Mataram dan kolonialisme internal Jawa

Ilustrasi: Pengepungan Batavia oleh  Sultan Agung  pada 1628
Ilustrasi: Pengepungan Batavia oleh Sultan Agung pada 1628 | Anonim /Atlas of Mutual Heritage/PUBLIC DOMAIN

Semenjak Wilwatikta yang besar runtuh, yang dalam Babad Tanah Jawi diberi sengkalan lamba "Sirna ilang kertaning bumi", menjelang akhir abad 15 masehi wilayah-wilayah pesisir maupun pedalaman Jawa berusaha mandiri. Kota-kota pantai utara begitu dinamis meresapi perubahan. Sementara pedalaman mencoba bertahan sekalipun Islam juga telah masuk.

Pesisir dan pedalaman Jawa kemudian memiliki relasi yang lebih banyak berkaitan dengan pertarungan politik, bahkan penaklukan. Negasi utara (pantai)-selatan (pedalaman) ini makin tajam saat Mataram -sejak kepemimpinan generasi kedua- menguat lewat penaklukan terlebih dahulu sesama penguasa (landlord) pedalaman Jawa. Lalu menaklukkan wilayah-wilayah pesisir yang tak pernah mau mengakui eksistensinya.

Republik desa

Pada awal abad 16 Masehi beberapa wilayah berpenghuni di pedalaman Jawa yang mandiri bergerak menjadi apa yang disebut Pramoedya Ananta Toer sebagai republik desa. Mereka mandiri tanpa terikat sistem patronase, yang sebelumnya kuat dan berpusat di Majapahit hingga Pajang sebagai patron politik maupun kultural.

Kepala republik desa ini diberi gelar Ki Ageng. Mereka jelas bukan raja tetapi kekuasaannya selalu disebut-sebut, seperti kata Pram, "dirahmati dari atas sana". Pendirian Mataram Islam bagaimanapun juga berawal dari fase republik desa yang berusaha mandiri ini.

Ki Gede Mataram, yang sebelumnya bergelar Ki Ageng Pemanahan, selama 20 tahun sejak ia mendirikan desa perdikannya di alas Mentaok, berusaha mandiri dengan memboyong 150 orang Selo ke desa barunya.

Babad Tanah Jawi menyebut perpindahan ini secara positif sebagai penggenapan ramalan Sunan Parapen dari Giri tentang "kekuasaan besar di tanah Mataram". Namun kesaksian-kesaksian orang-orang Belanda sejak era Sultan Agung hingga setelahnya -seperti dicatat de Graaf- terkesan negatif.

Jan Pieterszoon Coen menyebut moyang Sultan Agung itu "seorang pembawa sirih raja paty". Pendeta Dominee Francois Valentijn menyebutnya sebagai "budak Sultan Demak" yang terancam terbunuh lalu kemudian beralih ke Pajang dan bernasib hampir sama.

Sementara seorang pedagang Belanda Jacob Couper menyebut, "seorang Jawa yang jahat, seorang abdi". Karena itulah perpindahannya ke Mentaok merupakan pelarian. Dan dari sinilah, ia mulai melakukan penaklukan.

Saat Pemanahan babat alas di Mentaok pada 1578 Masehi, sesungguhnya telah ada tanah-tanah perdikan di sekitarnya. Tanah Mataram -yang masih disebut-sebut dalam kakawin Desawarnana dimasa Prabu Rajasanagara (Hayam Wuruk)- sesungguhnya tak pernah kosong.

Di dekat Prambanan, ada desa Karang Lo. Pangeran Karang Gayam di Pajang, yang masyhur sebagai pujangga Pajang, masih kerabat keturunan Karang Lo.

Lebih timur lagi, wilayah Kajoran telah berpenghuni dan menjadi salah satu pusat spiritual Islam. Pendirinya masih kerabat Sunan Tembayat yang dikeramatkan dan memiliki tanah perdikan di Wotgaleh. Wilayah-wilayah itu mungkin telah menjadi penghasil beras yang makmur. Nantinya, Kajoran dan Tembayat akan memainkan peranan penting dalam konstelasi politik Mataram.

Di pegunungan selatan, ada desa Giring sebagai sentra gula aren. Desa perdikan Mangir berada di sebelah barat daya. Sementara di tanah Bagelen -yang dalam tradisi lisan di wilayah ini dikenal istilah kenthol- telah juga ada tanah perdikan -salah satunya wilayah Bocor.

Awalnya, desa-desa perdikan itu berdaulat dan tidak berambisi untuk memperluas kuasanya. Tetapi kedatangan keluarga Pemanahan ke alas Mentaok mengubah keadaan.

Ada ambisi kekuasaan yang disebar dari desa Mataram. "Kolonis dari timur" ini, demikian yang dicatat Graaf dan Pigeaud, dianggap sebagai penyusup dan saingan yang melanggar hak-hak lama.

Sejak menetap di Mataram, Ki Ageng Pemanahan -yang kemudian mengangkat diri menjadi Ki Gede Mataram- bersama putranya, Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati), mencoba menaklukkan desa-desa perdikan itu dengan berbagai cara: perjanjian, pernikahan politis bahkan kekerasan.

Ki Gede Karang Lo dan Ki Gede Giring ditaklukkan dengan perjanjian yang -dalam Babad Tanah Jawi- berkaitan dengan nasehat dan ramalan sunan Kalijaga.

Rombongan-rombongan pedagang dari desa-desa Bagelen dan bahkan dari Kedu, dibelokkan ke Mataram lalu ditundukkan lewat kekerasan.

de Graaf dalam Het Kadjoran Vraagstuk (Masalah Kajoran), menyebutkan Senopati menikahi putri keluarga Kajoran dan bahkan Pangeran Kajoran dinikahkan dengan putri Senopati.

Sementara kisah tragis termuat dalam Babad Mangir. Tanah perdikan Mangir ditundukkan dengan drama. Anak Senopati, Pembayun, dikirim untuk memikat Ki Ageng Mangir lalu membawanya ke Mataram untuk kemudian dibunuh.

Tidak ada kerelaan yang sepenuhnya hadir dalam setiap penundukan desa perdikan Mataram atas desa-desa perdikan lainnya itu. Setelah membereskan masalah internal di wilayah Mataram, keturunan Pemanahan memperluas taklukkan dan membangun kolonialisme di hampir seluruh tanah Jawa.

Kolonialisme Mataram

Dari Panembahan Senopati hingga cucunya, Panembahan Hanyakrakusuma yang kemudian lebih dikenal sebagai Sultan Agung, kekuasaan Mataram terus diperluas dari pedalaman hingga pesisir Jawa; bahkan keluar Jawa. Meski banyak yang berhasil tetapi ada beberapa ekspansi yang gagal.

Senopati menaklukkan Pajang (1588), Demak (1590), menyerbu Mojokerto (1589), Madiun (1590), Kediri dan Pasuruan (1591), Jipang (1598), Tuban (1598), Jepara (1599) dan merebut Pati (1600).

Panembahan Hanyakrakusuma melanjutkan dengan menyerbu Lumajang dan Renong (1614), Wirasaba (1615), Lasem (1616), merebut Pasuruan dan menghancurkan Pajang (1617), Tuban (1619), Sukadana di Kalimantan (1622), menaklukkan Surabaya (1625), Madura (1624), Pati (1627), menyerbu Batavia (1625-1626), menghancurkan Sumedang dan Ukur (1631), merebut Kedaton Giri (1636) dan Blambangan di ujung timur Jawa (1639).

Ada satu hal yang perlu untuk dipahami bahwa Mataram membangun kuasa atas jajahan (koloni) bukan dengan cara menempatkan orang-orang Mataram di wilayah baru yang ditundukkan, tetapi justru sebaliknya mengangkut banyak orang dari tanah taklukan, termasuk pemimpinnya, dan menumpuknya di ibukota Mataram. Dengan demikian ibukota menjadi -meminjam kata-kata Denys Lombard- "satu mikrokosmos sentral".

Duta VOC Rijklof van Goens memberi gambaran yang jelas tentang hal ini. Dalam peta yang dibuatnya atas ibukota Pleret, kedaton menjadi pusat kuasa sementara para pangeran taklukkan -terutama dari pesisir- bertempat tinggal di sekelilingnya.

Penguasa Mataram, dimulai Panembahan Hanyakrakusuma, lalu membangun satu sistem -yang disebut de Graaf- pemerintahan paralel: menempatkan seorang adipati sebagai administrator di wilayah taklukan saat penguasa de jure wilayah taklukan tinggal di ibukota Mataram. Keduanya harus tunduk pada perintah penguasa agung di Mataram.

Penempatan beberapa orang-orang taklukan berikut pemimpinnya di ibukota ini bertujuan jelas. Selain untuk memudahkan kontrol atas jajahan, penempatan orang taklukan itu juga untuk memudahkan tersedianya tenaga kerja untuk melakukan apa saja demi kepentingan penguasa.

Selepas meratakan kota Pajang, Panembahan Hanyakrakusuma membawa penduduknya ke Mataram. Mereka diminta secara paksa membangun ibukota baru Mataram, Kerta.

Saat penyerbuan Blmbangan berhasil, penduduknya diangkut ke Mataram. Para perempuan dijadikan emban di kaputren dan migrasi paksa ini melahirkan masyarakat pinggir di Mataram.

Di masa Sunan Amangkurat Agung, penerus Hanyakrakusuma, satu ekspedisi dikirim ke wilayah Karawang (1657-1658). Penduduk wilayah itu lalu dibawa ke Mataram untuk membangun bendungan dan waduk di sekitar istana baru Sunan, Pleret.

Konskripsi dan perang proksi

Yang tak kalah penting, orang-orang taklukkan ini bisa digunakan untuk tujuan konskripsi (mobilisasi umum) peperangan. Onghokham menyebutkan angkatan perang di Jawa didasarkan atas model konskripsi ini.

Pangeran Pekik -putra penguasa Surabaya- diboyong dan diharuskan tinggal ke ibukota Mataram serta dinikahkan dengan adik sultan, pada saat kota pantai yang paling berpengaruh di pesisir itu ditaklukkan. Orang-orang Surabaya taklukan digunakan Mataram untuk menggempur Kedaton Giri di Gresik. Keluarga ulama Giri, yang dipimpin pangeran Kawistuwa, akhirnya juga diboyong ke Mataram.

Sebelumnya, saat menaklukkan Madura, pasukan penggempur Mataram berasal dari gabungan pasukan Pangeran Sumedang -yang juga telah takluk lewat pengakuan, pasukan Tumenggung Demak serta Adipati Pati (Pragola II).

Dalam dua kesempatan berbeda, orang-orang Cirebon -yang juga telah tunduk dan penguasanya tinggal di Mataram- pernah digunakan Susuhunan Hanyakrakusuma untuk menghancurkan Sumedang dan Ukur akibat pembangkangan dan kegagalan mereka dalam serbuan ke Batavia. Sunan Amangkurat Agung juga pernah menggunakan pasukan Cirebon untuk menaklukkan Banten pada bulan Ramadan 1650, meskipun gagal.

Pengerahan orang-orang taklukan itu dalam perang proksi tampak jelas dalam hasrat menundukkan Batavia. Selain orang Mataram sendiri, pada penyerbuan pertama, pasukan terdiri dari prajurit Tegal, Jawana, Sumedang dan Ukur. Sementara pada ekspedisi yang kedua, pasukan Mataram setidaknya berasal dari prajurit Madiun dan Sumenep (Madura).

Kedua serbuan itu gagal dan pasukan yang pertama mengalami nasib tragis: banyak dari mereka yang selamat justru dihukum mati oleh Susuhunan Hanyakrakusuma sendiri.

Kolonialisme Mataram sesungguhnya rapuh. Sekalipun menampakkan kebesaran dan keagungan Mataram, penaklukan dan pemindahan orang taklukan -termasuk para pangerannya- sesungguhnya melahirkan kebencian dan dendam. Politik "adu domba", yang dikemudian hari lebih dikenal dengan istilah devide et impera dan lebih sering dianggap dilakukan VOC (Belanda), telah dilakukan Mataram sebelum campur tangan VOC.

Dalam kasus penaklukan Giri: pusat politik (Surabaya) dibenturkan dengan pusat spiritual (Giri). Dua kekuatan yang menjadi inti koalisi Bang Wetan (Jawa Timur). Keruntuhan keduanya dalam politik adu domba menghancurkan kekuatan timur Jawa. Tentu ini satu keuntungan bagi Mataram, tetapi dikemudian hari justru melemahkan Mataram akibat dendam yang awet.

Pemberontakan Trunajaya (1676-1679) barangkali menjadi titik kulminasi dendam atas kolonialisme Mataram. Ia seorang pangeran muda keturunan negeri koloni (Madura) yang terlunta-lunta di negeri induk, merasa terhina dan dendam atas Mataram.

Gerakannya mendapatkan energi tambahan ketika Kajoran, tanah perdikan yang juga tidak rela atas kuasa Mataram, mendukungnya. Koalisi keduanya -pesisir dan pedalaman- telah menghancurkan Mataram. Ibukota Pleret dibakar dan dijarah-rayah.

Kolonialisme Mataram sesungguhnya telah runtuh di titik ini. Sekalipun Amangkurat II berhasil memulihkan kuasanya di hutan Wanakerta (Kartasura), Mataram tidak pernah sama lagi seperti semula.

Kuncoro Hadi, sejarawan alumnus S2 Sejarah UGM
BACA JUGA