Jakarta kota sungai

Sungai di Kota Tua Jakarta
Sungai di Kota Tua Jakarta
© Aleksandar Todorovic /Shutterstock

Mengamati lagi sungai-sungai di Jakarta hari ini, berarti menelusuri kembali jejak-jejak Jakarta sebagai "kota sungai". Empat belas sungai besar, belum lagi sungai-sungai kecil, mengaliri kota ini tanpa bosan.

Di masa silam, Jakarta dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dengan mengambil contoh pembangunan kota-kota di Negeri Kincir Angin itu. Terutama dalam soal pembuatan kanal-kanal di antara sungai-sungai yang ada.

Kali Mookervaart atau Kali Pesing, yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Antonio van Diemen pada 1681, menghubungkan Kali Cisadane dan Kali Angke. Sejumlah kanal di kawasan Kota Tua menjadi serangkaian siasat atas aliran Kali Ciliwung yang berkelok-kelok memasuki pusat kota.

Belum lagi Kanal Banjir Barat yang membentang sepanjang Manggarai hingga Muara Angke--yang kemudian diteruskan oleh pemerintah DKI Jakarta dengan Kanal Banjir Timur. Tujuan dari semua itu adalah demi menghindarkan kota ini dari rendaman banjir, di samping untuk keindahan kota.

Di luar rekayasa planologis itu, sungai-sungai alami muncul sebagai anugerah alam yang telah menghidupi warga kota dengan berbagai cara. Dalam konteks ini, manusia berutang budi kepada sungai sebagaimana mereka berutang budi kepada laut, hutan, sawah, ladang--juga angkasa. Mereka bukan hanya tinggal, tetapi juga mengais rezeki dan membangun peradaban di situ.

Menurut studi arkeologi, peradaban "masyarakat sungai" sudah muncul di tepian Kali Ciliwung di kawasan Condet sejak awal-awal abad Masehi.

Mari kita bayangkan masyarakat sungai di masa lalu sebagai cikal bakal warga Jakarta hari ini. Mereka tinggal di sekitar sungai, mencari atau bercocok tanam. Mereka juga mandi, mencuci dan buang hajat di sungai. Mereka menjadikan sungai sebagai daerah lalu lintas manusia dan barang. Sungai bukan hanya halaman depan rumah mereka, tetapi juga masa depan anak-cucu mereka.

Tapi kawasan yang berkembang kemudian tidak melulu berurusan dengan daerah aliran sungai sebagai habitat manusia. Meningkatnya populasi manusia menuntut pula perluasan kawasan permukiman. Ini memaksa manusia merambah juga kawasan hulu tempat hutan membentang--dari sanalah lahir permukiman baru, di samping persawahan dan perkebunan yang baru pula.

Sementara perubahan kampung menjadi kota, di samping munculnya industri, telah mengubah cara pandang manusia terhadap sungai, atau alam secara keseluruhan. Sungai bukan lagi yang utama, ia hanya salah satu bagian dari kota.

Salah satu yang paling mencolok adalah tidak digunakannya lagi sungai sebagai tempat lalu lintas manusia dan barang. Hingga 1980-an, mengangkut bambu dengan menghanyutkannya di sungai, yang dibentuk menyerupai rakit, adalah pemandangan lumrah sungai-sungai besar di Jakarta. Tetapi setelah banyak jalan terbangun, penjual bambu lebih memilih jalan darat. Mengangkut bambu dari Bogor ke Jakarta jauh lebih cepat dengan menggunakan truk, meski butuh ongkos yang lebih mahal.

Proses pembangunan, modernisasi kota--yang tidak berpihak kepada pelestarian lingkungan tentu saja--pada akhirnya mempreteli fungsi sungai dalam kehidupan kita. Yang tersisa, dan ini terbilang yang terburuk, adalah fungsinya sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah.

Kenapa kita melakukan semua itu? Bisa jadi kita belum menemukan teknologi pengolahan limbah. Atau, kita belum menumbuhkan budaya daur ulang.

Jika yang pertama berkaitan dengan penemuan yang menuntut kecerdasan tertentu, maka yang kedua kembali ke soal cara pandang kita terhadap sesuatu: apakah sampah adalah sesuatu yang sama sekali tidak berguna ataukah ia potensial menjadi sesuatu yang berguna bagi manusia.

Dengan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah, kita sebenarnya tengah memindahkan posisi sungai: dari halaman depan ke halaman belakang rumah kita. Bukankah masyarakat kita terbiasa membuang atau menumpuk sampah di belakang rumah?

Normalisasi sungai yang kini tengah berjalan, dengan sejumlah catatan kritis untuknya, adalah upaya penyelamatan sungai dari kehancuran. Ia bukan pula upaya mengembalikan warga Jakarta ke era peradaban "masyarakat sungai" di masa lalu.

Ada risiko yang tidak ringan dari program ini. Sungai-sungai memang telah dibikin rapi dan kokoh dengan cara dibeton, tetapi pada saat yang sama juga ekosistem sungai dihancurkan. Kita bisa menghitung berapa spesies tumbuhan dan hewan daerah aliran sungai yang lenyap akibat pembetonan.

Namun, mempertahankan bentuk sungai sebagaimana aslinya, terutama yang ada di dalam kota, juga bukan perkara mudah. Bukan hanya daerah aliran sungai yang kiat menyempit, terancam oleh pemukiman dan kegiatan ekonomi warga kota, tetapi juga sejumlah alasan lain yang menjadi pertimbangan.

Tampaknya, makin ke hulu proses penyelamatan sungai dengan mempertahankan keasliannya tampaknya akan semakin mudah. Tengoklah apa yang dilakukan oleh Bang Idin dan komunitas Sangga Buana terhadap Kali Pesanggrahan di Karang Tengah, Jakarta Selatan.

Pada akhirnya sungai-sungai di Jakarta diselamatkan dengan cara dibikin lurus, kokoh sekaligus angkuh. Apa boleh buat, kita mesti menerima sungai-sungai di dalam kota dengan rupa seperti itu.

Kini tinggal: mau atau tidak kita memperlakukan sungai dengan cara yang lebih beradab. Yakni, dengan memandangnya sebagai bukan tempat membuang sampah dan limbah.

Kualitas airnya memang belum lagi pulih, tetapi dengan upaya yang terus-menerus, di samping komitmen untuk terus merawatnya, bukan tidak mungkin kelak kita bisa memandang batu di dasar kali dalam sekali tatap dan menemukan pelbagai jenis ikan air tawar yang hidup di di dalamnya.

Bisa jadi, kelak kita bisa menemukan lagi pemandangan orang bersampan berpasang-pasangan di Kali Ciliwung sebagaimana pernah terjadi di zaman Belanda. Mungkin nanti warga Jakarta bisa memilih naik perahu cepat--ya program water way di Kanal Banjir Barat pernah diperkenalkan Pemda DKI Jakarta, meski kemudian mangkrak--di samping memilih Transjakarta, LRT, MRT atau commuter line.

Sebagai warga Jakarta saya mengharapkan semua kebaikan ini. Saya berharap pada kerja-kerja terbaik untuk kota ini.

Zen Hae adalah penyair dan kritikus sastra

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.