Kisah Tiga Dara dan ironi dua zaman

Salah satu adegan dalam film Tiga Dara (1956)
Salah satu adegan dalam film Tiga Dara (1956) | SA Films

Beberapa tahun ini kegiatan rutin saya saat tujuh belasan adalah makan siang dengan sekelompok teman. Tahun ini kami sekaligus menonton Tiga Dara, film tahun 1956 dari sutradara legendaris Usmar Ismail yang baru direstorasi. Di dalam bioskop dalam balutan kebaya, kami terhenyak melihat betapa bedanya wajah pergaulan sosial Indonesia saat itu dibanding sekarang.

Dibesut 60 tahun lalu, tiga bersaudari tokoh utama dikisahkan mencari cinta dengan riang dan nyaris tanpa beban, walau si sulung sudah menginjak usia keduapuluh sembilan. Beban hanya dihadirkan dalam sosok nenek yang selalu meributkan kelajangan dan memperburuk situasi dengan menjodoh-jodohkan. Ketiga saudari menjalani hidup dengan ritme yang mereka pilih sendiri, sambil menertawai generasi sang nenek yang harus menikah pada usia 17 tahunan.

Pergaulan ketiga saudari penuh sukacita dan warna, terlihat dari selalu adanya musik dan dansa muda-mudi mulai dari pesta rumahan bernuansa Barat, pesta musik Melayu, sampai tamasya di alam terbuka. Busananya pun mengikuti; jas atau kemeja bertemu gaun full-skirt '50an, teluk belanga dan baju kurung berkerudung sampir, atau pakaian renang.

Semua ditampilkan wajar dan sejajar, tanpa perlu dipertentangkan. Si sulung suka berkebaya sementara para adik bergaun atau bercelana selutut, dan pria berpeci berbaur menari dalam piknik dengan yang berpakaian renang.

"Tidak ada FPI!", cetusan kami seketika. Sekilas terdengar menggeneralisasi, namun sebenarnya memendam nyaris keputusasaan terhadap konservatisme yang kami rasa membanjiri Indonesia 5-10 tahun ini. Demokrasi dalam berekspresi dan mencari informasi, yang harusnya kian mencerahkan, lucunya mendorong banyak orang untuk hanya mencari saudara seiman dan memberlakukan standar moral mereka pada publik tanpa perduli keberagaman.

Ada yang terang-terangan dengan kekerasan, sindiran pasif-agresif, atau sanksi sosial. Dalam budaya Indonesia yang permisif pada peer pressure, terciptalah tekanan luarbiasa pada rakyat yang memilih tetap hidup sekuler sesuai dengan konstitusi Negara.

Ironis, bahwa Indonesia yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika makin tak sigap membela kesekuleran hukum dan pilihan gaya hidup warganegaranya. Misal soal busana, yang perkara privat. Bila Orde Baru secara tidak adil melarang jilbab di sekolah secara nasional, maka pasca-1998 berbagai perda yang sama tidak adilnya mengharuskan pemakaian jilbab.

Tekanan sosial zaman Orba diwakili isu pemakai jilbab sebagai pengutil supermarket; tekanan sosial sekarang dimulai dari pemilihan kelompok belajar kampus sampai pemaksaan pada anak perempuan yang belum menstruasi--hal terakhir bahkan tak saya temui di Arab Saudi setiap umrah.

Daftar kecenderungan konservatisme kian memanjang dan melebar bila Anda amati dengan jernih kasus pemberlakuan jam malam, pemberangusan diskusi buku, penolakan rumah ibadah minoritas, pertengkaran keluarga atas praktek tahlilan dan ziarah kubur yang mengakar pada adat, dan legitimasi kawin dini di bawah usia dewasa. Sebagian dilakukan oleh warga negara dan negara mendiamkan bahkan saat mencederai hak azasi sesama warga, sebagian lagi dilakukan negara melalui hukum.

Buku Ariel Heryanto tahun 2015, Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia, gamblang menjelaskan bagaimana keinginan sederhana mencari identitas Muslim modern pasca Reformasi, yang mendorong kesuksesan besar film Ayat-Ayat Cinta (2008), dimanfaatkan oleh garis keras agamis dan partai politik yang ingin mendulang suara untuk, salah satunya, menciptakan perda diskriminatif dan kekerasan di lapangan.

Pada 2012, film Soegija dihujat sebagai usaha Kristenisasi dan diskusi buku Irshad Manji dibubarkan, pada 2013 Pemda Lhokseumawe melarang wanita mengendarai motor mengangkang (abai pada keselamatan dan amnesia pada kegagahan Cut Nyak Dhien memacu kuda menghadap depan).

Pada 2016 ini sampailah kita pada larangan berjualan makanan saat Ramadan dan penghancuran vihara karena ada seorang warga yang protes atas pengeras suara masjid (hal yang sesungguhnya sudah diatur dalam Instruksi Dirjen Bimas 101/1978, namun jarang dipatuhi masjid dan lebih jarang lagi ditindak pelanggarannya).

Ironis, bahwa 18 tahun setelah Reformasi banyak yang makin menolak bersikap inklusif dan tergoda menunggangi demokrasi demi tirani mayoritas. Ironis menjelang tragis, bahwa 60 tahun setelah Tiga Dara bersaudari meledek neneknya karena harus menikah pada usia 17 tahun, cucu generasi Tiga Dara justru disodori wacana glamor pernikahan usia 17 tahun karena konon kalah berdebat soal agama.

Di kertas kerjanya yang bertajuk Ghazwul Fikri or Arabisation: Indonesian Muslim Responses to Globalisation, antropolog Martin van Bruinessen menyoroti mulainya pertempuran di akhir '90an antara sebagian Muslim yang khawatir atas serbuan "budaya Barat" via globalisasi melawan sebagian Muslim lainnya yang cemas bahwa kekhawatiran tersebut berwujud pada penghapusan unsur lokal praktek keagamaan demi sesuatu yang lebih merupakan adat-istiadat Arab.

Saya bukan antropolog. Saya hanya mencoba membaca untuk memengerti fenomena yang amat membingungkan dan membuat saya merasa tak mengenali Indonesia. Masih ada beberapa penelitian lain, namun yang saya sebut di atas cukup membantu menenangkan bahwa saya tidak sekadar berhalusinasi, baperan, atau terinduksi ke Twilight Zone tanpa disadari. Indonesia memang makin konservatif dari berbagai sisi.

Nah, di tengah derasnya arus ini, Kisah Tiga Dara yang dirilis minggu ini jadi terasa makin menggelitik. Terinspirasi Tiga Dara, plot utamanya tidak banyak berubah. Perubahan zaman tercerminkan pada usia 32 tahun si sulung yang masih melajang, adanya profesi atau kegiatan bekerja, plus status si sulung dan si tengah sebagai mitra usaha sejajar ayah mereka.

Keriangan berkencannya sesuai kenyataan zaman ini, termasuk yang dilakukan si bungsu, dan kemerdekaan tersirat pada sikap atas tata cara pelamaran nikah. Busana? Pemilihan eklektik--praktis sesuai alam, sexy dalam rentetan wrapdress Diane von Furstenberg, dan etnis dalam balutan tenun NTT dan Baduy.

Sebagaimana Tiga Dara dulu meledak di box office karena sejalan dengan norma yang ada, konon sampai memicu kontes mirip di berbagai daerah dan membuat Usmar Ismail (alm) merasa filmnya terlalu komersial. Seharusnya Kisah Tiga Dara juga terasa sebagai hiburan normal karena dunia yang digambarkannya nyata ada.

Namun, karena dunia sekuler ini makin dinafikan sekarang, Kisah Tiga Dara jadi terasa sebagai etalase perlawanan yang segar, terlepas apakah diniatkan demikian.

Dan betapa ironisnya itu, bahwa 71 tahun setelah kemerdekaan sebagai negara sekuler, nilai-nilai sekulerisme dalam KUHP malah diancam oleh sekelompok komunitas di Mahkamah Konstitusi-- di mana hakim Patrialis Akbar justru terkesan rancu dalam memahami beda perzinahan, pedofilia, perkosaan, dan kekerasan--sampai hawa kemerdekaan egaliter harus dihirup tanpa sanksi melalui tayangan sinematik.

Kritik saya terhadap Kisah Tiga Dara adalah beberapa dialog gombal yang dipaksakan, dan bahwa si bungsu sebaiknya berusia minimal 20-an demi menghindar sebuah isu tersendiri. Mengapa? No spoilers. Di akhir film Anda mungkin akan bisa memahami.

Kisah dua zaman. Zaman yang belum tentu selalu maju ke depan, 71 tahun setelah merdeka.

Penyangkalan: Tulisan ini adalah tulisan kedua dari tema menguatnya konservatisme; tulisan pertama dipublikasikan dalam kolom UrbanChat di The Jakarta Post (20 Agustus 2016). Penulis tidak disewa untuk mempromosikan film atau buku yang tersebut sebagai referensi, walau tim Kisah Tiga Dara mengundang penulis ke pemutaran perdana film setelah membaca tulisan pertama.
Lynda Ibrahim adalah mantan brand manager yang beralih menjadi konsultan bisnis dan penulis.

BACA JUGA