Kenapa jurnalis kita menulis berita secara buruk

Ilustrasi: Jurnalis menulis.
Ilustrasi: Jurnalis menulis. | Abscent /Shutterstock

Salah satu siksaan terberat yang harus dihadapi oleh warga negara Indonesia yang senang membaca berita adalah ia akan bertemu setiap hari dengan berita-berita yang ditulis secara buruk.

Saya tidak membicarakan dua atau tiga berita yang ditulis oleh wartawan ingusan dari media-media kacangan. Ini gejala umum jurnalisme kita. Para wartawan, termasuk mereka yang bekerja pada media-media dengan nama besar dan umur tua, setiap hari mengguyur kita dengan tulisan-tulisan buruk.

Karena keburukan itu muncul setiap hari, kita boleh menyimpulkan bahwa mereka memang tidak mengerti cara menulis bagus. Orang-orang yang tidak tahu cara menulis bagus biasanya tidak risau menghasilkan tulisan buruk. Dan sebagian dari mereka mungkin tidak menyadari bahwa tulisan mereka buruk.

Jadi, mereka akan terus menyiksa kita dengan tulisan-tulisan mereka, setiap hari sampai mereka pensiun kelak atau sampai mereka memutuskan berganti profesi, misalnya menjadi petani kecambah atau pedagang kuda.

Perhatikan tulisan berikut, penggalan dari sebuah berita berjudul Industri 4.0 Mendorong Sektor Konstruksi Lebih Efisien. Saya menemukan berita itu di internet setelah memasukkan kata kunci “industri 4.0” pada mesin pencari. Berita itu ditulis dengan dorongan tak tertahankan pada wartawannya untuk menerapkan prinsip satu paragraf satu kalimat.

Kehadiran teknologi berbasis data dan informasi di bidang konstruksi memberikan pengaruh pada metode pembangunan dan sudut pandang para pelakunya.

Para pekerja yang terlibat dalam industri konstruksi harus memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya, serta tetap mempertimbangkan penggunaan sumber daya alam secara efektif dan efisien.

Artinya, teknologi harus dimanfaatkan untuk bisa menghemat energi semaksimal mungkin sehingga sumber daya alam tidak cepat habis.

Pada saat menulis, hal pertama yang perlu kita pertimbangkan adalah kita tahu apa saja yang akan kita sampaikan. Kedua, kita harus membuang truisme jauh-jauh. Tidak perlu kita menulis: Unggas adalah hewan bersayap; secara umum mereka bisa terbang, tetapi ada juga yang tidak bisa terbang.

Tidak ada satu orang pun yang bisa menyangkal kebenaran pernyataan kita tentang unggas. Tetapi apa gunanya menyampaikan hal itu? Semua orang sudah tahu bahwa unggas adalah hewan bersayap dan seterusnya.

Kalimat pertama dalam berita tentang industri 4.0 dan sektor konstruksi adalah sebuah truisme. “Kehadiran teknologi berbasis data dan informasi di bidang konstruksi memberikan pengaruh pada metode pembangunan dan sudut pandang para pelakunya.” Kalimat ini sepenuhnya benar. Kehadiran teknologi baru, entah itu berbasis uap atau berbasis data, tentu akan berpengaruh pada sudut pandang para pelakunya.

Kalimat kedua dan ketiga adalah petuah umum yang juga tidak perlu ditulis karena semua orang sudah tahu.

Jadi, tiga kalimat pertama dalam berita itu harus dibuang. Itu berarti si wartawan menulis straight news dengan cara menyalahi prinsip segitiga terbalik: ia mengisi bagian awal berita, yang mestinya informasi paling penting, dengan informasi-informasi yang semuanya harus dibuang.

Jika anda membaca utuh berita itu, anda akan mendapati bahwa semua paragrafnya harus dibuang. Artinya, berita itu tidak perlu ditulis. Narasumber hanya menyampaikan petuah umum, wartawannya tidak tahu apa yang harus ditanyakan.

Saya menemukan berita itu karena ingin melihat bagaimana cara media kita menulis tentang industri 4.0 dan bagaimana media barat menulis tentang topik itu—apa yang kita bicarakan dan apa yang mereka bicarakan. Kesimpulan saya, media kita tidak tahu apa-apa tentang industri 4.0. Kita hanya ikut bicara: ikut berbunyi tetapi tidak menyampaikan apa pun, seperti bunyi-bunyian yang keluar dari mulut orang latah.

Contoh lain tentang tulisan buruk adalah penggalan di bawah ini:

Kejujuran merupakan basis atau orientasi nilai tindakan yang hasil atau dampaknya memiliki makna secara personal dan kolektif. Namun, ketika kejujuran sudah jadi mitos, publik hanya bisa mengenalinya sebagai kepercayaan yang ada, tetapi sulit dibuktikan. Kejujuran, kebaikan, dan kebenaran, di dalam masyarakat yang tidak tulus dan culas, telah diolah jadi ekstrak dan bibit parfum, lalu dicampur dengan cairan-cairan kearifan. Selanjutnya dikemas dalam botol-botol parfum hipokrisi yang disemprotkan pada setiap kebusukan. Para pemakai parfum hipokrisi merasa dirinya bersih berkat bau harum yang menguar dari dirinya. Untuk sementara waktu, bau harum itu mampu memperdaya masyarakat untuk menaruh kepercayaan sehingga mereka tetap bisa bertahan pada posisi sosial-politiknya.

Kalimat pertamanya alot sekali dan saya yakin anda tidak sanggup mencernanya. Saya juga tidak akan memaksakan diri untuk mencerna sesuatu yang tidak bisa dikunyah.

Kenapa ia tidak menuliskannya simpel saja? Ketimbang dijadikan gelembung sabun, paragraf itu jauh lebih indah ditulis dalam satu kalimat: Stok orang jujur di negara ini sudah habis; yang berlimpah hanya orang-orang yang bermanis muka di depan kita dan merampok di belakang punggung kita.

Satu gelembung sabun lagi:

Meskipun konfigurasi politik mengalami pembentukan ulang usai Pemilu 2014, dampak polarisasi politik terus terbawa hingga menjelang Pemilu 2019 ini. Apalagi dengan dijalankannya politik kebencian berbasis identitas, perkubuan di kalangan elite merembes hingga mengarah pada suatu tribalisme politik dengan pertentangan tajam secara horizontal di kalangan massa. Ketika politik kebencian tidak mendapatkan antusiasme pemilih dalam Pilkada Serentak 2018, politik nasional bukan lantas beringsut meningkat kualitasnya.

Kita bisa membuatnya lebih ringkas dan lebih elegan dalam satu kalimat: Peta dukungan berubah seusai pemilu 2014, namun suasana kebencian, yang dibangun melalui perkubuan dan doktrin agama, tetap terasa hingga sekarang dan para politisi masih memanfaatkannya untuk kepentingan mereka.

Orang sering ingin tampak pintar dengan cara menuliskan kalimat-kalimat yang ruwet, memamerkan kosakata yang menggembung, dan mengobral jargon. Dan mereka tidak akan tampak pintar dengan cara seperti itu. Mereka hanya tampak pretensius.

Saya pikir mereka perlu menyadari bahwa pembaca tidak akan sudi meluangkan waktu atau mendedikasikan diri untuk memahami kalimat-kalimat ruwet. Tetapi, tidak apa-apa juga jika mereka tidak mau menyadari. Dua penggalan terakhir itu adalah urusan pribadi para penulis artikel. Tidak ada yang bisa menghentikan kesukaan orang bermain gelembung sabun.

Yang lebih buruk dari kesukaan tiap-tiap individu adalah cara wartawan kita menulis berita.

Pers kita mengalami perubahan besar sejak reformasi 20 tahun lalu. Ada kebebasan, ada kemudahan dalam mendirikan perusahaan pers, dan ada medium baru yang, secara teoritis, memungkinkan orang-orang dengan modal kecil menerbitkan media massa. Semua aspek yang menjadi impian para jurnalis sudah kita dapatkan saat ini.

Dengan itu semua, jurnalisme kita menghasilkan para wartawan yang menulis berita dalam gaya yang buruk. Kalimat ini tidak tepat, sebab keburukan tidak bisa disebut gaya. Ia hanya hasil dari ketidakcakapan.

Dan ketidakcakapan itu sekarang sudah menjadi standar. Setiap saat kita bisa menjumpai berita yang ditulis dengan model seperti ini:

Di lokasi kejadian, seorang saksi mata menceritakan kepada para wartawan yang mewawancarainya. Menurutnya, pelaku penjambretan itu seorang pengendara motor berjaket hitam.

“Pelakunya pengendara motor berjaket hitam,” ujarnya.

Mestinya para redaktur paham bahwa kutipan langsung dalam sebuah berita adalah alat untuk menyampaikan informasi, bukan alat untuk menjadikan narasumber terlihat seperti beo yang senang mengulangi informasi yang sudah disampaikan sebelumnya.

Berita yang ditulis buruk bukan hanya menjengkelkan untuk dibaca, ia juga tidak membantu pembaca untuk lebih memahami realitas. Ditambah dengan kegemaran menguber sensasi, tingkat keburukan itu akan makin bertambah: Media massa kita, sadar atau tidak, cenderung menjadikan dirinya corong bagi perangai kasar, percekcokan, dan melodrama.

Untuk semua gejala menakjubkan seperti itu, para akademisi di jurusan ilmu komunikasi kelihatannya tidak tergerak menyumbangkan pemikiran yang berarti tentang jurnalisme kita. Ada kekeliruan, dan tidak ada yang peduli. Artinya, kita masih akan lama disiksa oleh berita-berita yang ditulis buruk.

A.S. Laksana, jurnalis dan wartawan
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR