Masih relevankah Hari Lingkungan Hidup

Bumi cuma satu. Siapa lagi yang akan merawat isi dan lingkungannya kalau bukan kita?
Bumi cuma satu. Siapa lagi yang akan merawat isi dan lingkungannya kalau bukan kita?
© Pixabay

Sidang Umum PBB menetapkan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day - WED). Hari bersejarang ini merupakan peringatan diselenggarakannya konferensi di Stockholm, Swedia, tentang manusia dan lingkungan (Stockholm Conference on the Human Environment).

Hari peringatan tersebut baru terselenggara untuk pertama kalinya pada 5 Juni 1974. Acara pertama tersebut mengusung tema Only One Earth dengan kota Spokane di negara bagian Washington, Amerika Serikat, sebagai tuan rumah.

Apakah sesungguhnya WED ini? Apakah peringatan ini masih relevan untuk Indonesia? Lantas, bagaimana jika kita hendak ikut serta di dalamnya?

Singkatnya WED adalah wadah bagi masyarakat melakukan kegiatan atau aksi yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. PBB menganggap WED sebagai salah satu kegiatan penting dari organisasi dan masyarakat dapat terlibat langsung dalam upaya pelestarian lingkungan. Sejak pertama kali dirayakan pada tahun 1974, WED telah berkembang menjadi sebuah kegiatan penyadartahuan akan lingkungan yang sangat besar dan dilaksanakan di lebih dari 100 negara.

Setiap tahun WED mengusung sebuah tema besar. Tahun ini tema yang diusung adalah Go Wild for Life: Zero Tolerance for the Illegal Wildlife Trade. Tema ini dipilih karena saat ini ada begitu banyak spesies hewan dan tumbuhan yang terancam punah. Namanya makhluk hidup, jika satu spesies sudah punah, selesailah cerita spesies tersebut di dunia ini, dan tidak akan kembali lagi.

Contoh spesies yang sudah punah, antara lain burung Dodo, Lumba-Lumba Baiji, dan Merpati-hutan ryukyu. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mencatat ada 764 spesies hewan yang telah punah. Sementara yang terancam punah jumlahnya jauh lebih banyak. Untuk hewan mammalia, burung, dan amfibi, jumlah spesies terancam punahnya masing-masing sudah di atas 1.000 spesies, sementara reptilia sudah lebih dari 900 spesies.

Ada bermacam-macam penyebab kepunahan, tetapi diyakini bahwa rusak atau hilangnya habitat sebagai penyebab utama. Penyebab keterancaman yang berujung pada kepunahan berikutnya adalah perdagangan satwa dan tumbuhan (wildlife trade), dan untuk Indonesia ancaman ini amat sangat serius dan Indonesia sering menjadi sorotan dunia karena hal ini

Untuk soal spesies terancam punah, baik hewan maupun tumbuhan, Indonesia ada di urutan 4 dunia dengan 1.246 spesies terancam punah, setelah Ekuador (2.312 spesies), Amerika Serikat (1.408 spesies), dan Malaysia (1.255 spesies). Walaupun sebagian besar spesies Indonesia menjadi terancam punah karena rusak atau hilangnya habitat, tetapi perburuan dan perdagangan diyakini sebagai penyebab terbesar kedua.

Kerap kita dengar berita di media massa tentang penyelundupan dan perdagangan satwa liar di berbagai kota di Indonesia. Berita dengan gambar-gambar menyedihkan seperti burung yang dijejalkan ke dalam bekas botol air mineral, trenggiling dalam keadaan beku yang siap dikirim, atau harimau yang ditembak dan siap dikuliti serta diambil bagian-bagian tubuhnya untuk kemudian dijual ke pasar gelap.

Mengapa ke pasar gelap dan bukan ke pasar terang atau pasar normal saja? Karena hewan-hewan tersebut di Indonesia dilindungi oleh undang-undang. Sementara untuk menjualnya secara resmi ke luar negeri juga tak mudah karena Indonesia adalah salah satu negara yang meratifikasi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora - CITES (sebuah konvensi yang mengatur perdagangan hewan dan tumbuhan terancam punah antar negara).

Organisasi TRAFFIC baru-baru ini mengeluarkan daftar 13 jenis burung Indonesia yang terancam punah karena perdagangan, termasuk di antaranya Elang jawa (Nisaetus bartelsi) yang ditetapkan sebagai satwa nasional sekaligus sebagai simbol satwa langka dalam Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993. Burung lain yang juga masuk ke dalam daftar tersebut, antara lain Cucak rawa yang tampaknya telah punah dari alam di Jawa dan Sumatera, Gelatik jawa, Jalak bali, Jalak putih, Kakatua-kecil jambul-kuning, Rangkong gading, dan -- yang agak mengejutkan -- burung Kacamata jawa.

Masuknya burung Kacamata jawa (Zosterops flavus) ke dalam daftar ini mengejutkan karena jenis burung ini tadinya adalah jenis burung yang banyak sekali jumlahnya, dan perdagangan telah membawanya ke status mendekati terancam punah. Ada banyak burung yang tadinya melimpah dan umum dijumpai di sekitar pemukiman kini mulai hilang seperti Perenjak sayap-garis, Bentet kelabu, bahkan burung-burung bondol pun mulai sulit dijumpai.

Lantas diperdagangkan sebagai apa burung-burung tersebut? Ada yang dijadikan sebagai hiasan, dijadikan sebagai hiburan (terutama burung-burung yang berkicau), atau dijadikan mainan (banyak burung bondol yang lantas diwarnai dan dijual sebagai mainan di sekitar sekolah-sekolah).

Hewan lain yang juga tengah naik daun sebagai barang dagangan adalah Trenggiling. Kabarnya tak kurang dari 1 juta ekor Trenggiling ditangkap di alam dalam satu dekade belakangan ini untuk diperdagangkan dan ini menjadikan Trenggiling sebagai mammalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia. Trenggiling bergabung dengan mammalia lainnya yang telah lama diperdagangkan, seperti harimau, badak, beruang, dan orangutan.

Perdagangan ilegal satwa liar ini tidak bisa dipandang sebelah mata dalam hal besarnya uang. Badan PPB United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan angka hingga US$20 miliar per tahun uang yang berputar dalam perdagangan ilegal ini. Hal ini menjadikan perdagangan satwa liar ilegal sebagai salah satu perdagangan ilegal besar bersama-sama dengan perdagangan narkoba, senjata dan perdagangan manusia.

Kampanye lantas dilakukan di banyak negara yang menjadi sumber satwa liar yang diperdagangkan tersebut. Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman hayati tentu saja tak lepas dari kegiatan kampanye untuk menekan tingkat penangkapan satwa liar di alam baik untuk memenuhi kebutuhan pasar gelap domestik maupun pasar gelap internasional.

Kampanye untuk menurunkan tingkat perdagangan satwa liar ini tentunya tidak hanya dilakukan di negara-negara yang menjadi sumber bahan mentahnya saja, tetapi juga di negara-negara yang menjadi konsumennya. Tiongkok misalnya adalah konsumen utama untuk gading gajah, cula badak, paruh rangkong, dan daging trenggiling.

Jelas sudah, penangkapan dari alam dan perdagangan satwa liar adalah salah satu penyebab satwa liar menjadi terancam punah, atau bahkan punah, di alam. Kegiatan kampanye dengan menggunakan segala wadah, termasuk WAD, sudah selayaknya dilakukan. Maka jika pertanyaannya adalah apakah WAD ini relevan dengan situasi saat ini baik di Indonesia maupun di dunia, jawabannya adalah sangat relevan.

Lantas jika ingin berpartisipasi apakah bisa? Sangat bisa. Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan dan memperkuat kepedulian akan pelestarian alam, mulai dari membaca puisi, membuat lukisan, hingga kegiatan yang sedang marak dilakukan di Indonesia seperti lari santai.

Kegiatan online pun dapat dilakukan, seperti menulis hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan di blog, Twitter atau Facebook misalnya. Jika ingin berpartisipasi, ada toolkit yang dapat diunduh di sini dan jangan lupa daftarkan kegiatan yang akan anda lakukan di sini.

Go Wild for Life : Zero Tolerance for the Illegal Wildlife Trade, karena sesungguhnya satwa liar lebih indah dan akan lebih bermanfaat untuk dunia ini jika ia tetap berada di alam.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.