Kontekstualisasi Konferensi Asia Afrika

Seorang penari menarikan tarian Thailand saat upacara peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019). Upacara yang diadakan Sekolah Rakjat Inggit Garnasih dengan tema "Unity in Diversity" tersebut dalam rangka memperingati hari Solidaritas Asia-Afrika ke-64.
Seorang penari menarikan tarian Thailand saat upacara peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019). Upacara yang diadakan Sekolah Rakjat Inggit Garnasih dengan tema "Unity in Diversity" tersebut dalam rangka memperingati hari Solidaritas Asia-Afrika ke-64. | Raisan Al Farisi /ANTARA FOTO

Sebelum 18 April-24 April 1955, dunia masih di selimuti perang dingin. Perang yang menjadikan dunia dalam dua blok besar, Blok Sekutu dan Soviet, membuat negara-negara yang baru memerdekakan diri, terutama negara-negara di Asia dan Afrika di bawah bayang-bayang dua blok besar.

Situasi yang demikian jelas tidak menguntungkan bagi negara-negara Asia dan Afrika. Sesuai diktum realisme dalam hubungan internasional, bahwa dalam kondisi tatanan dunia yang bersifat anarkis, setiap negara akan mempertahankan diri sendiri dan menggunakan kekuatanya untuk mengekspansi negara lain.

Rumki Basu dalam International Politics: Concepts, Theories and Issues mengutip pendapat Kautilya mengatakan bahwa rulers to use power to advance their interests, for self protection and to consolidate a benevolent despotic regime.

Perdana Menteri, Ali Sastroamidjojo sadar dengan situasi geopolitik yang tak menguntungkan itu, mengusulkan adanya kerjasama negara-negara Asia dan Afrika untuk melawan kolonialisme dan memprakarsai sikap netral dalam parang dingin.

Inisiatif Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo disambut baik kepala negara negara-negara Asia dan Afrika, dan lahirlah Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dihadiri 29 negara-negara Asia dan Afrika.

Meskipun tidak semua anggota KAA memilih sikap netral dalam perang dingin, akan tetapi KAA menjadi ajang yang mempersatukan negara yang merasa “senasib dan sepenanggungan” atas kolonialisme.

KAA juga mengilhami gerakan Non Blok yang digalang oleh Sukarno (Indonesia), Gamal Abdul Nasser (Mesir), Jawaharlal Nehru (India), Josip Broz Tito (Yugoslavia) dan Kwame Nkrumah (Ghana) yang sebagai sebuah sikap politik internasional yang sangat strategis sebagai penyeimbang dua kekuatan besar (balance of power).

Lalu apa yang urgen dari peringatan KAA dewasa ini? Meski kolonialisme yang memiskinkan negara-negara Asia dan Afrika sudah berakhir akan tetapi kemiskinan masih menjadi masalah besar yang menghantui negara-negara Asia dan Afrika.

Ketegangan geopolitik yang terjadi di Suriah dengan melibatkan Sekutu dan Rusia, misal, masih memberikan sinyal bahwa perdamaian dunia masih menjadi mimpi KAA yang belum benar-benar terjadi. Bahkan ancaman perdamaian dunia semakin kompleks setelah menguatnya terorisme dalam hubungan internasional.

Dalam perspektif ekonomi politik internasional, memperkuat posisi Asia Afrika saat ini menemukan momentumnya ketika di satu sisi Barat mulai menunjukkan pelemahan dominasi global dan di sisi lain kebangkitan Asia dan Afrika yang terus menguat sejak satu dekade belakangan ini.

Asia dan Afrika mencatatkan diri sebagai regional yang paling besar pertumbuhan ekonomi secara global. Regional Asia mampu tumbuh 6,5 persen sedangkan Afrika tumbuh 3,5 persen pada 2017. Kondisi ini akan terus membaik apabila mengacu pada proyeksi Bank Dunia yang memproyeksikan Afrika mampu tumbuh sebesar 4,3 persen dan Asia sebesar 6 persen pada 2020.

Kinerja ekonomi yang memukau kedua regional merupakan momentum untuk menghidupkan semangat KAA dalam bingkai kerjasama regional. Pembentukan framework kerjasama regional economic partnership antara Asia dan Afrika akan memberikan spil overyang besar ekonomi kedua regional. Terutama bagi Indonesia yang neraca perdagangannya dengan Arfika hanya membukukan USD 7,6 miliar pada 2017.

Dengan kinerja ekonomi Afrika yang terus positif, Afrika merupakan negara yang berpotensi menjadi pasar alternatif bagi Indonesia, terutama untuk mendorong produk-produk manufaktur Indonesia ke Afrika.

Dengan demikian Indonesia dapat mendiversifikasi produk ekspor selain barang komoditas, serta mampu mendorong industrialisasi dalam negeri kuat dan terhindar dari “premature deindustrialization

Tidak hanya sebatas pada sektor ekonomi, sektor politik dan keamanan juga sangat strategis bagi kedua regional dan global. Kerjasama kedua regional akan menjadi balancerbagi dominasi Barat.

Selain itu kekuatan Asia dan Afrika akan juga sangat strategis untuk meminimalkan apa yang ditakutkan oleh Graham Allison sebagai Thucydides Trap; yaitu kondisi “when one great power threatens to displace another, war is almost always the result” antara China dan AS.

Paling realistis dalam kontekstualisasi KAA hari ini adalah memperdalam dan memperluas kerjasama dalam framework The New Asian-African Strategic Partnership (NAASP) yang digagas pada 2005, yang melingkupi kerjasama pemberantasan kejahatan internasional, terorisme, ketahanan pangan dan energi, pariwisata, pendidikan, pemberdayaan perempuan.

Asia Afrika di tahun 1955 mampu menjadi penyeimbang bagi kekuatan dua blok besar. Kerjasama Asia Afrika hari ini seharusnya memainkan peran yang serupa dan Indonesia harus mengambil peran aktif sebagai lokomotif kerjasama negara-negara Asia Afrika sebagaimana yang dilakukan oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo ketika menginisiasi terbentuknya KAA.

Indonesia memiliki tanggung jawab sejarah untuk kembali memainkan diri sebagai aktor yang terdepan dan penting dalam arena internasional.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR