Mari mendengarkan Rudy Hartono dan Liem Swie King

Ilustrasi: Selebrasi pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie usai memenangi pertandingan melawan pebulu tangkis Chinese Taipei Chou Tienchen pada final tunggal putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8).
Ilustrasi: Selebrasi pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie usai memenangi pertandingan melawan pebulu tangkis Chinese Taipei Chou Tienchen pada final tunggal putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). | Puspa Perwitasari /ANTARA FOTO/INASGOC

Ketika Jonatan Christie memenangi partai final tunggal putra Asian Games 2018 dan melepas kausnya begitu pertandingan berakhir, saya ingin juga melepas kaus untuk merayakan kemenangannya, tetapi tidak jadi. Postur saya tidak memadai untuk dipamerkan, sekalipun hanya di dalam rumah dan di depan anak-anak sendiri.

Sudah lama saya tidak menikmati kegembiraan dengan olahraga bulutangkis. Terakhir kali saya menjadi penonton fanatik adalah pada 1982 dan dirundung perasaan murung berkepanjangan menyaksikan regu Thomas Cup kita dikalahkan oleh Cina dalam pertarungan final di London.

Yang paling menyakiti hati saya adalah kekalahan Rudy Hartono di hari kedua dari Luan Jin. Rudy sudah 33 tahun waktu itu dan Luan Jin masih segar pada usia 24. Saya pikir tidak ada orang Indonesia yang bisa ikhlas melihat Rudy Hartono dikalahkan oleh pemain dari negara lain, tidak peduli apakah Rudy sedang di puncak kejayaan atau sudah setengah pensiun seperti malam itu.

Itu bukan kekalahan pertama Rudy. Ia pernah kalah juga di final piala Thomas 1973 melawan Svend Pri. Saya tidak menyaksikan pertandingan mereka, tetapi mendengar dari orang-orang dewasa di kampung saya bahwa kekalahan Rudy membuat Muljadi marah. Dan mereka mengarang kisah pembalasan dendam yang seru versi kampung: “Besoknya Muljadi mengamuk membalaskan kekalahan itu dan ia menghajar Svend Pri.”

Cerita pembalasan seperti itu tidak terjadi pada 1982. Setelah Rudy kalah, King juga kalah, Lius Pongoh juga kalah, dan kedudukan yang semula 3-1 untuk Indonesia berbalik menjadi 4-3 untuk Cina. Lalu pasangan Kartono/Heryanto kalah juga dalam pertandingan yang menentukan. Cina keluar sebagai juara meskipun pasangan Christian/Liem Swie King memenangi pertandingan terakhir. Luan Jin dan kawan-kawan membawa pulang Piala Thomas ke negeri mereka dengan kemenangan 5-4 atas juara bertahan Indonesia.

Dua tahun berikutnya, pada 1984, Thomas Cup mulai mempertandingkan hanya 5 partai dan Indonesia berhasil membalas kekalahan dari Cina dengan skor 3-2. Namun kemenangan ini kurang menghibur karena Liem Swie King dan Icuk Sugiarto, dua andalan kita di partai tunggal, kalah.

Icuk baru 22 tahun. Setahun sebelumnya ia meraih medali emas pada kejuaraan dunia dan para pecinta bulutangkis Indonesia memandangnya sebagai penerus Liem Swie King. Hari itu ia dikalahkan oleh Yang Yang dan, seingat saya, untuk seterusnya ia selalu kalah jika bertemu Yang Yang.

Fanatisme saya sebagai penonton mengendur. Rudy Hartono sudah pensiun, Liem Swie King sudah di ujung karier, dan Cina menyerbu. Pemain-pemain tunggal mereka lebih unggul. Saya membayangkan akan sulit lagi mendapatkan kegembiraan di All England.

Padahal di kejuaraan ini Rudy pernah memenangi delapan gelar juara tunggal putra, mempertegas jalur kemenangan yang dirintis pertama kali oleh Tan Joe Hok pada 1959. Rudy datang ke gelanggang All England pada 1968 sebagai “Si Anak Ajaib”, menjadi juara pada tahun itu juga ketika usianya baru 18, dan membangun kharisma pada tahun-tahun berikutnya sebagai yang terbesar: Rudy Hartono di lapangan bulutangkis adalah Muhammad Ali di ring tinju.

Stuart Wyatt, mantan Presiden Asosiasi Bulutangkis Inggris dan Presiden Federasi Bulutangkis Internasional (IBF) ke-10, mengatakan: “Rudy Hartono adalah yang terbesar pada masanya. Ia unggul dalam semua aspek—penampilannya, geraknya yang cekatan, dan taktiknya. Tujuh tahun berturut-turut menjadi juara All England, ditambah satu lagi yang kedelapan, sudah cukup untuk membuktikan kehebatannya.”

Saya setuju, Pak Stuart. Tentu saja Rudy Hartono memang yang terbesar. Kami marah dan sulit tidur jika ia kalah: Juara dunia tidak boleh kalah melawan siapa pun.

Memang All England bukan kejuaraan dunia, tetapi ia turnamen tertua dan sangat bergengsi. Ia diselenggarakan pertama kali pada 1899, hanya lebih muda 22 tahun dibandingkan turnamen tenis tertua Wimbledon yang diadakan pertama kali pada 1877.

Pada waktu Rudy merajai All England, Federasi Bulutangkis Internasional (IBF) tidak menyelenggarakan kejuaraan dunia resmi. Jadi, orang menganggap All England sebagai kejuaraan dunia tidak resmi. Dan Rudy menjuarainya delapan kali. Sudah barang tentu ia pemain terbaik sepanjang masa.

Pemain terbaik sepanjang masa yang lainnya adalah Liem Swie King. Semua pemain terbaik Indonesia adalah pemain terbaik sepanjang masa. King berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Ibukota Provinsi Jawa Tengah adalah Semarang. Dan Semarang adalah kampung halaman saya.

Sekadar tambahan: Liem Swie King adalah satu dari empat orang Kudus yang paling saya kenal, tiga lainnya ialah Sunan Kudus, Emmy (teman SMA saya), dan Mbak Yati (pernah tinggal beberapa tahun di rumah orang tua saya dan bahasa Jawanya terdengar lucu bagi telinga kami).

Sama seperti Rudy memukau khalayak bulutangkis, Liem Swie King juga menakjubkan. Ia memperkenalkan gaya smes yang belum pernah dilakukan orang: ia meloncat tinggi sekali seindah kijang dan menyabetkan raketnya dengan kekuatan penuh sebelum kok meluncur turun. Media luar negeri menyebut pukulan itu King’s smash. Ia berarti smes King, tetapi bisa juga memiliki arti lain: Smes Baginda Raja.

Kami juga marah jika Liem Swie King kalah. Raja smes kebanggaan kami tidak boleh kalah. Pada 1978 dan 1979 King menjadi juara All England dan pada 1980 Prakash mengalahkannya di partai final. Teman masa kecil saya, orang dewasa yang merasa dirinya Liem Swie King setiap mengayunkan raket kayu di tanah lapang, memberi tahu bahwa Prakash pernah berlatih di Indonesia.

Saya jengkel kepada Prakash dan menganggapnya tidak tahu diri karena mengalahkan pemain kebanggaan Indonesia. Saya juga jengkel kepada PBSI kenapa membolehkan orang dari negara lain berlatih di Indonesia sehingga rahasia kehebatan kita dicuri.

Tetapi saya sudah memaafkan Prakash sekarang. Ia orang baik dan ia mengidolakan Rudy Hartono. Katanya: “Rudy Hartono adalah yang terbesar sepanjang masa. Ia mengubah cara orang bermain bulutangkis. Ia sempurna dan nyaris tidak memiliki kelemahan. Ia teladan ideal bagi olahraga ini.”

Prakash senang berlatih dengan siapa saja. Ia juga lama berlatih di Denmark dan membangun persahabatan dengan para pemain Denmark.

King membalas kekalahan dari Prakash pada final All England tahun berikutnya. Sayang itu gelar All England terakhirnya. Setelah itu, bulutangkis kita pelan-pelan surut dan pada saat yang sama pemain-pemain Cina menyerbu. Dalam 37 kali keikutsertaan mereka sejak 1982, para pemain Cina sudah mengumpulkan 20 gelar juara tunggal putra, menyusul Indonesia yang 15 kali. Luan Jin mengawalinya pada 1983 dan Lin Dan yang terbanyak dengan enam kali juara.

Untung ada Susi Susanti, pemain yang dijuluki oleh publik All England sebagai “Si Balerina”. Di tengah paceklik gelar di sektor tunggal putra, Susi muncul sebagai juara tunggal putri pada 1990 dan sekaligus menjadi pemain tunggal putri pertama Indonesia yang berhasil menjuarai All England. Susi menjadi juara lagi pada 1991, meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, dan menjadi juara All England lagi pada 1993 dan 1994.

Sampai sekarang, baru Susi satu-satunya pemain tunggal putri Indonesia yang berhasil menjadi juara All England. Ganda putri sudah lebih dulu, yaitu pada 1968 ketika Minarni dan Retno Koestijah keluar sebagai juara, lalu pada 1979 melalui pasangan Imelda Wiguna dan Verawaty Wihardjo.

Pemain tunggal putra Indonesia baru tiga kali menjadi juara All England sejak kehadiran pemain-pemain Cina. Satu gelar diraih pada 1991 oleh Ardy Wiranata; dua gelar pada 1993 dan 1994 oleh Heryanto Arbi, pemuda Kudus juga, satu kampung halaman dengan King. Dan Kudus terletak di Jawa Tengah. Dan ibukota Jawa Tengah adalah Semarang, kampung halaman saya.

Cara Heryanto Arbi bermain mengingatkan saya pada kehebatan Liem Swie King, terutama karena smesnya keras dan ia melakukannya sambil terbang seperti King.

Setelah 1994, sampai sekarang belum ada lagi pemain tunggal putra Indonesia yang menjadi juara All England. Sudah 24 tahun. Artinya, sudah lama.

Ada pemain dengan bakat luar biasa setelah era Heryanto Arbi, yaitu Taufik Hidayat. Ia satu kali menjadi juara dunia, tiga kali meraih medali emas Asian Games (dua kali tunggal putra dan satu beregu putra), tiga kali menjadi juara Asia, dan satu kali meraih medali emas Olimpiade—di Athena 2004. Namun saya selalu gelisah menyaksikan Taufik bermain.

Erland Kops, juara tujuh kali All England, mengatakan dalam wawancara tahun 2009 bahwa Taufik adalah pemain paling berbakat yang pernah ia saksikan. “Ia lebih berbakat dibandingkan Lin Dan,” katanya, “tetapi saya pasti frustrasi jika menjadi pelatihnya. Kita tidak pernah tahu apakah Taufik ingin bermain atau tidak. Jika ia ingin bermain, ia akan menang. Jika tidak ingin bermain, ia kalah.”

Jadi, kegiatan sebagai penonton fanatik saya hentikan ketika tidak ada lagi pemain tunggal putra seperti Rudy Hartono dan Liem Swie King. Dulu, kehadiran mereka di lapangan membuat kita yakin bahwa Indonesia pasti menang. Kadang-kadang mereka kalah, tetapi selama mereka bermain saya tetap merasa Indonesia adalah kekuatan nomor satu bulutangkis dunia.

Saya baru mulai terhibur lagi tahun lalu saat menyaksikan kehebatan pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon. Kedua anak muda ini menjuarai All England pada 2017 dan 2018. Rekaman pertandingan mereka saya putar berulang-ulang dan kepada seorang teman saya menuliskan pesan singkat: “Mereka bermain seperti iblis, Bung. Saya yakin Kevin dan Gideon ini bukan manusia.”

Jonatan Christie memberi kegembiraan tahun ini dengan medali emas tunggal putra Asian Games, tetapi saya belum yakin apakah ini kebangkitan bulutangkis Indonesia. “Kita sekarang kalah oleh para pemain dari negara yang dulu kurang diperhitungkan, itu menunjukkan bulutangkis kita sedang merosot,” kata Liem Swie King beberapa waktu lalu. Rudy juga memiliki keprihatinan yang sama.

Keduanya menyatakan sedih atas merosotnya prestasi tunggal putra kita saat ini. Saya ikut bersedih karena mereka bersedih.

“Mestinya pemerintah lebih bersungguh-sungguh memberi perhatian kepada bulutangkis, sebab di olahraga ini terbukti kita pernah dan sudah berkali-kali membuktikan diri sebagai juara dunia,” kata Rudy.

Ia mengusulkan agar pemerintah membuat kebijakan untuk menjadikan olahraga ini mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah dasar. Saya pikir itu usulan yang patut diperhatikan sungguh-sungguh; ia disampaikan oleh orang yang tahu persis bagaimana cara menjadi juara. Dulu Uni Soviet juga melakukan cara seperti itu untuk olahraga catur—menjadikan catur pelajaran wajib di sekolah-sekolah—dan dengan jalan itu mereka merajai cabang olahraga tersebut.

BACA JUGA