Mengenang Phoebe Snetsinger sang pengamat burung

Terdapat lebih dari 10 ribu spesies burung di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 1.600 spesies burung
Terdapat lebih dari 10 ribu spesies burung di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 1.600 spesies burung | StockSnap

Hari ini, 9 Juni 2016, halaman depan situs Google menampilkan doodle berupa gambar kegiatan pengamatan burung. Ini cara Google mengenang, menghormati, sekaligus merayakan ulang tahun Phoebe Snetsinger, pengamat burung asal Amerika Serikat.

Siapa sebenarnya Phoebe Snetsinger? Mengapa perempuan berkebangsaan Amerika ini menjadi istimewa dan layak dikenang?

Lahir dengan nama Phoebe Burnett di Lake Zurich, negara bagian Illinois, Amerika Serikat, Phoebe adalah anak dari Leo Burnett, seorang eksekutif dan pendiri perusahaan periklanan besar Leo Burnett Company. Tetapi bukan statusnya sebagai anak orang kaya yang membuatnya tersohor. Phoebe menjadi terkenal karena hobi--yang lantas menjadi profesinya--sebagai pengamat burung (birdwatcher atau birder).

Phoebe berkelana keliling dunia untuk melihat burung di alam bebas (birdwatching atau birding). Ia melihat tingkah, warna serta menikmati kicauan burung-burung tersebut di habitat aslinya, di alam bebas. Walaupun sudah lama ada di dunia, dengan kiblat utama ada di Amerika Serikat dan Inggris, kegiatan pengamatan burung baru dikenal di Indonesia pada awal 1980-an.

Di ranah pengamatan burung ini, Phoebe tergolong kampiun, orang yang pernah melihat paling banyak spesies burung di dunia. Sepanjang hidupnya, ia berhasil melihat 8.398 spesies. Dengan rekor sebanyak itu, nama Phoebe langsung nangkring di deretan atas para pengamat burung dunia.

Sekadar informasi, jumlah spesies burung di dunia berkisar antara 10.404 hingga 10.534 spesies. Indonesia sebagai negara keempat terkaya akan jumlah spesies burung di dunia saat ini memiliki 1.666 spesies. Sebagai negara kaya akan burung, tentu saja Indonesia adalah salah satu negara yang telah dikunjungi oleh Phoebe.

Google Doodle
Google Doodle | Google

Berbeda dari kebanyakan pengamat burung lainnya, Phoebe baru memulai pengamatan burung pada usia 34 tahun, dan baru secara intensif melakukan pengamatan burung pada usia yang relatif terlambat, yaitu pada usia 50 tahun. Pada usia inilah dia didiagnosa menderita penyakit kanker, teminal melanoma pada hari Thanksgiving tahun 1981. Dokter mengabarkan bahwa Phoebe hanya punya waktu 3 bulan lagi untuk hidup.

Tapi Phoebe tak menyerah. Vonis itu justru mendorongnya untuk mulai menekuni kegiatan pengamatan burung secara lebih serius. Ia terbang ke Alaska untuk mengamati burung. Di kawasan yang membeku inilah jumlah spesies yang berhasil dilihatnya meningkat pesat tidak tertahan lagi, sementara kanker yang dideritanya seolah berhenti menggerogoti tubuhnya. Pada tahun 1995, ia mencetat rekor dunia sebagai orang pertama yang pernah melihat 8.000 spesies burung--atau dalam kata-katanya sendiri 84% of known bird species.

Saat ini rekor dunia dalam hal jumlah spesies burung yang pernah dilihat dipegang oleh Jon Hornbuckle dengan 9.414 spesies, disusul oleh Claes-Goran Cederlund (9.169), Philip Rostron (9.126), Tom Gullick (9.096) dan Hugh Buck (9.053). Tom Gullick, seorang pengamat burung dari Inggris, mencapai angka 9.000 spesies di Pulau Yamdena pada tahun 2012 ketika ia berhasil melihat burung Walik wallacea (Ptilinopus wallacii) yang di dunia ini hanya dapat dijumpai di Indonesia.

Phoebe, dengan jumlah 8.438 spesies, masih tercatat ada di posisi 15 dunia. Ia satu-satunya perempuan dalam jajaran 20 besar dunia. Saat Phoebe memulai petualanganya usianya sudah tak lagi muda untuk sebuah kegiatan alam bebas yang membutuhkan stamina luar biasa, tetapi walaupun dengan kondisi kesehatan yang disandangnya itu semua bukan hambatan bagi Phoebe untuk menjelajah dunia.

Tidak semua perjalanannya berlangsung mulus. Phoebe pernah mengalami gempa bumi, terkatung-katung di laut ketika kapal yang ditumpanginya karam dan ia hanya berpegangan pada sisi kapal, patah pergelangan tangan di Filipina, tapi tetap mengamati burung berminggu-minggu berikutnya. Yang paling tragis, dia dianiaya dan diperkosa di Papua Nugini.

Sampai suatu hari, tepatnya 23 November 1999, setelah menyaksikan spesies ke-8.398 di Madagaskar, mobil yang ia tumpangi mengalami kecelakaan. Phoebe meninggal seketika. Berjuang hidup selama 17 tahun dari serangan kanker, mengalami kecelakaan dan bencana, Phoebe akhirnya pergi meninggalkan dunia ini dengan cara yang ia inginkan: dengan binokular terkalung di lehernya.

Kisah perjalanan hidup Phoebe mengamati burung dituangkannya dalam sebuah buku yang diterbitkan pada 1 Januari 2003, empat tahun setelah ia meninggal, yang berjudul Birding on Borrowed Time.

Selamat ulang tahun Phoebe, have a good birding from up there.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR