Latar belakang: Kebencian

Ilustrasi: Ujaran kebencian
Ilustrasi: Ujaran kebencian
© momojung /Shutterstock

Pada 2016, Ibu Negara Finlandia Jenni Haukio pernah muncul sebagai bintang iklan online krim anti-kerut dari Rusia. Foto dirinya dan kesaksiannya mengenai mukjizat krim tersebut ditampilkan di laman iklan. "Krim ini mengembalikan kulit wajah saya ke warna alaminya hanya dalam dua pekan," katanya.

Itu iklan bohong dengan kesaksian palsu oleh perempuan yang mungkin tak pernah ada. Saya membacanya pada sebuah artikel bertanggal 3 Maret 2016 di situsweb finlandtoday.fi. Di dalam iklan bohong itu, Jenni Haukio mendapatkan identitas baru: Ia adalah Liza, 34 tahun, perempuan cantik dari Samara yang ingin menjadikan dirinya lebih cantik lagi. Ia memilih krim ini karena saran dari temannya seorang ahli kosmetik.

Saya mencoba melacak kelanjutan berita itu dan mencari tahu reaksi-reaksi terhadap pencatutan foto ibu negara oleh situs penjual kosmetik Rusia. Tidak ada berita lain kecuali tulisan tersebut, tidak ada komentar pembaca atas tindakan si pencatut. Semuanya biasa-biasa saja. Dan tanggapan resmi dari kantor kepresidenan juga biasa-biasa saja: Itu bukan ucapan Ibu Negara; kita akan melihat apakah memang perlu membuat tanggapan.

Mungkin sebaiknya memang seperti itu cara menghadapi hoax. Kalem dan seperlunya saja, tidak perlu membuat reaksi berlebihan. Sebagai hoax, iklan itu memang tidak ada apa-apanya, dan sama sekali tidak membahayakan kehidupan bersama, dibandingkan dengan berita-berita palsu yang berseliweran di tengah kita.

Apa tindakan terbaik untuk menghadapi hoax selain bersikap kalem saja?

Pemerintah tidak perlu repot-repot mengatur bagaimana seharusnya warga negara bijak bermedia sosial, bagaimana cara mengendalikan diri dari ujaran-ujaran kebencian, atau bagaimana cara menangkal munculnya berita-berita palsu dan ujaran kebencian. Jangan sampai pula pemerintah menasihati warga negara agar bermedia sosial dengan memperhatikan nilai-nilai Pancasila. Saya tidak yakin ada orang bermedia sosial dengan tujuan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Cukup bagi kita untuk mengakui, secara ikhlas, bahwa tidak semua orang bisa diminta menjadi bijak, sebagaimana tidak semua orang bisa diajak menggunakan pikiran secara beres atau diharapkan memiliki kemampuan mengendalikan emosi. Menggunakan pikiran dan mengelola emosi adalah aktivitas yang rumit, lebih-lebih di masa pemilu presiden 2014 lalu, ketika orang-orang digiring untuk menyamakan pemilihan kepala administrasi pemerintahan dengan pemimpin agama. Ini masa yang sangat gaduh dan mengerikan, dan sekaligus masa kejayaan para tukang pelintir.

Lalu pemilu berakhir, pemenang ditetapkan, dan rasa sakit seusai pengumuman bertahan cukup lama, mungkin sampai hari ini, dan akan selalu mencari cara pelepasannya. Saya pikir hoax dan ujaran kebencian yang berkembang sesudah pemilu 2014 adalah mekanisme psikologis untuk mengatasi rasa sakit itu.

Tanpa latar belakang rasa sakit seusai pemilu, sebenarnya hoax adalah gejala alami saja pada masyarakat manusia. Gosip dan cerita adalah hal-hal yang membuat pikiran nyaman dibandingkan, misalnya, teori fisika atau atau persamaan matematika. Dua orang ilmuwan matematika tidak akan membicarakan rumus-rumus saat mereka ketemu di taman atau di kafe; mereka akan lebih suka membicarakan rekan sejawat mereka yang lain--kurang lebih seperti dua simpanse berbagi cerita tentang buaya yang mengapung di muara.

Selalu begitu dari dulu.

Dulu manusia mengembangkan hoax bahwa puncak Gunung Olimpus adalah tempat bersemayamnya makhluk-makhluk yang tak bisa mati. Orang-orang Jawa juga diberi tahu bahwa di dasar lautan sana ada seorang ratu yang berkuasa dan bisa mengamuk jika kita berlaku sembrono melanggar pantangan-pantangannya. Sampai sekarang banyak yang masih mempercayai kabar yang tak bisa dibuktikan kebenaran atau kesalahannya mengenai ibu ratu itu. Belakangan, malah ada kabar bahwa ibu ratu sudah menunaikan ibadah haji dan sekarang mengenakan jilbab.

Saya tahu kabar tentang ibu ratu sudah naik haji dan mengenakan jilbab ini dari media sosial--dari akun seseorang yang membagikan tautan berita tersebut. Saya kagum sekali pada media sosial. Ia, menurut saya, adalah penemuan terbaik yang telah membantu banyak orang untuk mengatasi masalah-masalah komunikasi antarmanusia.

Orang yang gugup saat bercakap-cakap langsung dengan orang lain bisa dengan mudah mengatasi kegugupannya. Orang yang pendiam bisa tampak fasih menyuarakan isi kepala. Kawan saya, yang sehari-hari terlihat setenang petani kedelai, di media sosial ternyata adalah sosok pejuang agama yang sangat gigih.

Pendek kata, media sosial membuat kita lancar mengungkapkan diri. Kita bisa menyampaikan pemikiran dan perasaan, serta mengabarkan kepada teman-teman ke mana kita pergi minggu ini atau makan apa kita dua hari lalu. Kita bisa mengutip kata-kata mutiara sehari tiga kali dan membagikannya kepada teman-teman kita. Kita bisa menyapa, "Semangat pageeeh semuanya!" setiap kali bangun tidur. Berkat media sosial kita bisa mengkomunikasikan apa saja dengan enak sekali.

Dan karena mengkomunikasikan apa-apa menjadi sangat mudah, ia juga memperlancar aliran dakwah. Kaum muslim bisa menggunakan media sosial untuk menjalankan perintah agama--untuk berdakwah setiap hari "meskipun hanya satu ayat". Setiap hari anda berdakwah di grup-grup pertemanan, mengingatkan orang-orang akan bahaya komunisme, zionisme, liberalisme, atau memukul kentongan bahwa kiamat sudah dekat: Bertobatlah!

Semua aktivitas komunikasi itu tidak mudah kita sampaikan dalam komunikasi tatap muka. Anda mungkin pernah mengalami sendiri betapa kusutnya kepala saat ingin menyampaikan pendapat kepada tetangga kiri kanan atau teman sejawat -apalagi atasan. Anda harus memikirkan cara yang tidak membuat orang lain mengamuk, harus mengatur tutur kata, harus mengelola gestur, dan sebagainya.

Media sosial membuat hal-hal sulit menjadi mudah karena kita tidak berhadapan dengan manusia. Kita hanya berhadapan dengan gadget.

Jadi, kenapa pemerintah sibuk memikirkan cara untuk mengatur-atur bagaimana sebaiknya warga menggunakan media sosial? Kenapa pemerintah ingin mengganggu kenyamanan warga negara?

Saran saya tetap. Pemerintah bersikap kalem dan seperlunya saja, tidak perlu membuat reaksi berlebihan. Jika hoax dan ujaran kebencian dianggap sama berbahayanya dengan narkoba, tangani saja siapa pun yang terlibat di dalam bisnis hoax dan ujaran kebencian ini secara hukum, persis seperti menangani pelaku transaksi narkoba.

Di luar soal hukum, saya tetap berpikir bahwa hoax dan ujaran kebencian hanyalah simptom, hanya gejala permukaan dari penyakit yang harus dicari tahu akar masalahnya. Semula saya menyangka akarnya adalah kebodohan dan kemiskinan. Tetapi rupanya orang-orang terpelajar pun tidak mampu menyelamatkan diri dari hoax dan ujaran kebencian.

Anda tahu, perempuan yang dulu ribut soal "pahlawan kafir" pada mata uang baru adalah seseorang yang sangat terpelajar. Ia sarjana psikologi UGM dan sudah menyelesaikan pendidikan tingkat S2. Sebelum berkoar soal mata uang, ia pernah menyebarkan hoax tentang pegawai BUMN yang dilarang berjilbab dan lambang PKI dalam mata uang Rp100 ribu.

Pak Tifatul Sembiring, menteri komunikasi dan informasi di masa pemerintahan Presiden SBY, juga tak terhindar dari jebakan hoax. Ia pernah menggunakan foto "Aleppo palsu" untuk membuat twit yang melodramatis tentang keadaan di daerah tersebut sambil meminta maaf kepada Tuhan: "Ya Allah maafkan kami..." Semoga ia dimaafkan.

Begitu mudah orang menjadikan diri pengedar hoax, sebab hoax selalu lebih menarik ketimbang berita jurnalistik biasa saja. Ia lebih "gue banget" ketimbang berita-berita yang dihasilkan oleh kerja jurnalistik sungguhan. Yang lebih penting dari itu, berita palsu pada umumnya mampu mengisi kebencian kita dengan "fakta" yang kita inginkan; ia menyediakan "fakta" yang mengabsahkan kebencian kita.

Dan para pembenci sesungguhnya tidak peduli fakta. Mereka hanya peduli pada kebencian mereka sendiri dan delusi yang mereka kembangkan. Tanpa latar belakang kebencian, orang tidak akan pernah memproduksi ujaran kebencian. Tanpa delusi, orang tidak akan punya hati untuk terus-menerus memproduksi berita-berita palsu yang menyuburkan pertikaian dan menghasut ke arah perpecahan.

Anda harus cukup keji untuk menyiarkan ujaran kebencian. Anda harus cukup picik untuk menganggap diri yang paling benar.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.