Membangun fikih kebencanaan

Ilustrasi: Seorang warga melihat kondisi masjid terapung yang rusak akibat diterjang gelombang tsunami di Pantai Kampung Lere, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (25/12/2018).
Ilustrasi: Seorang warga melihat kondisi masjid terapung yang rusak akibat diterjang gelombang tsunami di Pantai Kampung Lere, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (25/12/2018). | Mohamad Hamzah /ANTARA FOTO

Belum kering air mata karena bencana di Palu, bangsa Indonesia kembali mendapat tsunami di Selat Sunda. Dilaporkan lebih dari 400 korban jiwa, puluhan masih hilang, dan 16.000 mengungsi akibat hempasan tsunami.

Semua pasti bersedih. Namun, sebenarnya bencana adalah bukti kasih sayang Tuhan kepada manusia.

Bencana bukanlah kutukan/amarah Tuhan kepada manusia. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tidak mungkin ia menurunkan bencana agar manusia sengsara.

Bencana adalah pengingat dan penanda Tuhan masih ada di tengah kita. Manusia selayaknya ingat dan kembali kepadaNya dan mempersiapkan kehidupan yang sigap bencana.

Itulah esensi bencana dalam fikih kebencanaan yang diputuskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2015. Fikih kebencanaan yang diputuskan oleh Muhammadiyah berbeda dengan apa yang ada dan muncul di media sosial hari ini.

Masih banyak masyarakat memahami bencana sebagai kutukan. Ironisnya, hal itu kemudian dihubungkan dengan perbuatan dosa manusia.

Bencana pun semakin riuh saat menjadi modal kampanye di tahun politik. Itu semua jauh dari semangat fikih kebencanaan yang digagas oleh Muhammadiyah.

Kesalehan sosial

Setidaknya ada dua hal yang perlu dikembalikan dalam pemahaman kebencanaan yang benar.

Pertama, bencana bukan karena kemaksiatan. Penyebutan bencana akibat kemaksiatan sungguh menyesakkan dada. Di tengah korban berjuang untuk keluar dari keterpurunkan, ada orang yang “menghukum” perilaku jahat sebagai penyebab bencana.

Pandangan itu seakan tidak berempati terhadap para korban. Mereka malah menyalahkan dan menghakimi korban sebagai penyebab terjadinya bencana.

Menghukum mereka sebagai pelaku dosa bukanlah sikap seorang warga negara yang baik. Penghukuman model itu seakan-akan mereka yang jauh dari radius bencana sebagai orang saleh.

Pengakuan kesalehan itu tidak ada gunanya. Pasalnya, saat ini yang dibutuhkan adalah kesalehan sosial. Yaitu, proses kebajikan yang mengalir untuk sesama.

Kesalehan inilah yang kini dinanti oleh korban bencana. Mereka perlu ditolong dengan doa, usaha, harta, tenaga, dan seterusnya. Mereka tidak butuh sumpah serapah orang yang mengaku saleh namun tidak peduli terhadap mereka yang saat ini menderita.

Korban bencana butuh uluran tangan dan penguat untuk tetap hidup. Di tengah depresi karena kehilangan orang yang dicintai dan juga harta bencana, sudah selayaknya kita berempati terhadap korban bencana. Salah satu bentuk empati itu adalah menghentikan sumpah serapah bahwa bencana muncul karena ulah manusia pendosa.

Bentuk empati lain adalah dengan tidak menyebarkan pandangan melalui media sosial bahwa bencana akibat murka Tuhan. Menghentikan kegenitan untuk menyebarkan hal-hal yang kurang tepat itu adalah bukti kesalehan sosial.

Menghentikan penyebaran perihal bencana yang tidak berdasar--walaupun dibumbui oleh ayat-ayat dalam Kitab Suci—adalah bukti komitmen kemanusiaan manusia yang adi luhur. Janganlah kita genit di tengah bencana yang silih berganti menyapa Bumi Pertiwi.

Harmoni agama dan budaya

Kedua, datangnya bencana bukan karena peristiwa sosial budaya yang dianggap berbau syirik. Acara sedekah laut adalah potret kearifan lokal yang tidak perlu dipertentangkan dengan ajaran agama.

Agama dan kebudayaan selayaknya saling menguatkan satu sama lain. Agama dan budaya merupakan kekuatan umat untuk tetap hidup di tengah keragaman yang ada.

Mempertentangkan antara agama dan budaya hanya akan semakin menjauhkan sisi kemanusiaan manusia. Manusia akan hidup di tengah kegersangan spiritual dan budaya. Manusia bahkan akan kehilangan jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang hebat. Manusia kehilangan esensi sebagai pemimpin di muka bumi (khalifah fi al-ardhi).

Oleh karena itu mari kita belajar dari fikih kebencanaan ala Muhammadiyah.

Sebagai organisasi tertua dan terbesar di Indonesia, Persyarikatan Muhammadiyah mempunyai tanggungjawab moral untuk mendidik masyarakat. Fikih kebencanaan yang lahir dari hasil Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih mengingatkan kepada masyarakat bahwa bencana merupakan cara Tuhan menyayangi manusia.

Kasih sayang itulah yang kemudian perlu kita pahami sebagai cara Tuhan untuk mendidik manusia.

Saat manusia memahami esensi bencana dengan baik, maka ia akan mempersiapkan kehidupan dengan bijak. Salah satunya dengan memahami proses mitigasi bencana. Mitigasi bencana perlu menjadi sikap hidup manusia. Memahami apa yang harus dilakukan saat bencana adalah proses penyikapan yang baik terhadap bencana.

Setelah bencana pun, manusia perlu segera bangkit. Kesedihan, kepedihan, kepiluan, cukuplah sementara. Setelah itu korban bencana perlu melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Bangkit dari bencana dengan melakukan aktivitas sosial adalah cara terbaik daripada terus bersedih dan mengharap iba/bantuan dari orang lain.

Pada akhirnya, mari memahami bencana secara bijak dan cerdas. Persepsi tentang bencana yang baik dan benar akan memudahkan masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan. Wallahu a’lam.

Benni Setiawan, dosen llmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR