Mengangkat harkat petani

Ilustrasi: Petani menyedot air tanah dengan menggunakan mesin pompa untuk mengairi sawahnya, di Desa Asinan, Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (25/9).
Ilustrasi: Petani menyedot air tanah dengan menggunakan mesin pompa untuk mengairi sawahnya, di Desa Asinan, Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (25/9).
© Aditya Pradana Putra. /ANTARA FOTO

Untuk apa sawah-sawah, pak taniku sudah pergi, menjadi pejalan kaki yang sepi - (Iwan Fals, Mencetak Sawah, 1992)

Tanggal 24 September merupakan hari agraria atau hari tani. Peringatan ini didasarkan saat Presiden Soekarno menetapkan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) pada tahun 1960. Kini 57 tahun berlalu dan persoalan agraria rupanya belum sepenuhnya selesai.

Aspek legalitas kepemilikan tanah masih menjadi persoalan serius sehingga tahun 2017 Presiden Joko Widodo menargetkan pembagian 5 juta sertifikat tanah pada masyarakat dan 7 juta pada 2018. Target tersebut merupakan bagian dari reforma agraria dan diharapkan pada tahun 2025 semua tanah telah bersertifikat. Di Indonesia ada 106 juta tanah, dan baru 46 juta yang disertifikatkan.

Persoalan "administratif" tersebut hanya sebagian kecil dari problem agraria, dan lebih khusus masalah pertanian di Indonesia. Menurut Arif Satria, setiap tahun kita kehilangan 50.000-100.000 hektare lahan sawah, baik karena beralih fungsi maupun yang tidak lagi tergarap oleh petani karena regenerasi petani yang hampir mandek.

Alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, ruko, dan pabrik merupakan fenomena yang melanda negeri ini sejak bertahun lampau. Setiap pulang ke desa, kiri kanan jalan yang dulu hanya ada sawah, kini mulai berdiri rumah dan ruko. Pekarangan di dalam perkampungan pun banyak dikapling-kapling dan terpasang papan pengumuman dijual.

Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol di Semarang, misalnya, membuat harga tanah dan bangunan melonjak gila-gilaan. Apalagi jika di rumah tersebut berdiri toko, akan ada kompensasi tambahan dari pemerintah.

Harga tanah yang terus melesat membuat tanah menjadi barang investasi. Kenaikannya bahkan terjadi dalam hitungan jam. Seorang dosen pernah membeli tanah, dan selang beberapa jam ada orang lain berani membelinya dengan kenaikan Rp15-20 juta. Sertifikat tanah bisa diagunkan untuk pinjaman di bank yang nilainya lebih besar dibanding surat kepemilikan kendaraan.

Bagi petani di perdesaan, tanah memiliki dua fungsi, aset produktif dan aset diam. Aset produktif adalah sawah dan ladang. Aset diam adalah tanah-tanah lapang di sekitar rumah petani, atau tanah kosong. Pekarangan tersebut akan dibagi pada anak-anak dibangun rumah.

Harga tanah mustahil turun, sementara hasil pertanian mengalami fluktuasi. Komoditas seperti cabe dan bawang merah seringkali mengalami kenaikan harga yang fantastis dan sulit diterima akal sehat. Sebagaimana jika turun, akan membuat petani bangkrut.

Pertanian dapat dikatakan sebagai kegiatan ekonomi paling ril bagi keberlangsungan hidup manusia karena ia berurusan dengan pangan. Petani berada di sektor hulu dari produksi hasil pertanian yang akan melewati rantai distribusi untuk sampai pada konsumen di perkotaan.

Gabah dari petani dibeli tengkulak, dijual ke penggilingan padi, disalurkan ke pasar, dan diecer oleh pedagang yang bersentuhan langsung dengan konsumen. Rantai distribusi tersebut tidak selalu menguntungkan petani. Para tengkulak yang berpotensi menangguk untung. Petani hanya mendapatkan remah-remah dari mata rantai distribusi beras.

Mandeknya regenerasi petani

Bagaimanakah potret petani Indonesia saat ini? Petani merupakan pekerjaan mayoritas rakyat Indonesia. Jumlah petani di Indonesia ditinggalkan 20 juta orang selama sepuluh tahun. Data BPS menyebutkan jumlah petani Indonesia tahun 2015 sebesar 37,75 juta, turun dari 38,97 juta (2014), dan 39,22 juta (2013).

Menjadi petani memang memerlukan kesabaran luar biasa. Rentang waktu panen padi dan jagung, bisa 3-4 bulan. Di zaman ini menjadi petani murni yang hanya mengharapkan penghasilan dari hasil pertanian dapat dikatakan sebagai sikap hidup yang "gila".

Dari situ minat kaum muda untuk menjadi petani sangat kecil. Coba tanyakan pada anak-anak tentang cita-citanya, adakah yang bercita-cita menjadi petani?

Tidak mengherankan jika saat menyampaikan pidato dalam Dies Natalies Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 6 September lalu Presiden Joko Widodo menyindir lulusan IPB banyak yang kerja di sektor perbankan. Kalau di IPB yang merupakan kawah candradimuka pertanian saja minat bekerja di sektor pertanian saja kalah dengan perbankan, bagaimana dengan kampus lain? Karena biasanya fakultas pertanian bukan jurusan favorit di perguruan tinggi.

Di tengah indutrialisasi yang merangsek ke desa-desa, remaja memilih bekerja di sektor lain. Bergelut dengan lumpur akan dihindari karena mungkin menghasilkan citra yang ndesa. Tetapi anak-anak kota justru membayar untuk outbound di sawah, mencicipi pekerjaan petani.

Salah satu indikasi dari mandeknya regenerasi petani di desa penulis adalah menanam padi yang biasanya dilakukan oleh perempuan. Tidak ada perempuan generasi 1980-an yang ikut kerja sebagai buruh menanam padi. 10-20 tahun lagi ketika generasi tua sudah "pensiun", rasanya sulit menemukan buruh perempuan untuk menanam padi.

Mandeknya regenerasi petani berimbas pada kenaikan upah buruh tani. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi BPS yang dilansir pada September 2017 menyebutkan bahwa pada Juli 2017 upah nominal buruh tani naik 0,18 persen dan upah ril naik 0,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, benarkah regenerasi petani kita sepenuhnya mandek? Kalau boleh mengkategorikan, ada dua jenis petani yang lazim di masyarakat. Petani penuh waktu dan paruh waktu. Untuk jenis petani paruh waktu cukup menarik. Ada petani sekaligus buruh tani. Ada petani nyambi peternak. Ada petani nyambi pedagang. Ada petani nyambi buruh bangunan. Dan dua jenis pekerjaan itu bisa dibalik. Kita tidak tahu pekerjaan utama mereka apa.

Petani muda bergengsi

Generasi orang tua yang lahir tahun 1950-60-an memang masih mengandalkan model pertanian tradisional. Mereka menanam mengikuti musim yang ada. Ketika musim hujan sawah ditanami padi, saat musim kemarau menanam palawija. Ancaman hama dan penyakit diatasi dengan penyemprotan pestisida, fungisida, dan insektisida. Penyiasatan musim kemarau dengan sistem gadu (irigasi dengan diesel) menambah ongkos tersendiri. Biaya produksi pun semakin membengkak.

Di negara-negara maju, dunia pertanian berjalan seiring dengan kemajuan teknologi. Penggunaan alat dan mesin pertanian dapat menghemat waktu dan tenaga, bahkan bisa memangkas ongkos upah kerja. Namun, jumlah penggunaan alat dan mesin di Indonesia masih lebih kecil dibanding negara tetangga, yaitu 231.870 unit.

Peningkatan hasil pertanian bisa dilakukan dengan banyak cara. Sewaktu mengadakan penelitian di salah desa di Demak, Jawa Tengah, kepala desa menyampaikan bahwa budidaya burung hantu jenis Tyto Alba untuk membasmi tikus secara alami berdampak signifikan pada peningkatan hasil pertanian. Dampak ikutannya adalah harga sewa lahan menjadi mahal, dan desa tersebut menjadi desa wisata.

Model pertanian kini semakin beragam. Petani yang mengembangkan cara organik dan hidroponik mulai menggeliat. Komunitas pecinta hidroponik membuat grup di media sosial untuk bertukar pengalaman. Dua model pertanian yang mengklaim sebagai pertanian alami ini sesungguhnya memiliki pasar yang eksklusif. Harga hasil pertanian organik dan hidroponik lebih mahal dibandingkan hasil pertanian metode biasa, dengan pupuk kimia, pembasmian hama dengan pestisida.

Agrobisnis tidak hanya menanam tanaman bahan pangan. Tanaman obat/herbal dan tanaman hias pun memiliki potensi bisnis. Seorang kawan yang berpendidikan S2, sempat menjadi dosen di PT swasta, lalu memilih banting stir untuk mengembangkan tanaman herbal. Dengan promosi lewat media sosial dan website, bisnisnya dirasa lebih menguntungkan dibanding mengandalkan gaji sebagai dosen.

Generasi muda yang melek teknologi mulai mengembangkan pertanian yang terpadu dengan digital dalam wadah Habibi Garden. Pertanian digital tidak hanya berurusan dan marketing sebagaimana bisnis online yang lazim kita ketahui. Mekanisme kerjanya adalah sensor mengirimkan informasi tentang kondisi tanaman, temperatur, kelembapan tanah, keasaman, intensitas cahaya, hingga nutrisi.

Apa yang dilakukan oleh anak-anak muda di Habibi Garden adalah contoh bagaimana pertanian dapat dikolaborasikan dengan teknologi modern. Petani tradisional menjadi mitra atau petani binaan agar perawatan tanaman tidak terganggu perubahan iklim yang tidak menentu. Anak-anak muda tersebut menunjukkan bahwa petani tidak mesti kotor bergulat dengan tanah dan lumpur.

Regenerasi petani tidak melulu soal metode bercocok tanam yang diwariskan dari orangtua ke anak. Pertanian dengan cara organik, hidroponik, dan pertanian digital adalah contoh bagaimana dunia pertanian memberi gengsi tersendiri bagi petani muda. Jika hal itu sudah dilakukan secara massif, maka syair lagu Iwan Fals seperti di awal tulisan akan digantikan dengan petani-petani muda yang menyulap jalan sepi menjadi jalan penuh benderang harapan. Jayalah petani NKRI.

Junaidi Abdul Munif, pengurus Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) NU Semarang
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.