Melupakan masa depan

Ilustrasi: anak-anak di sore hari
Ilustrasi: anak-anak di sore hari | ESB Professional /Shutterstock

Pekan lalu, saya bertemu dengan salah seorang kawan masa SMA dahulu. Kami bertemu dalam sebuah acara reuni kecil-kecilan.

Obrolan mengudara di antara kami. Dari tema perihal pernikahan sampai urusan karir. Namun, kawan saya itu mulai mengerucutkan obrolannya tentang masa depan ketika berkeluarga nanti. Saya pun melayani obrolannya dengan keengganan yang sedikit ditahan.

"Mad, jadi kapan kamu akan mulai berkeluarga?"

Sungguh, saya geli ketik mendengar pertanyaan klise yang sering kali jadi pemanis obrolan belaka. Dan tentu saja saya menjawabnya datar saja.

"Ya, mungkin masih lama. Atau bahkan mungkin juga dalam waktu dekat. Masa depan tidak ada yang tahu."

"Tapi, kamu wajib memikirkan masa depanmu, dan aku punya solusi untuk itu. Kamu tentu tak pernah tahu bagaimana masa depanmu kelak. Musibah bisa menyerang siapapun. Untuk itu, kamu perlu punya proteksi diri, sehingga kamu perlu alokasi dana khusus."

Kemudian obrolan berlanjut seperti dugaan saya. Kawan saya itu, ternyata sedang menawarkan sebuah produk asuransi. Ia mengaku, bahwa saat ini sedang bekerja sebagai agen asuransi di perusahaan asuransi yang namanya sungguh asing bagi saya. Oh, saya telah diprospek olehnya!

Menurutnya, produk asuransi yang ia tawarkan merupakan produk unggulan. Produk asuransi all in one. Asuransi kesehatan, pendidikan sampai investasi reksadana dalam satu wadah. Produknya, menurut saya, mirip sekali dengan obat herbal yang seringkali diklaim bisa mengobati segala macam jenis penyakit.

Obrolan yang harusnya lebih hangat dan karib itu berubah jadi sebuah negosiasi yang kaku. Saya diperlakukan layaknya konsumen dengan pengetahuan awam. Sedangkan kawan saya itu, berlaku layaknya salesman dengan selusin gombalan menggoda.

Pada titik itu, saya merasa kecewa dengan kawan saya. Ia telah mengaburkan hubungan pertemanan kami yang tadinya begitu cair. Penjelasannya yang agak sok tahu itu, membuat saya sebal. Lagi pula, saya juga takkan begitu sembrono dalam urusan membeli paket asuransi. Apalagi yang dipatok dengan premi mahal.

Saya bukan orang yang anti terhadap produk asuransi, namun memilih asuransi tentu harus hati-hati. Sebab, ibu dari pacar saya pernah punya pengalaman buruk dengan asuransi.

Beliau kelewat gegabah ketika menyetujui untuk membeli produk asuransi kesehatan. Tanpa terlebih dahulu membaca polish dengan teliti. Asuransi yang ia beli adalah asuransi kesehatan yang ternyata punya ketentuan khusus.

Ketika beliau harus menjalani operasi karena sebuah penyakit, biayanya tak bisa diklaim oleh asuransi tadi. Beliau, sudah terlanjur ternyata makan rayuan agen asuransinya.

Merasa kecewa dengan asuransi itu, akhirnya beliau memilih untuk menutupnya. Padahal, premi yang sudah dibayarkan selama dua tahun jumlahnya cukup besar. Beliau memilih beralih untuk memakai jasa pelayanan BPJS kesehatan yang dirasa lebih murah. Dan benar, cukup memuaskan karena bisa mencover biaya operasi tadi. Meskipun tak semuanya.

Dari pengalaman Ibu pacar saya itu, saya belajar bahwa berpikir ulang sebelum membeli asuransi itu penting. Saya tak boleh mudah terjerat dengan pengandaian-pengandaian yang sering diceritakan oleh para agen asuransi--seperti kawan saya itu. Sebab, sejatinya masa depan adalah misteri yang bisa berubah-ubah.

Kita tak pernah tahu apa isi dari masa depan. Namun, sebagian dari kita dengan begitu mantap memastikan apa saja yang terjadi di masa depan.

Misalkan, di masa depan anak anda akan kuliah dan membutuhkan banyak biaya. Maka, sejak sekarang harus dipersiapkan dengan baik. Pastikan ada alokasi khusus untuk itu.

Lalu, apakah benar kejadian di masa depan berlangsung seperti itu? Bukankah tak mustahil jika di masa depan nanti biaya kuliah mungkin saja digratiskan oleh pemerintah? (Meskipun ini masih jauh dari angan) Bukankah tak mustahil juga jika perusahaan asuransi itu bisa saja koleps dan akhirnya tak bisa membayarkan klaim kepada para nasabahnya? Semua kemungkinan bisa terjadi.

Ada pula tetangga saya yang gemar mengolok-olok para pemuda di kampung saya, yang sering terlihat nongkrong di gardu pos ronda. "Dasar, para pemuda yang tak punya masa depan", begitu selorohnya. Seolah-olah masa depannya sudah pasti aman dan selamat di pada sebuah bandara megah bernama kesuksesan. Sedangkan para pemuda itu pasti suram masa depannya. Padahal, nasib buruk bisa bebas memilih jodohnya masing-masing.

Semua kemungkinan bisa terjadi di dalam masa depan kelak. Tak ada seorang pun yang bisa menyibak kabut misteri masa depan itu sampai begitu terang benderang, kecuali Tuhan.

Masa depan seringkali justru membuat langkah kita di masa kini terseok-seok. Kita serasa memanggul beban terlalu berat. Untuk mempersiapkan masa depan, kita bahkan sering memaksakan banyak hal. Persiapan ini dan itu guna mengantisipasi nasib buruk. Bahkan, upaya ini juga bisa menghasilkan kenikmatan dan kepuasan tersendiri bagi tiap orang.

Daniel Gilbert, seorang pakar psikologi asal Amerika dan penulis buku Stumbling on Happiness (2006), pernah mengatakan bahwa temuan terbesar yang dihasilkan otak manusia bukanlah bangunan-bangunan adiluhung seperti piramida atau candi Borobudur; melainkan kemampuan manusia untuk membayangkan masa depanlah penemuan terbesar itu.

Kita juga mengenal istilah futurisme, sebuah kajian ilmu yang secara khusus mempelajari masa depan. Peter F Drucker, Alvin Toffler dan John Naibitt adalah beberapa tokoh futuris. Mereka telah terbukti berhasil meramalkan masa depan dunia. Trend yang saat ini sedang berlangsung, sedikit banyak cocok dengan ramalan mereka. Mulai dari geliat kemajuan negara-negara dunia ketiga sampai revolusi dunia digital.

Namun, yang mereka lakukan sebenarnya sangat terukur. Mereka membaca berbagai macam kecenderungan di dunia dengan modal data-data determinan. Bukan dengan asumsi-asumsi ngawur macam agen asuransi, apalagi dengan bola kristal atau kartu tarot serupa cenayang.

Banyak orang yang merasa bahwa mereka telah begitu mantap menggenggam masa depan. Padahal, mereka menggenggamnya dengan diliputi rasa ngeri dan was-was yang luar biasa.

Masa depan seolah ditunggu dan dikejar. Padahal, masa depan seringkali jadi pangkal segala jenis ketakutan. Persis seperti sabda sastrawan asal Ceko, Milan Kundera, "Dan seorang yang tidak memiliki masa depan tidak takut terhadap apapun."

Rasanya masa depan lebih asyik untuk dilupakan saja. Kita sebaiknya lebih sibuk memikirkan masa kini. Melakukan usaha maksimal tanpa begitu muluk meramalkan masa depan.

Biarkan saja masa depan jadi urusan para cenayang dan futuris--jika memang anda rela. Lupakanlah masa depan, nikmatilah masa kini. Niscaya anda takkan mudah terjerat oleh rayuan para agen asuransi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR