Hoax dan demam Erdogan

Ilustrasi: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato dalam sebuah demonstrasi setelah kemenangan referendum, di Istana Kepresidenan di Ankara, Turki, 17 April 2017.
Ilustrasi: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato dalam sebuah demonstrasi setelah kemenangan referendum, di Istana Kepresidenan di Ankara, Turki, 17 April 2017.
© TUMAY BERKIN /EPA

Satu minggu terakhir, kita disuguhi sebuah fakta yang susah dinalar oleh akal kemanusiaan: Saracen, sebuah sindikat yang menerima pesanan berita-berita kebencian dan kerap berkonten hoax. Syukur, pelaku bisnis keji yang dapat menghancurkan bangsa dan negara Indonesia itu pun akhirnya ditangkap dan diproses hukum oleh yang berwajib.

Fenomena fabrikasi berita-berita hoax dan sindikat sejenis sudah biasa membanjiri kehidupan kita sehari-hari. Terhitung sejak Pemilu Presiden 2014, kita telah dipecah belah oleh berita-berita hoax dan konten sejenisnya yang dibuat untuk kepentingan adu domba dan menebarkan kebencian.

Selain berita-berita berkonten stigmatisasi SARA dan isu-isu lokal dalam negeri, saya mencermati ada satu objek tokoh yang kerapkali dipakai oleh suatu kelompok, yaitu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Saya seringkali menemukan berita-berita tentang Erdogan yang bukan hanya tendensius tetapi tidak berdasarkan fakta di lapangan.

Pemberitaan-pemberitaan yang mencatut namanya secara umum bermuara pada satu hal. Yaitu untuk mengejek dan mengolok-olok pemerintah Indonesia sendiri.

Sebagai pemimpin muslim dan maju, glorifikasi terhadapnya kerap dilakukan secara terus menerus. Cara demikian nyaris menjadi narasi tunggal untuk Erdogan di Indonesia.

Sebagai contoh terbaru kita dapat membaca laporan Jawa Pos dalam rubrik Hoax atau Bukan berjudul "Pesan Damai Catut Nama Erdogan" (28/8). Rubrik tersebut menguji konten berita media online yang sudah disebar dan dibaca luas, yaitu tentang insiden bendera Indonesia yang ditulis terbalik dalam booklet Asian Game di mana Malaysia menjadi tuan rumah. Berita dalam situs rakyatsumatera.online tersebut menarasikan dengan gagah bahwa Erdogan mengomentari insiden terbaliknya bendera Indonesia.

Untuk itu, dengan kata kunci yang sama saya segera mengecek media-media lokal Turki dan menghubungi jaringan wartawan lokal ihwal komentar Erdogan terhadap insiden tersebut. Ternyata, tidak ada satu pun pernyataan terkait tersebut muncul dari seorang Erdogan.

Demam Erdogan

Erdogan dikenal oleh publik Indonesia secara masif sejak sekitar tahun 2012, setelah berkali-kali membuktikan diri dan partai yang dipimpinnya Partai Pembangunan dan Keadilan menjadi pemenang di tiga pemilu parlemen Turki. Dia telah sempurna menjadi primadona bagi negara-negara berpenduduk muslim, dari negara-negara Balkan hingga ke Asia dan Afrika.

Keterkesimaan mereka terhadap kepemimpinan Erdogan tentu saja karena faktor pembangunan ekonomi dan infrastruktur internal Turki - seperti rumah sakit, transportasi publik dan sektor militer- yang berkembang pesat. Faktor lain tentu saja karena alasan bahwa Erdogan berasal dari partai berideologi Islamis, di mana momentum gerakan Islam transnasional dan Islam politik setelah 11/9 hadir semakin pesat.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia seperti merasa perlu mencari tokoh dan contoh muslim yang bisa dibanggakan. Contoh tersebut adalah Erdogan!

Di samping itu, dengan meledaknya Arab Spring akhir 2010 di Tunisia dan kemudian terjadi di Syiria awal 2011, posisi Turki lewat Erdogan semakin muncul ke permukaan dengan langkah-langkah politik proaktif di kawasan.

Khusus untuk konflik yang kemudian menjadi perang sipil berkepanjangan di Syiria, Turki mengambil bagian dan memainkan peran penting di kawasan dengan merujuk kepada fondasi kebijakan komsularla sifir sorun (zero problem with neighbours) yang sudah dirancang dalam strategi kebijakan luar negeri mereka sejak 2009 (Bagci & Erdurmaz, 2017: 7), di bawah tangan mantan menteri luar negeri Ahmet Davutoglu.

Tiga poin di atas, tak pelak, semakin mengokohkan ketokohan Erdogan. Di waktu bersamaan, kekuatan politik mereka dalam internal Turki sudah tidak bisa terbendung.

Setelah 2011, dengan menggunakan pendekatan demokrasi, warisan sekuler Turki -seperti pelarangan jilbab di parlemen- mulai dilabrak. Pada 31 Oktober 2013 PM Erdogan menyambut empat anggota parlemen dari AKP yang mengenakan jilbab di sidang umum parlemen. Empat anggota parlemen tersebut telah memecah ketabuan jilbab di lingkungan lembaga negara. Satu hari berikutnya, Canan Candemir, wakil rakyat AKP dari Bursa datang berjilbab pula ke parlemen.

Puncaknya adalah ketika tahun 2014 Erdogan memenangkan pemilihan Presiden Turki. Komunitas muslim dari negara-negara seperti Somalia, Negeria, Sudan, Pakistan, Yaman, Syiria, Afghanistan, Malaysia, Indonesia dan masyarakat muslim di Balkan secara masif dan terbuka menunjukkan dukungan dan simpati kepada Presiden Erdogan.

Dengan berbagai bentuk klaim, Erdogan pun dinobatkan menjadi pemimpin dan role model bagi komunitas Islam yang mempunyai supurter dari banyak negara. Secara cultural capital nama dan image Erdogan benar-benar hadi menjadi sosok kharismatik yang tak tertandingi.

Di waktu bersamaan, kritik dan bahkan cercaan yang dialamat oleh negara-negara Barat kepada Erdogan -yang dianggapnya sebagai pemimpin yang otoritarian dan bahkan fasis-justru semakin merapatkan barisan kelompok Islam transnasional untuk menggalang suport mereka kepada Turki dan Erdogan.

Strategi jitu untuk mengembangkan pengaruh kepada publik muslim internasional semakin dipoles dan dimanfaatkan oleh Turki dengan mempercantik kebijakan luar negeri dan political will, yang terwujud ke dalam bentuk-bentuk diplomasi bilateral.

Dalam aspek kebudayaan, mereka mendukung hadirnya budaya populer lewat drama-drama Turki yang menyebar di negara-negara Balkan, Asia Kecil, Amerika Latin, Indonesia dan negara-negara Arab. Dari hari ke hari, pengaruh dan penyebaran budaya populer Turki pun tidak bisa dibendung termasuk di Indonesia.

Apalagi tahun ini Presiden Jokowi berkunjung ke Turki dan bertemu langsung dengan Erdogan untuk meningkatkan potensi kerja sama kedua negara. Kerjasama di bidang pendidikan dan militer, di samping relasi bisnis yang sudah berjalan sejak lama, semakin diperkuat.

Klaim

Deskripsi di atas, saya kira, sudah cukup untuk mengantarkan bagaimana euforia Erdogan dan Turki dari hari ke hari semakin besar di tanah air. Komentar terbaru Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman (25/7) yang berpesan kepada Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno, tentang keinginannya untuk menjadikan Jakarta seperti Istanbul, bisa dijadikan renungan bahwa Turki sudah akrab ke sebagian banyak muslim Indonesia.

Yang paling menarik dari komentar tersebut adalah pencatutan nama Erdogan yang diniatkan untuk kepentingan politik yang diandaikan terjadi juga di Jakarta dan Indonesia: "Bahwa di sana ada kepemimpinan Erdogan yang memulainya dari Istanbul. Sukses di sana dan kemudian bisa memimpin negara Turki yang hari ini menjadi negara muslim yang dibanggakan."

Anadolu Ajansi (AA, 24/8) yang telah resmi membuka kantor perwakilan di Indonesia melaporkan sebuah reportase menarik berjudul Endonezya'da 'Erdogan Dostu' sosyal medya hesabina buyuk ilgi (Perhatian besar media sosial terhadap akun Sahabat Erdogan di Indonesia). Mereka mewawancarai pendiri dan pengelola akun Sahabat Erdogan. Kemunculan akun tersebut, menurut salah satu dari mereka, karena adanya motivasi sebagai sesama muslim dan berpikir bahwa apa yang dilakukan Erdogan sebagai pemimpin sudah benar.

Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, Erdogan mempunyai fans fanatik yang secara fastastik menambah eskalasi berita-berita yang cenderung menjadi glorifikasi kepada tokoh yang juga mantan wali kota Istanbul itu. Di Indonesia ada dua akun fanpage Facebook tentang Erdogan yang paling banyak mendapat like. Yaitu, Sahabat Erdogan dengan like berjumlah nyaris 250 ribu, dan Sultan Erdogan dengan like 150 ribu lebih.

Melihat fenomena di atas, ada hal sangat krusial. Yaitu pentingnya "menempatkan Erdogan pada tempatnya". Akhir-akhir ini saya mencermati sosok Erdogan di publik Indonesia--dengan keterbatasan pengetahuan dan informasi yang komprehensif tentangnya--telah dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk menyerang kelompok lain dengan mendistorsi "makna Erdogan" itu sendiri: kapan menjadi politikus dan kapan pula menjadi "tokoh agama".

Bernando J. Sujibto, peneliti Turki dan penerjemah karya-karya sastra Turki. Mengajar di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.