Membedah isi otak para fundamentalis

© Panchenko Vladimir /Shutterstock

Indonesia sedang berada dalam darurat intoleransi. Hasil survei Wahid Institute tahun 2015 memperlihatkan bahwa intoleransi, radikalisme, dan fundamentalisme rawan terjadi di Indonesia. Hal ini merebak beberapa tahun belakangan ini.

Gejala ini semakin menggeliat kala pemilihan gubernur DKI Jakarta mendekat. Mereka juga muncul dalam pelbagai modelnya -dari penolakan lah, penistaan lah, pembubaran peribadatan lah, perihal "haram" atribut natal, pemboman rumah ibadah, hingga penghapusan pertemanan dari media sosial yang diakibatkan perbedaan pandangan beragama.

Semua perihal itu ada pada batok kepala bagian depan. Di belakang dahi kita terdapat otak bagian depan atau frontal. Bagian besar otak lainnya adalah parietal, temporal, dan occipital -berperan sebagai pusat pergerakan dan penentuan baik dan benar pada suatu tindakan. Secara spesifik, di dalamnya terdapat prefrontal cortex.

Lapisan yang menutupi hampir seluruh otak depan adalah pusat kognisi, pengambilan keputusan, dan mencerminkan perilaku sosial seseorang. Bagian ini sangat erat hubungannya pada dopamin, sebuah neurotransmitter-senyawa kimia yang menjadi penyambung sinyal pada serabut saraf di otak.

Keduanya turut dipengaruhi oleh aktivitas agama sebagai faktor lingkungan.

Agama memang erat kaitannya dengan perkembangan otak. Sekitar 500.000 tahun yang lalu lapisan terluar otak manusia -yang disebut neo cortex- mengalami perkembangan

Pakar antropologi, Robert Dunbar, menyebutkan hal itu terjadi pada manusia arkaik, homo sapiens, ketika mereka mulai mengenal agama dan bahasa.

Dalam perkembangan manusia, agama mempunyai peran vital, yang salah satunya sebagai penyejuk bagi manusia. Hal ini diperkuat oleh temuan-temuan bahwa agama dapat mengurangi tingkat stres manusia dan menurunkan tingkat bunuh diri.

Melihat manfaatannya itu, WHO kemudian mengkategorikan agama sebagai faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pada seseorang.

Agama juga menunjukkan perilaku yang luar biasa khususnya dalam aktivitas otak. Dalam esai berjudul "The Dopamine Switch Between Atheist, Believer and Fanatic", pakar neurosains Patrick McNamara menyebutkan bahwa dopamin dan prefrontal cortex telah berperan menghasilkan efek transendensi atau the god effect pada manusia. Hal itu terlihat pada produk sains dan kebudayaan.

Bahkan bukti lainnya dapat ditemukan pada para begawan perdamaian dan pemimpin dunia. Sebut saja Martin Luther King, Mahatma Gandhi, Confucius, hingga Jeanne d'Arc. Mereka adalah orang yang teguh pada tradisi keagamaan dan menjadikan keyakinannya untuk kemaslahatan umat manusia.

Prefrontal Cortex dan Dopamin

Richard Dawkins mengeluarkan pernyataan, "Keseluruhan poin utama dari keyakinan keagamaan adalah bahwa ia tidak didasarkan dari pembenaran rasional." Hal tersebut dapat dilihat dari prefrontal cortex dan dopamin.

Memang keduanya dapat melahirkan kreativitas yang luar biasa pada manusia. Namun pada ada suatu episode dapat melahirkan perilaku menyimpang atau psikotik -gangguan kejiwaan.

Seperti halnya candu, hal itu dapat juga ditemukan pada pemakai obat-obatan halusinogen LSD yang menghasilkan pengalaman religius. Obat halusinogen tersebut meningkatkan aktivitas dopamin di prefrontal cortex yang menjadikan imaji terlihat nyata.

Ketika peningkatan yang drastis tersebut mencapai titik puncaknya, akan lahirlah penyakit mental pada orang tersebut -yang disebut religious delusion oleh para pakar kejiawaan, dan merupakan gejala awal schizophrenia.

Fanatisme, radikalisme, dan intoleransi kemudian terjadi. Rasionalitas tertutup oleh gelap mata. Sisi gelap kombinasi agama-dopamin-prefrontal cortex ini juga yang turut melahirkan Jim Jones-pemimpin sekte yang bertanggung jawab bunuh diri massal di Georgetown, Aum Shinrikyo -otak pemboman gas sarin di Tokyo, hingga Al-Qaeda dengan tragedi 9/11.

Erik Asp dan para peneliti dari Rumah Sakit Iowa melakukan penelitian pada 20 pasien dengan kerusakan bilateral dan ventromedial prefrontal cortex. Semua pasien itu terafiliasi dalam aliran keagamaan tertentu.

Dari hasil tersebut, Asp merumuskan teori False Tagging, yang menyatakan bahwa orang-orang dengan pandangan dunia fundamentalis yang ekstrim menunjukkan perubahan struktural dan fungsional pada bagian dari lobus prefrontal.

Dengan metode pencitraan otak (CT Scan dan MRI), para peneliti membuktikan teori ini lewat pengukuran tingkat kekuatan otoritarianisme, fundamentalisme dan keyakinan agama di antara kelompok-kelompok pasien dengan perubahan patologis di bagian prefrontal .

Ditemukan juga gangguan fitur koordinasi dari bagian depan otak dengan amigdala, yang merupakan sepasang kumpulan serabut yang menyerupai kacang almond. Amigdala ini berperan kepada emosi dan ingatan pada manusia.

Lebih kompleksnya lagi, percobaan yang dilakukan Asp itu menyimpulkan bahwa kerusakan pada prefrontal cortex dapat menjadi sebab sekaligus juga akibat adanya pemahaman fundamentalis dan ekstrimisme dalam pandangan agama.

Selain dari agama, pandangan dogmatis lainnya dapat menghasilkan kerusakan yang sama, seperti: fasisme, prasangka, dan pandangan sosial lainnya.

Kathleen Taylor, pakar neurosains dari Universitas Oxford, memandang hal tersebut sama seperti halnya gangguan mental. Perlakuan dan terapi pada schizophrenia diterapkan juga pada fundamentalis. Hal itu diutarakan dalam sebuah persentasi penelitian di Hay Literary Festival di Wales.

Apapun itu, keliru kiranya jika agama disalahkan secara mentah-mentah dalam kelainan otak ini. Kesalahan itu terletak pada para pemeluk yang terlalu berlebihan dalam menganut agama.

Kecenderungan seseorang beragama untuk senantiasa berbuat baik hanif, ditemukan juga pada penelitian Joni Y. Sasaki dari Universitas California. Penelitian itu memperlihatkan kombinasi gen reseptor dopamin dan agama dapat menghasilkan sikap altruisme dan kecenderungan untuk kebaikan pada individu dan orang lain.

Menurut Imannuel Kant, apapun keyakinan dan kepercayaan politiknya, aktivitas moral dan kebaikan itu terjadi dari adanya rasa kewajiban yang rasional. Otak sama halnya sebuah agama: sebuah medium yang dapat digiring kepada perbuatan baik atau jahat.

Dengan meninggikan kebaikan bersama dan kemaslahatan di atas perihal dogmatis, kita dapat terhindar dari kelainan fungsi dari prefrontal cortex atau dopamin; juga halusinasi mengerikan yang menggiring pada kekerasan.

Waspadalah, kelainan otak itu dapat mengena pada sikap penolakan berkedok agama terhadap calon gubernur maupun kecintaan berlebihan terhadap calon gubernur.

Kelainan otak ini mungkin juga terlihat pada sikap reaktif nan berlebihan terhadap fatwa atribut natal, atau status media sosial yang bersifat provokatif penuh kebencian.

Dhihram Tenrisau adalah dokter gigi, pernah menerbitkan buku kumpulan tulisan berjudul "Imagine John".
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.