Membincang masa depan industri pariwisata

Ilustrasi: Wisatawan mancangegara berswafoto di Wisata Alam Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/2/2019). Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan sebanyak 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2019.
Ilustrasi: Wisatawan mancangegara berswafoto di Wisata Alam Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/2/2019). Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan sebanyak 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2019. | Raisan Al Farisi /ANTARA FOTO

Satu hal yang patut disayangkan dari debat calon presiden putaran kedua beberapa waktu lalu ialah kurangnya pembahasan terkait industri pariwisata. Hal itu lantaran pariwisata “hanya” menjadi sub-tema yang beririsan dengan tema infrastruktur. Padahal, pemerintah tengah menggadang industri pariwisata sebagai sektor unggulan penyumbang devisa negara.

Dalam skala global, performa industri pariwisata nasional terbilang belum membanggakan. Laporan berjudul Travel and Tourism: Power and Performance Report 2018 yang dirilis lembaga WorldTourism and Travel Council, menyebut industri pariwisata Indonesia berada di peringkat ke-15 dari 31 negara yang diteliti. Laporan itu menyoroti bagaimana industri pariwisata di sebuah negara berkontribusi positif pada Produk Domestik Bruto (PDB).

Seturut laporan tersebut, industri pariwisata nasional menyumbang tidak lebih dari 10 persen dari total PDB. Di level ASEAN, posisi Indonesia masih terpaut dengan Malaysia dan Singapura yang masing-masing berada di peringkat ke-11 dan 13. Industri pariwisata Malaysia tercatat menyumbang 25 persen dari PDB. Sedangkan industri pariwisata Singapura menyumbang tidak kurang dari 20 persen dari total PDB.

Di tahun 2019 ini, pemerintah mencanangkan pariwisata sebagai sektor penyumbang devisa terbesar, menggeser sektor minyak dan gas yang selama ini jadi andalan. Kunjungan turis mancanegara ditargetkan mencapai 20 juta orang dan menghasilkan tidak kurang dari 280 triliun rupiah atau menyumbang sekitar 15 persen dari PDB.

Sementara jumlah tenaga kerja yang terserap ditarget mencapai 12,6 juta orang. Dalam konteks industri pariwisata global, Indonesia menargetkan masuk jajaran 10 besar negara penghasil devisa pariwisata terbesar.

Untuk mewujudkannya, pemerintah melakukan sejumlah langkah strategis. Mulai dari pembangunan infrastruktur, pengembangan destinasi wisata melalui program “10 Bali Baru” sampai pembebasan visa bagi wisatawan mancanegara. Namun, harus diakui langkah strategis itu belum efektif mewujudkan target tersebut. Kebijakan pembebasan visa bahkan akhirnya harus ditinjau ulang karena sarat penyimpangan.

Salah satu yang menyebabkan industri pariwisata nasional sulit mencapai target ialah karena pemerintah cenderung hanya fokus menggarap sektor industri mass tourism. Padahal, seharusnya pemerintah juga mengembangkan dua sektor lainnya, yakni thematic tourism dan special interest tourism.

Mass tourism adalah pariwisata yang mengandalkan destinasi wisata berupa keindahan alam dan peninggalan sejarah yang terkenal. Sedangkan, thematic tourism adalah pariwisata yang menggabungkan obyek wisata alam, bangunan bersejarah dengan layanan lain. Contohnya, Tiongkok belakangan mengembangkan industri wisata yang menggabungkan perjalanan wisata dan pengobatan alternatif.

Terakhir, special interest tourism adalah pariwisata yang membidik segmen wisatawan dengan minat khusus. Sektor ini cenderung tidak memiliki pasar yang luas, namun efektif untuk memberikan semacam engagement bagi dunia pariwisata. Dalam konteks ini kita bisa menyebut perhelatan olahraga -seperti olimpiade atau piala dunia- juga pertunjukan atau festival musik berskala internasional sebagai bagian dari special interest tourism.

Pariwisata alternatif

Salah satu bentukspecial interest tourism yang potensial dikembangkan di Indonesia adalah pariwisata musik (music tourism). Sederhananya, pariwisata musik adalah aktivitas pariwisata yang menjadikan pertunjukan musik sebagai salah satu komoditasnya.

Seperti lazim diketahui, Indonesia adalah negara dengan konsumsi budaya populer, terutama musik yang nisbi tinggi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertunjukan atau festival musik berskala internasional dari berbagai macam genre musik yang dihelat saban tahunnya.

Salah satunya ialah Java Jazz Festival (JJF). Pertama kali dihelat pada 2005, JJF merupakan pionir festival musik berskala internasional di Indonesia. Selain menampilkan musisi jazz kaliber dunia, JFF juga mampu menggaet penonton lokal dan internasional dalam jumlah fantastis.

Debut JJF ditonton oleh 47.000 orang. Jumlah itu terus meningkat menjadi 52.000 orang pada tahun 2006, lalu menjadi 60.500 pada tahun 2007. Puncaknya pada tahun 2014, JJF tercatat ditonton oleh 114. 000 orang. Tahun ini, JJF yang memasuki tahun penyelenggaraan ke-15 berhasil menjual sebanyak 110.000 lembar tiket. Pihak JFF mengklaim 3 persen dari total penonton tersebut berasal dari luar negeri, terutama Malaysia dan Singapura.

Tidak kalah spektakuler dari JFF adalah gelaran Djakarta Warehouse Project(DWP), festival musik elektronik terbesar di Asia. Acara yang diadakan setiap tahun ini rata-rata ditonton oleh 90.000 orang yang tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga negara-negara di kawasan ASIA.

Selain JJF dan DWP, sejumlah festival musik berskala internasional juga rutin digelar. Di kancah musik metal ada Hammersonic Festival. Dengan banyaknya jumlah penampil dan penonton, festival ini diklaim sebagai festival rock-metal terbesar se-ASEAN. Pada penyelenggarannya tahun 2017 lalu, festival ini ditonton oleh 30.000 orang.

Selain Hammersonic, Indonesia juga memiliki sejumlah festival musik rock-metal berskala internasional lain seperti Rock in Solo, Rock in Borneo, Jogjarockarta dan Soundrenaline. Semua festival itu rata-rata ditonton oleh 10.000 penonton dengan harga tiket mulai 150 hingga 500 ribu rupiah.

Di luar itu, sejumlah band dan penyanyi luar negeri juga menggelar konser di Indonesia. Sejumlah nama besar dalam jagad hiburan internasional seperti dari Justine Bieber, Celine Dion, Super Junior, Guns N’ Roses, Bon Jovi, Metallica dan lainnya pernah menyambangi Indonesia. Tiket pertunjukan mereka selalu habis di menit-menit awal penjualan meski dibanderol harga ratusan hingga jutaan rupiah.

Sebagai catatan, tiket konser Celine Dion Juli dijual paling mahal seharga 25 juta rupiah. Sementara konser Metallica di Stadion Gelora Bung Karno pada tahun 2013 lalu ditonton tidak kurang dari 60.000 penonton. Di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 5 persen, industri hiburan dalam bentuk festival dan pertunjukan musik justru menunjukkan performa yang menjanjikan di masa depan.

Terlebih jika melihat jumlah kelas menengah yang mengalami pertumbuhan signifikan. Tahun 2016, World Bank memprediksikan populasi kelas menengah Indonesia di tahun 2040 akan tembus 200 juta jiwa. Seperti kita tahu, kelas menengah dicirikan dengan perilaku konsumsinya yang berorientasi pada kesenangan dan pengalaman.

Pada titik inilah penting bagi pemerintah untuk mengelola secara serius potensi pariwisata musik. Salah satu kontribusi pariwisata musik bagi industri pariwisata nasional adalah mengubah citra negatif Indonesia di dunia internasional. Harus diakui, penyebab rendahnya kunjungan turis mancanegara ke Indonesia adalah kadung melekatnya citra buruk Indonesia sebagai negara yang rawan bencana alam, endemik penyakit dan serangan terorisme.

Meski tidak bisa menjadi sarana efektif untuk mendatangkan turis mancanegara dalam jumlah besar ke Indonesia, pertunjukan atau festival musik berskala internasional kiranya bisa menjadi semacam bagian dari kekuatan yang mengagregasi pertumbuhan industri pariwisata nasional secara keseluruhan.

Siti Nurul Hidayah, peneliti pada Center for the Study of Society and Transformation.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR