Melawan hoaks dengan sastra

Ilustrasi: Hoaks di tengah kita
Ilustrasi: Hoaks di tengah kita | Zita /Shutterstock

Ada tema pembicaraan menarik yang ditawarkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada awal Desember ini, yaitu “Hancur Lebur karena Hoaks: Melawan dengan Sastra dan Humor”. Dari tema itu, kita bisa membuat dugaan bahwa salah satu musuh kita hari ini, dan mungkin musuh utama, adalah hoaks: ia membuat kita hancur lebur. Karena itu kita perlu membuat perlawanan, demi memperbaiki keadaan, dengan sastra dan humor.

Saya ingin mengambil bagian soal sastra saja sebab saya tidak memahami humor. Mengikuti tema itu, berarti kita meyakini bahwa sastra bisa diandalkan sebagai senjata perang—seperti celurit bagi orang Madura, seperti panah bagi Arjuna, seperti bambu runcing bagi para pahlawan di gapura-gapura. Ia menjadi alat memadai untuk menangkal musuh paling menyeramkan. Saya berdoa semoga ada sastrawan kita yang mampu melahirkan karya sastra pemusnah bertenaga nuklir.

Sebenarnya sudah lama orang percaya bahwa sastra memiliki kekuatan untuk menyingkirkan sesuatu atau memperbaiki apa yang keliru. Di Inggris, antara abad kelima sampai kesebelas, orang menggunakan puisi atau teks dalam bentuk puisi sebagai alat untuk menyembuhkan rematik, menyuburkan tanah, dan mengusir kawanan lebah.

Di kampung masa kecil saya di Semarang, ada teman masa remaja yang senang menggunakan karya sastra sebagai alat perjuangan dan ia menggunakannya saat jatuh cinta: ia menulis puisi, atau sesuatu yang terlihat seperti puisi, untuk menundukkan gadis pujaan hati. Kami berteman dekat dan saya membaca semua puisinya, yang ia tulis tangan di buku bersampul coklat, dan ia sering juga memamerkan surat yang ia tujukan kepada sasaran tembak. Di dalam surat-suratnya ia biasa melampirkan puisi. Bentuk puisinya kira-kira seperti contoh di bawah ini:

Semerbak harum mewangi

Umpama mawar di taman hati

Matamu berbinar indah

O dara jelita

Matahari bagi hidupku

Ombak tenang laut biru

Layar t’lah terbentang menuju pantaimu

Dengan kesastraan yang seperti itu, saya tahu bahwa teman saya sedang bertarung untuk memikat seorang gadis bernama Sumomol, yang huruf-huruf penyusun namanya digunakan untuk mengawali larik-larik puisi. Atau ia sedang memuja kekasihnya dan berjuang mempertahankan hubungan dengan menuliskan rayuan gombal yang dibentuk seperti puisi.

Kecenderungan menggunakan karya sastra sebagai alat perjuangan, sebagaimana yang dilakukan oleh teman remaja saya, masih tetap dilakukan orang hingga sekarang. Hanya bentuknya berbeda.

Pada masa sekarang, alat yang lazim digunakan adalah pantun atau parikan. Orang menggunakannya untuk mengucapkan semangat pagi atau semangat tidur atau semangat berpuasa (ketika memasuki Ramadhan), atau semangat-semangat yang lain. Para pejabat publik dan politisi senang juga menggunakan pantun untuk merebut hati orang banyak.

Itu semua hanya bentuk-bentuk perjuangan kecil, upaya-upaya individual untuk memenangi pertempuran pribadi. Ketika memasuki pembicaraan tentang melawan hoaks dengan sastra, saya membayangkan sebuah karya yang memiliki kekuatan bom atom.

Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ketika kita berpikir bahwa sebuah narasi kreatif bisa menjadi alat yang memadai untuk melakukan perlawanan sosial. Misalnya, siapa yang memiliki kekuatan besar untuk menulis sastra perlawanan? Apa gerakan pendukung yang akan memperkuat sastra sebagai alat perlawanan? Apa yang akan membuat sebuah bentuk ekspresi kreatif—sebuah produk imajinasi—menjadi lebih bertenaga dibandingkan, misalnya, retorika politik yang menyerang langsung ke jantung sasaran?

Hoaks dan sastra, kita tahu, memiliki satu kesamaan: dua-duanya produk imajinasi. Bedanya, hoaks lebih menarik bagi orang banyak dibandingkan karya sastra. Ia lebih menggugah dan lebih mengaduk-aduk emosi karena menyampaikan “fakta” yang bersentuhan langsung dengan isu keseharian orang banyak. Lebih dari itu, ia digarap untuk memberi alasan pembenar bagi kebencian dan rasa permusuhan, dan kebencian memberi makna yang signifikan bagi perasaan terpinggirkan, tersingkir, dan terzalimi.

Mengingat semua itu, seandainya hoaks dan sastra dihadapkan di medan pertempuran, saya yakin sastra akan kalah dari berbagai segi. Dari segi kecepatan produksi, sastra kalah. Dari segi kemampuan memengaruhi emosi publik, sastra kalah. Dari segi militansi dukungan publik terhadap penyebarannya, sastra kalah. Dari segi keterorganisasian, sastra kalah.

Dan satu hal lagi yang patut diingat tentang hoaks: ia juga senjata perlawanan bagi orang-orang yang, dengan alasannya sendiri, merasa sedang terzalimi dan terpinggirkan. Dengan hoaks, mereka membangun cerita tentang bahaya yang sedang mengancam kehidupan, mereka mendelegitimasi kekuasaan, dan mereka mempertahankan kebencian atau memperbesarnya dari waktu ke waktu.

Mereka memproduksi hoaks dan menyebarkannya sebagai bagian dari strategi perlawanan yang terorganisir. Di belakangnya ada ideologi tertentu, yang didukung oleh para militan; mereka melakukan mobilisasi dengan memanfaatkan sentimen dan emosi publik demi mewujudkan apa yang mereka cita-citakan—apa pun cita-cita mereka.

Karenanya, jika kita ingin menggunakan sastra sebagai alat perlawanan, mau tidak mau kita harus mempelajari pengetahuannya dan memikirkannya sebagai sebuah gerakan.

Mungkin diperlukan matakuliah tersendiri di fakultas sastra atau setidaknya kursus singkat barang tiga bulan tentang sastra sebagai alat perlawanan.

Itu usulan serius. Jika kita percaya sastra bisa menjadi alat perlawanan yang efektif, kita harus memikirkan sungguh-sungguh cara untuk menguasai pengetahuannya. Kita perlu mengasah pemikiran kritis, melakukan pembacaan dekat (close reading) terhadap setumpuk karya sastra yang pada masanya pernah menjadi alat perlawanan (secara luas termasuk film, biografi, dan karya jurnalistik), mendiskusikannya, dan memproduksi kajian-kajian akademis untuk mendukung gerakan perlawanan dengan karya sastra.

Saya pernah membaca di internet pengumuman tentang kursus semacam ini yang diadakan oleh sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, sebuah kursus tiga bulan, dengan dua atau tiga pertemuan setiap minggu.

Di dalam kursus tersebut mereka melakukan pembacaan dekat terhadap karya-karya sastra yang menyuarakan perlawanan kelompok masyarakat tertindas, misalnya Uncle Tom’s Cabinkarya Harriet Beecher-Stowe, karya-karya Nadine Gordimer yang berlatar Apartheid, karya-karya sastra yang dilahirkan oleh masyarakat Dalit, kelompok minoritas di India yang dikenal dengan sebutan kaum “untouchable”, itu karena di dalam hierarki perkastaan di India mereka adalah orang-orang yang tidak boleh disentuh dan tidak boleh menyentuh, dan lain-lain.

Mereka mendiskusikan buku-buku itu, membuat tulisan akademis tentang karya-karya sastra yang mereka diskusikan, dan mencoba mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang karya sastra sebagai alat perlawanan, termasuk membahas situasi sosial dan politik yang mendorong lahirnya karya-karya tersebut dan apa bentuk dukungan publik terhadap mereka.

Jika kita memikirkan karya sastra sebagai alat perlawanan, kita tidak mungkin memikirkan hanya seseorang menulis novel atau kumpulan cerita pendek atau puisi-puisi perlawanan. Kita perlu juga memikirkannya sebagai bagian dari sebuah gerakan, yang makin membesar, untuk mencapai keberhasilan sebagai sebuah perlawanan. Jadi, ia tidak mungkin berdiri sendiri.

Sekarang, kita coba membicarakan satu pertanyaan: Siapa yang memiliki kekuatan besar untuk menulis sastra perlawanan?

Ada beberapa penulis kita yang mendedikasikan diri sebagai agen perlawanan. Mereka mengkritik praktik-praktik keberagamaan, menyuarakan pluralisme, menyuarakan penerimaan terhadap liyan, menyuarakan kepedihan kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Secara umum, mutu kesastraannya kurang. Karya-karya perlawanan itu seperti dikerjakan oleh orang yang memiliki semangat, tetapi kurang memiliki keterampilan.

Di dalam dunia kesenian, termasuk sastra, orang meyakini satu prinsip: Tidak akan pernah ada pencapaian artistik tanpa kepengrajinan. Karya oleh orang-orang yang kurang memiliki kepengrajinan biasanya akan jatuh ke dalam dua kemungkinan: ia menjadi pamflet atau ia menjadi melodrama.

Kalaupun ada beberapa yang berhasil menjadi karya sastra bermutu, pada kesempatan pertama mereka sudah harus berbenturan dengan kenyataan bahwa masyarakat kita adalah kumpulan orang-orang yang kurang senang membaca. Artinya, dari segi dukungan publik, karya-karya sastra bermutu akan kalah jauh dibandingkan hoaks.

Sekarang, sambil menanti lahirnya sastra perlawanan yang benar-benar ampuh, saya pikir agenda terpenting kita adalah menumbuhkan perangai ilmiah atau scientific temper. Itu istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Bapak Bangsa India Jawaharlal Nehru untuk memerangi kecenderungan masyarakat India terhadap takhayul.

Saya pikir menumbuhkan perangai ilmiah adalah jalan terbaik untuk memerangi hoaks. Anda tahu bahwa hoaks seringkali dibuat dengan landasan takhayul. Dengan menumbuhkan scientific temper, kita mendorong masyarakat untuk bergairah melakukan pencarian kebenaran dan pengetahuan baru, berpikir kritis, dan selalu bersandar pada fakta yang teramati, bukan prakonsepsi, apalagi sekadar otak-atik gatuk.

Jika kita enggan melakukannya, satu-satunya yang paling memadai untuk melawan hoaks adalah hoaks juga. Maka, mari kita duduk saja menyaksikan perang besar antara dua kekuatan terorganisir yang sama-sama bersenjatakan hoaks.

A.S. Laksana, sastrawan dan jurnalis.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR