RAMADAN 2019

Marhaban ya introspeksi

Ilustrasi monyet sedang bercermin.
Ilustrasi monyet sedang bercermin. | Andre Mouton /Pixabay

Bulan Ramadan ini adalah saat yang tepat untuk introspeksi. Terlebih, setelah 7 bulan lebih hiruk-pikuk politik Pilpres yang menguras emosi. Perbedaan pilihan politik membuat masyarakat terbelah dalam kubu-kubuan, cebong-kampret. Cercaan “dungu” enteng disebarkan. Fitnah dan hasutan kebencian berhamburan.

Jika menengok data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), ujaran kebencian dan hoaks politik berbasis etnis dan agama menduduki peringkat utama selama Pilpres berlangsung. Umpatan berbasis SARA, sentimen keagamaan seperti “kafir”, asing-aseng, dan sesat menyesatkan soal pilihan politik menyeruak.

Sebutan “dungu”, saya kira tidak ada orang yang mau disemati dengan istilah tersebut. Kata-kata itu terlalu menghakimi dan kasar, menyiratkan rendahnya kecerdasan dan kegagalan moral seseorang.

Meskipun pencoblosan dari bilik suara sudah usai, tapi gejala intoleransi sehari-hari tampak tak ikut selesai. Walau konflik kekerasan banyak faktor akar penyebabnya, tapi salah satu pemicu yang perlu dipahami adalah diskriminasi sistematis atau penganiayaan kelompok minoritas di era digital saat ini.

Perisakan (bullying) lewat di internet jamak terjadi selama kampanye pemilu 2019. Kegaduhan dan sitegang masih tersisa di grup-grup WhatsApp dan hujatan di sosial media. Padahal, kini sudah masuk bulan puasa.

Urusan puasa, kiranya bukan cuma menahan lapar dan dahaga. Tantangan utama saat ini adalah menahan keinginan untuk menyebar hasutan kebencian, hoaks, dan fitnah. Selain itu, meningkatkan saringan saat menyerap informasi dan meningkatkan kehati-hatian saat hendak menyebarkannya.

Karena itu, di bulan yang penuh berkah ini, saatnya kita kembali memaknai diri kita dengan menengok kembali makna bulan Ramadan di tengah polarisasi yang terjadi. Karena keutamaan puasa tergantung pada sikap jiwa kita, yakni jiwa iman-an wa ihtisab-an, penuh percaya kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri (introspeksi).

Makna puasa, seperti hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Barang siapa berpuasa dengan penuh iman kepada Allah dan penuh introspeksi, maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni oleh Allah.” (HR. Bukhari).

Ampunan dosa tersebut kiranya tidak tergantung pada kadar rasa haus dan lapar saat puasa. Melainkan bergantung pada kepercayaan kepada Allah bahwa Ia menghendaki kebaikan kita, dan kita meneruskannya dengan anjuran merefleksikan diri.

Karena itu, selama berpuasa, kita hendaknya banyak tafakkur, i’tikaf, serta menjalankan salat malam (qiyamulail). Maka tarawih menjadi salah satu momen hening untuk berbincang dengan diri kita sendiri, bertannya pada diri kita kembali tentang apakah kita ini benar-benar sudah berbuat baik, sudah berkomunikasi dengan bijak dengan sesama.

Cara berkomunikasi kita di media sosial maupun di dunia nyata menjadi salah satu bahan pertimbangan keutamaan puasa. Karena saat ini peradaban virtual dan fisik saling mempengaruhi dan membentuk.

Orientasi puasa juga perlu kita kembalikan ke posisinya semula. Biasanya muncul "keagresifan" dalam kesalehan, yang kadang menuntut penghormatan orang lain. Ada perasaan "mayoritarianisme" berjemaah yang meminta publik tunduk.

Padahal, ujian puasa adalah pada melatih menahan diri. Titik tekannya pada personal, bukan sosial.

Peran Agamawan

Di sisi sosial, bukan urusan ibadah yang ditonjolkan. Namun bagaimana mengupayakan “pemulihan sosial” di tengah makin naiknya polarisasi. Politisasi identitas, -salah satunya agama- ke ruang publik, menyisakan keretakan dalam bangunan kewargaan bersama sebagai bangsa. Di sinilah peran agamawan, bagaimana menciptakan ruang dialog yang beradab, bebas dari ancaman dan diskriminasi, dominasi, atau bahkan kekerasan.

Salah satu gagasan yang bisa ditengok adalah nalar kewargaan (civic reason) Abdullah an-Naim. Nalar kewargaan sebagai bahasa bersama yang memungkinkan dialog nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan berbeda dalam suatu masyarakat yang beragam. Warga berdialog (persuasi) untuk meyakinkan warga lain dalam kerangka konstitusionalisme, HAM, dan kewarganegaraan yang setara.

Semua warga setara, apapun identitasnya. Peminggiran sebuah identitas atau kelompok, akan menimbulkan kebutuhan penegasan identitas. Naiknya konservatisme atau fundamentalisme -sebagai salah satu bentuk respon atas tatanan sosial-ekonomi-politik yang tidak adil- juga harus diatasi.

Ada beragam mekanisme mengatasi konflik secara damai dan konstruktif, termasuk konflik agama. Misalnya lewat mekanisme internal kelompok, mekanisme antar-kelompok, dan mekanisme luar (Kriesberg, 1998).

Mengatasi konflik dengan nirkekerasan juga bisa belajar dari pemikiran dan pengalaman lain.

Mohammed Abu-Nimer, salah satu pemikir Muslim terkemuka dalam studi perdamaian dan resolusi konflik, yang menjabarkan prinsip dan ajaran normatif Islam mengenai bina-damai dan nirkekerasan diletakkan dalam berbagai perspektif studi perdamaian dan resolusi konflik.

Chaiwat Satha-Anand, aktivis perdamaian Muslim, yang menggali sumber-sumber normatif nirkekerasan dan perdamaian dalam Islam.

Pengalaman menengahi konflik berbasis agama dan mediasi di Afrika bisa dilihat pengalaman Imam Ashafa dan Pastor James.

Walhasil, puasa kali ini bukan hanya menahan diri lahir dan batin. Tapi juga berintrospeksi dan memperbaiki apa yang kita lakukan di bulan-bulan sebelumnya. Bukan hanya mengulang puasa-puasa sebelumnya. Seperti yang sering diingatkan: “Banyak sekali orang puasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar” (HR Ahmad).


Ali Nur Sahid adalah peneliti di Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR