Membaca dan menonton kembali Wiro Sableng

Adegan pertarungan antara Mahesa Birawa (kanan, diperankan Yayan Ruhian) dan Ranaweleng (Marcell Siahaan) dalam film Wiro Sableng
Adegan pertarungan antara Mahesa Birawa (kanan, diperankan Yayan Ruhian) dan Ranaweleng (Marcell Siahaan) dalam film Wiro Sableng | /LifeLike Pictures
(Catatan redaksi: Artikel ini kemungkinan memuat bocoran dari filmnya. Mohon disikapi dengan bijak)

Dalam khazanah cerita silat (cersil) atau komik silat Indonesia, Wiro Sableng karya Bastian Tito adalah sebuah siasat yang berhasil.

Bahwa kependekaran bukanlah jalan hidup yang kelewat serius—apalagi mesti bersunyi-sunyi dan penuh kesedihan—tetapi sebuah kebaktian hidup yang bisa memancing tawa di sana-sini. Karena itu, seorang pendekar bukan hanya mesti mahir bersilat dan penuh dengan kesaktian dan berpihak kepada yang lemah, tetapi juga harus rada sinting. Pribadinya seperti berasal dari adukan antara malaikat dan orang gila.

Jika Barda Mandrawata, tokoh pendekar rekaan Ganes T.H., terkesan sangat misterius, pendiam dan cenderung sedih—salah satu sebabnya karena kekasihnya, Marni Dewiyanti, hilang dan kemudian diperisteri oleh Maung Lugai Penyapu Jagat, musuh Barda—Wiro Sableng masih bisa bercanda dalam melakoni pertualangan-pertualangan yang paling berbahaya sekalipun. Bahkan, ia bisa dengan mudah bercanda, meledek kawan atau lawannya, di tengah pertarungan yang berlangsung seru.

Dengan menempatkan ketidakwarasan—seberapa pun kadarnya—sebagai dasar penokohan Wiro Sableng—juga Sinto Gendeng, gurunya, dan Bujang Gila Tapak Sakti—Bastian Tito seperti hendak menegaskan bahwa ketidakwarasan yang selama ini dilecehkan juga bisa menjadi sumber kebijaksanaan.

Atau, jika selama ini orang gila hanya menjadi tokoh minor, kali ini tokoh yang mengidap kesintingan dan kegendengan justru memegang peran penting. Merekalah yang kemudian membasmi pendekar-pendekar dari golongan hitam dan dengan semua kebaktian itu mereka mengembalikan dunia persilatan yang kacau balau menjadi damai seperti sedia kala.

*

Meski memasang tiga pendekar yang berpredikat sableng, gendeng dan gila, cersil Wiro Sableng gubahan Bastian Tito tetaplah berada dalam arus utama cerita silat yang ada. Dalam artian, ia menggunakan jurus-jurus standar penggarapan cerita silat. Untuk membuat dirinya menarik, dunia kependekaran sebagaimana yang dialami Wiro Sableng dan pendekar sezamannya mesti mengandung beberapa hal berikut ini.

Pertama, tentu saja, balas dendam. Dalam cerita silat, balas dendam adalah motif terpenting. Polanya kurang lebih begini: Ada dua pendekar yang belajar pada guru yang sama. Satu pendekar berkhianat kepada gurunya atau bahkan membunuh gurunya. Atau, si pendekar berwatak jahat itu membunuh orang tua si pendekar berwatak baik ketika ia masih kecil. Setelah besar dan belajar berbagai ilmu silat dan kesaktian, datanglah saatnya ia membalaskan dendam guru atau keluarganya.

Ayah dan ibu Wiro Sableng dibunuh oleh kelompok pendekar jahat yang dipimpin oleh Suranyali. Suranyali itu sendiri dahulunya adalah murid Sinto Gendeng dan pernah mencoba mencuri Kapak Maut Naga Geni 212. Ia kemudian mengubah namanya menjadi Mahesa Birawa dan berkoalisi dengan para perancang kudeta di sebuah kerajaan yang didalangi oleh Werku Alit. Tugas Wiro Sableng, sebagaimana diamanatkan Sinto Gendeng, adalah membawa kembali si murid durhaka itu kepada gurunya.

Motif balas dendam ini hanya bisa terlaksana dengan baik jika si pendekar pengemban amanat penderitaan keluarga dan rakyat itu menguasai jurus-jurus silat yang mumpuni—ditambah dengan aneka kesaktian yang semaksimal mungkin tidak akan bisa ditandingi oleh lawan-lawanya. Jika perlu diberi nama-nama yang aneh, bahkan lucu. Wiro Sableng menguasai jurus Kunyuk Melempar Buah; sementara Anggini, murid Dewa Tuak, punya jurus ganas Memecah Angin Meruntuh Matahari Menghancur Rembulan.

Atau, jika jurus-jurusnya dikalahkan, si pendekar akan belajar kepada guru yang lebih sakti lagi. Lantas dengan kesaktiannya yang baru itu si pendekar membalaskan dendamnya. Dari Sinto Gendeng Wiro Sableng mewarisi kesaktian Pukulan Sinar Matahari; dari Datuk Rao Basaluang Ameh ia mendapatkan kesaktian Pukulan Harimau Dewa.

Cerita silat yang hanya menunjukkan adegan silat-menyilat atau gelanggang adu kesaktian akan terasa sangat kering dan menjadi dunia lelaki yang haus darah tetapi kesepian. Karena itu ia perlu dibubuhi soal asmara, baik yang sifatnya suka sama suka maupun asmara terlarang.

Pertualangan asmara, sebagaimana pertualangan si pendekar pada umumnya, akan menentukan perkembangan watak si pendekar di akhir cerita. Wiro Sableng yang sejak kecil hingga dewasa tampak sinting-slengekan akan terasa makin arif-bijaksana seiring bertambah usianya. Artinya, perwatakan berkembang, berkelindan dengan alur cerita.

Terakhir—dan inilah jurus yang terpenting—dunia persilatan harus mengaitkan dirinya dengan gejolak sosial-politik sezaman. Jika tidak, ia akan menjadi dunia kepahlawanan yang asyik sendiri—jika bukan apolitis. Watak mengaitkan silat dan politik sudah sejak awal muncul di Indonesia, terutama ketika para penulis Cina Peranakan menerjemahkan dan menyadur cerita-cerita silat Cina ke dalam bahasa Melayu sebelum abad ke-20.

*

Di samping jurus, kesaktian adalah sesuatu yang sangat khas dalam cerita silat, terutama yang klasik. Kesaktian adalah kekuatan adikodrati yang dikuasai para pendekar untuk menyelesaikan pelbagai masalah. Bukan rasionalitas yang penting dalam cerita silat seperti ini, tetapi semacam wahyu atau keajaiban di dunia manusia.

Fungsi kesaktian selalu sama. Ia mengatasi kesulitan tanpa bersulit-sulit. Jika sebongkah batu yang menutupi gua sulit dibongkar oleh traktor, cukuplah dihantam dengan ajian anu, batu itu langsung hancur lebur. Semacam “deus ex machina” (Tuhan yang muncul dari mesin) untuk menyelesaikan pelbagai kesulitan. Dan kesaktian itu hanya bisa dicapai atau dimiliki setelah seorang pendekar menjalani latihan atau ritual yang rumit.

Dalam tradisi sastra, fantasi atau realisme magis punya fungsi yang kurang-lebih sama. Ia dimunculkan untuk mengatasi situasi sulit atau menunjukkan kepada manusia adanya kekuatan adikodrati yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Manusia hanya bisa menerima tanpa mampu menggugatnya. Begitu rasionalitas menggugatnya, maka nalar realisme magis itu menjadi batal.

Tengoklah bagaimana hujan bunga kuning atau amnesia massal yang menyerang warga Macondo dalam novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel García Márquez. Juga, hujan katak dalam film Magnolia (1999) karya Paul Thomas Anderson. Atau sosok Ibu yang mampu menembus dinding dalam cerpen “Dinding Ibu” karya Danarto. Atau munculnya harimau jadi-jadian dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan.

*

Sebagai tafsir audiovisual yang kesekian—setelah sinetron berseri dengan judul yang sama pada 1990-an—filmWiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 besutan Angga Dwimas Sasongko, bagi saya, adalah film silat Indonesia yang istimewa—jika bukan yang terbaik. Sehabis menontonnya pada gala premiere, Senin (27/8) sore lalu, saya langsung merasa gembira. Saya kira, inilah genre film silat Indonesia yang akan menjadi standar dan memengaruhi produksi film-film sejenis di masa datang.

Film ini digarap dengan segala kesungguhan dan standar produksi internasional—itulah mengapa Lifelike Picture bekerja sama dengan 20th Century Fox—sehingga menghasilkan gambar yang indah, kualitas pemeranan yang cukup merata dan tata kelahi yang sangat khas.

Karena ini film tentang dunia persilatan (kang-ouw) maka perhatian saya yang terutama adalah pada bagaimana silat-menyilat ditampilkan. Bagi saya, tokoh pendekar yang paling menantang di sini justru Mahesa Birawa yang diperankan oleh Yayan Ruhian—di samping Lukman Sardi sebagai Werku Alit. Sebagaimana telah jadi pengetahuan umum, Yayan Ruhian adalah pesilat asal Tasikmalaya yang meraih reputasi internasional sebagai bintang film. Ia dikenal lewat sejumlah film, antara lain Merantau, The Raid (1 dan 2), dan Star Wars VII: The Force Awakens.

Jika dalam film-film silat Indonesia di masa lalu, adegan perkelahian berlangsung di alam terbuka dengan bentang alam yang indah—misalnya dalam film Dua Pendekar Pembelah Langit (1977) atau Jaka Sembung (1982)—kini adegan perkelahian berlangsung di ruang sempit: dalam hutan, celah jurang, lorong istana, bahkan di depan singgasana raja.

Sebelumnya, adegan perkelahian di ruang sempit juga kita temukan di dalam film The Raid 2 karya Gareth Evans: di kereta, penjara bahkan sebuah lorong di gedung tua. Bisa jadi Wiro Sableng dipengaruhi oleh The Raid 2—karena peran Yayan Ruhian di kedua film itu. Tampaknya, sekarang ini, adegan perkelahian di ruang sempit seperti itu sedang jadi tren. Dalam adegan-adegan perkelahian seperti itu jurus-jurus silat di antara para petarung akan lebih mudah mengena satu sama lain.

Dengan sudut pengambilan gambar jarak dekat efek pukulan atau tendangan akan lebih terasa—juga ekspresi para tokohnya. Apa lagi ditambah dengan tata suara dan efek khusus yang mengena. Kekerasan—itulah kenapa sejumlah film laga hanya boleh ditonton oleh orang dewasa—seakan-akan dirasakan langsung oleh penonton.

Kekerasan yang cenderung brutal dalam The Raid tidak akan kita temukan dalam Wiro Sableng. Meskipun adegan pertarungan antara Wiro Sableng dengan Mahesa Birawa berlangsung sangat keras dan cenderung brutal—baik di hutan maupun di depan singgasana raja—akhir pertarungan itu tidak menampilkan kekerasan yang vulgar. Setelah Mahesa Birawa dibunuh oleh Wiro Sableng, bekas tebasan kapak Naga Geni 212 terhalang oleh Wiro Sableng dan Bujang Gila Tapak Sakti.

*

Sebagaimana dalam cersil karya Bastian Tito yang menjadi dasar penggarapan ulang filmnya kali ini, humor tetaplah unsur yang penting dalam film Wiro Sableng. Efek kesintingan Wiro Sableng menyebar hampir di setiap adegan dan peristiwa. Mulai dari hubungan Wiro Sableng dengan Sinto Gendeng, pertemuan Wiro Sableng dengan Anggini dan Bujang Gila Tapak Sakti, hingga pertemuan Wiro Sableng dengan Mahesa Birawa dan akhir film ini.

Yang membuat kita tertawa pada sepak terjang Wiro Sableng, bukanlah kesintingannya semata-mata, tetapi juga anakronisme. Tetapi, yang tidak berkesesuaian dengan zaman di sini bukanlah cacat yang mesti dicemaskan, sebaliknya, sesuatu yang bisa terus-menerus dimaafkan. Kita mesti asyik-asyik saja dengan semua itu.

Tengoklah bagaimana gaya bicara Wiro Sableng yang sangat kekinian di tengah manusia Jawa yang konon hidup di Nusantara pada abad ke-16. Atau busana Bidadari Angin Timur yang seperti dibeli dari Mangga Dua.

Semua itu membuat saya tertawa—tetapi tidak mengurangi kekaguman pada pencapaian sinematografis film ini secara keseluruhan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR