Melihat hantu di tahun baru

Ilustrasi: Apakah tahun ini adalah tahun muram?
Ilustrasi: Apakah tahun ini adalah tahun muram? | Ilkin Zeferli /Shutterstock

Konon pengalaman adalah guru terbaik; saya tidak begitu yakin akan kebenarannya. Kalaupun itu benar, mungkin kita bukan murid yang baik. Kita tidak mampu belajar dari apa yang telah terjadi di masa lalu untuk menjadi lebih baik di masa depan.

Beberapa pengalaman membuat orang mengidap trauma dan menjalani hidup dengan canggung atau selalu dihantui ketakutan. Saya termasuk yang seperti itu. Karena pengalaman buruk di tahun-tahun sebelumnya, saya merasa merinding memasuki tahun 2018, seperti kanak-kanak ketakutan membayangkan hantu di balik semak-semak pada senja hari.

Tahun ini terasa mengerikan bagi saya karena akan ada banyak pilkada. Situasi akan menjadi sangat riuh. Emosi warga akan diaduk-aduk dan orang-orang akan bertarung untuk membela para kandidat. Kecurangan akan terjadi di mana-mana; itu hal yang lazim dalam pertarungan politik.

Lalu pemilihan dilakukan, keriuhan mereda, dan mereka akan mendapatkan kepala pemerintahan yang mutunya begitu-begitu saja. Sebetulnya mereka bertikai untuk apa?

Memasuki tahun baru dengan perasaan seburuk itu membuat pikiran saya meracau tak terkendali. Ada berita tentang anak-anak yang meninggal akibat gizi buruk di Papua. Tiba-tiba saja saya diganggu pertanyaan: Apakah ada gunanya mempertahankan NKRI? Kenapa kita harus menyepakati dogma "NKRI harga mati"?

Kita tidak memerlukan persatuan untuk menjalani kehidupan yang timpang dan rendah mutunya. Kita tidak memerlukan persatuan untuk menyaksikan di satu tempat orang berfoya-foya, para politisi menjarah uang negara, sementara di beberapa tempat lain kanak-kanak meninggal karena mengidap gizi buruk.

Apa makna NKRI harga mati? Kita perlu bersatu hanya jika kita bisa melihat di depan sana ada kehidupan mulia yang hendak diwujudkan bersama. Jika yang kita lihat adalah ketimpangan, saya pikir kita tidak perlu mati-matian mempertahankan kebersatuan.

Jika hidup bersama tidak membawa kebaikan bagi semua, perceraian mungkin akan lebih baik; ia akan memberi peluang untuk lebih maju. Setiap negara akan mengurusi kemakmuran di wilayahnya sendiri yang tidak terlalu luas. Mereka akan berlomba-lomba menjadi negara-negara yang hebat.

Mereka akan menyelenggarakan pendidikan terbaik yang bisa mereka kelola sendiri. Mereka akan bisa meningkatkan mutu sumber daya manusia di negara masing-masing. Mereka akan bisa menegakkan peraturan dengan lebih baik. Mereka akan mengatur diri sendiri dalam cakupan wilayah yang tidak terlalu luas.

Melamunkan perpecahan adalah hal yang sangat tidak populer. Tetapi saya pikir tidak apa-apa membayangkan sesuatu yang berbeda. Tidak setiap persatuan adalah hal yang baik. Tidak setiap perceraian adalah hal yang buruk. Berupaya keras mempertahankan persatuan tanpa kemauan menjaga komitmen untuk sejahtera bersama-sama adalah hal yang culas.

Seorang teman mengatakan bahwa saya melihat negara ini dengan pikiran murung. Mungkin saya harus belajar mengatasi pikiran-pikiran buruk, tetapi itu sulit sekali. Nanti tahun 2018 akan berakhir dan kita memasuki 2019. Saya akan merinding lagi karena pada tahun itu ada pemilihan presiden.

Jika situasi masih sama dengan pemilihan presiden sebelumnya, dan para politisi menggunakan agama sebagai keledai tunggangan, kita akan diseret sekali lagi ke dalam situasi seolah-olah pemilihan presiden adalah perang membela agama dari gempuran aliansi jahat yang sedang berupa keras untuk membawa semua orang ke neraka.

Saya membayangkan situasinya masih akan seperti itu, sebab revolusi mental yang dijanjikan oleh Presiden Jokowi adalah janji yang gagal dipenuhi. Karena itu kita masih akan memasuki masa kampanye pada 2019 dengan mental yang kurang lebih sama saja.

Memang ada menteri koordinator urusan pembangunan manusia dan kebudayaan, tetapi saya kurang tahu apa urusan menteri tersebut dan apa yang telah dilakukannya sebagai menteri. Mungkin itu adalah kementerian yang bekerja setahun sekali pada bulan Ramadan untuk membangunkan orang-orang yang berpuasa agar tidak telat makan sahur. Jika ada urusan lain di luar menabuh beduk sahur, saya tidak pernah mendengar hal signifikan yang telah dilakukan oleh menteri urusan pembangunan manusia itu.

Tetapi rupanya saya keliru; saya kurang gigih mencari tahu sepak terjang menteri koordinator urusan pembangunan manusia dan kebudayaan. Baru beberapa hari lalu saya membaca tulisan di Kumparan berjudul: Keren, Inilah Kerja dan Prestasi Puan Maharani!

Meskipun prestasi Menteri Puan Maharani keren menurut tulisan itu, saya tetap merasa tidak ada revolusi mental sama sekali. Maksud saya, tidak mungkin ada revolusi mental tanpa ada revolusi kesadaran. Tidak mungkin ada revolusi kesadaran tanpa ada pendidikan yang baik. Dan, celakanya, pendidikan bukanlah alat revolusi; ia alat untuk memperbaiki kesadaran dan cara berpikir publik, secara pelahan-lahan mengikuti waktu alami pertumbuhan manusia dari kanak-kanak menuju dewasa.

Revolusi bisa dilakukan untuk mengganti sistem pendidikan lama dengan sistem baru. Kurikulum diganti, semua guru lama disingkirkan dan diganti dengan guru-guru baru, metode pembelajaran diperbaiki, mutu dan fasilitas pendidikan sama baiknya antara di kota-kota besar dan di pelosok yang paling jauh, dan sekolah harus menjadi tempat bagi anak-anak untuk merasakan dunia yang bahagia, dan sebagainya.

Negara tidak mungkin melakukan revolusi pendidikan semacam itu. Ia akan membutuhkan biaya besar, persiapan yang sungguh-sungguh, dan tentu saja akan menimbulkan guncangan jika dilakukan. Tetapi hal yang revolusioner memang harus dilakukan terhadap sistem persekolahan kita. Jika tidak, kita akan selamanya mendapatkan pendidikan dengan mutu yang seadanya, dengan pendekatan yang tidak diuji dan diperiksa hasilnya.

Dari sana nanti akan bermunculan kawanan-kawanan manusia dengan mutu seadanya juga. Dan, celakanya, mereka hidup dan perlu makan dan ingin juga bersenang-senang. Sebagian dari mereka akan mengisi pos-pos penting, sebagian lagi mengisi pos-pos apa pun yang tidak memerlukan kecakapan khusus sehingga bisa diisi oleh siapa saja.

Saya akan selalu sedih dengan mutu pendidikan kita. Anda bisa menguji sendiri seberapa berhasil metode belajar mengajar yang dijalankan sekolah-sekolah. Murid-murid belajar bahasa Inggris di sekolah, selama enam tahun jika pelajaran itu diberikan pada SMP dan SMA, atau lebih lama lagi jika pelajaran tersebut sudah diberikan sejak SD. Setelah bertahun-tahun belajar, kebanyakan dari murid-murid sekolah kita tidak bisa menggunakan bahasa Inggris. Jadi apa sebenarnya tujuan sekolah mengajarkan bahasa Inggris?

Jika pelajaran bahasa Inggris diberikan agar para siswa cakap berbahasa Inggris, tujuan tersebut telah gagal. Saya yakin masalahnya bukan pada murid-murid. Semua murid sudah membuktikan diri bahwa mereka bisa menguasai bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing. Artinya, tidak ada masalah dengan kemampuan mereka untuk menguasai bahasa. Tetapi kenapa pelajaran bahasa Inggris tidak membuat mereka bisa berbahasa Inggris? Pasti karena metodenya buruk.

Silakan anda melanjutkan pengujian untuk pelajaran-pelajaran lain. Saya tidak berani melanjutkannya; saya takut akan semakin ngeri membayangkan tahun berganti dan saya akan selalu memasuki tahun baru dengan perasaan seperti kanak-kanak melihat hantu.

BACA JUGA