Ilustrasi tanaman berkhasiat © Bismo Agung Sukarno / Beritagar.id
Gambar: Ilustrasi tanaman berkhasiat | © Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id

Indonesia dan tradisi makanan obat

Bangsa Indonesia cakap dalam memanfaatkan kekayaan lingkungan. Sejak dulu, bangsa ini sanggup memelihara dan mempertahankan kesehatan serta menjaga vitalitas.

Apa yang dilakukan, dikerjakan, dirasakan, dan dinikmati oleh manusia di muka bumi secara sadar, 99 persennya adalah produk budaya. Dengan kata lain, perilaku manusia ditentukan dan diatur oleh kebudayaan tempat mereka tinggal dan berasal, termasuk perilaku kesehatan.

Lalu, bagaimana kebudayaan mengatur perilaku manusia? Sebelum menjawab itu, ada baiknya sedikit dibahas definisi kebudayaan, di antara ratusan definisi kebudayaan yang beredar pada kalangan ilmuwan perilaku.

Koentjaraningrat (1990), Bapak Antropologi Indonesia, menyatakan kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diperoleh dengan cara belajar dalam rangka kehidupan masyarakat.

Meminjam definisinya, kebudayaan terdiri dari tiga dimensi. Pertama, dimensi ideasional yang hanya ada dalam alam pikiran bersifat abstrak, seperti ide-ide yang mencakup nilai-nilai, norma-norma dan keyakinan-keyakinan

Kedua, dimensi sosial, berupa sistem tindakan yang dapat disaksikan ketika kejadian sedang berlangsung. Terakhir, dimensi material yang berwujud hasil karya manusia. Dimensi ini konkret karena dapat dilihat, diraba, dan dirasakan.

Demi memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia memakai kebudayaan. Kebutuhan itu dapat bersifat primer seperti makan, minum, pakaian, perumahan, udara segar, dorongan seksual; sosial, seperti komunikasi, berserikat, aktualisasi diri, berpenampilan menarik; dan adab, seperti prinsip benar/salah, hubungan dengan pencipta, hasrat seni, rekreasi, rasa aman.

Semua hal itu berpatokan pada kebudayaan dengan cara pemenuhan yang tolok ukurnya pun kebudayaan.

Dalam hal pandangan mengenai tubuh ideal, sebagai misal, kebudayaan tertentu menganggap tubuh gemuk adalah ideal. Tapi, pada kebudayaan lain, justru berlaku sebaliknya. Maka, manusia pun membentuk tubuh yang jadi model itu sesuai dengan kebudayaannya. Berbagai upaya muncul untuk mencapai itu, di antaranya lewat makanan dan minuman.

Pandangan budaya terhadap makanan

Makanan berbeda dari nutrisi. Yang disebut pertama adalah konsep budaya, sedangkan nutrisi merupakan senyawa biokimia dibutuhkan tubuh. Rupanya bisa karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan air.

Alam menyediakan sepenuh-penuh nutrisi, tapi manusia hanya mampu mengonsumsinya dalam persentase yang sedikit. Salah satu sebabnya, pembatasan oleh kebudayan, yang menetapkan hasil alam tertentu sebagai makanan atau bukan.

Ada beragam nutrisi dalam tumbuhan dan hewan. Namun, manusia dari kelompok sosial tertentu tidak mengetahuinya atau bahkan menganggapnya sebagai makanan.

Pakis liar, contohnya. Tidak semua orang mengenalnya sebagai makanan. Ulat sagu bagi penduduk dataran tinggi Papua adalah makanan favorit, tapi bagi suku bangsa lain dianggap menjijikkan. Ada agama yang bahkan mengharamkan konsumsi hewan tertentu alih-alih kandungan nutrisinya yang tinggi.

Secara sosial, ikan teri dan singkong dianggap makanan rendahan. Demikian pula belalang, jangkrik, dan bekicot. Padahal, kandungan gizinya tinggi.

Selain itu, teknik pengolahan dan penyajian makanan pun memberikan pengaruh lain. Sebagian masyarakat Indonesia mengolah makanan terlalu matang sehingga merusak gizinya.

Klasifikasi Makanan

Kebudayaan membagi makanan dan minuman ke dalam beberapa kelas. Pertama, makanan suci, yakni jenis yang biasa disajikan untuk kepentingan upacara atau persembahan kepada makhluk-makhluk gaib dianggap suci atau mempunyai kekuatan supranatural; dan makanan profan, yang dikonsumsi manusia.

Lalu, terdapat makanan feminin dan maskulin. Rujak, asinan, bakso, teh botol adalah makanan dan minuman feminin; sedangkan bir, sate kambing, steak adalah makanan maskulin.

Ketiga, makanan penguji iman. Ini biasanya jenis makanan yang diharamkan agama meski bernutrisi tinggi. Lantas, ada pula makanan stimulan, yaitu makanan yang tidak mengenyangkan tapi memancing gairah , rileksasi, atau kenikmatan lain seperti tembakau, daun sirih, cengkeh, dan tuak.

Kemudian, makanan obat. Ia dianggap berfaedah dalam mengobati karena dipandang sanggup menyiasati keadaan panas atau dingin yang berlebihan. Bila penyakitnya disebabkan oleh panas dalam tubuh, makanan mesti berkualitas dingin, dan demikian pula sebaliknya sehingga terjadi keseimbangan unsur panas dan dingin dalam tubuh.

Dalam sistem medis Unani Tibia (George M. Foster dan Barbara Anderson Foster, 1985), tubuh akan sehat bila unsur-unsur humoral (cairan) yang memiliki kualitas panas dan dingin dalam tubuh seimbang. Sebagai catatan, keseimbangan ini pada manusia berbeda-beda sesuai usia.

Makanan dianggap obat karena rupa dan bentuknya dianggap analog dengan organ-organ tubuh manusia. Menyantap makanan tertentu berbentuk mirip dengan organ-organ tubuh tertentu akan memberikan kekuatan pada organ tubuh bersangkutan.

Budaya Lisan dan Makanan Obat

Adanya pengetahuan kultural akan makanan yang memiliki kualitas panas, dingin dan analogi bentuk, rupa dan sifat makanan dengan organ tubuh manusia, menjadikan makanan-makanan tertentu sebagai obat bagi manusia dan dapat menimbukan efek kesehatan, kecantikan dan kekuatan bagi pria dan wanita.

Pengetahuan semacam itu tertulis dalam kitab-kitab budaya tertentu. Misalnya, primbon pada masyarakat Jawa dan Sunda atau I La Galigo pada masyarakat Bugis dan Makassar. Pengetahuan itu pun beredar via tuturan sebagai bagian kebudayaan lisan. Secara antropologis, ia disebut folklor.

Folklor diturunkan dan disebarkan secara lisan di dalam kelektif-kolektif apa saja. Penciptanya tak diketahui atau anonim melalui alat bantu pengingat atau gerak isyarat. Karena menyebar secara lisan, ia memiliki banyak versi meski berpola sama (James Danandjaja, 2002).

Meski begitu, folkor dapat berbentuk lisan, lisan-sebagian, maupun nonlisan.

Folklor lisan di antaranya: 1) prosa rakyat (mite; legenda, dongeng); 2) nyanyian dan puisi rakyat (termasuk mantra) seperti lagu-lagu daerah untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa; pantun dan bentuk-bentuk syair; 3) mantra-mantra, baik digunakan para dukun, shaman, atau anak-anak sekadar sebagai permainan; 4) lelucon, anekdot dan humor (dari yang lucu hingga yang vulgar); lelucon tentang suku-suku bangsa atau kelompok etnik tertentu; anekdot, cerita lucu yang menggambarkan tokoh-tokoh masyarakat tertentu ; humor pergaulan, humor politik, humor seksual, dan lain-lain.

Folklor lisan-sebagian terdiri dari: 1) keyakinan rakyat seperti keyakinan tentang asal-usul nenek moyang (totemisme); keyakinan mengenai keberadaan mahluk gaib; keyakinan tentang kehidupan setelah mati; keyakinan mengenai benda-benda sakti; keyakinan akan ketentuan nasib dan peruntungan; keyakinan yang berkaitan dengan kejadian alam dan penguasa alam; 2) permainan rakyat, yang disertai gerakan fisik dan nyanyian; memerlukan ketangkasan dan trik; dapat merupakan permainan, pertandingan dan kompetisi (game); dimainkan secara sendiri-sendiri, berkelompok atau antar kelompok; dilakukan secara sukaria; terdapat variasi aturan atau sistem permainan di antara kolektif yang berbeda.

Sementara, folkor nonlisan: 1) arsitektur rakyat; 2) senjata tradisional; 3) pakaian dan perhiasan tradisonal; 4) makanan dan minuman rakyat.

Mengacu kepada definisi folklor itu, makanan dan minuman tradisional tergolong folklor nonlisan. Walau begitu, cara penyebaran dilakukan secara lisan dan tradisonal sesuai dengan difinisi folklor di atas.

Tradisi menyebabkan kebenaran akan khasiat makanan dan minuman itu sudah tak lagi penting. Pasalnya, tradisi mensyaratkan praktik berulang dan turun-temurun tanpa memperhitungkan rasio atau kebenaran berdasar nalar. Hal sedemikian berlaku pada praktik-praktik sosial dalam membuat dan mengonsumsi makanan dan minuman tradisional.

Berbicara mengenai jenis-jenis bahan makanan dan minuman dengan kualitas tertentu, berikut sejumlah di antaranya.

Jahe (Zingiber officinale)

Jahe adalah sejenis rhizoma atau rimpang dengan banyak varietas. Dua dari variasi itu, jahe merah dan jahe putih. Masyarakat Indonesia memanfaatkan keduanya secara turun-temurun sebagai minuman, bumbu, jamu, atau campuran obat.

Jahe dianggap berkualitas hangat atau panas, sehingga berkhasiat untuk mengobati penyakit yang berkategori dingin seperti gangguan saluran pencernaan, flu atau demam, masuk angin dan penyakit dalam seperti hepatitis dan paru-paru.

Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza)

Seperti jahe, temu lawak secara kultural dianggap berkualitas hangat sehingga sangat cocok digunakan menyembuhkan penyakit yang secara budaya berkategori dingin seperti liver atau sakit kuning, saluran pencernaan, tidak nafsu makan, diabetes, dan penyakit dalam lain.

Berbeda dari jahe, temu lawak terasa pahit. Karenanya, ia mesti diproses sebelum disajikan dengan campuran gula merah. Masyarakat petani di pedesaan Jawa memakai temu lawak sebagai campuran olahan sayuran yang disebut sayur temulawak.

Saat ini, berkat kemajuan teknologi, temu lawak diambil ekstraknya dan dimasukkan dalam kapsul. Masyarakat Jawa percaya konsumsi temulawak secara teratur membuat daya tahan tubuh terhadap berbagai jenis penyakit akan kuat.

Temu kunci (Boesenbergia pandurata)

Khasiat temu kunci tidak jauh berbeda dari jahe dan temu lawak. Namun, temu kunci lebih umum digunakan sebagai bumbu.

Masakan yang biasa memakai temu kunci sebagai bumbu utama berbahan pokok keong sawah (tutut dalam bahasa sunda); berbagai jenis kerang; ikan air tawar; keong laut, dan lain-lain.

Temu kunci berguna menghilangkan bau amis pada makanan, selain pula menambah cita rasa. Temu kunci, jahe, kayu manis, kayu secang, sereh, dan gula merah adalah bahan dasar bir pletok, satu minuman hangat dan menyegarkan khas Betawi. Bir pletok sangat baik untuk mengusir angin dan hawa dingin dalam tubuh.

Kunyit (Curcuma domestica Val.)

Kunyit berkualitas hangat dan dapat dipakai sebagai bumbu. Masyarakat di Jawa dan Sumatera sudah lama memakainya sebagai obat luka dalam. Itu sebab perempuan baru melahirkan diberi ramuan didominasi kunyit. Pada masyarakat Sunda, kunyit bisa jadi pelengkap lalap.

Bangle (Zingiber purpureum Roxb.)

Bangle termasuk rimpang, tapi lebih utama dipakai untuk pengobatan ketimbang bumbu masak. Bayi atau balita yang terkena masuk angin lazim diobati dengan bangle. Caranya: parutan bangle dibalurkan di perut atau di atas kepala bayi yang sedang panas. Bangle juga digunakan untuk menangkal gangguan mahluk halus.

Bawang putih (Allium sativum)

Bawang putih dianggap berkualitas dingin. Selain berguna sebagai penyedap masakan, ia dapat dipakai mengobati penyakit berkategori panas.

Penyakit-penyakit dimaksud berkaitan dengan kardiovaskular, hipertensi, lambung, dan masuk angin.

Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum)

Bawang merah dianggap tumbuhan yang berkualitas hangat. Masyarakat di Nusantara menggunakannya untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang disebabkan angin dingin pada bayi dan balita.

Pengaplikasiannya adalah dengan cara membalurkan parutan atau rajangan bawang merah bercampur minyak kelapa pada perut atau tubuh penderita. Melalap bawang merah ketika makan dapat berkhasiat mengusir angin di dalam tubuh.

Belimbing (Averrhoa carambola) dan belimbing sayur (Averrhoa bilimbi)

Belimbing buah atau belimbing sayur mengandung kualitas dingin. Belimbing buah dapat dimakan begitu saja bila telah masak atau dijus menjadi minuman. Dua jenis belimbing itu berkhasiat menyembuhkan penyakit tergolong panas seperti panas dalam, hipertensi, kardiovaskular, dan lain-lain.

Mentimun (Cucumis sativus)

Mentimun dianggap berkualitas dingin. Ia sangat baik untuk mengobati penyakit yang tergolong panas seperti hipertensi dan gangguan jantung. Belakangan diketahui bahwa mentimun mengandung insulin alami sehingga cocok bagi penderita diabetes.

Daging Kambing

Daging kambing dipandang berkualitas panas dan tidak baik bila dikonsumsi oleh penderita penyakit kategori panas sebagaimana telah diurai di atas. Namun, makanan ini dianggap cocok bagi penderita tekanan darah rendah. Di beberapa kolektif tertentu, daging kambing dipandang sanggup mendongkrak vitalitas pria.

Analog dengan Organ Tubuh

Tanaman yang dianalogikan secara fisik dengan organ tubuh manusia performanya berefek secara identik pada organ-organ tubuh dimaksud. Berikut beberapa tanaman yang diyakini berkhasiat karena bentuk fisiknya.

Salak

Buah ini bersisik dan kasap. Ujungnya lancip dan pangkalnya yang besar mirip penyumbat. Sebagian masyarakat Indonesia memakan salak untuk menangkal buang air besar maupun buang air kecil terutama bila sedang dalam perjalanan jauh. Namun, ibu hamil dilarang memakan buah ini karena dianggap akan menghambat proses persalinan.

Pasak bumi

Pasak bumi tanaman endemik yang tumbuh di pedalaman Kalimantan. Kulit akar dan kayu akarnya dianggap berguna untuk meningkatkan vitalitas pria.

Akar pohon pasak bumi dipandang berfaedah bagi penis karena sangat kukuh menghunjam bumi, sehingga untuk mencabutnya butuh tenaga luar biasa. Bahkan, ada ritual-ritual khusus sebelum mencabut akar pohon ini agar khasiatnya sesuai harapan. Kekukuhan akarnya menusuk tanah dianalogikan dengan kekukuhan penis laki-laki.

Pohon rapat

Tanaman ini tumbuh liar di pedalaman Kalimantan. Akarnya berguna sebagai bahan baku jamu "sari rapat", ramuan yang memungkinkan vagina kembali rapat seperti sedia kala meski baru melahirkan.

Kulit akar pohon rapat ini sangat unik. Meski telah dikeringkan, getahnya masih ada. Bila kulit akar yang sudah kering itu dipatahkan, getahnya bakal kuasa merekatkan kembali patahan itu. Atas dasar analogi ini, maka pohon rapat dapat menjadi jamu "sari rapat" yang dapat merapatkan kembali vagina peminumnya.

Jika mau dicari, tentu masih banyak tumbuhan dan hewan di Indonesia yang dianggap memiliki khasiat tertentu. Bersandar pada tradisi, para konsumennya tentu telah menggunakannya secara turun temurun tanpa mempersoalkan lagi kebenaran atau rasionalitas dari efek positif yang ditimbulkan.

Bagaimanapun, bangsa kita yang berbudaya tinggi--melalui berbagai praktik sosial dalam memanfaatkan kekayaan lingkungannya--mampu memelihara dan mempertahankan kesehatan, menyembuhkan penyakit, dan menjaga vitalitas diri sejak dahulu kala.

Melalui perkembangan teknologi, sebagian besar komoditas yang dianggap berkhasiat itu telah diuji secara klinis di laboratorium. Dan ternyata, tanaman-tanaman dimaksud secara positif memang memiliki efek farmakopea sesuai dengan pengetahuan budaya masyarakatnya.

Dr. Jajang Gunawijaya, M.A., pengajar di jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

BACA JUGA