Mengurangi anemia di kalangan remaja putri dengan aplikasi Android

MITRA: The Conversation
Ilustrasi: Anemia
Ilustrasi: Anemia | yournameonstones /Shutterstock

Hampir 23% remaja putri di Indonesia mengalami anemia alias kurang darah. Dengan jumlah remaja putri kurang lebih 21 juta, terdapat setidaknya 4,8 juta yang mengidap kekurangan jumlah sel darah merah (yang mengandung protein hemoglobin, Hb). Sel ini yang memungkinkan oksigen dari jantung diangkut ke seluruh bagian tubuh.

Anemia remaja putri disebabkan oleh asupan makanan rendah kandungan zat besi hewani maupun nabati. Anemia pada remaja bisa menurunkan kemampuan daya ingat sehingga prestasi akademik tidak optimal. Selain itu, dampak anemia pada remaja putri berpeluang menimbulkan anemia ketika hamil.

Oleh karena itu penanganan kasus anemia pada remaja putri berusia 10-19 tahun perlu diprioritaskan karena mereka dapat memutus siklus anemia pada ibu hamil dan dampak kelahiran bayi dengan kognitif rendah akibat ibu hamil yang anemia.

Meski terdapat berbagai penanganan kasus anemia, di antaranya, pemberian tablet tambah darah dan penambahan zat besi pada tepung terigu, yang telah dilakukan, kasus anemia di kalangan remaja putri masih tetap tinggi. Karena itu, diperlukan cara alternatif yang efektif untuk mengurangi anemia pada remaja putri.

Hasil dari penelitian saya tentang penurunan anemia via telepon pintar Android, untuk disertasi ilmu gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menunjukkan penggunaan media aplikasi Android akan lebih efektif jika disandingkan dengan program pemberian suplemen tablet tambah darah yang dilakukan oleh tenaga kesehatan ke sekolah.

Sebuah penelitian yang senada dari Universitas Leeds Inggris pada 2013, yang membandingkan penggunaan media edukasi berbasis website dan media cetak, menunjukkan teknologi terbukti efektif menurunkan berat badan.

Uji coba di Depok

Dalam penelitian ini, anemia diukur dengan hemoglobin (Hb) kurang dari 12 gram per desiliter (g/dl) dan nutrisi yang diteliti adalah zat besi. Hb dari darah dan nutrisi dengan pencatatan makanan 3 hari. Saya melibatkan pakar dari multidisiplin (dokter anak, gizi, psikologi, desain visual multimedia, dan kedokteran komunitas) dalam riset ini.

Di Kota Depok, tempat saya meneliti, persentase penderita anemia lebih besar dibanding angka nasional, yakni 33,7%atau 37 ribu remaja putri. Selama enam bulan (24 minggu), 228 siswi dari enam SMP di sana mengikuti uji coba penggunaan Android dan 250 siswi menjadi sasaran uji coba modul cetak kertas.

Modul cetak berisi pedoman yang memuat definisi anemia, penyebab anemia, cara mencegah dan mengatasi anemia. Dalam pedoman tersebut, kartu monitoring konsumsi tablet tambah darah sekaligus informasi singkat tentang anemia dijadikan alat edukasi untuk remaja putri dalam versi cetak kertas.

Pada pengukuran awal, kelompok Android memiliki median kadar Hb 11,8 g/dl dan kelompok modul cetak 12 g/dl. Tujuan uji coba ini untuk meningkatkan kadar Hb dan konsumsi zat besi.

Langkah pertama dalam riset ini adalah studi literatur dan studi formatif (baseline) di satu sekolah menengah pertama di Depok untuk mengembangkan aplikasi Android yang dinamakan Remaja Putri Anti Anemia.

Aplikasi ini terdiri dari empat fitur. Desain aplikasi menggunakan prinsip emotion design untuk meyakinkan remaja mengikuti pesan yang disampaikan. Prinsip ini digunakan dalam fitur komik.

Isi pesan komik ini dilandasi dari teori perilaku Integrative Model Behavior Prediction (IMBP) yang mendorong perubahan perilaku. Selain itu pesan tersebut juga dikembangkan dari pedoman penanggulangan anemia untuk remaja putri dan perempuan usia subur untuk tenaga kesehatan yang disusun oleh Kementerian Kesehatan.

Fitur kedua berisi makanan dan resep sumber zat untuk mencegah anemia yang bisa dicontoh remaja putri. Makanan dan resep ini dikembangkan dari studi formatif, yaitu makanan yang disukai remaja putri, mudah diperoleh serta mudah diolah. Resep masakan diperoleh dari website masakan yang banyak dipakai masyarakat, misalnya, https://cookpad.com/id dengan jenis makanan seperti omelet telur dan sate kerang.

Fitur ketiga berisi jenis-jenis makanan ringan seperti biskuit, snack bar dan kacang kedelai yang juga dikembangkan dari studi formatif. Jenis makanan yang disukai remaja putri dan tersedia di kantin serta mini market di sekitar rumah dan sekolah.

Terakhir, fitur keempat merupakan elemen penting dalam aplikasi ini yaitu pencatatan makanan. Remaja putri dapat mencatat jenis makanan, porsi dalam sehari serta tablet tambah darah dalam catatan mereka. Remaja putri mendapatkan hasil pengamatan langsung karena aplikasi ini menyediakan perbandingan dengan pedoman gizi seimbang dan rekomendasinya.

Saya kemudian menguji efektivitas aplikasi ini. Murid-murid di tiga sekolah yang paling banyak memiliki Android dijadikan sebagai kelompok intervensi Android. Sedangkan siswa di tiga sekolah lainnya dijadikan kelompok intervensi dengan modul cetak.

Selama 20 minggu pertama, siswa enam sekolah tersebut dilatih di ruang kelas tentang cara menggunakan kedua media sesuai dengan pembagiannya. Hasil dari 20 minggu pertama tersebut, pada kelompok intervensi Android saya menemukan peningkatan Hb (median awal 11,8 g/dl menjadi 12 g/dl) sedangkan tidak ada perubahan kadar Hb pada kelompok modul cetak.

Peningkatan asupan zat besi kelompok Android (dari 6,6 miligram/hari menjadi 11,8 mg/hari) lebih tinggi dibandingkan kelompok intervensi modul cetak (dari 11,9 mg/hari menjadi 15,6 mg/hari).

Kedua kelompok kemudian melanjutkan penggunaan media masing-masing tanpa paparan edukasi di ruang kelas selama empat minggu. Hasil uji coba terakhir ini menunjukkan tidak ada perubahan signifikan tingkat Hb dan asupan zat besi partisipan antara sebelum intervensi dan setelah intervensi tanpa paparan edukasi di kelas.

Pentingnya dua intervensi sekaligus

Dengan temuan ini, saya menyimpulkan bahwa intervensi via aplikasi Android saja tidak efektif mengubah tingkat Hb dan asupan zat besi. Ada beberapa penyebab temuan:

Remaja putri yang mengikuti intervensi kelompok modul cetak menunjukkan perubahan asupan zat besi lebih baik dibandingkan kelompok aplikasi Android. Ini terjadi karena median kadar Hb sebelum intervensi pada kelompok modul cetak sudah lebih tinggi dari kelompok Android.

Dalam waktu 20 minggu pertama ketika dipaparkan sesi edukasi dalam kelas, memungkinkan remaja putri lebih patuh mengikuti instruksi penggunaan media Android dibandingkan saat tidak ada sesi dalam kelas.

Karena itu, intervensi melalui aplikasi Android akan efektif menurunkan anemia bila dibarengi paparan edukasi di ruang kelas dan pemberian suplemen tablet tambah darah di sekolah.

Dengan sistem teknologi ini, remaja putri dapat melihat hasil pengawasan dan rekomendasi di dalam fitur pencatatan makanan. Hasilnya bisa dibagikan melalui Facebook dan Twitter yang bisa dipantau orang tua, guru, dan tenaga kesehatan. Jika ini dilakukan, menggunakan Android menjadi lebih optimal dan hasilnya dapat diakses lebih cepat.

Ratri Ciptaningtyas, Dosen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Catatan redaksi: Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber
The Conversation
MITRA: The Conversation
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR