Kampanye membaca dengan gong dan slogan

Membaca memperbaiki imajinasi kita.
Membaca memperbaiki imajinasi kita. | Shutterstock

Beberapa hari belakangan saya merasa sedikit tidak enak, terutama setelah tulisan minggu lalu tentang minat baca masyarakat yang tetap kerdil, yaitu 0,001 persen. Mungil sekali.

Saya semula berpikir bahwa keadaannya tetap seperti itu karena pemerintah abai terhadap kewajibannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak melakukan tindakan apa pun untuk mendorong masyarakat gemar membaca. Rupanya saya keliru.

Sudah ada banyak tindakan yang dilakukan untuk membuat masyarakat gemar membaca. Anda bisa membuka YouTube, jika mau, dan mengetikkan kata kunci "gerakan gemar membaca". Ada banyak potongan video tentang gerakan gemar membaca di sana.

Saya melakukannya pada Sabtu malam pekan lalu dan berniat menonton semua video yang berkaitan dengan kata kunci itu. Namun saya tertidur di depan pesawat televisi sebelum sempat merampungkan semuanya.

Padahal itu video-video yang lucu. Ada anak-anak sekolah menyanyikan lagu gemar membaca, ada perayaan dengan tari-tarian, ada senam gemar membaca, ada orang memukul gong, dan tentu saja ada sejumlah pejabat berpidato.

Semua video menunjukkan, secara terang benderang, bahwa di banyak daerah sekarang ini orang sedang menggerakkan masyarakat agar gemar membaca buku. Itu gerakan yang bagus. Cuma, saya tidak yakin akan ada orang yang tergerak membaca setelah mendengarkan pidato bupati, apalagi jika pidatonya mengesankan bahwa ia sendiri tidak mengerti apa yang harus dibicarakan tentang membaca buku.

Saya tetap berniat akan melanjutkan menonton semua video. Mungkin nanti malam setelah anak-anak saya tidur. Tidak apa-apa mereka tidak ikut menonton, saya pikir mustahil mereka tergerak membaca buku setelah melihat orang memukul gong.

Sebenarnya mudah menduga bahwa video-video lain yang belum saya tonton kurang lebih isinya akan begitu-begitu saja. Syair lagu yang dinyanyikan anak-anak akan berupa deretan slogan dan nasihat klise: "Buku adalah gudang ilmu, mari membaca agar pintar, mau jadi dokter baca buku, mau jadi arsitek baca buku...."

Anda bisa mengumpulkan spanduk dan menyalin apa yang tertulis di sana menjadi bait-bait lagu dan menyanyikannya dengan iringan gitar atau organ tunggal untuk membuat lagu kampanye semacam itu.

Tampaknya gerakan gemar membaca yang berlangsung di mana-mana itu dilakukan asal-asalan. Ia terlihat seperti perayaan tujuh belas Agustus, dengan tujuan untuk mengabarkan bahwa kami sudah menjalankan anjuran untuk memasyarakatkan budaya membaca.

Tidak ada rencana besar dalam gerakan itu, jika kita berpikir bahwa gerakan gemar membaca adalah sebuah gerakan nasional. Setidaknya, saya tidak menemukan rencana yang bisa dibaca oleh semua orang.

Kita tidak menemukan pemikiran, misalnya, kenapa kita perlu membaca (tentu bukan sekadar untuk menjadi dokter atau pawang kera), lalu apa visi gerakan gemar membaca itu, dan apa pula misinya. Setiap perencanaan, Anda tahu, biasanya mencantumkan target, visi, misi.

Tanpa target, orang tidak tahu apa yang akan dicapai. Tanpa visi, kita akan berjalan ngglundung saja, mungkin asal-asalan, karena tidak tahu gambaran realistis yang bisa diwujudkan di masa depan. Tanpa misi, kita tidak melakukan apa-apa. Misi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai, dalam hal ini, apa yang harus dicapai melalui kampanye gemar membaca dan kenapa harus mencapainya.

Tidak sulit untuk merumuskan itu semua. Dalam waktu satu jam saja saya bisa menyampaikan beberapa butir tentang kenapa membaca itu penting:

1. Membaca akan memberi dampak pada kehidupan kita. Demokrasi kita, ekonomi kita, dan kualitas hidup kita sehari-hari akan meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan kita membaca.

2. Membaca penting bagi upaya menyejahterakan masyarakat dan mewujudkan demokrasi yang berkualitas.

3. Membaca adalah sumber kegembiraan seumur hidup bagi setiap orang.

4. Membaca memperbaiki kecakapan orang dalam menalar dan menyampaikan pemikiran.

5. Membaca dapat meningkatkan empati dan kemampuan memahami orang-orang yang berbeda dari kita. Ia meningkatkan kecerdasan emosional dan membantu kita menghargai pandangan orang lain.

6. Membaca membantu orang memahami dirinya dan dunia sekitarnya.

7. Membaca adalah landasan bagi pembelajaran selanjutnya. Ia membekali kita kemampuan berpikir kritis.

8. Membaca memperbaiki imajinasi kita.

9. Membaca membuat sebuah masyarakat mampu memahami perubahan dan setiap individu di dalam masyarakat itu bisa berperan aktif untuk mewujudkan perubahan.

Masih ada lagi butir-butir yang bisa ditulis, tetapi saya kira sembilan cukup. Berikutnya kita menentukan misi. Misalnya, misi gerakan ini adalah mewujudkan masyarakat gemar membaca sebagai prioritas nasional.

Visinya? Kita tulis saja untuk membangun, merawat, dan menumbuhkan masyarakat di mana setiap individu di dalamnya memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan bacaan bermutu.

Karena ada tulisan "buku bermutu" di dalam rumusan visi itu, berarti gerakan ini juga perlu mendorong pemerintah dan semua pihak untuk menjamin tersedianya buku-buku bermutu. Jika pasar tidak menyediakan buku-buku semacam itu, pemerintah yang harus berinisiatif menyediakannya.

Betul-betul tidak terlalu sulit untuk merumuskan poin-poin di atas, karena sesungguhnya saya hanya mencomot Rencana Nasional yang ada di situs National Reading Campaign, Kanada. Itu rencana yang digodok selama empat tahun, melibatkan ratusan orang: pembaca, pendidik, pustakawan, penerbit, orang tua, dan penulis.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa jika tidak tahu apa yang harus dilakukan, kita bisa belajar dari orang lain. Kita bisa mendapatkan inspirasi dari mana saja. Kita boleh mempelajari, atau bahkan meniru, langkah-langkah yang dilakukan oleh negara mana pun yang berhasil membangun budaya membaca.

Mereka tidak akan menegur dan meminta pembayaran royalty jika kita meniru keberhasilan cara-cara mereka untuk mewujudkan masyarakat gemar membaca. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan pemerintah untuk sedikit bersungguh-sungguh menangani urusan ini.

Kecuali yang diinginkan adalah masyarakat yang tetap seperti ini.

AS Laksana, sastrawan yang aktif menulis di berbagai media
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR