Melacak Paman Gober di negeri Kalevala

Seppo memancing di jembatan di Kepulauan Kvarken, Finlandia.
Seppo memancing di jembatan di Kepulauan Kvarken, Finlandia.
© AS Laksana

Mungkin tidak ada di tempat lain orang-orang yang begitu mencintai dongeng mereka sebagaimana orang-orang Finlandia mencintai Kalevala. Itu cerita tentang awal mula penciptaan, tentang Vainamoinen si manusia pertama yang bijak dan langsung berjenggot ketika dilahirkan sebab ia berada di dalam rahim ibunya selama 700 tahun, tentang upayanya menemukan cinta, tentang matahari yang dicuri oleh tukang tenung dari tanah utara yang beku dan bagaimana mereka merebutnya kembali dengan petikan harpa dan nyanyian, dan tentang Vainamoinen yang akhirnya meninggalkan Kalevala--tanah para pahlawan--dengan janji bahwa ia akan kembali jika tanah ini membutuhkan lagi kehadirannya.

Elias Lonnrot (9 April 1802 - 19 Maret 1884), seorang dokter dan penyair dan ahli bahasa, mengumpulkan puisi-puisi rakyat yang dinyanyikan oleh orang-orang di distrik tempat ia menjadi kepala dinas kesehatan, lalu menyusunnya menjadi cerita utuh, lalu menerbitkannya sebagai buku pada 1835.

Dongeng itu kemudian menjadi identitas kebangsaan. Ia seperti jimat yang memperkokoh ikatan di antara mereka dan memberi kekuatan kepada mereka untuk melepaskan diri dari pendudukan Rusia. Pada 1917 Finlandia merdeka dan tahun ini mereka merayakan seratus tahun kemerdekaan. Dan mereka selalu mencintai Kalevala: ia muncul pada perangko-perangko, dicetak pada lempeng biskuit, beberapa tempat di dalam Kalevala menjadi nama-nama distrik di Finlandia, dan sebagainya.

Ia juga muncul di dalam komik Donald Bebek; kami membicarakan komik itu, di antara sembarang topik lain yang kami bicarakan, dalam perjalanan dari stasiun ke tempat penginapan yang akan saya huni selama Oktober di Kepulauan Kvarken. Patrik, pemilik apartemen, menjemput saya di stasiun Vaasa karena saya tiba pukul setengah sepuluh malam dan bus dari kota ini ke kepulauan hanya mengangkut penumpang satu kali sehari pada pukul 14.40.

Mobil kami melaju nyaris sendirian; hutan di kedua sisi jalan; jembatan di atas selat--jembatan yang saya datangi empat hari kemudian dengan bersepeda. Di jembatan ini saya bercakap-cakap dengan Seppo, 72 tahun, yang sedang memancing.

Satu hal yang selalu ada dalam pikiran saya setiap kali bercakap-cakap dengan siapa pun yang saya jumpai di tempat ini adalah menanyakan tentang Kelevala. "O, itu kitab suci saya," kata Seppo. "Saya membacanya ketika sekolah dulu. Dan kautahu nama belakang saya? Ilmarinen!"

Ia terlihat sangat gembira saat menyebutkan nama belakangnya. Saya mengatakan: Dan kautahu nama belakang saya, Seppo? Vainamoinen! Ia tertawa. Ia patut bergembira sebab nama belakangnya adalah nama karakter hebat di dalam Kalevala, seorang pandai besi yang bisa membuat apa saja asalkan ada api. Ialah yang menciptakan kubah langit dan menempa Sampo, benda bertuah yang akan membawa keberuntungan dan kemakmuran kepada pemiliknya. Sampo, entah seperti apa bentuknya, sanggup mengeluarkan gandum dari satu sisi dan garam dari sisi lainnya dan emas dari sisi ketiga.

Tiba-tiba saya teringat sesuatu. "Busyet! Nama depanmu pun adalah sebutan untuk Ilmarinen," kata saya. "Seppo--si pandai besi."

Seppo di hadapan saya ini sangat cakap memancing; tiap sebentar harus menggulung senarnya, mengambil ikan-ikan yang tersangkut pada mata kailnya. "Kau pengail yang hebat, Seppo," kata saya. Ia tersenyum dan mengatakan: Saya mengail hampir setiap hari, sudah lima belas tahun ini.

Saya hanya satu kali memancing selama hidup, dan itu urusan yang membuat saya putus asa bertahun-tahun lalu. Seharian memancing dan tidak mendapatkan satu ekor ikan pun, dan sejak itu saya menganggap memancing adalah urusan paling sia-sia di muka bumi. Kesimpulan saya: tidak ada bedanya antara orang memancing dan melamun saja di tepi empang; kalaupun ada bedanya, yang membedakan di antara keduanya hanyalah seutas senar.

"Kau juga memancing pada musim dingin?" tanya saya.

"Ya, kami melubangi permukaan danau yang menjadi es dan memasukkan kail ke lubang itu," katanya.

Ia selesai memancing ketika kotak ikannya sudah hampir penuh. Saya meminta seekor kepadanya. "Saya bisa memberimu lebih banyak jika kamu mau," katanya. "Atau kita bagi dua saja?" Saya mengambil lima ekor. Ini saja Seppo, kata saya, sama dengan jumlah hari kerja.

"Sampai jumpa," katanya. Ia berjalan ke ujung jembatan tempat ia memarkir mobilnya.

"Seppo!" teriak saya sebelum ia terlalu jauh. Ia menoleh. "Semoga Tuhan Kalevala selalu memberkatimu."

Jarak antara jembatan dan tempat penginapan kurang lebih sembilan kilometer, melewati hutan lagi di sepanjang sisi kiri dan kanan, dan mobil kami betul-betul melaju sendirian setelah lepas dari jembatan. Rusa-rusa besar sering menyeberang jalan pada malam hari, keluar dari hutan sebelah kiri masuk ke hutan sebelah kanan atau sebaliknya.

"Don Rosa pernah kemari," kata Patrik. Saya menunggu siapa gerangan Don Rosa yang ia maksudkan. "Itu sebelum ia mengerjakan komiknya."

Saya membaca komik serial Paman Gober yang berjudul The Quest for Kalevala karena tertarik pada judulnya, tetapi tidak pernah memperhatikan siapa pembuatnya. Komik itu menceritakan petualangan Paman Gober bersama tiga keponakannya untuk mencari Sampo, jimat sakti yang bisa mendatangkan kemakmuran.

Baru malam itu, ketika Patrik menyebut-nyebut nama Don Rosa, saya menjadi tahu bahwa orang Amerika itulah yang mengerjakan komik seri Donald Bebek dan Paman Gober, karakter-karakter yang diciptakan oleh komikus sebelumnya Clark Barks.

Selain Don Rosa dan komik bebeknya, ada sejumlah penulis lain yang menggunakan Kalevala, karya sastra terpenting Finlandia, sebagai sumber inspirasi. Dua nama terkenal adalah Henry Wadsworth Longfellow dan J.R.R. Tolkien. Longfellow memungut ilham darinya untuk menulis The Song of Hiawatha; puisi epik yang mengisahkan pahlawan suku Indian Ojibwe itu ia tulis dalam metrum yang sama dengan Kalevala. Tolkien mengakui bahwa Kalevala adalah sumber yang ia gunakan untuk menulis The Silmarillion; dan karakter Tom Bombadil dalam Lord of The Rings adalah padanan dari Vainamoinen.

Langit kelabu besok paginya dan matahari baru terlihat agak cerah pada siang hari. Kepulauan Kvarken sangat menyenangkan, tetapi kelihatannya saya tidak mungkin bisa menjelajah kecuali ada sepeda, sebab tidak mungkin saya menyewa taksi setiap hari untuk mengantar saya ke mana-mana. Lima puluh meter dari apartemen, ada sekolah dasar. Rencana pertama saya adalah akan ikut duduk di dalam kelas, melihat-lihat bagaimana guru menyampaikan pelajaran dan bagaimana murid-murid belajar dan bersenang-senang di sekolah.

Patrik datang ke kamar saya pada sore hari, mengantarkan panci dan penggorengan, sebab pada malam ketika ia mengantarkan saya ke kamar, di dapur hanya ada panci penjerang air dan tidak ada panci untuk memasak dan wajan. Lalu kami bercakap-cakap sebentar dan ia kemudian mengatakan: Kelihatannya kau perlu sepeda. "Astaga! Kau pasti tukang sihir, Patrik," kata saya. "Bagaimana kau bisa membaca isi pikiranku?"

Ia mengantarkan sepeda keesokan harinya sepulang kerja dan menanyakan apakah saya senang dengan kamar yang saya tempati. Saya senang sekali, kata saya. Kvarken sangat tenteram--sebetulnya semua tempat di Finlandia saya yakin sangat tenteram keadaannya--dan saya bilang kepadanya bahwa kelihatannya saya bisa menulis sangat lancar. Yang terakhir itu saya sendiri tidak terlalu yakin; saya tahu betul diri saya sendiri dan serajin apa saya menulis.

"Kau akan menulis apa di sini?" tanyanya.

"Mungkin aku berubah pikiran," kata saya. "Kupikir lebih baik aku mengikuti jejak Paman Gober mencari Sampo."

Ia tersenyum. Saya tidak. Lalu dengan suara sungguh-sungguh saya mengatakan: Kalaupun harus menulis, saya akan menulis cerita petualangan saja; mungkin judulnya Paman Sulak Melacak Jejak Paman Gober dalam Upaya Menemukan Sampo. Jika sekarang tidak ketemu, saya berjanji akan kembali lagi nanti, seperti Vainamoinen berjanji akan kembali.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.