Ihwal kegemaran dan siasat terhadap realisme

Ilustrasi: "Sang Mata"
Ilustrasi: "Sang Mata" | Tanya Shatseva /Shutterstock

Sastra Indonesia selama setahun terakhir ini menyimpan satu-dua soal yang menarik perhatian dan layak dibahas secara serius —yang dari situ mestinya bisa lahir kritik sastra yang dapat menjadi bahan perhitungan kini dan kelak. Namun, mohon maaf, saya kepingin membicarakan kembali soal yang sudah menggelitik hati saya sejak lama:

Mengapa realisme menjadi pilihan utama para pengarang kita dan bagaimana pula mereka bersiasat terhadap bentuk yang satu ini?

Sejauh yang bisa kita telusuri realisme sudah menjadi pilihan sejak pertama kali sastra Indonesia modern lahir. Tepatnya, melalui roman berbahasa Melayu, baik yang dikerjakan oleh para pengarang Cina Peranakan maupun oleh pengarang bumiputra —baik bumiputra yang ditaja Balai Pustaka maupun yang dikecam sebagai penjaja bacaan liar.

Bentuk ini berkembang relatif stabil pada masa kolonial Belanda—dengan sentakan penting lewat Belenggu (1940) karya Armijn Pane—hingga beralih kepada simbolisme di masa pendudukan Jepang dan kembali lagi kepada realisme di masa Revolusi dan sesudahnya.

Dengan realisme seorang pengarang menegaskan kembali kaitan tak terpisahkan antara karya sastra dan kehidupan manusia. Bahwa karya sastra bukan hanya mesti berhubungan dengan kenyataan, tetapi juga mesti menghadirkan kembali kenyataan itu sejujur-jujurnya. Jika dalam kehidupan sehari-hari kita ada kawin paksa atau kasih tak sampai, maka begitu pula mestinya sastra mengisahkannya kepada kita.

Tentu saja kita bisa bersikap kritis atas pilihan ini.

Kenapa para pengarang kita saat itu lebih memilih realisme ketimbang bentuk yang lain?

Kenapa, misalnya, mereka tidak memilih dadaisme dan surealisme yang berkembang di Eropa hampir bersamaan dengan tumbuhnya penulisan roman yang paling awal di Hindia Belanda?

Ketika muncul modernisme dan imajisme dalam puisi, kenapa para penyair kita justru memilih Romantisisme dari khazanah kesusastraan Belanda?

Apakah benar realisme adalah bentuk yang paling sesuai untuk generasi penulis yang baru saja berkenalan dengan khazanah sastra Barat —dengan tambahan sastra Cina klasik bagi sastrawan Cina Peranakan— dan dengan bentuk baru itu mereka bercita-cita bisa membangkitkan semangat kebangsaan melalui kesusastraan?

Apakah bentuk baru itu diserap melulu dari sumber berbahasa Belanda atau juga dari bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya?

*

Sembari anda mereka-reka jawabannya, saya berikan sedikit ilustrasi. Pada Jumat (14/12) lalu saya menghadiri peluncuran kumpulan cerpen Kata-Kata Membasuh Luka karya Martin Aleida di Bentara Budaya Jakarta. Tanpa mengurangi penghormatan saya kepada reputasi Bang Martin, acara ini saya kira menunjukkan gejala umum yang terjadi sekarang ini. Yakni, pengarang dan pembaca kita masih menggemari realisme dan umumnya kita tidak menyukai kritik sastra.

Tidak ada diskusi dalam peluncuran buku itu. Yang ada hanyalah testimoni dari sejumlah orang. Testimoni itu, tentu saja, bukanlah —dan tidak akan pernah menjadi— pelisanan kritik sastra. Sebab dalam testimoni itu orang-orang tidak membicarakan cerpen-cerpen Martin Aleida sebagai karya sastra, yang menampilkan permainan yang saling mengunci antara bentuk dan isi, tetapi sebagai dokumentasi sosial.

Misalnya, orang mengomentari bagaimana posisi pengarang dalam konteks sosial-politik Indonesia. Bagaimana cerpen-cerpen dalam buku itu digunakan untuk menjelaskan nasib pengarang dan kondisi Indonesia pada kurun tertentu, terutama ketika para orang Kiri dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dibunuh atau dibuang tanpa pengadilan sama sekali.

Pengarang dipuji karena kemahirannya dalam menampilkan atau memberikan kembali suara kepada korban kejahatan terhadap kemanusiaan; pada kemampuannya mengkritik perilaku bobrok rezim militeristik Orde Baru.

Namun, para pemberi kesaksian tidak tertarik —bisa jadi karena tidak mampu—mengomentari bagaimana seorang pengarang seperti Martin Aleida mengolah bahasa, merancang struktur karyanya seraya memilih gaya penulisan yang pas. Dengan kata lain, bagaimana ia mempertaruhkan seluruh kepiawaian menulisnya demi menghasilkan karya yang cemerlang.

Melalui karya-karya sejenis Kata-Kata Membasuh Luka, karya sastra dipercaya akan mampu mereprsentasikan kembali manusia dan dunia yang penuh dengan ketidakadilan, sebab realisme yang sejati akan berlaku jujur terhadap manusia dan zaman yang menjadi sumbernya. Apa yang terjadi dalam sejarah, itu pula yang ditulis pengarang dalam sastra.

Di masa lalu ada pengarang yang bersiasat atas ini semua, dengan sudut pandang yang sama sekali tidak berpihak kepada korban. Namanya Idrus. Sekali lagi, Idrus hadir dengan “kesederhanaan baru” (nieuwe zakelijkheid). Dengan ini ia menjauhi segala “keindahan bahasa”. Segala peristiwa ia lukiskan dengan sangat nyata sehingga menimbulkan kemuakan dan kemualan pembaca karena kenyataan yang tersaji itu tampak begitu keji dan menjijikan.

Dalam novela SurabayaIdrus mencemooh perang habis-habisan yang terjadi di Surabaya November 1945 sebagai dunia para koboi. Bagi Idrus, dalam revolusi yang kerap diglorifikasi pihak yang berkepentingan untuk melanggengkan kuasa, manusia sama brutalnya dengan binatang buas. Pasukan Inggris dan pejuang Indonesia tidak ada bedanya.

Karena sudut pandang itulah Idrus dikecam oleh para pengarang dari jalur Kiri —pada saat yang sama ia juga dicatat sebagai pembaharu bidang prosa dalam lingkaran Generasi 45, bersanding dengan Chairil Anwar dalam puisi.

*

Dengan rekam jejak yang menyamai usia sastra Indonesia modern, realisme telah mengalami perkembangan dan pendongkelan yang terus-menerus. Dari “kederhanaan baru” besutan Idrus, cerita-cerita seram buah pena Rijono Pratikto, roman berwatak eksistensialisme gubahan Iwan Simatupang, realisme dengan warna lokal yang khas sebagaimana dalam karya A.A. Navis, Ahmad Tohari dan Korrie Layun Rampan hingga yang berbau magis pada karya Danarto dan Kuntowijojo dan yang dengan penuh semangat memikul muatan politik dalam karya-karya pengarang Lekra.

Setelah pelbagai eksperimentasi bentuk seni selama kurun 1970-an —ada pula yang menyebut dasawarsa ini sebagai masa berkuasanya “rezim estetisme”—tahun-tahun terakhir masa Orde Baru dan sesudahnya adalah yang terpenting. Terutama dengan kemunculan fiksi pascamodernis dalam khazanah lakon dan fiksi kita.

Dalam novel Jazz, Parfum dan Insiden (1996), misalnya, Seno Gumira Ajidarma mengolah novel dengan bentuk yang majemuk: pada satu bagian ia menyerupai kritik musik jazz, pada bagian lain ia adalah laporan jurnalistik tentang peristiwa berdarah di Timor Timur, di bagian lain soal parfum dan kehidupan pekerja urban metropolitan, selebihnya adalah drama atau cerita detektif.

Untuk selanjutnya, fiksi Indonesia berkembang lebih meriah lagi karena penjelajahan bentuk juga ditempuh oleh para pengarang berikut ini: Ayu Utami, Nukila Amal, Nirwan Dewanto, A.S. Laksana, Yusi Avianto Pareanom, Intan Paramaditha, Linda Christanty, Martin Suryajaya hingga Azhari Aiyub melalui novel Kura-kura Berjangggut (2018) —sekadar menyebut sejumlah nama.

Semua itu adalah rangkaian siasat terhadap bentuk-bentuk fiksi yang dianggap telanjur dominan —jika bukan membosankan. Para pengarang generasi mutakhir ini —sejauh mereka cerdik dan terus-menerus berdialog dengan khazanah sastra yang berkembang di di dalam dan luar mereka— telah menunjukkan kepada kita bahwa selalu ada peluang untuk memperbarui khazanah kesusastraan kita —seberapa pun kadar kebaruan itu.

Dengan serta-merta upaya mereka ini berseberangan dengan mereka yang bertahan atau merasa puas dengan apa yang ada. Atau, barisan pengarang yang merasa yang politik masih lebih penting ketimbang yang estetik. Apa yang sekarang ini disebut “politik” adalah isu-isu perempuan, lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat, kaum miskin kota, diskriminasi terhadap minoritas dan seterusnya—yang selama ini menjadi agenda LSM/NGO.

Ketika para pengarang jempolan bersiasat dengan bentuk-bentuk, pengarang semenjana cukup berpolitik. Siasatnya kurang lebih begini: Jika anda tidak terlalu mahir menulis, anda bisa menopang karya anda dengan isu-isu politik yang sedang jadi perhatian publik. Tulisan anda boleh jelek, tetapi isu dalam karya anda adalah penting, seksi. Karena itu, anda akan dengan mudah mendapatkan dukungan dari para pembaca ataupun kritikus yang terbiasa dengan isu-isu ini.

Jadi, jangan cemas, selalu ada sela untuk menjadi pengarang —meski dalam kategori semenjana.

Sampai di sini, saya mohon maaf. Sekadar mengingatkan.

Zen Hae, aktif sebagai penyair, cerpenis, dan penelaah sastra
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR