Menoleh ke belakang tanpa kena azab

Surat cinta kakek dan nenek Katja Rauhamaki di permukaan kaca.
Surat cinta kakek dan nenek Katja Rauhamaki di permukaan kaca.
© AS Laksana

Saya menoleh ke belakang pada Rabu pagi untuk melihat apartemen di desa Vallgrund yang saya tinggalkan, sama dengan istri Luth menoleh ke belakang untuk melihat Sodom saat ia bersama suami dan anak-anak meninggalkan kota itu, tetapi nasib saya jauh lebih baik ketimbang nasibnya.

Perempuan dalam cerita itu harus menerima azab menjadi tiang garam karena menoleh ke belakang, sementara saya baik-baik saja, tiba dengan selamat lima jam kemudian di art center Jarvilinna, dan mendapatkan kamar yang menyenangkan dengan jendela menghadap danau. Di seberang danau ada hutan; di balik hutan itu matahari terbenam pada sore hari.

Di tempat seperti itu, atau seperti surga menurut Yuichiro Sato, pelukis Jepang yang sudah setahun tinggal di art center dan ingin menetap selamanya di sana, yang saya kerjakan adalah berjalan-jalan, mengunjungi studio para seniman yang mengitari bangunan utama, mengajak bercakap-cakap atau mengamati mereka bekerja seperti seorang mandor, atau sekadar duduk-duduk di kafe menikmati kopi.

Kafe berada di lantai bawah bangunan utama, sebuah kastil yang didirikan pada 1891 dan sekarang digunakan untuk menggelar pasar seni, pameran, dan pementasan musik.

"Saya sudah baca buku itu, bagus sekali," kata Johannes Lahtinen, 47 tahun, ketika melihat saya merokok. Ia tinggal bersama istrinya, Maija si pandai besi, di bangunan yang sama dengan yang saya tempati.

Siang itu ia sedang bermain dengan kedua anaknya. Johannes juga pandai besi, tetapi ia lebih banyak menulis. Ia menempa sebuah teropong besi saat menyelesaikan novel keduanya Galileo.

Kami bercakap-cakap di teras. Salju turun tipis-tipis, dan kami terus bercakap-cakap. Anak-anaknya melanjutkan bermain sendiri.

Maija ikut bergabung dan kami melanjutkan percakapan bertiga di studio tempat mereka menempa besi. Teropong Galileonya ada di dekat pintu masuk. Ini alat untuk melihat pusat semesta, kata Johannes.

Saya mengintip dari lubang pengintai pada laras teleskop dan mendapati satu bola mata sedang mengintai di ujung sebelah sana--mata saya sendiri yang dipantulkan oleh sekeping cermin di tengah teropong. Ya, saya sudah melihat pusat semesta, kata saya.

Johannes menyukai sejarah peradaban dan sains. Novel pertamanya adalah satire tentang leluhur para manusia, berjudul Alku: eli 4 1/2 miljoonan vuoden rakkaustarina.

"Kau bisa membaca bahasa Finlandia?" tanya Uiko, istri Yuichiro Sato ketika saya mengunjungi kamar mereka dan mengatakan bahwa judul tersebut artinya Awal Mula: atau Kisah Cinta 4 1/2 Juta Tahun Lalu. Saya hanya menduga, kata saya, dan dugaan saya sering benar.

Dua minggu sebelumnya saya dan Johannes juga bercakap-cakap saat ia sedang memanaskan mesin mobilnya. Suhu di bawah nol dan anginnya sedikit kencang.

Kami membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan oleh orang-orang yang memiliki banyak waktu: tentang novel ketiga yang sedang ia kerjakan, tentang cara kami masing-masing dalam menulis (ia selalu bekerja pagi hari dan saya bekerja semrawut), dan tentang buku-buku.

Saya katakan kepadanya waktu itu: Ada buku bagus yang kau perlu baca jika belum membacanya, Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari. Ia menjawab belum.

"Bacalah!" kata saya, tegas seperti mengulangi perintah Tuhan, sambil menambahkan bahwa saya tahu buku itu karena Barack Obama, Mark Zuckerberg, dan Oprah Winfrey menyukainya dan menyarankan orang membacanya. Ia menyambut saran tersebut: Orang-orang baik memberi rekomendasi, saya akan membacanya.

Udara dingin memaksa kami menghentikan pembicaraan. Johannes menggosok-gosokkan telapak tangannya; saya menggigil dan merasakan daun telinga saya kebas. Ia masuk rumah dan saya merapat ke teras kamar, menyalakan sebatang rokok; saya pikir sebatang rokok bisa membuat saya lebih hangat.

Di depan sana, lampu studio Kristian menyala dan itu berarti ia sedang bekerja membentuk tanah liat menjadi keramik. Hari sebelumnya saya berkunjung ke sana; anak lelakinya--kelas lima SD--juga ikut membuat barang-barang keramik dan menjelaskan kepada saya benda-benda yang sudah ia buat.

"Lebih laku mana keramikmu atau keramik ayahmu?" tanya saya.

Ia menggandeng tangan saya menuju tempat keramik-keramik buatan ayahnya dipajang dan menunjuk harga salah satu keramik. "Lihat ini! Besarnya sama dengan buatan saya," katanya, "tetapi harganya jauh lebih mahal. Kurasa ia tidak bisa membuat harga."

Saya sudah bertemu dengan beberapa anak Finlandia; rata-rata mereka mudah akrab, tidak pemalu, dan nyaman saja bercakap-cakap dengan orang dewasa yang baru dikenal. Pikir saya, mungkin sekolah yang bagus membuat mereka seperti itu.

Tiga hari setelah percakapan tentang Sapiens, Johannes memberi tahu bahwa ia baru pulang dari perpustakaan untuk meminjam buku itu. "Belum ada," katanya, "tetapi petugas perpustakaan bilang saya bisa mengambilnya seminggu lagi."

Itulah buku yang dua minggu kemudian ia puji bagus sekali dan ia berharap ada yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Finlandia. Kau saja yang menerjemahkan, kata saya, kami sudah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Selain mencari teman bercakap-cakap, kegiatan rutin saya yang lain adalah merokok di teras, dan, seperti kebanyakan urusan rutin lainnya, itu bukan kegiatan yang menarik. Yang tidak rutin selalu lebih menarik, misalnya mengunjungi dark cafe, sebuah acara yang diadakan selama sepekan tiap November. "Untuk memberi kesempatan kepada kita mengalami kehidupan seperti orang buta," kata Ulla, seniman grafis yang mengajak saya ke acara itu di kota Jyvaskyla.

Kami memasuki kafe tanpa penerangan kecuali satu bintik merah kecil di langit-langit ruangan. Seseorang memandu kami menuju tempat duduk yang tidak terlihat. "Ini termos tempat kopi dan ini cangkir anda," katanya. Ia menyentuhkan tangan saya pada benda-benda yang ia sebut karena saya tidak melihat apa pun. Pendengaran menjadi sangat tajam, percakapan semua pengunjung masuk ke telinga, tetapi tidak ada yang saya pahami.

Dari dark cafe kami langsung pulang ke art center. Arja, pemilik kafe, membutuhkan bantuan untuk mengatur letak meja untuk acara pasar seni dan saya sudah berjanji membantunya. "Besok pukul empat sore," katanya. Kami terlambat. Meja-meja sudah selesai diatur ketika kami tiba; Iker, pematung dari Spanyol, yang membantunya.

Besoknya, pada hari Sabtu, para pengrajin menggelar barang-barang kerajinan mereka seharian di kastil Jarvilinna.

"Anda senang di sini?" tanya seorang pengunjung. Itu pertanyaan kesekian yang disampaikan orang saat kami bertemu dan saya memperkenalkan diri dari Indonesia. Dan jawaban saya kurang lebih akan sama: Senang sekali! Negara ini penuh orang-orang baik dan saya senang sekali berjumpa dengan orang-orang baik.

Memang seperti itu kenyataannya. Saya tinggal di tempat yang tenang di tepi danau, dikelilingi hutan dan orang-orang yang menyenangkan. Dari jendela kamar, sesekali tampak orang berperahu.

"Tiga tahun saya tinggal di bangunan yang kamu tempati," kata Katja Rauhamaki, 40 tahun, ibu dua anak masing-masing berusia 7 dan 5 tahun, ketika saya mengunjungi studionya. "Itu pada awal-awal saya di sini, delapan tahun lalu, sebelum kami punya rumah sendiri." Sekarang ia tinggal tiga kilometer dari art center, membagi waktunya tiap pekan untuk bekerja di studionya dan mengajar di sekolah seni.

Ketika saya datang lagi besoknya untuk memotret, karena kemarin lupa membawa kamera, ia menyambut saya dengan kalimat: Semalam saya sulit tidur karena memikirkan nama.

Pada hari sebelumnya, sambil mengamati surat cinta kakek dan neneknya yang dicetak di permukaan kaca, saya mengatakan, dalam lagak seorang ahli nujum, "Kurasa kau memang dilahirkan sebagai seniman kaca. Namamu dalam bahasa Indonesia berarti kaca, dan dalam ejaan lama kami menuliskannya 'katja', seperti kau menuliskan namamu."

"Benarkah?" tanyanya.

"Ya," jawab saya.

"Bagaimana orang Indonesia membaca nama saya?"

"Kaca."

"Benarkah?"

"Ya."

"Kalau begitu saya tidak perlu risau tentang apa yang harus saya kerjakan atau apakah pilihan saya ini tepat atau tidak. Saya dilahirkan untuk menjadi seniman kaca."

Sudah dua puluh tahun ia menekuni seni kaca. Hari itu ia sedang bekerja di depan laptopnya, merancang desain untuk kaca jendela sebuah stasiun kecil di daerah pinggiran. "Saya memikirkan cerita tentang kehidupan di stasiun: ada orang mengucapkan selamat tinggal, ada yang baru datang dan disambut oleh orang-orang yang menanti kedatangannya, ada sepasang kekasih menunggu kereta yang akan membawa mereka ke suatu tempat."

Pada Selasa terakhir bulan November saya meninggalkan art center Jarvilinna. Kafe tutup pada Senin dan Selasa, tetapi pada Ahad sore saya sudah berpamitan kepada Arja, pemilik kafe yang selalu menolak ketika saya hendak membayar kopi dan makanan yang saya pesan, dan ia suka mengirimi saya makanan sebelum menutup kafenya seolah-olah saya adalah pelanggan katering.

Saya menoleh lagi ke belakang seperti saat meninggalkan desa Vallgrund, melihat kastil untuk kali terakhir, melihat danau, melihat studio-studio para seniman.

Yayan, yang ikut cemas sejak awal tentang kesehatan perut saya dan kemungkinan saya terserang biduren di kutub utara, mengirimkan pesan: Hati-hati, jangan sampai nyasar. Saya balas: Tidak mungkin nyasar, Yan, bukan saya yang nyupir. "Sopir bus atau rel kereta api memang tidak akan nyasar, tetapi kamu bisa salah jurusan," katanya. O, saya melupakan hal itu.

Pukul sepuluh pagi Ulla mengantar saya ke terminal bus, meninggalkan tempat menyenangkan dan orang-orang baik, pulang ke negeri yang juga penuh dengan orang-orang baik.

Pada dasarnya kami juga orang-orang baik dan akan berlaku ramah terhadap tamu; pelajaran sekolah selalu menyebutkan bahwa kami adalah bangsa yang ramah. Hanya angkutan umum di tempat kami suka berhenti sembarangan, orang-orang senang membikin polisi tidur di jalanan, dan pedagang makanan di tempat-tempat wisata suka memberi harga semaunya.

Satu lagi, kami sedikit kurang cakap dalam menata kehidupan bersama: kami bisa mendirikan negara tetapi kesulitan menegakkan institusi, baik itu intitusi hukum, institusi pendidikan, maupun institusi pemerintahan. Kegagalan menegakkan institusi itu membuat kami sekarang ini sedikit berisik, meskipun kami pada dasarnya adalah orang-orang baik.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.