Mencari Taylor Swift asal Indonesia

Ilustrasi: Taylor Swift pentas di Westfield Shepherd's Bush, London. (6/11/2012)
Ilustrasi: Taylor Swift pentas di Westfield Shepherd's Bush, London. (6/11/2012) | Steve Vas /Featureflash Photo Agency/Shutterstock

Taylor Swift diduga memengaruhi kenaikan angka pemilih pemula untuk mengikuti pemilihan anggota legislatif di negara bagian Tennessee, Amerika Serikat. Sejak Taylor Swift mengunggah soal dukungan politiknya, kurun waktu 24 jam, sebanyak 65 ribu orang mendaftarkan diri sebagai pemilih di laman advokasi pemilu Vote.org.

Secara blak-blakan, Taylor Swift menilai misi dari calon anggota legislatif, baik Partai Republik maupun Partai Demokrat, di akun Instagram miliknya. Persoalan hak asasi manusia menjadi dasar pertimbangan Taylor Swift memutuskan untuk mendukung kandidat dari Partai Demokrat.

Bukannya tanpa risiko seorang musisi kelas dunia seperti Taylor Swift berani melawan arus utama. Presiden Donald Trump merespons cepat sikap Taylor Swift yang mendukung partai oposisi pemerintahannya, dengan juga mengunggah soal respeknya terhadap musik Taylor Swift yang kini tersisa 25% saja.

Tampaknya, pemikiran liberal yang menjiwai warga Amerika Serikat tidak terlalu mempersoalkan reaksi Sang Presiden. Setelahnya, Taylor Swift malah memperoleh beragam penghargaan di American Music Awards 2018 yang kembali menaikkan popularitasnya. Di panggung tersebut, ia bahkan kembali mengajak audiens untuk tak lupa menggunakan hak politik mereka pada 6 November mendatang saat midterm election.

Kembali ke unggahan, Taylor Swift pada akhir pernyataannya menegur para pemilih untuk berinisiatif mencari tahu profil sekaligus visi dan misi para kandidat sebelum memutuskan untuk memilih. Inilah yang kemudian bisa jadi menyadarkan sejumlah orang dari 112 juta pengikutnya di Instagram untuk aktif menjadi pemilih.

Lantas, saya pun membayangkan, seandainya ada figur serupa Taylor Swift di Indonesia, yang juga mampu menyadarkan pemilih pemula dan pemuda untuk menggunakan hak politiknya saat pemilu 2019. Yaitu, figur yang khususnya punya pengaruh kuat di media sosial hingga melalui unggahan orisinilnya dapat menggerakkan empati warga untuk aktif berpolitik.

Pemilih milenial

Kementerian Dalam Negeri telah merilis data pemilih pemula di tahun 2019 berjumlah sekitar 5 juta. Data Komisi Pemilihan Umum sendiri menyatakan jumlah pemilih milenial mencapai 70 juta sampai 80 juta jiwa dari total 193 juta pemilih.

Kesadaran untuk menarik atensi generasi muda atau milenial sudah amat jelas tengah diupayakan kedua kandidat calon pemimpin negara ini. Sang petahana, secara konsisten, terus membangun citra yang dekat dengan dunia anak muda sejak masa kepemimpinannya. Sang lawan, secara pragmatis, justru memilih pasangan yang berusia muda demi mencuri perhatian sekaligus berperan untuk berdekatan dengan kalangan pemuda.

Ke manakah figur yang menguat di kalangan pemuda tanpa embel-embel politik? Jika mengambil contoh dari Taylor Swift, pertama kita bisa cek dari jumlah pengikutnya. Lima akun Instagram teratas dengan jumlah pengikut terbanyak di Indonesia ternyata dimiliki oleh pelaku industri hiburan.

Kelima akun tersebut dimiliki Syahrini dengan 23,1 juta pengikut, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dengan 24,9 juta pengikut, Ayu Ting Ting dengan 26,7 juta pengikut, Prilly Latuconsina dengan 23,4 juta dan Laudya Cynthia Bella dengan 23 juta pengikut.

Di antara kelimanya, Raffi Ahmad memiliki rekam jejak yang menunjukkan dukungan politiknya terhadap Prabowo Subianto saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Jelang Pilpres 2019, Raffi Ahmad belum mencitrakan dirinya untuk mendukung kandidat siapa pun. Selebihnya tidak kentara, khususnya Syahrini yang kerap diincar media hiburan untuk membocorkan siapa presiden pilihannya. Namun, ia memilih bungkam.

Meski tidak memiliki banyak pengikut di Instagram, beberapa musisi Tanah Air juga tampil aktif dan berani menyampaikan pandangan politiknya. Sebut saja, band rock Slank yang terang-terangan mendukung Presiden Jokowi hingga saat ini. Ada pula Pandji Pragiwaksono dan Tompi yang sempat menjadi anggota tim sukses masing-masing kandidat hingga ikut tampil debat politik di stasiun televisi swasta saat Pilpres 2014 lalu.

Keterlibatan para figur industri hiburan untuk memperluas popularitas sang kandidat jelas efektif. Namun, dalam hal menggerakkan warga untuk minimal tidak menjadi kalangan golput, belum ada studi lebih lanjut. Belum ada pula studi soal pengaruh figur industri hiburan yang mampu menyadarkan pengikutnya untuk aktif berpolitik, bukan justru mengikuti pilihan politik mereka.

Setidaknya kita belajar banyak dari kasus penyebaran informasi palsu oleh Ratna Sarumpaet. Kesalahan seorang budayawan yang juga terjun di industri hiburan tersebut terbukti melunturkan rasa kepercayaan orang untuk memilih pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Bisa jadi efeknya turut menguatkan rasa apatis dari kalangan golput.

Rentan golput

Publikasi isu rentannya pemilih pemula dan pemuda masuk ke kategori golput masih tersebar meluas di media. Sejak tahun 2004 hingga 2014 bahkan terjadi peningkatan angka golput di Pilpres hingga 29%. Selain memprihatinkan, data ini menjadi salah satu bagian dari strategi komunikasi politik kedua kandidat.

Saat berkampanye, parade artis hiburan untuk menambah riuh suasana kerap terlihat. Penampilan kandidat ala milenial bisa jadi akan dipertontonkan melalui media sosial Youtube dengan konten kreatif dan menarik. Semua itu jelas upaya menarik massa untuk menjatuhkan pilihan pada kandidat tertentu.

Namun, apakah benar upaya-upaya ini dapat mencegah seseorang untuk tidak golput? Raditya Dika, salah satu figur berpengaruh di kalangan milenial dengan jutaan pengikut, pernah menyatakan tidak akan membuat konten politik dan menunjukkan dukungan politiknya melalui media sosial.

Pernyataan tersebut ia lontarkan saat sedang diwawancarai Najwa Shihab dalam medium Youtube “Catatan Najwa - Raditya Dika Digeprek Najwa”. Raditya Dika menyadari dirinya adalah media yang kuat untuk memengaruhi dan mengajak pengikutnya memilih kandidat tertentu. Padahal, menurutnya, media harus bersikap netral.

Jelas, bukan sekadar tugas tim sukses kandidat untuk menangani kalangan golput. Namun, seperti Taylor Swift yang berani menunjukkan empati politiknya, saya membayangkan seandainya ada figur di Indonesia yang berani menyampaikan suara orisinilnya tanpa takut diguncang dari kalangan politik itu sendiri maupun massa pengikutnya.

Saat Karin Novilda atau lebih dikenal Awkarin memilih vakum dan terlibat sebagai relawan bencana Palu, Sulawesi Tengah, saat Reza Oktovian atau lebih dikenal Reza Arap memilih fokus bermusik dan memberikan medium Youtube kepada Yayasan Anyo Indonesia, belum ada figur milenial yang membangun citra dan basisnya untuk menyadarkan pengikutnya melek politik. Berpolitik secara berani, dewasa dan cerdas selayaknya Taylor Swift.

Sari Mawarni, analis Media Indonesia Indicator
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR