Jawa di mata turis Barat

Ilustrasi: Hotel des Indes, Baravia, 1910
Ilustrasi: Hotel des Indes, Baravia, 1910 | Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures /CC BY-SA 3.0

Obyek wisata di Jawa panen pengunjung. Musim liburan sekolah, Natal, serta Tahun Baru adalah musimnya orang plesiran atau rekreasi.

Bukan hanya wisatawan domestik, sedari lama telatah Jawa acap memesona pelancong dan peneliti asing. Mereka masuk dalam kategori travelleryang mengandung arti: orang (yang) bepergian. Arti lain dari traveler dan reiziger, yakni “pelancong” dicomot tergantung konteksnya sebab tidak seluruh traveler merupakan pelancong.

Dalam perlintasan sejarah pariwisata Nusantara, Pulau Jawa ditakdirkan menjadi boneka cantik dan menggemaskan bagi siapapun yang melihat. Keelokan dan keindahan alam serta sikap masyarakatnya yang mudah menerima tamu orang luar tanpa mengedepankan prasangka buruk, mengantarkan tanah Jawa jadi jujugan utama pengelana. Lalu, membuahkan kesan manis sehingga acap dirindukan sebagaimana Obama.

Secarik koran Djawi Kondo edisi Agustus 1907 yang saya temukan di lantai 8 Perpustakaan Nasional Jakarta yang lama melaporkan kedatangan ratusan wisatawan dari benua Amerika. Mereka membanjiri Jawa melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

Telah tiba di Tg. Priok kapal Empresse of Scotland dengan 400 Orang pelentjong bangsa Amerika,” ungkap juru warta.

Secuil fakta ini menunjukkan bahwa di masa silam, ratusan orang Amerika rela mengarungi samudera luas selama sebulan lebih demi bisa menikmati panorama Jawa yang digambarkan dengan konsep Moei Indie (Jawa yang cantik dan molek).

Saya teringat kerja apik James R. Rush (2013) yang meronce celoteh barisan orang Eropa yang pernah menginjakkan kaki di pulau Jawa dalam waktu tak bersamaan. Antara lain, Nicolo Conti (1444), Francois Leguat (1708), Sir Joseph Banks (1770), Thomas S Raffles (1815), Charles Walter (1852), John Whitehead (1880), Augusta de Wit (1923), Harriet Ponder (1935) dan masih ada sederet lagi.

Mereka menyusun reportase ringan, tanpa dibebani misi intelektual dan rupa-rupa konsep ilmiah macam kaum Indonesianis. Di sini, para pengelana berlagak menjadi pengamat cerdik.

Mereka tidak mau jadi pengamat yang berat sebelah dengan perspektif keilmuan dan prasangka dari kehidupan masyarakat tempat asal mereka. Rata-rata mereka memandang jagat Jawa melalui kacamata kekuatan kolonialisme Barat yang terdistorsi.

Namun demikian, tetap saja ditemukan segelintir amatan merendahkan penduduk Jawa dan mencerminkan sikap kelompok superior. Hal ini dikarenakan golongan pribumi menduduki urutan paling buncit dalam stratifikasi sosial. Orang Jawa dipandang sebagai pertunjukan besar, unik dan eksotis.

Para pengamat mendekam di satu wilayah di Jawa, tapi tidak sedikit pula yang blusukan dari kota ke kota.

Berangkat dari sepotong pertanyaan “Apa pendapat Anda tentang negeri ini?” Tanpa ragu pelancong Charles Walter menjawab bahwa negeri ini terindah di dunia dan cuacanya tak tertandingi.

Ia mengakui dirinya belum pernah melongok negeri mana pun yang punya alam begitu indah dari Pulau Jawa. Akan tetapi, lantaran berada di bawah cengkeraman pemerintah kolonial Belanda yang boleh dibilang tidak kompeten, cuma sedikit sekali usaha mengembangkan sumber daya negeri ini yang berlimpah.

Charles datang ke Jawa hendak mencari obat demi kesembuhan dirinya. Daun kalender menunjuk pada angka 14 Juli 1852.

Dikisahkan pula olehnya soal makanan. Mentega tengik, roti berjamur, daging unggas yang sangat alot dan frikandel (sejenis sosis Belanda) tiada berkesudahan mengiringi saban langkah si pengisah.

Charles sepenuhnya menikmati sebagian besar keindahan alam pedesaan yang dilalui dan dapat memberi pernyataan mengenai cuaca yang menyenangkan. Selain itu, dirasakannya juga kebaikan dan perhatian dari komunitas Eropa yang bermukim di area ini, mulai dari Gubernur Jenderal hingga ke pengurus hotel.

Mereka melancong ke Jawa, tak perlu meributkan perkara penginapan sebagai salah satu syarat dari pengembangan dunia wisata. Bahkan, saking komplitnya fasilitas di Solo, pelancong muslim disediakan sebuah hotel khusus.

Fakta berharga tersurat dalam Darmo Kondo 18 September 1920. Redaktur koran milik organisasi Boedi Oetomo ini menurunkan berita bertajuk “Islam Hotel di Surakarta”.

Besoek hari 16 Augustus 1920 moelai terboeka, doedoeknja Islam Hotel soedah dipilihken tempat jang bagoes (Prapatan Nonongan djadi poesatnja Kasoenanan dan Mangkoenegaran) dekat halte Trein, tjarik Kreta lebih gampang, soenggoeh bagoes lagi boet jang berdagang,” tulis wartawan.

Kenyataan ini membuka mata hati kita bahwa kota kerajaan di Jawa sejak dulu ramah dengan wisatawan dan tamu lintas agama.

Para penguasa Jawa di masa lampau tak luput dari amatan asing. Eliza Ruhamah Scidmore memberi penilaian terhadap raja Paku Buwana X di Keraton Kasunanan Solo tahun 1897.

Diterangkan, meski dengan segala kebesaran dan kekuasaannya, Sinuhun bak penguasa boneka dan tahanan biasa semacam pangeran, sultan dan bupati yang dibuang dan dipensiunkan oleh petinggi Belanda.

Raja memelihara semua kekayaan serta kemegahan kerajaan dalam istananya yang diawasi dari benteng Belanda. Moncong meriam di benteng diarahkan ke keraton, sehingga Belanda dapat membumihanguskan seluruh kerajaan dalam tempo sekejap.

Penguasa tradisional itu juga tak diperkenankan keluar dari pintu gerbangnya sendiri tanpa melapor Residen Belanda. Ditemani tentara kehormatan Walanda, raja tidak punya kebebasan seperti turis.

Kerajaan Islam tua (Keraton Kasunanan) di Kota Bengawan, cuma diberi wilayah kekuasaan sebatas keraton, seluas 1 mil persegi, dimana Susuhunan atau junjungan rakyat Surakarta, hidup sebagai tahanan rumah pemerintah Belanda.

Realitas yang patut dicermati ialah perubahan panorama Jawa periode kemerdekaan. Peter Kemp, perwira Inggris, ditugasi memimpin pasukan untuk mengintai Bali dan Lombok. Sepanjang perjalanan, ia melintasi Jawa, dimana kelompok nasionalis di bawah pimpinan Sukarno sudah menyatakan kemerdekaan dan pasukan Inggris sedang berusaha mencegah terjadinya revolusi.

Dulu, Jawa adalah salah satu negeri terkaya di Asia dengan rakyat yang makmur dan bahagia, sementara pada 1946 yang ada hanyalah pemandangan menyedihkan dari ladang-ladang padi yang terbengkalai dan perkebunan yang terlantar, ditinggalkan oleh para petani miskin yang ketakutan.

Dari riwayat di muka, kita paham bahwa rekreasi bukan sekadar kegiatan buang duit demi melunasi kebutuhan rohani dan jasmani. Ada sebongkah spirit yang bisa kita unduh adalah kesadaran membuat coretan sederhana dan jujur kala kita melancong.

Ulasan sederhana ini bisa dituangkan lewat blog atau buku. Bukan sekadar membantu promosi wisata lokal, coretan itu kelak juga akan dibaca anak-cucu kita.

Dengan membaca, mereka merasa diajak blusukan ke lorong desa-kota di Pulau Jawa. Menerbangkan imajinasi historis generasi berikutnya akan kehidupan masyarakat di Jawa tempo doeloe sembari menyaksikan dan merenungkan bagaimana Jawa mengalami transformasi dari masa ke masa.

Masyarakat umum juga dapat memanfaatkannya untuk kepentingan bernostalgia. Bahkan, ibu-ibu di Jawa bisa memakai aneka cerita di dalam karya ini sebagai bekal mendongengkan anak menjelang tidur. Pasalnya, setiap peristiwa sejarah pasti menyelipkan pesan arif untuk kehidupan masa kini dan mendatang.

Heri Priyatmoko, dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma; penulis buku “Sejarah Wisata Kuliner Solo”
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR