

Caranya? Viralkan melalui media sosial dengan konten atau tagar bahwa wisata Tanah Air begitu beragam dan ikonik mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner dan bahkan wisata berbelanja.

Wisata alternatif

Bencana yang berulang kali terjadi sepanjang tahun 2018 memang tidak terprediksi. Namun, bencana alam bisa diantisipasi atau justru dimodifikasi sebagai wisata alternatif yang menarik minat dan rasa penasaran wisatawan asing.

Selaku negara yang berada di lingkaran Cincin Api Pasifik, peristiwa gempa, erupsi dan tsunami tidak akan terelakkan. Seluruh pihak wajib waspada. Melalui pemetaan kawasan pariwisata yang memperhitungkan aspek dari ancaman bencana tersebut, bukan tidak mungkin pengembangannya di tahun mendatang membuka wisata alternatif.

Sebut saja, adanya hotel yang menawarkan hunian dengan pemandangan alam gunung berapi. Adanya penawaran paket wisata dengan jalur dan jarak yang aman dari bahaya erupsi sekaligus tsunami. Adanya situs ikonik di area wisata pasca-bencana. Tak kalah penting, realisasi percepatan dari pemulihan bencana itu sendiri yang dilaksanakan secara konsisten.

Jepang dan Korea menjadi bukti nyata bahwa sekalipun didera bencana gempa dan tsunami, pemerintah dan segenap warga saling gotong royong menyatakan diri kepada masyarakat dunia bahwa negaranya bisa bangkit dari bencana. Keragaman wisatanya terus dicari pelancong dari berbagai negara hingga saat ini. Mungkin untuk mendekati posisi dua negara di Asia Timur ini, kita bisa mulai dari menghilangkan rasa takut pelesiran di negara sendiri.

Sari Mawarni, analis Media Indonesia Indicator
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR