Genealogi, parodi, kritik sastra

Ilustrasi: Ranting silsilah
Ilustrasi: Ranting silsilah | Atid28 /Shutterstock

Dalam sebuah wawancara dengan Elisio Álvarez untuk majalah Turia (Juni 2005), yang terbit di Valencia, Spanyol, novelis kenamaan Cile Roberto Bolaño mengatakan bahwa novelnya Nazi Literature in the Americas (1996) berutang banyak kepada The Temple of Iconoclasts (1972) karya Juan Rodolfo Wilcock. Sementara, The Temple of Iconoclasts dipengaruhi oleh A Universal History of Infamy (1935/1954) karya Jorge Luis Borges—yang diindonesiakan menjadi Sejarah Aib (2006) oleh Arif Bagus Prasetyo.

“Tidak mengherankan sama sekali karena Wilcock adalah kawan sekaligus penggemar Borges,” kata Bolaño.

Namun, silsilah karya ini belumlah berakhir pada Borges.

Dalam menulis A Universal History of Infamy ternyata Borges banyak mengambil ilham penciptaan dari Real and Imagined Portraits (1920) karya Alfonso Reyes, novelis Meksiko, salah seorang gurunya. Nah, novel ini memilih novel Imaginary Lives(1896) karya Marcel Schwob sebagai ayah literernya. Adapun karya Schwob ini mengambil metodologi dan bentuk biografi yang khas dalam ensiklopedia.

Satu bentuk yang terus bertahan dalam novel-novel yang rentang penciptaannya mencapai satu abad ini adalah apa yang disebut sebagai “fiksi biografis”; jenis fiksi yang mengambil bentuknya sebagai riwayat hidup (ringkas) seorang tokoh (baik nyata maupun rekaan)—dalam karya nonfiksi kita bisa membandingkannya dengan “biografi kapsul” yang pernah digarap Borges.

Dalam konteks sastra Indonesia—terlebih-lebih hari ini—hampir tidak pernah saya membaca pengakuan pengarang akan genealogi karyanya yang jujur, cerdas sekaligus mengejek diri sendiri, sebagaimana dilakukan Bolaño. Sebab, setelah mengurutkan silsilah karyanya itu hingga ke leluhurnya yang terjauh, ia mengejek karyanya sendiri sebagai “kumpulan (biografi) yang terburuk” jika dibandingkan dengan para pendahulunya itu.

(Kendati demikian, Bolaño kini menimbulkan demam di kalangan pembaca sastra dunia—tidak terkecuali bagi pembaca dan pengarang muda di Indonesia.)

Saya tidak tahu pasti, apa sebabnya para pengarang kita kurang berani terbuka terkait pengaruh yang ada pada karya-karya mereka. Apakah karena hasrat mereka untuk menjadi pengarang yang orisinal—seakan-akan mengakui dipengaruhi oleh pengarang anu adalah sebuah dosa—atau, sebenarnya mereka memang tidak mampu menjelaskan karyanya sendiri.

Jika ingin mendapatkan yang lebih dari itu, maka kita harus membaca kritik sastra. Ya, baru pada satu-dua kritik sastra kita mendapatkan, misalnya, telaah tentang genealogi puisi lirik di Indonesia—semacam disiplin sastra bandingan yang bekerja dalam lingkup sastra nasional.

Dalam telaahnya tentang karya-karya Goenawan Mohamad (“Gerimis Logam, Mayat Oleander”—kini esai panjang itu diterbitkan oleh Oak, Yogyakarta) dan Sapardi Djoko Damono (“Titik Tengah”—masuk dalam bunga rampai Membaca Sapardi [2010]), Nirwan Dewanto pernah mengurutkan semacam silsilah puisi lirik Indonesia. Sebelumnya, Goenawan Mohamad juga pernah membicarakan perihal kelanjutan langgam “nyanyi sunyi” dalam buku puisi Duka-Mu Abadi (1969) karya Sapardi Djoko Damono.

Silsilahnya kurang-lebih begini: Puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono adalah dua jalur tafsir puisi-puisi Chairil Anwar. Puisi-puisi Chairil Anwar itu sendiri dipengaruhi oleh puitika Amir Hamzah. Sementara Amir Hamzah mengambil ilham dari padang hijau pantun Melayu.

Selanjutnya, bagi saya, Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono menjadi semacam “cetak biru” tradisi puisi lirik untuk generasi penyair yang lebih kemudian.

Dalam sebuah khazanah sastra yang tengah berkembang, meluas-mendalam, genealogi karya sastra yang jujur dan terbuka mestinya akan berguna bag pihak-pihak yang berkepentingan.

Bagi pengarang soalnya adalah bagaimana menyiasati secara lebih kreatif pengaruh pengarang-pengarang sebelumnya. Sejauh ini pengaruh kerap dibaca dalam konotasinya yang negatif. Soalnya saya kira adalah karena dalam soal serap-menyerap si pengarang belum berhasil sepenuhnya melebur pengaruh itu menjadi sesuatu yang khas miliknya. Seakan-akan, si pengarang tidak lebih dari sekadar bayang-bayang pengarang sebelumnya.

Pengakuan Bolaño tadi tentu saja menyiratkan hal lain yang juga tak kalah penting: seorang pengarang paham betul dengan apa yang ia tulis, dari mana ia mengambil bahan dan bagaimana pula ia menempuh siasat agar karyanya menjadi berharga. Artinya, ia tahu betul bagaimana bekerja dengan pengaruh dari para pengarang yang telah ia pilih sebagai pendahulunya.

Maka, jika seorang pengarang bertekad menemukan sesuatu yang khas miliknya, mencapai sidik jari sastrawinya, tidak bisa tidak, ia akan bekerja dalam prinsip parodi.

“Parodi,” kata Linda Hutcheon dalam A Theory of Parody (1986), “adalah perkara menggunakan bentuk lama untuk menciptakan bentuk baru; membuat sesuatu yang berbeda melalui pengulangan; menyuratkan bentuk itu dalam kesinambungan sejarah sastra dan memperbaruinya dalam waktu yang bersamaan.”

Atau menurut istilah Borges—dalam pengantarnya untuk A Universal History of Infamy edisi 1954—karena ia tidak bisa menulis cerita, lantas ia menghibur diri seraya mengejek dirinya sendiri dengan “memalsukan” dan “memutarbalikkan” cerita-cerita orang lain. Namun, sebagaimana terbukti kemudian, apa yang semula ditulis dengan modus pemalsuan dan pemutarbalikan itu justru menjadi salah satu tonggak terpenting dalam sastra dunia.

Bagi seorang pembaca yang kritis silsilah karya ala Bolaño itu bisa menjadi semacam peta. Terutama, jika ia ingin membaca karya-karya dalam genre tertentu dan bagaimana perkembangannya pada tiap pengarang. Mungkin karya itu bukan karya kanonik dalam khazanah sastra yang bersangkutan, tetapi ketika ia dipilih oleh seorang pengarang dan dikembangkan menurut kemampuan dan jangkauannya, pastilah ada nilai lebih karya itu jika dibandingkan dengan karya-karya lainnya.

Di tengah rimba karya sastra yang tuna acuan dan kritik sastra, membaca sastra dengan acuan seperti ini bisa menjadi pilihan. Toh, dalam hidup yang singkat ini kita tidak diwajibkan membaca seluruh karya sastra, dalam khazanah nasional, apalagi dunia. Karena itu baiklah kita pilih yang bagus-bagus saja agar proses membaca kita bisa menjadi lebih sangkil dan mangkus.

Itulah pula kenapa karya-karya dalam silsilah ini berpeluang menjadi acuan kanonisasi karya sastra. Melalui silsilah seperti ini pembaca mendapatkan sepilihan karya terbaik dari genre tertentu yang bisa dibaca dan dari situ ia bisa melihat seberapa jauh pencapaian literer para pengarang dalam jaringan tematik genre itu. Pembaca mungkin tidak akan mendapatkan semesta karya terbaik, tetapi kanonisasi tematik atau genre ini bisa membuat ia lebih terfokus dan terarah.

Mungkin, yang akan ada sedikit masalah dengan kritik sastra.

Jika kritik sastra hendak bekerja dalam konteks ini, sudah barang tentu ia tidak perlu mengacu kepada pengakuan pengarang atau menggunakan semua itu sebagai dasar kritiknya. Ia harus melakukan pembacaan dekat (close reading) untuk bisa menemukan jejaring makna di dalam sebuah karya atau dalam kaitannya dengan karya lain—dan pada saat yang sama si pengarang kehilangan otoritas terhadap karyanya.

Mungkin yang akan ditemukan oleh si kritikus lebih dari soal saling-silang pengaruh, mungkin ia akan membatalkan klaim si pengarang atau sebaliknya—mungkin si pengarang akan tidak peduli akan semua itu.

Kritik sastra bekerja dengan wibawa dan keterbatasannya sendiri.

Zen Hae, penyair, cerpenis, dan penelaah sastra
BACA JUGA