Menakar ulang selera humor kita

Ilustrasi: Potret seniman mime.
Ilustrasi: Potret seniman mime.
© Kiselev Andrey Valerevich /Shutterstock

Joshua Suherman dan Ge Pamungkas sontak menjadi perbincangan warganet belakangan ini. Musababnya adalah video penampilan lawakan tunggal mereka yang dinilai beberapa pihak menghina Islam.

Dalam video yang sempat viral di media sosial, Joshua tampak tengah melucu dengan membandingkan popularitas dua mantan anggota girlband Cherrybelle. Dengan maksud berseloroh, Joshua mengatakan bahwa Annisa jauh lebih populer dari Cherly yang notabene adalah leader grup tersebut, lantaran Annisa beragama Islam.

Di video yang lain, Ge Pamungkas membandingkan tanggapan masyarakat pengguna media sosial atas banjir Jakarta. Menurut Ge, ada perbedaan cara pandang masyarakat menanggapi bencana banjir Jakarta di masa Ahok dan penggantinya. Di masa Ahok, banjir dianggap sebagai azab dari Allah, sementara di era gubernur setelahnya, banjir dianggap sebagai cobaan dari Allah.

Tidak dinyana, ujaran tersebut ditanggapi beragam oleh masyarakat. Sebagian menilainya sebagai sebuah bentuk satire yang cerdas. Namun sebagian lainnya bersikap reaktif dan menganggapnya sebagai satu serangan terhadap Islam. Puncaknya, Joshua dan Ge dilaporkan ke Polisi atas tuduhan penistaan terhadap agama.

Jejak Sejarah Humor

Humor punya riwayat panjang dalam kehidupan manusia. Pada masa Yunani Kuno, para filosof berkeyakinan bahwa suasana hati manusia ditentukan oleh empat macam cairan dalam tubuh, yakni darah (sanguis), lendir (phlegm), empedu kuning (chloer) dan empedu hitam (melancholy). Cairan itu dalam bahasa latin disebut umor. Konon, dari sanalah istilah humor berawal.

Namun, jika merujuk pada kondisi sekarang, makna humor dalam tafsiran Yunani Klasik itu agaknya tidak lagi relevan. Kini, masyarakat mengenal humor sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kelucuan, kegelian dan kejenakaan. Humor bisa jadi adalah satu dari sedikit hal yang mampu mengalihkan manusia dari kerasnya kehidupan.

Sebagai produk seni populer, humor diyakini pertama kali berkembang di kawasan Eropa, terutama Inggris di abad ke-XVII. Di masa itu, humor berkembang dalam bentuk teater satire. Humor diterima antusias oleh publik kelas menengah Eropa di masa awal industrialisme yang sudah bosan dengan seni opera yang cenderung kaku dan formal.

Pada rentang sejarah selanjutnya, humor berkembang ke dalam jenis dan gaya yang bermacam-macam. Hari ini kita mengenal berbagai macam jenis humor mulai dari humor slaptick, satire, sarkasme, absurd sampai humor sensual. Cara penyampaiannya pun mengalami evolusi. Salah satu yang belakangan populer adalah gaya komedi tunggal (stand up comedy).

Tujuan humor pun kini tidak lagi sebatas menjadi media menyampaikan kelucuan. Lebih dari itu, humor juga kerapkali dijadikan alat untuk melakukan kritik dan perlawanan atas situasi sosial-politik yang dirasa timpang. Dalam artikelnya berjudul "Melawan Melalui Humor" (Pindai: 2015), Tri Agus Siswowinarjo menyatakan bahwa ketika masyarakat mengalami tekanan dan tidak mampu atau kalah dalam upaya perlawanan, humor biasanya muncul sebagai alternatif. Menjadi wajar jika dalam situasi sosial yang jauh dari keterbukaan, humor-humor satire yang cerdas justru tumbuh subur.

Dalam konteks ini kita tentu ingat mendiang Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh yang menjadikan humor sebagai sarana refleksi dan kritik sosial. Di masa kekuasaan Suharto, ketika kritik dalam bentuk pemikiran ilmiah atau gerakan sosial selalu terbentur tembok-tembok kekuasaan, humor menjadi saluran perlawanan paling efektif.

Humor dan Realitas Sosial

Giselinde Kuipers dalam buku Good Humor, Bad Taste: The Sociology of Jokes menuturkan bahwa humor tidak pernah netral atau berdiri sendiri. Sebagai budaya, humor selalu berkelindan dengan realitas sosial, budaya dan politik yang melingkupinya. Menjadi wajar jika humor yang berkembang dalam masyarakat mengalami evolusi dan perbedaan tergantung konteks masyarakatnya.

Misalnya, bagi masyarakat Amerika Serikat, genre humor sarkastik yang kasar cenderung dapat diterima. Hal ini dapat dilihat dari film-film Hollywood bertema komedi sarkastik yang nyaris selalu diterima publik Amerika. Namun, dalam konteks masyarakat non-Amerika Serikat, jenis komedi sarkastik cenderung tidak dapat diterima.

Begitu pula dengan masyarakat di kawasan Skandinavia yang akrab dengan komedi bergaya muram (dark comedy). Jenis komedi yang justru menitikberatkan kesedihan sebagai bahan kelucuan ini umumnya tidak populer di kawasan lain. Rams, film bergenre dark comedy garapan sutradara Nordik, Grimur Hakonarson, nyataya gagal memantik tawa penonton yang tidak paham selera humor masyarakat skandinavian.

Sederhananya, preferensi masyarakat atas humor selalu dipengaruhi oleh latar sosial-politik, kondisi geografis (seperti pada dark comedy yang dipengaruhi iklim kawasan Skandinavia yang dingin dan gelap) serta selera. Selera, bagaimana pun juga bukanlah satu hal yang kebetulan.

Dalam pandangan sosiolog Pierre Bourdieu, selera estetis pada dasarnya merupakan sesuatu yang dikonstruksi secara sosial dalam ruang sejarah yang konkret. Apa yang menurut orang pantas dibaca, dilihat atau dalam lingkup luas diapresiasi, tidak semata-mata merujuk pada rasionalitas murni alias tanpa kepentingan. Selera, dibentuk oleh latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi dan kesadaran sosial seseorang.

Teori Bourdieu tersebut agaknya relevan untuk menjelaskan mengapa komedi acapkali disalahpahami; bukan dianggap sebagai lawakan, alih-alih hinaan. Di masyarakat yang berlatar belakang pendidikan dan tingkat kesejahteraan ekonomi yang boleh dibilang tinggi, jenis komedi yang digemari umumnya lebih beragam. Humor cerdas bergaya satire yang membutuhkan pemikiran dan perenungan untuk bisa sekedar tertawa cenderung diterima masyarakat.

Sebaliknya, di tengah masyarakat yang tingkat melek pendidikannya rendah, ditambah tingkat kesejahteraan ekonominya buruk, jenis komedi yang berkembang pun umumnya tidak variatif alias sewarna. Model lawakan slaptick yang tidak butuh banyak berpikir untuk bisa tertawa kemudian menjadi primadona.

Hal itu pula yang terjadi dalam konteks Indonesia. Masyarakat kita seolah sudah memiliki patron bahwa lawakan yang lucu adalah slaptick. Saling dorong hingga jatuh, melumuri wajah dengan tepung sampai membuka aib lawan main dianggap sebagai sesuatu yang lucu, pantas ditertawakan dan menghibur. Tempo hari kita secara antusias membaca dan menyebarkan ulang cerita-cerita lucu ala Mukidi, dengan tanpa sadar bahwa sebagian di antaranya berbau seksisme.

Kemunculan lawakan tunggal (stand up comedy) yang beberapa tahun terakhir ini populer sebenarnya cukup membawa angin segar dunia lawakan Indonesia. Masyarakat kini memiliki pilihan lain untuk menghibur diri, tidak hanya ditawari lelucon slaptick murahan. Sayangnya, langgam lawakan tunggal ini cenderung segmented; hanya populer di kalangan kelas menengah terdidik saja.

Tidak jarang pula, materi lawakan tunggal disalahpahami masyarakat. Kasus yang menimpa Joshua dan Ge adalah manifestasi bagaimana sebagian masyarakat gagal menangkap esensi dari materi lawakan yang disampaikan. Lawakan Joshua tampak jelas hanyalah bentuk satire dari arogansi mayoritas, yang dalam hal ini adalah komunitas Islam. Sementara Ge memyentil hilangnya rasionalitas masyarakat dalam melihat bencana alam.

Diakui atau tidak, apa yang disampaikan mereka berdua adalah representasi dari realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Jadi, alih-alih memperkarakan lawakan mereka berdua, alangkah baiknya untuk menakar ulang selera humor kita.

Seperti ungkapan Aristophanes (450 SM-385 SM) yang dijuluki Bapak Komedi, "Comedy too can sometimes discern what is right. I shall not please but I shall say what is true".

Pada satu titik, komedi memang kadangkala tidak menyenangkan; bahkan acap membuat panas telinga, namun bisa jadi itu benar adanya.

Nurrochman, dosen dan mahasiswa S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.