Kiri, kanan, buku

© Khomenko Maryna /Shutterstock

Kalau memang Fariz, Lintang, dan Edo harus diskors dari kampus, universitas mereka di Bandung punya tugas berat buat merumuskan alasan yang tepat. Katakan, misalnya, bahwa mereka jarang mandi atau malas gosok gigi.

Sayang sekali, alasannya dikaitkan dengan kegiatan mereka memperkenalkan buku-buku perihal Marxisme atau semacamnya. Bahkan, menurut sejumlah media, kebijakan itu dibarengi dengan penyitaan bahan bacaan.

Dalam kesan saya, alasan demikian bertolak belakang dengan misi lembaga pendidikan. Buku adalah jantung universitas. Mahasiswa pegandrung buku mestinya mendapat piagam.

Urusan "kiri" atau "kanan" bisa diserahkan kepada polisi lalu-lintas atau sopir angkot. Belok kanan, jalan terus. Belok kiri, lihat rambu. Kalau mau berhenti, beri tahu sopir dengan mengucapkan, "Kiri!" Begitulah adab berlalu-lintas di kota saya.

Adapun Pak Jenggot Karl Marx memang berumur panjang. Kata-katanya sering layak dicetak ulang. Coba simak petikan dari manifestonya yang beken: "All that is solid melts into the air, all that is holy is profaned, and man is at last compelled to face with sober senses, his real conditions of life and his relations with his kind". Kayak puisi, kan?

Sebagai dosen, saya sendiri tentu mesti menghadapi "kondisi hidup yang nyata". Salah satu gambarannya, ini dia: susah betul saya mendorong mahasiswa agar mau membaca buku dan melemparkan gadget. Frustrasi adalah gejala tiap semester.

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, yang memang banyak manfaatnya bagi manusia, kita mengalami gejala yang oleh Linda Stone disebut "CPA" (continuous partial attention). Perhatian kita terpecah-pecah, senantiasa sambil lalu, setiap waktu.

Surat elektronik, pesan singkat, komentar dan cuitan dalam jejaring sosial, juga pertukaran obrolan dalam sekian grup, menuntut perhatian kita pada saat yang bersamaan. Kita seakan tak sanggup lagi memusatkan perhatian kepada satu urusan secara tenang dan anteng. Tahu-tahu, kita menghabiskan banyak waktu untuk banyak hal yang sesungguhnya tidak begitu perlu.

Apa yang kita sebut "membaca" hari ini seringkali hanya berarti menelusuri teks-teks singkat sambil lalu, sekadar buat mencari tahu. Skimming melulu. Kita tidak lagi membaca dalam arti menyelami teks hingga ke dasarnya, buat menggali gagasan atau menghayati pengalaman.

Ketimbang mau menyelam, kita malah sering tenggelam, hanyut terseret jejaring yang terhubung dengan jejaring. Itulah belantara jejaring yang kita sebut "internet". Kita meloncat-loncat, kian terobsesi oleh kecepatan, dan sering terburu-buru mengambil kesimpulan.

David Mikics menulis buku, Slow Reading in a Hurried Age (2013), dan mengingatkan kita untuk meluangkan waktu, memusatkan perhatian, dalam kegiatan membaca buku. Itulah kegiatan yang perlahan-lahan, terus-menerus, menuntut kesabaran. "Kita membutuhkan kontinuitas, ketetapan hati buat bekerja dengan objek yang sama, dari saat ke saat, dari halaman ke halaman," tulisnya.

Di Bandung saya sering mendapatkan penawar frustrasi dari rekan-rekan muda, di antaranya para mahasiswa, pegiat Klub Membaca Asia-Afrika. Mereka bertemu tiap minggu di museum bekas tempat Konferensi Bandung tahun 1955. Kegiatannya dinamakan "tadarusan". Itulah kegiatan membacakan bab demi bab buku secara bergiliran sebelum didiskusikan. Dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, tamatlah terbaca buku demi buku.

Di lingkaran klub itu, tempat saya sering diminta jadi semacam tukang ulas, kegiatan membaca memang bersifat komunal. Seakan-akan kegiatan teman-teman itu meneruskan tradisi membaca wawacan yang dulu hidup di Jawa Barat. Namun, saya yakin, tiap-tiap peserta kegiatan itu, tak terkecuali diri saya sendiri, berupaya memelihara kesanggupan membaca buku di tempat masing-masing, sendirian. Komunitas turut memperkuat dorongan untuk membaca.

Hari ini, di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital, sering saya terpukau oleh format buku elektronik. Simulasinya mendekati karakteristik buku cetakan. Bahkan formatnya yang dilengkapi dengan bunyi kertas halaman buku yang dibalikkan dengan ujung jari tangan. Buat saya, hal itu turut menunjukkan bahwa pengalaman membaca buku, barang cetakan itu, sesungguhnya tak tergantikan.

Apa yang kini dialami oleh Fariz, Lintang, dan Edo pastilah tidak akan menyurutkan semangat mereka untuk terus mengakrabi buku. Lagi pula, tidak perlu ada polisi lalu-lintas di perpustakaan. Baca buku mah jalan terus, Bung.

Hawe Setiawan, budayawan, kolumnis bebas, mengajar di Universitas Pasundan, Bandung
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.