Kenikmatan dan kekerasan

Ilustrasi: Galidator
Ilustrasi: Galidator | KUCO /Shutterstock

Teringat akan masa kecil, televisi adalah baby-sitter yang cukup telaten mengasuh dan memberi pengaruh pola pikir anak-anak. Mulai dari Power Ranger yang menumpas kejahatan, beradu digimon piaraan, hingga sinetron ketika remote control televisi berada di tangan ibu selepas magrib.

Semua tampak biasa saja pada awalnya. Hingga kalian dewasa dan mulai resah dengan dengan isi berita, lingkungan yang penuh dengan perkara rasial, ketimpangan gender, bahkan kelas ekonomi.

Kesadaran akan kemanusiaan kalian mulai dikuliti sedikit demi sedikit, semakin perih ketika melihat konflik berujung perih yang menimbulkan simpati, bahkan bisa saja menggerakkan kaki kalian untuk berjalan menuju konflik dan ikut campur atas segala yang terjadi.

Televisi menyuguhkan hiburan tentang bagaimana rasa sakit adalah kenikmatan. Melihat bagaimana para Ranger menaklukkan monster —antagonis yang memporakporandakan kota— dengan pukulan bahkan tembakan laser, mengadu digimon yang telah dipiara saat bertemu dengan sesama untuk membuktikan siapa yang juara.

Lebih parah, citra keluarga dan kehidupan fiktif dalam sinetron yang membuat kita mengenal perselingkuhan, ketimpangan, dan kekerasan dalam rumah tangga —berupa tamparan, makian, dan sebagainya. Itulah rasa sakit yang merupa menjadi kenikmatan, membuat kita candu untuk terus bersetia di depan televisi.

Kadang kita lelah dengan konflik-konflik domestik kekeluargaan. Di stasiun televisi lain, kita disuguhi komedi. Lantas tawa kita merekah, terbahak sampai perut kita kencang, hingga kadang tanpa sadar sudut sempit mata kita berair.

Kita sadar bahwa apa yang kita tertawakan adalah saat para lakon dalam komedi saling pukul dengan seperangkat alat peraga dari styrofoam. Apa yang kita tertawakan bukan mengejawantahkan bahwa batas antara tragedi dan komedi hanyalah garis tipis yang tak tentu, tapi merupakan salah satu hal yang membuat kita mafhum terhadap kekerasan.

Ketiadaan dan ketimpangan literasi

Tentu kita mati kutu apabila sudah dihadapkan dengan realitas berupa rendahnya minat baca. Rendahnya minat baca ini menggiring masyarakat kita untuk memiliki rasa percaya pada media.

Apa yang disuguhkan media, semacam wahyu yang turun dan diamini oleh masyarakat sebagai sebuah fakta. Padahal, sudah bukan sebuah rahasia apabila media massa—termasuk televisi—yang menghamba pada modal, pada akhirnya akan meniadakan moral.

Teringat akan sebuah pernyataan begawan sastra kita, Pramoedya Ananta Toer, dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu-pengetahuan modern binatang-binatang yang sebuas-buasnya juga bisa ditundukkan.”

Realitas yang harus kita hadapi sekarang adalah adanya penguasaan atas pengetahuan sehingga masyarakat dengan daya baca rendah seperti kita mampu dengan mudah disetir oleh media massa. Banyak hal yang tak mereka sampaikan, bahkan sengaja mereka tutupi.

Mari kita ingat kembali.

Sejak era pemerintahan Sukarno, pelarangan dan razia buku sudah gencar dilakukan, dan hal tersebut masih berlangsung hingga hari ini. Jika kita menilik ulang mengenai razia buku ini, bahwasanya sudah sejak awal bahwa demokrasi kita tidaklah cukup kuat untuk memberikan counter terhadap hal-hal yang dianggap berseberangan selain dengan merazia. Bahwa suara kita sebagai masyarakat, memanglah tidak benar-benar signifikan dalam demokrasi yang sedang berlangsung.

Kekerasan menjelma kenikmatan

Keterbiasaan kita akan kekerasan adalah hal paling menyedihkan dalam bernegara. Seperti kata Amartya Sen dalam Kekerasan dan Identitas, “yang melandasi brutalitas maha kejam ini adalah kerancuan konseptual mendasar tentang identitas manusia, yang mengubah manusia multidimensi menjadi makhluk satu dimensi.”

Tentu kita paham, di tahun-tahun politik yang kian dekat, masyarakat akan dipetakan dalam kutub-kutub yang siap dengan pembenaran-pembenaran atas junjungannya. Kebenaran hanyalah sebatas kata-kata, dijual murah dan diobral, sedangkan makin lama kebenaran akan tertutup dengan euforia dan kita akan disibukkan kembali dengan kekecewaan baru.

Kekerasan telah mengakar dalam benak kita sebagai masyarakat. Mulai dari tontonan televisi, hingga lingkungan sekitar kita, adalah prototype yang mana menjadikan kekerasan sebagai suatu kewajaran untuk dilakukan.

Kekerasan, baik secara fisik ataupun budaya adalah apa yang sulit kita nistakan. Hampir setiap media massa merekam kekerasan, tanpa ada cara lain menyelesaikan kekerasan tanpa kekerasan.

Tanpa sadar kekerasan telah direproduksi oleh media, yang kemudian membuat kita juga menjadi agen pendistribusi kekerasan. Begitulah cara kekerasan kita awetkan tanpa sengaja, tanpa adanya pertanggungjawaban pemerintah akan kekerasan, sebagai bapak atas masyarakat, negara telah mengajarkan kekerasan kepada kita, dan itulah yang dibuat oleh Soeharto bersama Orde Barunya hingga hari ini.

Selama para pelaku-pelaku kekerasan di masa lalu masih ada dalam kabinet kenegaraan, dan selama mental-mental Orde Baru masih terawat, kita tak akan lepas dari kekerasan.

Kita sedang berkutat dengan permasalahan yang tak kunjung selesai, kekerasan. Homo Sapiens memanglah pembinasa semesta, dan saya sepakat dengan Robert Oppenheimer.

Aristayanu Bagus K, editor penerbit Jalan Baru, mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR