Memburu sorga di Puncak

Ilustrasi: Suasana kemacetan kendaraan di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Minggu (31/12).
Ilustrasi: Suasana kemacetan kendaraan di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Minggu (31/12).
© Yulius Satria Wijaya. /ANTARAFOTO

Sejatinya, mata warga Jakarta adalah mata pemuja keindahan. Mereka perlu piknik.

Di kota pantai yang datar--semrawut dan salah urus--warganya ingin kembali menikmati pemandangan nostalgis, semacam anasir trimurti dalam lukisan gaya Hindia Molek (Mooi Indie): gunung, sawah, langit. Langit yang satu itu masih tetap biru--tidak jarang kelabu polutif, tak mengenakan hati. Sementara gunung dan sawah tinggal nama: Gunung Sahari (Jakarta Utara), Gunung (Jakarta Selatan), Kampung Gunung (Jakarta Barat); Srengseng Sawah (Jakarta Selatan), Sawah Lio (Jakarta Barat).

Namun, mereka ingin tetap menikmati gunung dan sawah--bahkan, dengan taburan kunang-kunang di atasnya ketika hari gelap sepenuhnya. Maka berduyun-duyunlah mereka ke kawasan Puncak, Jawa Barat, dengan kendaraan pribadi maupun carteran. Atau, ke tempat piknik mana saja yang bisa dijangkau. Maka macet-totallah ruas-ruas jalan ke sana; tumpah ruahlah mereka di sana.

Sementara mereka yang bertahan di kota menghibur diri dengan kembang api dan musik. Di kawasan Monas dan Ancol mereka berkumpul, merayakan apa yang telah jadi rutin: malam Tahun Baru.

Sebelum rezim Orde Baru yang gemar melarang ini melarang itu, perayaan Cap Go Meh adalah pesta yang tak kalah meriah. Orang-orang menyesaki di jalanan. Mulai dari Glodok hingga ke Senen. Rupa-rupa tingkah: Yang ngebir hingga nyungsep ada, yang ngibing sembari merem-melek banyak, yang berkelahi antargeng juga bisa. Tapi hiburan semacam topeng dan barongsay jalan terus. Hingga pagi tiba.

Setelah Reformasi, meski perayaan Cap Go Meh sudah dibolehkan lagi--dengan arak-arakan dari Vihara Dharma Bhakti ke Vihara Dharma Jaya di kawasan Petak Sembilan--perayaannya yang meriah seperti dulu tidak bisa pulih kembali. Ada unsur traumatik yang tidak ikut terpulihkan.

Di kawasan Puncak, mereka yang hendak menikmati pergantian tahun dengan bermacet-macet ria bukan hanya warga Jakarta dan setempat, tetapi juga orang-orang Arab yang datang dari negara-negara Timur Tengah. Seakan-akan kawasan itu adalah koloni baru negeri petrodolar.

Apa yang mereka cari di sana? Tentu saja keindahan sorgawi. Tetapi nanti dulu.

Berpapasan dengan mereka dalam perjalanan pulang dari Cipanas ke Jakarta pada awal tahun baru lalu saya selalu tergelitik membandingkan mereka dengan komunitas Arab yang ada di Jakarta. Terutama di zaman Belanda dulu--masa yang hanya bisa saya masuki melalui arsip--ketika Jakarta masih bernama Batavia, orang setempat dan Cina Peranakan menyebutnya "Betawi".

Menurut telaah L.W.C. van den Berg, komunitas Arab termasuk golongan Timur Asing yang memainkan peran penting di Nusantara, bahkan hingga hari ini. Mereka menguasai politik, perdagangan dan penyebaran agama Islam. Terkait yang terakhir ini ada seloroh dan saya kira benar. Tanpa orang Arab, hak cipta monoteisme Ibrahimis bisa dicabut.

Dua ulama Arab karismatik yang terpenting: Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya, ahli fikih terkenal dan pengarang Kitab Al-Qawanin al-Syar'iyyah, atau Sayyid Ali bin Abdurrahman Alhabsyi pengarang kitab Al-Azhar Al-Wardiyyah fi As-Shuurah An-Nabawiyyah.

G.F. Fijper, murid Snouck Hurgronje, yang banyak meneliti perkembangan Islam di Hindia Belanda sepanjang dasawarsa 1930-an, punya ilustrasi menarik tentang peran komunitas Arab terkait perayaan Isra Mikraj di Pekojan--salah satu kawasan komunitas Arab yang terpenting di Batavia. Sayyid Ali bin Abdurrahman Alhabsyi dari Kwitang itu memimpin acara yang dihadiri lebih dari tiga ribu pengunjung dari kalangan Arab dan bumiputra. Suasananya khusyuk, khidmat dan sederhana.

Kini dakwah Islamiyah tidak bisa sesederhana itu. Para pengunjung tidak berjalan kaki atau naik trem atau becak, tetapi mengendarai motor, kadang tanpa helm. Atau membawa helm, tetapi dimasukkan ke tangan kanan, seakan-akan, jika dikenakan helm itu akan mencederai peci putih mereka. Mereka beseragam putih-putih dan mengibarkan bendera besar bergambar pedang bersilang dan kalimat syahadat. Upaya menuju situasi yang khusyuk-agamis diawali dan diakhiri dengan hingar-bingar konvoi motor.

Galibnya demonstrasi, selalu ada unsur "show of force" di sana.

Meski terlihat sangat bertolak belakang, selalu ada katarsis dalam pengajian dan pelesiran. Dalam pengajian kita membayangkan nikmat sorga yang dijanjikan. Sementara, dalam pelesiran kita menemukan kembali sorga yang hilang. Orientasi yang pertama terkesan sangat ukhrawi-baka, yang kedua melulu duniawi-fana. Pula, kedua-duanya digerakkan oleh modal alias fulus.

Dan golongan kedua ini--sebagaimana warga Jakarta yang bosan dengan kotanya sendiri--menemukan sorga tropis di Puncak. Terutama untuk tuan-tuan Arab itu: restoran bermenu arab dan setempat, biro wisata, hotel mewah, tempat rekreasi, juga kawin mut'ah. Bukan sekali dua media massa memberitakan tentang sindikat penghulu palsu yang memfasilitasi "kawin kontrak" ini. Di masyarakat setempat statusnya jadi TST (tahu sama tahu).

Ada simbiosis di antara mereka. Apakah itu mutualisme atau parasitisme, tergantung sudut pandang yang punya kepentingan.

Namun, memburu sorga tropis di tempat dan waktu yang bersamaan adalah absurd. Sudah lama dikeluhkan bahwa daya dukung kawasan Puncak sudah sangat menghawatirkan. Terutama karena pemukiman, rumah pribadi dan vila, yang terus merambah kaki gunung dan hutan, merusak sumber air, tumpang tindih antara pemukiman dan kegiatan bisnis, prasarana jalan yang tidak lagi memadai hingga kolusi pebisnis dan pejabat lokal.

Begitulah, pada malam pergantian tahun 2017 ke 2018 itu kami meletuskan juga kembang api ke langit jernih dengan bunyi yang riuh dan bersahut-sahutan--ketika nyala kunang-kunang perlahan-lahan lindap. Angkasa seperti diciprati oleh cat aneka warna dengan geometri yang sangat terukur. Bersama lenyapnya nyala terakhir kembang api kami berharap masih ada kebaikan pada tahun yang baru saja bermula.

Menatap pagi pertama 2018 di sebuah desa di kaki bukit Batu Kasur, Cipanas, adalah momen yang ironis dan mengharukan. Rasanya kebun-kebun sayur di kawasan itu sebentar lagi akan dihabisi oleh pemukiman dari pengembang bermodal besar. Keindahan sorga tropis di kawasan ini perlahan-lahan akan lenyap--juga di kawasan lain dengan keterancaman yang sama. Mungkin kelak kami masih akan menatap langit yang sama, tetapi dengan bentang alam yang berubah sama sekali.

Sebabnya saya kira sederhana. Pada manusia modern hari ini selalu ada hasrat penaklukan terhadap alam. Sebagai sesuatu yang terberi alam harus didudukkan dalam perspektif kepentingan manusia yang rakus akan segalanya. Konon dari situlah muncul kebudayaan. Dari nature ke culture.

Dalam lingkup yang lebih pragmatis dan sementara, orang-orang itu sebenarnya ingin menikmati sorga tropis secara berjamaah dan sama-sama terperangkap dalam euforia malam Tahun Baru. Di sorga tropis itu mereka ingin tinggal selama mungkin, baik dengan membeli atau menyewa, sebelum akhirnya kembali ke kota asal dengan keruwetan yang tidak banyak berubah. Mereka tidak ingin keindahan itu sekadar fatamorgana sebagaimana sumber air di mata Hajar.

Akhirul kalam, yang indah adalah juga sumbu bencana yang siap meledak. Sorga tropis itu tengah bergerak menjadi neraka dunia.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.