Maulid dan kelahiran pemimpin

Ilustrasi: Ribuan warga mengikuti zikir akbar di Masjid Baitul Muttaqin, Darul Aman, Aceh Timur, Aceh, Minggu (26/11). Zikir akbar yang digelar tersebut dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus untuk mendoakan agar Aceh aman dan damai.
Ilustrasi: Ribuan warga mengikuti zikir akbar di Masjid Baitul Muttaqin, Darul Aman, Aceh Timur, Aceh, Minggu (26/11). Zikir akbar yang digelar tersebut dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus untuk mendoakan agar Aceh aman dan damai.
© Syifa Yulinnas /ANTARA FOTO

Bulan ini, dalam kalender hijriah, menjadi bulan istimewa bagi umat Islam. Maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad adalah tonggak bersejarah bagi manusia, tidak hanya bagi umat Islam yang secara "normatif" mengikuti jalan yang dibentangkannya.

Lantunan salawat untuk memuji Nabi Muhammad dikumandangkan di masjid, musala, langgar, pondok pesantren, maupun di rumah-rumah para muhibbin (pecinta Nabi) dari tanggal 1-12 Rabi'ul Awwal. Pemerintah pun menetapkan hari bulan Masehi yang bertepatan dengan 12 Rabi'ul Awwal sebagai hari libur nasional.

Puncaknya adalah menggelar pengajian umum, dengan mauidhah hasanah yang mengajak umat untuk meneladani kisah Rasulullah. Peristiwa semacam ini selalu tergelar setiap tahun di masyarakat.

Kendati ada sebagian kaum muslim yang menganggap bidah perayaan maulid karena tidak diajarkan oleh Nabi, muslimin lain, -khususnya warga nahdliyin, tetap jalan terus. Tradisi ini bahkan menjadi signature-nya kelompok nahdliyin.

Dalam salah satu pengajiannya, KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) menggambarkan dakwah Rasulullah sebagai model dakwah yang berlandaskan kasih sayang dan menjunjung tinggi kearifan lokal masyarakat Arab. Pakaian Rasulullah adalah busana masyarakat Arab secara umum. Ketika Kakbah dipenuhi berhala dan masyarakat berputar mengelilinginya dengan telanjang, Nabi tetap menghormati itu. Berhala dihilangkan, tapi ritual mengelilingi Kakbah masih ada, yakni tawaf.

Cara berdakwah demikian yang ditiru oleh Walisongo di Jawa untuk memperkenalkan Islam. Sama dengan Rasulullah yang menjadikan Islam dapat diterima olah masyarakat Madinah, pun dengan Walisongo. Menurut Agus Sunyoto (2012), sejak kedatangan Islam yang pertama, selama 800 tahun Islam belum diterima oleh penduduk pribumi. Dalam rentang waktu sekitar 40 tahun sejak dakwah Walisongo, Islam dapat diterima oleh masyarakat.

Kunci dari keberhasilan itu ialah dakwah yang lemah lembut, dengan tidak meninggalkan kebudayaan setempat. Artinya, bungkus boleh berbeda, tapi sejauh substansinya adalah nilai-nilai keislaman, itu bukan masalah serius. Justru itu yang membuat Islam di Nusantara, -dan Indonesia, menjadi Islam yang rahmatan lil alamin.

Betapa banyak dari umat Islam hari ini yang menganggap nasionalisme tidak pernah diajarkan Rasulullah. Dalam hadis diceritakan, Nabi gelisah saat harus hijrah dari Mekah ke Madinah. Nabi berdoa, ya Allah cintakanlah kepada kami kota Madinah sebagaimana rasa cinta kami kepada Mekah, bahkan lebih. Berilah kami kebaikan dan berkahilah kami.

Dalam konteks hadis tersebut, yang kita rasakan adalah nuansa rasa cinta yang mendalam tentang tanah kelahiran. Tak salah jika dalam NU muncul maqalah yang sangat mashur; hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman). Tidak sempurna iman orang Indonesia jika dia belum bisa mencintai tanah kelahirannya.

Indonesia kini menghadapi banyak ancaman dari dalam. Reformasi membawa angin perubahan, termasuk pandangan kelompok masyarakat yang menjadi riak peneguhan Indonesia sebagai bangsa. Terjadi delegitimasi terhadap sistem pemerintahan dan Pancasila, yang dipandang sebagai sistem kafir.

Memang harus diakui, masih banyak yang harus dikritisi dari pemerintah kita. Sebagai bangsa yang majemuk, perbedaan adalah keniscayaan. Menjadi fitrah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Hal ini menjadi berkah sekaligus tantangan bagi pemerintah. Jangan sampai tragedi lepasnya Timor Timur pada 1999 terulang kembali.

Nabi sudah memberi contoh bagaimana mengelola chauvinisme kesukuan bangsa Arab ketika peletakan hajar aswad. Pemimpin masing-masing suku diminta untuk memegang ujung kain yang dibentangkan, di mana hajar aswad ditaruh di atasnya. Kemudian sama-sama mengangkatnya dan meletakkannya di Kakbah.

Nabi juga bersabda, jika umatku kelaparan, biarkan aku yang pertama merasakan kelaparan. Jika umatku merasakan kebahagiaan, biarkan aku yang paling terakhir merasakan kebahagiaan. Hal ini yang justru bertolak dari kenyataan sekarang ini.

Bahkan muncul anekdot tentang terma wakil rakyat. Rakyat ingin punya rumah mewah, mobil mewah, makan enak, liburan ke luar negeri, sudah diwakili para wakil rakyat. Rakyat hanya sekadar konstituen yang kuantitatif di musim pemilu-pilkada. Hal inilah yang bertolak belakang dengan semangat leadership Kanjeng Nabi.

Maulid Nabi harus kita jadikan spirit untuk meneguhkan keindonesiaan kita yang sempat koyak moyak oleh berbagai konflik elite dan antar-elemen masyarakat. Kualitas dan keberhasilan pemimpin Indonesia dapat dilihat bagaimana mereka mengelola perbedaan yang berpotensi konflik.

Kelahiran Nabi Muhammad adalah kelahiran pemimpin umat yang menggunakan seluruh potensi suku untuk membangun masyarakat yang unggul dari semua aspek. Kita pun sangat berharap pemimpin Indonesia, baik dari eksekuitf, legislatif, dan yudikatif, untuk melakukan maulid massal. Kelahiran yang akan membawa bangsa Indonesia di puncak kejayaan.

Junaidi Abdul Munif, pengurus Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) NU Semarang
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.