Memetakan burung, menyatukan nusantara

Foto ilustrasi burung-burung sebagai salah satu keanekaragaman hayati.
Foto ilustrasi burung-burung sebagai salah satu keanekaragaman hayati. | Pixabay

Peta keanekaragaman hayati wajib dimiliki setiap negara, terutama negara yang kaya akan keanekaragaman hayati seperti Indonesia. Peta tersebut penting untuk mengelola kekayaan alam sebuah negara. Dengan keanekaragaman jenis satwa burung terbesar keempat di dunia setelah Kolumbia, Peru, dan Brasil, Indonesia sudah seharusnya memiliki peta sebaran semua jenis burung.

Peta tersebut bisa digabungkan menjadi satu dalam sebuah atlas yang kemudian dapat dijadikan salah satu referensi utama dalam upaya mengelola keanekaragaman jenis burung di Indonesia. Ironisnya hingga saat ini Indonesia belum memiliki atlas burung seperti yang dimaksud.

Pembuatan atlas burung adalah salah satu agenda pembahasan Konferensi Nasional Peneliti dan Pengamat Burung di Indonesia yang kedua, yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 4-6 Februari 2016.

Dalam konferensi yang dihadiri oleh sekitar 300 peneliti dan pengamat burung tersebut, dibahas berbagai hal, dari burung di habitat alami dan di habitat yang dimodifikasi, burung dan manusia, metoda penelitian, perburuan dan perdagangan burung, hingga pembuatan atlas burung.

Sejak awal 1990-an di Indonesia, telah bermunculan para pengamat burung (birdwatcher) di Indonesia, dan pertumbuhan jumlah pengamat burung tersebut mulai memuncak pada awal tahun 2000-an. Jika pada awal tahun 1980-an hanya ada kurang dari 10 kelompok pengamat burung, sekarang ada sekitar 90an kelompok yang tersebar di seluruh Indonesia.

Walaupun jumlahnya masih minim untuk ukuran negara seluas dan sekaya Indonesia, tetapi energi yang tumbuh ini sudah dapat menjadi bibit bagi munculnya gerakan citizen science untuk melestarikan burung di alam. Terbukti dalam Konferensi Nasional Peneliti dan Pengamat Burung di Indonesia yang kedua tersebut, sesi mengenai pembuatan atlas burung paling ramai diminati, bahkan terus berlanjut hingga konferensi selesai.

Saat ini, upaya pembuatan atlas burung yang idenya sudah mulai muncul mulai 2013, telah mampu menghimpun lebih dari 8.000 catatan (records) untuk 649 jenis burung, yang datanya berasal dari 1.800-an relawan kontributor. Kegiatan yang lantas diberi tag-line "Memetakan Burung, Menyatukan Nusantara" ini memang kegiatan berbasis relawan (voluntary based), dan bisa dikatakan inilah kegiatan sukarela terbesar di Indonesia sampai saat ini yang berkaitan dengan upaya pelestarian burung di alam.

Kemampuan para pengamat burung Indonesia sudah tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Kontribusi mereka dalam perkembangan dunia ornithologi (ilmu yang mempelajari tentang burung) di Indonesia tampak jelas dari makalah-makalah yang disajikan dalam Konferensi Nasional Peneliti dan Pengamat Burung di Indonesia yang kedua.

Sebagian besar pengamat burung ini berlatar belakang ilmu pengetahuan alam (biologi dan kehutanan), tetapi banyak juga dari mereka yang berlatar belakang ilmu-ilmu lain. Pengamat burung air yang dianggap terbaik di Indonesia saat ini justru berlatar belakang ilmu teknik. Ada pula yang berprofesi sebagai jaksa tetapi piawai dalam pengamatan burung di hutan.

Dari segi usia mereka juga sangat beragam. Pemakalah termuda dalam konferensi kali ini baru berumur 12 tahun dan ia dengan fasih memaparkan hasil pengamatannya di dua lokasi dengan habitat yang telah dimodifikasi.

Pemakalah termuda ini, Mikail Kaysan Leksmana, menjelaskan bahwa ia bermaksud memetakan burung-burung di sekitar rumahnya, serta melihat apa saja yang memengaruhinya sebagai kegiatan pribadinya (personal project) pada 2016. Sesuatu hal yang tampaknya sederhana, tetapi masih amat sangat jarang dilakukan di Indonesia.

Justru kegiatan-kegiatan sederhana seperti inilah yang sangat diperlukan untuk menjawab pertanyaan sangat mendasar, kita punya apa, berapa banyak dan di mana saja adanya, sebelum membuat pernyataan bahwa negara kita sangat kaya dengan keanekaragaman hayati.

Lantas, apa yang hendak diperoleh dari pembuatan atlas burung tersebut, selain sebagai wadah penampung data yang dihasilkan oleh para pengamat burung di Indonesia? Seperti telah disebutkan di atas, atlas ini dapat menjadi salah satu referensi utama dalam upaya pengelolaan keanekaragaman jenis burung di Indonesia.

Syarat utama dalam pengelolaan keanekaragaman hayati (termasuk burung) adalah mengetahui apa saja yang dimiliki dan di mana letaknya.

Peta jenis burung dan di mana saja lokasinya menjadi sangat penting, terutama jika ada keterbatasan sumberdaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Dengan mengetahui jenis dan lokasinya, kita dapat memutuskan keanekaragaman hayati mana atau daerah mana yang perlu mendapat prioritas.

Kita juga dapat menentukan apa saja jenis keanekaragaman hayati yang terancam punah dan layak diberi prioritas dibandingkan dengan keanekaragaman hayati yang masih "aman". Kita juga dapat menentukan daerah mana saja yang mempunyai keanekaragaman hayati yang terancam punah, unik, dan layak mendapat prioritas dibanding daerah yang masih atau sudah "aman".

Indonesia dilimpahi kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi tetapi memiliki sumberdaya untuk upaya pelestarian alam yang relatif kecil (baik jumlah dana maupun jumlah orang/ahli). Adanya atlas burung menjadi sangat penting sebagai alat untuk membantu para pengambil keputusan dalam mengalokasikan sumber daya bagi upaya pelesatrian burung di alam.

Hingga saat ini Indonesia belum tuntas mengetahui apa saja kekayaan burung yang dimiliki, serta di mana saja letaknya. Eksplorasi ilmiah yang dilakukan jumlahnya juga masih sangat terbatas dengan berbagai alasan. Sementara ada ribuan pengamat burung yang peduli dan memiliki kemampuan untuk membantu yang menutupi kekurangan tersebut melalui gerakan citizen science, seperti halnya pembuatan Atlas Burung Indonesia.

Walaupun relatif masih baru dan yang terlibat juga relatif masih sedikit dibandingkan dengan luas wilayah yang harus dicakup serta begitu banyaknya jenis burung di Indonesia, tetapi sudah ada beberapa peta yang bisa dikatakan jadi dan siap dilepas untuk dimanfaatkan oleh siapa pun yang memerlukannya.

Peta distribusi Elang jawa misalnya. Sang Garuda yang hanya terdapat di Pulau Jawa ini data penyebarannya bisa dikatakan telah lengkap, demikian pula dengan data beberapa jenis burung endemik Indonesia (jenis burung yang di dunia hanya ada di Indonesia saja), seperti Gelatik jawa, Trulek jawa, Jalak bali, Sikatan damar, dan Seriwang sangihe.

Selain untuk memperkuat data dan menambah pengetahuan, kegiatan Atlas Burung Indonesia yang diikuti para relawan pengamat maupun peneliti burung ini diharapkan mampu menjadi ajang pertukaran data, pengetahuan dan gagasan.

Kegiatan seperti ini diharapkan mampu menyatukan para peneliti dan pengamat burung di Indonesia yang pada akhirnya dapat memberikan sumbangan nyata bagi upaya pelestarian alam, khususnya burung, di Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR